
Jauh di Timur, tepatnya di sebuah hutan, berdiri megah sebuah istana di tengah danau. Sosok perempuan cantik bergaun putih bersih berdiri di jendela. Mahkota bunga dari cahaya melingkar di atas kepalanya. Mata abu-abu peraknya memandang hamparan bunga di padang tepi danau lembut.
Tiba-tiba, sekuntum bunga berwarna merah melayang turun. Kuntum bunga yang masih kuncup itu bersinar lembut dan melayang di atas telapak tangannya. Begitu jatuh ke dalam tangannya, bunganya mekar secara. Sorot matanya melembut memandang kuntum bunga itu. Dengan penuh kasih, tangannya menyentuh lembut kelopak bunganya.
“Dua ratus lima puluh tahun aku menantimu, Sayang. Apakah kamu membutuhkan waktu selama ini untuk lahir? Maafkan ibu, Sayang. Seadainya waktu itu ibu bisa melindungimu dan kedua adikmu…” Perempuan itu menghela napas pelan dan tersenyum, “Pergilah, Nak. Ibu akan menemuimu ketika waktunya sudah tiba.”
Kuntum bunga itu melayang ke langit dan menghilang dalam kerlap-kerlip cahaya. Kesedihan dan kerinduannya menguap begitu saja. Perasaan lega menghampiri hatinya, membawa ketenangan.
“Kakak, kuharap putrimu juga sudah siap untuk kembali terlahir setelah ini,” ucapnya sambil memandang jauh ke balik hutan. “Sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai putri keduaku siap untuk lahir.”
* * *
Enam belas tahun setelahnya…
Mataku memandang kota kecilku, Maple Willow, yang kini tampak suram. Sudah hampir 3 tahun kota ini diselubungi kabut putih. Udara terasa dingin dan lembab menyentuh kulit. Tebalnya kabut yang menutupi kota, membuatku merindukan sinar matahari, warna-warni daun maple dan bunga, serta birunya langit. Aku sampai lupa bagaimana rasanya hangatnya sinar matahari menyelimuti tubuhku.
“Suasana kota rasanya makin suram ya?” ucap sahabatku.
Kami tengah duduk bersantai di taman kota. Hari itu kabut tidak terlalu tebal, sehingga kami memutuskan untuk sedikit jalan-jalan. Sudah hampir seminggu kami terkurung di rumah akibat tebalnya kabut.
“Aku rindu sekali hangatnya sinar matahari pagi,” keluh sahabatku.
“Sudah hampir tiga tahun,” ucap sahabatku dengan sorot mata menerawang. “Kira-kira, berapa lama lagi hukuman ini berakhir?”
“Entahlah…” Aku berusaha menatap menembus kabut. “Aku hanya berharap, penggantinya nanti adalah sosok yang benar-benar baik dan bijaksana dalam mengemban tugasnya.”
Sejenak kami menikmati keheningan. Hari semakin siang, kabut justru semakin tebal. Seolah-olah tidak mengijinkan matahari menyinari kota ini. Embun mulai membuat pakaian kami terasa basah. Aku mengingat peristiwa yang membuat Maple Willow menjadi seperti ini. Hal itu sama sekali bukan kesalahan kami, para penduduk, Maple Willow. Namun, entah kenapa kota ini justru mendapat hukuman.
“Kamu menyukainya?” tanya sahabatku sambil memandangku dengan raut wajah penasaran.
Aku tersenyum kecil dan menggelengkan kepala pelan. “Aku hanya sekadar mengaguminya. Aku hanya tidak mengira kalau di belakangku, dia bersikap sangat buruk. Aku heran, apakah sang Ratu tidak salah memilih gadis yang akan dijadikan salah satu putrinya?”
“Mungkin ada alasan sang Ratu tetap memilihnya walaupun tahu akhirnya akan seperti ini,” sahut sahabatku sambil mengangkat kedua bahunya.
“Yah, untung ada Nenek yang bersedia berjualan guna memenuhi kebutuhan Maple Willow yang sama sekali tidak bisa lepas dari bunga,” ucapku.
Setelah itu, kami mengobrol beberapa hal ringan. Kami sama-sama merindukan sekolah dengan suasana yang ceria. Tahun ini, kami sama-sama berharap bisa menikmati semester kedua di tahun kedua kami di SMA di Maple Willow High School dengan suasana lebih ceria. Harapan terbesar kami tentu saja supaya bisa kembali bersekolah di bawah cahaya matahari.
* * *