
Azalea dan Rosetta duduk berhadapan di atas karpet dalam kamar Azalea. Kedua tangan mereka saling berpegangan dengan mata tertutup. Di sekeliling mereka berbagai macam kuntum bunga melayang dengan mengeluarkan sinar lembut. Dari kedua tangan mereka muncul sulur-sulur yang saling membelit tampak menyentuh.
Sesekali, kening Azalea dan Rosetta berkerut melihat bayangan masa lalu.
Sosok berjubah hitam berdiri di depan sebuah pohon raksasa.
“Pergi dan bawalah Putri Mary padaku!”
“Apa yang akan kamu lakukan pada Putri Mary, Blood Tree?”
“Akan kulakukan apa pun yang kamu perintahkan, Princess.”
Mereka berpindah tempat ke sebuah istana es.
Sosok perempuan cantik berbalik gaun putih berdiri gelisah di hadapan three angel lights. Sebuah mahkota kristal bertengger di atas kepalanya.
“Ada apa, Ibunda? Kenapa Ibunda terlihat gelisah sekali?” Sosok gadis kecil berambut abu-abu keperakan pada sang perempuan.
“Kegelapan akan datang, Putriku. Kegelapan itu hanya bisa dikalahkan dengan cahaya hati yang murni.”
“Kapan kegelapan itu datang, Ibunda?”
“Kamu akan melihat tandanya, Putriku. Bulan biru, kuntum-kuntum bunga bersinar.”
Mereka berpindah lagi ke sebuah taman bunga di sebuah kerajaan. Sepasang suami-istri, Raja dan Ratu tengah berbicara dengan sosok perempuan bergaun putih keperakan. Setelah perempuan bergaun putih keperakan itu pergi, bayangan masa lalu yang mereka dapatkan seperti video yang diputar dengan sangat cepat.
Azalea dan Rosetta membuka kedua mata mereka. Perlahan, suasana dalam kamar kembali normal. Kuntum-kuntum bunga itu menghilang dan digantikan dengan kegelapan. Untuk sejenak mereka berdiam dalam kegelapan. Kemudian, Azalea memutuskan menyalakan lampu dengan kekuatannya.
“Siapa sosok perempuan berjubah yang berbicara dengan Blood Tree itu?” tanya Rosetta sambil bangkit dan duduk di atas tempat tidur Azalea.
“Entahlah. Tapi aku ingat satu nama yang pernah disebut oleh Ibunda Aleena, yaitu Anastasha, sang pelayan Blood Tree,” jawab Azalea.
“Kalau begitu, perempuan di istana kristal tadi pasti Ratu Krystal,” ucap Rosetta.
“Menurutku bukan,” sahut Azalea sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Putrinya itulah Ratu Krystal.”
“Kalau memang gadis kecil itu Ratu Krystal, apakah dia juga mengangkat anak seperti kedua Ibunda dan Ratu Mary? Kalau iya, maka aku tidak akan heran dengan simbol mahkota kristal pada Briana.”
“Entahlah, Rosie. Aku sendiri bingung. Kenapa setiap kali kita berusaha mencari tahu masa lalu, selalu saja terlempar pada dua peristiwa itu? Apakah ada yang mengatur semuanya, sehingga kita hanya bisa melihat kedua hal itu?”
“Nggak tahu juga.”
Rosetta memutuskan berbaring di atas tempat tidur. Azalea tersenyum melihat hal itu dan ikut membaringkan tubuhnya. Rosetta memegang tangan Azalea dan memejamkan matanya sejenak. Tidak lama pemandangan langit-langit kamar berubah menjadi pemandangan sebuah taman.
Azalea tersenyum melihat kenangan masa lalu mereka di padang chrysanthemum. Dia tahu kalau moment di padang itu adalah kenangan berharga bagi Rosetta, termasuk dirinya. Walaupun dia tidak pernah mengakui secara langsung hal itu.
Perlahan, keduanya jatuh tertidur karena kelelahan.
* * *
Gina yang tengah tertidur terbangun merasakan hembusan angin dingin. Dengan raut wajah bingung, dia memandang pintu balkon yang tampak terbuka. Hal itu terlihat dari tirainya yang berkibar lembut.
“Kok kebuka? Seingetku udah kukunci,” gumamnya sambil mengunci kembali pintu balok.
Saat berbalik, dia dikejutkan oleh sosok perempuan berjubah hitam. “Siapa kamu?” tanyanya dengan raut wajah ketakutan.
“Gina,” ucap perempuan itu sambil melangkah maju.
“Siapa kamu? Mau apa kamu datang padaku?”
“Aku tidak berminat menyakitimu, Agina. Aku hanya ingin kamu memberitahuku dimana Azalea, Asphodella, dan Rosetta berada sekarang.”
“Sampai mati pun, aku nggak akan beri tahu!” sentak Gina dengan suara berani.
“Katakan padaku dimana mereka bertiga, Gina! Atau aku akan membunuhmu!”
“Tidak. Aku tahu kamu pasti datang untuk mencari mereka bertiga. Beruntung aku sudah memperingkatkan Azalea soal hal ini. Sehingga dia bisa menyembunyikan keberadaannya,” ucap Gina dengan nada tajam. “Bunuh saja aku. Aku tidak takut.”
Gina tahu kalau perempuan itu marah mendengar ucapannya. Dia menahan napas ketika melihat kuntum-kuntum bunga dan daun berwarna hitam menyelubungi tubuhnya. Perlahan, kesadarannya menghilang menghirup serbuk dari bunga itu. Namun, sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, tangannya bergerak menyentuh liontin kalungnya.
“Azalea…” Gina dan perempuan tadi menghilang dari kamar Gina. Menyisakan setangkai mawar hitam yang tergeletak di atas tempat tidur.
* * *
“Jadi, katakan padaku di mana Azalea dan Rosetta berada! Aku sudah berusaha mencari mereka dengan locater, tapi gagal,” ucap Flora dengan nada dingin.
“Tidak! Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah memberi tahumu soal Rosetta!”
“Kalau begitu, aku bisa menjadikanmu umpan agar mereka muncul.”
Laura terkejut ketika kuntum-kuntum bunga muncul di sekeliling tubuhnya. Serbuk-serbuk yang dikeluarkan oleh bunga itu membuat kepalanya pusing. Tak lama kemudian, tubuhnya melayang seiring kesadarannya yang menghilang.
Flora masuk dalam lingkaran bunga itu dan menghilang membawa Laura yang tidak sadarkan diri. Sebelum menghilang, dia melemparkan seberkas cahaya hitam ke atas tempat tidur. Dari cahaya itu, muncul setangkai mawar berwarna hitam pekat.
* * *
Azalea…
Azalea yang tengah tertidur membuka mata dengan raut wajah terkejut mendengar bisikan itu. Dia duduk dan memandang sekuntum bunga matahri yang melayang masuk ke dalam kamarnya. Tangannya menengadah menangkap bunga matahari itu. Matanya terpejam dan bunga matahari itu bersinar.
“Di mana Azalea, Asphodella, dan Rosetta?”
“Aku nggak tahu. Kalau pun aku tahu, sampai kapan pun aku nggak akan beri tahu!”
“Aku akan membunuhmu kalau kamu tidak mau memberi tahuku, Gina.”
“Iya, bunuh saja aku nggak masalah.”
Azalea membuka matanya. Bunga matahari itu menghilang. Dia bangkit dan berjalan menuju ke balkon kamar. Matanya menatap bulan yang bersinar redup di langit. Kegelisahan, kesedihan, dan ketakutan terpancar di kedua matanya.
“Jadi ini alasanmu memintaku memasang pelindung padaku dan Rosetta, Gina?” gumamnya pelan. “Aku akan datang nyelametin kamu. Kamu tunggu aja di sana.”
“Ada apa?” tanya Rosetta dengan nada mengantuk.
Azalea menceritakan perihal Gina yang diculik sosok perempuan berjubah hitam. Rosetta mendengarkan dengan serius cerita sang kakak. Setelah itu, dia mengajak Azalea kembali tidur. Bukan karena tidak khawatir akan kondisi Gina, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang.
Sayangnya, pagi-pagi buta mereka dibangunkan oleh Mama yang memberi tahu perihal menghilangnya Laura. Sekitar pukul 5, Mama dikagetkan oleh telepon yang masuk. Saat dilihat, ternyata Tante Ilka yang menelepon. Tante Ilka bertanya soal Rosetta, dan Mama menjawab kalau Rosetta masih tidur bersama Azalea. Barulah setelah mengetahui Rosetta baik-baik saja, Tante Ilka memberi tahu kalau Laura menghilang.
Azalea dan Rosetta bergegas pergi ke rumah Rosetta. Tante Ilka dan Om Ridwan tampak lega melihat kedatangan mereka. Setelah mendnegar penuturan Tante Ilka dan Om Ridwan, mereka masuk ke kamar Laura dan menemukan setangkai mawar hitam.
“Ada apa ini, Azalea?” tanya Rosetta dengan suara bergetar. “Kenapa mereka nyulik Kak Gina dan Kak Laura?”
“Karena dengan begitu kalian akan muncul,” ucap Tante Ilka yang sejak tadi berdiri di pintu kamar.
“Rosie, Mama dan Papa nggak akan menghalangi kalian. Tapi, kami cuma minta kalian untuk berhati-hati, Nak. Mama dan Papa nggak mau sampai kalian berdua terluka,” ucap Om Ridwan lembut.
“Papa sama Mama nggak usah khawatir. Rosie kan memang sejak dulu lahir dengan memikul beban ini,” ucap Rosetta.
Azalea bingung melihat orang tua Rosetta tampak biasa saja melihat semua keanehan ini. Lebih tepatnya, Tante Ilka dan Om Ridwan bersikap sama seperti Mama dan Papa ketika mendengar ceritanya dulu. Itu artinya, mereka sudah tahu masalah siapa dirinya dan Rosetta sebenarnya.
Azalea kemudian memejamkan matanya. Dia berusaha menghubungi Asphodella, tapi gagal. Dia akhirnya mencoba menghubungi Briana, Alder dan Aren bergantian. Semua berakhir sia-sia. Seolah-olah, kekuatannya musnah atau lebih tepatnya ada yang menghalangi mereka semua.
“Kenapa, Lea?” tanya Tante Ilka melihat kekalutan di wajah Azalea.
“Aku mencoba menghubungi Della, Briana, Alder, dan Aren, tapi tidak bisa,” jawab Azalea.
“Sepertinya, ada yang menghalangi kekuatan kalian,” ucap Om Ridwan. “Lihat ke sekeliling ruangan ini dengan seksama.”
Azalea dan Rosetta memandang ke sekeliling kamar. Benar yang dikatakan oleh Om Ridwan. Ada semacam kabut hitam tipis di sekeliling mereka. Tidak bisa dilihat dengan mata telanjang manusia, tapi mereka berhasil melihatnya. Mereka menyingkirkan kabut itu dari rumah Rosetta.
“Kami pergi dulu, Om, Tante,” ucap Azalea. “Aku hendak menyingkirkan kabut ini dari rumah.”
“Tapi, kami tidak berjanji akan kembali ke sini,” sambung Rosetta.
“Pergilah, Nak. Tentukan masa depan dan takdir kalian. Tapi, kami ingin kalian tahu kalau kami semua akan selalu menunggu kepulanga kalian,” ucap Tante Ilka lembut.
“Terima kasih ya, Ma,” ucap Rosetta sambil memeluk kedua orang tuanya.
Setelah itu, Azalea dan Rosetta pergi kembali ke rumah Azalea. Tante Ilka dan Om Ridwan hanya bisa memandang kepergian kedua putri mereka dengan raut wajah sedih. Ada rahasia yang tidak pernah mereka ceritakan pada Rosetta. Walaupun begitu, mereka tahu kalau tidak lama lagi rahasia itu akan terbongkar dengan sendirinya.