
Azalea melangkah mundur, hendak pergi. Namun tiba-tiba ….
“Hhmph!”
“Ssstt!”
Azalea melirik dan diam-diam lega melihat ternyata sosok itu adalah Aren. Dia memperhatikan Aren yang mengendalikan kabut hitam untuk menutupi mereka. Matanya terpejam ketika merasakan angin dingin berembus. Tangannya memegang erat lengan Aren.
Ketika membuka mata, dia terkejut sudah berada di dalam sebuah ruangan. Keterkejutannya berlipat melihat Rosetta berbaring di atas tempat tidur. Tanpa memedulikan Briana dan Alder yang juga ada di situ, dia mendekati Rosetta. Tangannya menggenggam tangan kanan Rosetta.
“Apa yang terjadi?” tanyanya sambil memeriksa Rosetta.
“Rosetta menggunakan kekuatannya untuk mengambil racun dalam tubuhku. Setelah itu, dia langsung ambruk tak sadarkan diri,” jelas Alder.
Azalea diam, kemudian mengulurkan satu tangan ke atas dada Rosetta. Dia berkonsentrasi memusatkan kekuatannya. Tak lama, muncul kabut hitam yang tadi diambil dari dalam tubuh Alder. Setelah itu, dia menggunakan cahaya kristal untuk membungkusnya, lalu membuat rantai.
Kalung berliontin kabut hitam dalam kristal itu kemudian dikenakannya. Hatinya lega ketika Rosetta tersadar. Dia memeluk sang adik erat. Ketakutannya lenyap seketika. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Rosetta, dia pasti akan benar-benar berduka. Tubuhnya menegang ketika merasakan energi kuat yang mendekat.
“Kita harus pergi dari sini,” ucap Briana dengan suara takut.
“Biar Rosie kugendong,” ucap Rhys.
“Tidak.”
Semua diam memandang Azalea dalam kebingungan. Jelas saja mereka kaget mendengar ucapan sang Putri Pertama. Azalea tampak diam dengan kening berkerut. Menandakan kalau sang Putri Pertama tengah memikirkan sesuatu. Semua diam menunggu apa pun yang hendak dikatakan oleh sang Putri.
Azalea menungulurkan tangannya. Tampak keluar kerlap-kerlip cahaya kuntum azalea dari kristal di tangannya. Tiba-tiba, di depan mereka semua, terbentang dinding kristal dengan di tengahnya terdapat simbol bunga azalea merah. Perlahan, kristal itu memudar hingga tidak terlihat.
“Well …. Well …. Look who’s here ….”
Sebuah suara sinis bernada dingin mengejutkan mereka semua. Azalea memasang sikap waspada dan memandang tajam pada empat orang berjubah yang datang mendekat. Dia mengenali ketiga lainnya, tapi tidak dengan sosok berjubah dengan tudung menutupi wajah.
Sosok bertudung itu mencoba menyentuh Azalea yang berdiri paling dekat dengannya. Namun … ting! Terdengar seperti denting sendok dan garpu ketika jarinya mengenai dinding es tak terlihat.
“Kamu tidak bisa melukaiku di rumahku sendiri,” ucap Azalea tenang.
“Yeah, you’re right.” Sosok itu mengulas senyum samar.
“Who are you? Where’s Queen Mary?” tanya Azalea dengan nada tajam.
“She is not your mother. Why are you looking at her?” Sosok itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “You better get ready, Azalea. The second gate will be opening soon.”
“Apa kegunaan ketiga gerbang itu?” tanya Azalea.
“Kamu bertanya padaku? Bukankah kamu sudah tahu sendiri jawabannya? Kalau belum, sebaiknya kamu cepat menemukan cara membuka kotak pandoranya,” ucap sosok itu dengan senyum sinis.
PRANGGG!
Azalea tersenyum dingin melihat Flora dan Poppy berhasil menghancurkan dinding kristalnya. Hempasan angin berhembus kuat. Briana meraih Alder yang masih lemah, sementara Rhys merangkul Rosetta. Aren sendiri membantu Azalea menahan angin itu.
Azalea menggunakan kekuatannya dan pergi dari tempat itu. Mereka berenam sampai di Swan Lake dalam tanpa terluka. Hal itu membuat Asphodella yang sudah menunggu, menghembuskan napas lega. Asphodella menghampiri Azalea.
“Ayo, Della!” Azalea menarik Asphodella untuk pergi dari situ.
“Azalea …,” ucap Rosetta lirih.
“Iya, Rosie. Aku dan Della ada di sini,” ucap Azalea lembut.
Asphodella menumpangkan tangannya di atas dada. Dia menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Rosetta. Helaan napas lega lolos dari bibirnya, ketika melihat wajah Rosetta kembali seperti biasa. Tak lama, adiknya itu tampak sudh bisa tersenyum dan bangkit.
“Siapa sosok berjubah itu?” tanya Briana sambil menyembuhkan Alder.
“Dia adalah sang pelayan Blood Tree, penguasa sihir blood tree yang sebenarnya. Dia bahkan jauh lebih kuat daripada Ratu Mary,” jawab Azalea.
“Iya, tapi kita tetap tidak tahu siapa dia,” ucap Aren.
“Aku pernah melihatnya, bersama Rosetta dan Asphodella, dalam ingatan. Ibunda Aleena melihatnya, tapi kami tidak tahu siapa dia,” jelas Azalea.
“How to open the pandora box?” tanya Alder tiba-tiba.
“We don’t know yet,” jawab Azalea tersenyum kecil.
Azalea belutut di sebelah Alder dan memegang tangan kanannya. Menyalurkan sedikit energi kristal untuk membantu Alder pulih. Hatinya lega melihat wajah pucat Alder mulai memudar dan kembali seperti biasa. Selama beberapa hari yang lalu, ada rasa sakit yang ditahannya. Rasa sakit itu berasal dari Alder yang terhubung lewat ikatan mereka.
“Kalau aku mati, kamu juga akan mati,” ucap Alder memandang teduh wajah Azalea.
“Aku tahu risikonya,” ucap Azalea tersenyum kecil. “Ayo, masuk ke rumah! Orang tua Rhocya ada Rhys?” Azalea memandang Rhys yang baru keluar dari rumah.
“Mereka sedang ada di perpustakaan kota,” jawab Rhys.
Azalea memandang Alder yang dibantu oleh Aren dan Rhys, sementara Briana mengikuti dari belakng. Kini, tinggallah dia bersama kedua adiknya di situ. Begitu Briana dan ketiga pemuda itu menghilang di balik pintu, dia melingkupi seluruh rumah dengan pelindung kristal. Sejak bisa menggunakan kekuatan kristalnya, semua jadi lebih mudah.
Azalea, Rosetta, dan Asphodella duduk di tengah danau dengan santai. Mereka menikmati embusan angin lembut di sekitar mereka. Kabut hitam masih berada di sekeliling kota, membuat mereka bagaikan dalam tempurung.
“Apakah kamu bisa melihat gerbang kedua, Della?” tanya Azalea pada Asphodella.
“Biar kucoba,” jawab Asphodella.
Asphodella kemudian memejamkan matanya. Berusaha melihat gerbang yang dimaksud. Mencari gerbang itu bagaikan berjalan dalam kabut. Semua tampak gelap dan sunyi, seolah-olah gerbang itu berada dalam dunia lain.
Azalea dan Rosetta menunggu dengan sabar. Namun, Rosetta bukanlah tipe orang yang mau duduk diam. Walaupun tadi sempat terluka, kini dia sudah pulih. Dia bangkit dan tempat duduk kristalnya dan berdiri di belakang Azalea. Tangannya dengan luwes merapikan rambut sang kakak pertama, lalu mengepangnya.
“There’s something in Auburn City,” ucap Asphodella pelan. “Sebuah jalan menuju ke sebuah hutan gelap. Di dalam hutan itu ada sebuah gerbang, tapi itu gerbang ketiga.”
Asphodella mengatakan semuanya dengan kedua mata tertutup. Sesekali keningnya tampak berkerut. Namun, tak lama kemudian dia membuka mata dengan raut wajah kecewa. Memandang Azalea yang balik menatapnya tenang.
“I can’t find the second gate,” ucapnya pelan.
“Hal itu pasti karena Flora sudah menutupinya. Sepertinya, memang tidak ada cara lain selain membiarkan ketiga gerbang itu terbuka,” ucap Azalea.
“Tapi, bagaimana kalau hal buruk terjadi begitu pintu ketiga terbuka?” tanya Asphodella.
“Kita percaya saja, kalau kita pasti mampu mengatasi semua yang terjadi,” sahut Azalea lembut.
Asphodella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Rosetta masih terus mendandani Azalea, tapi dia tentu saja mendengarkan ucapan sang kakak pertama. Untuk saat ini, mereka tidak boleh sampai terpisah.