Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 25 ZINNIA (SCARLET)



“Ya ampun! Kami lega sekali melihat kalian kembali dengan selamat!” ucap Bibi Brenda sambil memeluk Alder.


“Kami baik-baik saja, Ibu,” ucap Alder.


“Ayo masuk ke rumah. Azalea harus membersihkan dirinya,” ucap Madam Annura. “Kamu dari mana saja? Pakaianmu kotor sekali.”


Azalea hanya tertawa mendengar omelan Madam Annura. Dia menurut saja dirangkul dan dituntun masuk ke dalam rumah. Selagi dia, Brianna, Alder dan Aren membersihkan diri, Bibi Brenda dan Mrs. Carolina menyiapkan makanan untuk mereka. Begitu selesai, mereka dipaksa untuk makan dulu baru menceritakan semuanya.


“Kita bicara di dalam toko saja,” ucap Mr. Hans.


Di dalam toko memang jauh lebih nyaman dan luas. Mereka duduk di sofa tamu sambil menikmati kue dan minuman pemberian Madam Annura.


“Jadi, siapa nona cantik ini, Azalea?” tanya Madam Annura.


“Ini Brianna, dia akan menggantikanku setelah ini,” jawab Azalea, kemudian menoleh pada Brianna. “Aku yakin kamu sudah mengenal Madam Annura, dia istri wali kota Maple Willow. Lalu ini Mr. Hans, dia juga salah satu pejabat penting. Bibi Brenda, ibu Alder, dan terakhir Mrs. Carolina, dia ibu dari Poppy.”


“Selamat sore. Namaku Briana Anastasha, dari Perchea,” ucap Briana memperkenalkan diri dengan sopan.


“Selamat datang di Maple Willow, Briana. Kami harap kamu betah di sini,” ucap Bibi Brenda lembut.


Mereka kemudian banyak bertanya soal kehidupan Briana selama di Perchea. Mulai dari keluarga, kegiatan sehari-hari, kesukaannya. Selain itu, Mr. Hans dan Madam Annura menegaskan kesediaannya untuk benar-benar menjadi florist. Azalea tersenyum mendengar Briana menjawab dengan mantap.


Saat tengah bercakap-cakap, sekuntum bunga asphodel melayang turun. Semua diam dan memperhatikan kuntum itu. Azalea menengadahkan tangannya dan tersenyum kecil melihat bunga itu berubah menjadi semacam sosok Asphodella.


“My lovely sister, Azalea. Kamu tahu nggak kalau aku dimarahi Ibunda karena tindakanmu? Aku nggak mau membelamu kalau sampai kamu dihukum. Karena itu memang salahmu sendiri! Dan aku nggak mau tahu! Kutunggu sebulan lagi! Kalau kamu nggak datang, aku akan bilang pada Ibunda Andara dan Ibunda Aleena agar menjadikanmu bunga layu!”


Semua yang ada di situ sontak menutup telinga mereka. Suara Asphodella terdengar sangat keras dan kesal. Setelah itu, semua saling berpandang-pandangan dan tertawa melihat raut wajah ngeri Azalea.


“Asphodella kalau marah seram juga,” komentar Mr. Hans.


“Tidak ada bedanya dengan Rosetta,” sahut Madam Annura.


“Yah, setidaknya dia hanya mengomel lewat pesan sekarang,” ucap Azalea yang kemudian memusnahkannya.


“Apakah dia akan datang ke mari?” tanya Mrs. Carolina. “Aku merindukan suara nyaringnya yang berteriak dan sikap galaknya.”


“Aku akan mengirim pesan nanti agar dia mau berkunjung ke sini melihat kondisi Briana.”


“Ya sudah kalau begitu. Kami pulang dulu. Silakan selesaikan tugas dan urusan kalian,” ucap Madam Annura. “Permintaanku hanya satu, Azalea. Jangan pergi tanpa pamit padaku ya.”


“Iya, Madam.”


Setelah itu, Madam Annura, Mr. Hans, Bibi Brenda dan Mrs. Carolina pergi meninggalkan mereka.


Azalea, Alder, Aren, dan Briana masih duduk santai menikmati kue. Hingga kemudian Azalea meminta tolong Alder dan Aren untuk mengambilkan botol kaca di lemari. Botol berisi cahaya hati yang diambilnya.


Brianna duduk dengan sabar. Dia tahu Azalea akan menjelaskan semuanya tanpa dia harus bertanya. Dia mengagumi keindahan toko Azalea yang begitu rapi dan tertara. Semua bunga dikumpulkan sesuai jenis dan warnanya. Dalam hati dia berminat mempertahankan tatanan ini.


“Mau kamu apakan semua cahaya hati ini?” tanya Alder.


Di atas meja, total ada 12 botol kaca berisi cahaya hati.


“Kukembalikan pada pemiliknya,” jawab Azalea.


“Are you kidding me? Kamu mau ngembaliin cahaya Poppy dan Sophia juga? Itu akan membuat mereka semakin kuat!” protes Aren.


“Tapi menahannya juga akan membuatku semakin lemah, Aren. Biarlah mereka semakin kuat karena aku pun juga akan semakin kuat.”


Setelah berkata seperti itu, Azalea merentangkan tangannya pendek dan memejamkan mata. Alder, Aren dan Briana duduk tenang memperhatikan. Mereka menunggu dengan raut wajah penasaran untuk melihat apa yang akan terjadi.


Tampak cahaya keluar dari kedua telapak tangan Azalea. Bersamaan dengan itu, kuntum-kuntum bunga cahaya hati dalam botol-botol itu keluar dari dalam botol. Semua melayang dan membentuk lingkaran di hadapan mereka.


“Cor meum in aeternum tenetur dominus lumen suum,” ucap Azalea. Kuntum-kuntum itu mengeluarkan sinar lembut. “Kembalilah pada pemilik kalian.”


Kuntum-kuntum itu hancur menjadi kerlap-kerlip cahaya yang melayang keluar melalui jendela. Alder terkejut ketika salah satu bunga cahaya hati itu masuk ke dalam dirinya. Sesaat dia merasakan ada rasa dingin menjalar, lalu diikuti rasa hangat.


Azalea kemudian membuka matanya dan tersenyum melihat kerlap-kerlip cahaya di sekitar mereka. Dia lalu memandang Briana yang balik menatapnya dengan sorot mata kagum.


Briana tidak memahami maksud ucapan Azalea. Dia melihat Azalea menggerakan tanganya pelan pada rumpun bunga berwarna merah muda tua. Tampak sebuah kuntum bunga yang bercahaya melayang mendekat dan berhenti di atas telapak tangan Azalea.


“Bunga zinnia,” ucap Aren yang memang sudah hapal nama-nama bunga di toko.


“Benar, zinnia artinya kesetiaan. Aku putri pertama dari Ratu Aleena, Ratu dari light florist, menuntutmu untuk memberikan kesetiaan penuh padaku. Apabila kamu berani melanggarnya, sekali saja, cahaya hati ini yang akan membunuhmu. Apakah kamu siap?”


“Aku siap, Putri,” jawab Briana tegas.


“Tutup matamu,” ucap Azalea.


Briana mengikuti perintah Azalea. Dia menutup mata dan duduk tenang. Tak lama, dia merasakan semilir angin membelai wajahnya lembut. Dia merasakan energi hangat memasuki dadanya dan mengalir ke seluruh tubuhnya.


“Waktuku tinggal seminggu lagi. Selama itu, aku akan mengajarimu berbagai macam hal. Kamu mungkin tidak mengetahui semua nama bunga dan tanaman di sini. Tapi, secara insting kamu mengetahui arti bunga itu dan kegunaannya.”


Setelah itu, Azalea mempersilakan Briana untuk memilih kamar yang akan digunakannya. Walaupun dia telah mengijinkan Briana menggunakan kamarnya, Briana menolak dan memilih kamar lain. Dia menghargai keputusan Briana.


Karena kamar yang biasanya di tempati oleh Briana, maka Alder dan Aren tidur di sofa ruang santai. Makan malam itu dibuatkan oleh Briana. Bahkan melarang Azalea membantunya. Briana melakukan itu sebagai ucapan terima kasih karena telah membebaskannya dari siksaan ibu tiri dan saudara tirinya.


Tok…tok…tok…


“Masuk.”


Azalea yang tengah menggunting dan menyusun berbagai macam foto di dalam buku langsung menutup bukunya. Dia tersenyum melihat Alder masuk dan menutup kembali pintu kamarnya.


“Apakah aku mengganggumu?” tanya Alder sambil duduk di samping Azalea.


“Tidak. Aku hanya sedang menyusun sesuatu untukmu dan Aren,” jawab Azalea.


“Apa itu?”


“Rahasia…” sahut Azalea. “Aku tidak akan memberikannya langsung padamu."


“Lalu?”


“Kamu tunggu saja di rumah. Aku hanya berharap kamu dan Aren menyukainya.”


“Aku akan menyimpannya baik-baik.”


“Aku tahu kamu akan melakukannya.”


“Boleh aku tidur bersamamu malam ini?” tanya Alder dengan nada hati-hati.


“Tentu.”


Azalea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dalam posisi terlentang. Alder ikut membaringkan tubuhnya dia sebelah kiri Azalea. Untuk beberapa saat, keduanya menikmati keheningan yang ada.


Azalea menggerakkan tangannya. Muncul cahaya dari bunga yang menjalar di atas dan langit-langit berubah menjadi pemandangan langit malam penuh bintang.


“Kamu suka sekali dengan langit malam berbintang,” ucap Alder.


“Well, hanya di sini aku bisa melihat langit malam yang bersih penuh bintang. Aku akan merindukannya ketika kembali ke tempat asalku nanti,” jelas Azalea.


“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ini seperti gambaran dari memoriku.”


Alder menggerakan tangannya. Tampak kuntum-kuntum bunga snowdrop yang menjadi sumber utama kekuatannya muncul. Kuntum-kuntum itu kemudian bergerak seperti film. Dia tersenyum melihat Azalea menatap dengan sorot mata berbinar.


“Bagaimana caramu melakukannya?” tanya Azalea.


“Aku mempelajarinya darimu,” jawab Alder.


Azalea menoleh dan memandang Alder yang tengah tersenyum balik menatapnya. Mereka kemudian kembali menatap langit-langit kamar. Mereka menghabiskan malam itu dengan bercerita dan mengenang semua yang telah terjadi selama hampir 2 tahun ini. Hingga tertidur karena kelelahan.


Keesokan harinya, Azalea terbangun menatap langit-langit kamar. Dia menoleh dan tersenyum melihat Alder tidur dengan posisi memeluknya. Wajah Alder tampak begitu tenang dan damai ketika tidur. Perlahan dia menyingkirkan tangan Alder dan beranjak bangun.


Ada banyak hal yang harus dilakukannya hari ini. Yang paling penting adalah mengajari Briana dan merangkai pesanan bunga.