Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 15 PETUNIA



“Selamat pagi, Madam Elsie.” sapa Azela dengan lembut.


Madam Elsie menoleh dan tersenyum melihat siapa yang menyapanya. “Selamat pagi, nona florist. Ada yang bisa kubantu?”


“Aku datang untuk mencari buku tentang ramuan. Di mana aku bisa menemukannya?”


“Hm…” Madam Elsie tampak berpikir sambil memandang deretan rak buku yang berjumlah puluhan. Perpustakaan itu adalah satu-satunya perpustakaan milik Kota Maple Willow. “Coba kamu cari di lantai dua, tepatnya di deretan bunga dan tanaman obat.”


“Baiklah, terima kasih. Oh iya, ini untuk Anda,” ucap Azalea sambil menyerahkan buket mawar kuning.


“Wah… Terima kasih banyak buket bunganya, nona florist.” Madam Elsie tampak senang menerima buket bunga itu.


Azalea pergi naik ke lantai 2 dan langsung menuju kerak yang dimaksud oleh Madam Elsie. Sambil menunggu kedatangan Alder dan Aren, dia sibuk mencari ramuan yang dimaksud oleh Asphodella. Saat sedang fokus membaca salah satu ramuan, di atasnya muncul asap hitam dan kuntum bunga asphodel. Begitu asap hitam dan kuntum bunga itu menghilang, setangkai bunga petunia pink muncul.


Dia hanya memperhatikan bunga itu tampa berusaha menyentuhnya. Dia menghela napas pelan melihat kiriman bunga dari Asphodella. Tanpa pesan dan penjelasan. Apa maksud Asphodella mengirimkan bunga itu? Peringatan kah? Tapi arti bunga petunia adalah kebencian.


“Bunga apa itu?” tanya Alder yang muncul diikuti oleh Aren.


“Pertunia. Asphodella yang mengirimnya,” sahut Azalea.


Alder mengambil bunga itu dan menjauhkannya dari Azalea. Dia tahu kalau ada beberapa jenis bunga yang tidak bisa disentuh oleh Azalea. Menyentuhnya hanya akan membuat Azalea terluka. Aren meraih bunga itu dan mengamatinya.


“Ramuannya sudah ketemu?” tanya Alder lagi sambil melihat tiga buku yang terbuka di atas meja.


“Ada dua ramuan yang mirip. Aku sedang berusaha mencari tahu mana yang benar.”


Azalea membiarkan Aren dan Alder mempelajari dua buku lainnya. Setelah beberapa saat, dia yang sedikit merasa lelah tanpa sengaja mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk. Tampak Sophia dan Liam berjalan masuk sambil bergandengan tangan. Melihat Sophia, dia menyadari kalau gadis itu tidak pernah mengunjunginya lagi.


“Kamu ngeliatin siapa?” tanya Alder ikut melongokkan kepala. “Sophia dan Liam.”


“Hm…” tanggap Azalea.


“Aku baru nyadar kalau udah beberapa minggu ini Sophia nggak dateng ke toko. Ada masalah ya, Azalea?” tanya Aren.


“Aku juga nggak tahu. Kupikir dia sibuk dengan sekolahnya atau memilih bersama Liam.” Azalea terdiam sejenak dan memejamkan mata.


“Petunianya…” potong Alder.


Azalea membuka mata dan melihat kelopak-kelopak bunga petunia tadi rontok dan terbang melayang ke arah Sophia. Mengelilingi gadis itu sejenak kemudian masuk ke dalam pendant yang dipakai olehnya. Kening Azalea berkerut melihat hal itu. Perasaan tak nyaman langsung merasuki hatinya.


Tidak mungkin Asphodella mengirimkan bunga itu untuk Sophia. Sepertinya Asphodella ingin memberitahunya sesuatu tentang Sophia lewat bunga petunia itu. Alder yang kembali menatap ke arah tangkai bunga petunia terkejut dengan sulur aneh yang keluar.


“AWAS!” teriaknya keras saat sulur itu hendak menyambar mereka. Tangannya mendorong Azalea menjauh.


Dia sendiri dan Aren melompat ke belakang menghindarinya. Azalea menggunakan kekuatannya untuk mengurung sulur itu. Setelah berkutat selama beberapa saat, dia akhirnya berhasil menghancurkan sulur itu. Dia kemudian bangkit dan berdiri di pembatas lantai dua. Memandang ke bawah.


Matanya bertatapan dengan Sophia yang balas menatapnya dengan senyum dingin. Setelah beberapa saat, Sophia membuang muka dan pergi diikuti oleh Liam. Tampak pengunjung lain ketakutan melihat hal itu, sementara Madam Elsie sendiri terlihat khawatir.


Azalea memegang pembatas lantai 2 dan memejamkan matanya. Tampak dari tangannya sulur english ivy muncul dan mulai menyelimuti seluruh area perpustakaan. Dia merasakan kalau Sophia telah menanamkan petunia di perpustakaan. Dia sengaja menumbuhkan english ivy untuk menekan efek negatif petunia.


“Kita pergi sekarang,” ucapnya dengan nada tegas pada Alder dan Aren.


Sebelum keluar dari pintu, Azalea diam dan menjentikkan jarinya. Setelah itu, langsung pergi diikuti oleh ketiga sahabatnya. Mereka berjalan dengan cepat kembali ke toko bunga Azalea.


“Apa itu tadi, Azalea?” tanya Aren begitu mereka sampai di toko.


“Sejak awal sebenarnya aku sudah bisa merasakan kalau hati Sophia itu gelap. Kupikir hanya karena egoismenya yang menyukai Alder, tapi ternyata…” Azalea menghela napas dan menjatuhkan diri di sofa.


“Lalu kamu tadi melakukan apa di perpustakaan?” tanya Alder sambil menyodorkan segelas minuman.


“Menghapus ingatan orang-orang tentang Sophia,” jawab Azalea. “Dan aku juga berusaha menekan energi negatif di situ. Sophia sepertinya telah menanamkan petunia di salah satu ruangan di perpustakaan.”


“Soal ramuannya…”


“Aku bisa membuatnya sekarang. Tolong ambilkan sekuntum bunga iris dan flower honey.”


Alder melaksanakan apa yang diminta Azalea. Aren sendiri tetap berada di situ dan membantu Azalea menyiapkan barang-barang yang dibutuhkannya. Dalam hati, dia tidak akan pernah membiarkan Sophia maupun Poppy melukai Azalea dan Asphodella.


“Aku butuh darahmu, Alder,” ucap Azalea.


Setelah itu, Azalea membuat luka goresan di tangannya dan memasukkan tangannya ke dalam mangkuk. Tampak cairan itu masuk ke dalam tubuh Azalea. Aren dan Alder sama-sama sedikit terkejut saat melihat Azalea membuka mata dan semuanya berwarna merah darah. Hal itu hanya sebentar dan kedua matanya kembali normal.


“Aku hanya punya waktu sampai lusa. Setelah itu, Asphodella harus mengeluarkan ramuan ini dari tubuhku,” ucap Azalea.


“Memangnya kenapa kalau cairan itu tidak dikeluarkan?” tanya Aren.


“Aku akan menjadi dark florist,” jawab Azalea.


“Apakah hal itu berbahaya? Maksudku, kamu menjadi dark florist?” tanya Alder.


“Alam akan menjadi tidak seimbang. Aturan dalam three angel lights adalah dua lights florists dan satu dark florist. Kalau tidak, kami akan kalah melawan blood florist.”


Alder dan Aren menganggukan kepala mereka paham dengan penjelasan Azalea. Mereka berdua memberekan semua perlatan itu. Azalea duduk tenang menunggu sampai kedua pemuda itu selesai beres-beres. Hingga dia merasakan energi gelap berbahaya mendekat ke arah mereka.


“Sebentar lagi akan ada yang datang,” ucapnya memandang Alder dan Aren. “Tato yang kalian miliki bukanlah tato sembarangan. Melalui tato itu kalian akan mendapatkan kekuatan. Aku bisa membuka sigillum milik Alder, tapi milik Aren hanya bisa dibuka oleh Asphodella.”


“Itu artinya kekuatanku terhubung dengan Asphodella,” ucap Aren.


“Benar,” sahut Azalea kemudian memangil Alder untuk mendekat. “Ulangi ucapanku. Natura, fiori, luce.”


“Natura, fiori, luce.”


Aren melihat sekuntum bunga azalea merah muncul di atas kedua tangan Azalea. Di sekeliling bunga itu, tampak hamburan bunga snowdrop, dan tameng. Pelahan, bunga itu melayang dan masuk ke dalam tubuh Alder lewat dadanya.


Alder yang merasakan energi aneh mengerang kesakitan sejenak. Tapi perlahan rasa sakit itu menghilang seiring rasa hangat yang masuk ke dalam tubuhnya. Dia membuka mata ketika rasa sakitnya telah menghilang dan menatap Azalea yang berdiri tenang. Aren sendiri tampak khawatir menatapnya.


“Sebentar lagi akan ada yang datang,” ucap Azalea memandang keluar kaca toko. “Lindungi dirimu menggunakan pendantmu, Aren. Setelah selesai berurusan dengan mereka, kita pergi menemui Asphodella.”


“Baik,” jawab Aren.


Alder refleks menyilangkan tangannya di depan dada saat hempasan angin memecahkan kaca toko. Sebuah simbol tameng muncul melindunginya, Azalea, dan Aren. Dia mempertahankan posisi itu hingga tidak ada lagi pecahan kaca yang melayang. Matanya memandang keluar. Tampak di kejauhan beberapa orang berjubah hitam berjalan mendekat.


“Selamat malam, Azalea.”


Sebuah suara dingin yang sangat familiar menyapa Azalea. Kening Alder dan Aren berkerut mendnegar suara itu, Poppy. Benar saja, begitu sosok itu membuka tudung jubahnya, nampak wajah cantik Poppy memandang mereka dingin.


“Poppy,” ucap Aren dengan nada terkejut.


“Halo, Aren. Kamu seharusnya ada disisiku menemaniku menghancurkan para light florists dan dark florist. Tapi sepertinya susah sekali memutus tali penghubungmu dengan Asphodella,” ucap Poppy sambil mendengus kesal.


“Sayang sekali cahaya hatimu yang cantik tertutup oleh kegelapan yang jahat, Poppy,” ucap Azalea dengan suara tenang.


“Ini hidupku, Azalea. Terserah aku mau memilih jalan yang mana!”


Saat Azalea dan Poppy tengah bercakap-cakap, sekuntum petunia terbang dan nyaris menembus dada Aren kalau tidak dihalau oleh seseorang. Sosok berjubah hitam itu berdiri sambil membawa kuntum petunia yang melayang di atas telapak tangannya. Tak lama, api merah muncul dan menghancurkan bunga itu.


“Ini bukan waktunya untuk bermain-main, Della,” tegur Azalea lembut.


“Aku tahu. Tapi si petunia bodoh yang hanya berani bersembunyi di balik tubuh ibunya dan kedua adiklnya itu selalu berhasil membuatku kesal,” sahut Asphodella sambil membuka tudung jubahnya.


“Jangan menghina Flora!” sentak Poppy sambil mengeluarkan kuntum-kutum bunga poppy merah.


Kuntum-kuntum itu perlahan berubah menjadi tombak kecil yang siap menembus tubuh keempat orang itu. Beruntung Alder mengeluarkan tameng pelindung tepat pada waktunya. Poppy mendengus kesal melihat hal itu. Ingin sekali dia menyerang habis-habisan Azalea dan Asphodella kalau tidak ingat sang Ratu menyuruhnya memancing kedua florist itu ke Auburn.


“Kalau kalian berdua berani, silakan penuhi undangan kami. Datanglah ke Auburn besok sore,” ucap Poppy yang kemudian pergi menghilang bersama kedua guardnya.


Azalea berdiri tenang melihat kepergian Poppy. Tidak dihiraukannya umpatan Asphodella, juga Alder dan Aren yang berusaha menenangkannya. Dia tahu kalau undangan itu adalah jebakan untuk mereka. Masalahnya adalah dia harus berhasil merebut buku Rosetta. Kalau tidak, Rosetta bisa musnah.


“Terkadang kita harus kalah agar akhirnya kita bisa menang, Putri.”


Azalea tersentak mendengar ucapan guardian treenya. Dia tersenyum kecil dan memantapkan hati memenuhi undangan Sophia yang disampaikan Poppy.


“Buka sigillum milik Aren, Della. Setelah ini, aku dan Alder akan menemui Madam Annura dan orang tua Alder. Tolong bereskan toko,” ucapnya dengan nada lembut tapi tegas pada Asphodella.


“Baiklah, baiklah. Pulang nanti mampirlah di toko roti milik Edgar. Aku ingin roti isi selai apel,” sahut Asphodella.


Azalea menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia mengajak Alder untuk segera pergi ke rumah wali kota, barulah setelahnya ke rumah Alder. Tidak ada obrolan di sepanjang perjalanan. Baik Azalea maupun Alder tengah mempersiapkan diri untuk menerima kejutan dari Sophia dan juga Poppy. Dalam hati, Alder berharap kalau tidak ada yang terluka di antara mereka berempat nantinya.