
PART 15 BITTERSWEET’S MESSAGE
Azalea, Asphodella, dan Rosetta duduk santai di tepi danau. Sesekali Rosetta dan Asphodella adu mulut, kemudian tertawa. Azalea memilih tertawa dan melerai kedua adiknya. Mereka bertiga seolah-olah tidak ada beban yang ditanggung, atau … memang aslinya seperti itu.
Saat tengah mengobrol, Asphodella merasakan aura yang dikenalnya, Carissa. Matanya terpejam dan membukakan jalan agar florist itu bisa masuk. Senyumnya mengembang melihat sosok bayangan Carissa. Sementara itu, Azalea dan Rosetta sedikit terkejut.
“Carissa memberi hormat pada Putri Azalea, Putri Rosetta, dan Putri Asphodella,” ucap Carissa dengan suara merdu.
“Selamat malam, Carissa,” sapa Azalea lembut. “Ada hal apa sampai kamu datang ke sini?”
“Bittersweet memintaku untuk mengantarkannya ke tempat ini, Putri,” jawab Carissa.
Azalea mengulurkan tangannya. perlahan, sekuntum bittersweet melayang dari tubuh Carissa. Bittersweet itu berhenti di atas telapak tangan Azalea, kemudian berubah menjadi gulungan kertas yang diikat dengan kristal.
“Terima kasih, Carissa. Kamu boleh pergi,” ucap Azalea.
“Baik, Putri. Sampai bertemu lagi,” ucap Carissa.
Begitu Carissa pergi, Azalea membuka gulungan itu. Bersama Asphodella dan Rosetta, dia membaca pesna yang tertulis di dalamnya. Bittersweet itu sebenarnya bertugas mengawasi Briana dan Rhys.
Ada kekuatan gelap lain yang mulai bangkit. Kegelapan ini jauh lebih pekat daripada darah. Ada rahasia di balik kabut hitam ini. Singkaplah lebih dulu rahasia masa lalu. Rahasia ini akan sangat menyakitkan, tapi terpuruk atau
bangkit itu pilihan.
Azalea hendak menutup kembali gulungan itu, tapi dicegah oleh Asphodella. Dia membiarkan Asphodella mengambil gulungan itu dan membacanya. Matanya memandang jauh ke ke tree angel lights tree di tengah danau. Tangannya terulur menyentuh salah satu cahaya hati florist yang melayang di dekatnya.
“Aku rasa … rahasia masa lalu itu ada hubungannya dengan gadis kecil lain yang dilihat oleh Ibunda Aleena,” ucap Asphodella pelan.
“Kurasa ….” Azalea menggumam pelan.
“Semua rahasianya ada dalam buku,” sahut Rosetta. “Tahu ‘kan? Buku di dalam ruang rahasia perpustakaan Maple Willow.”
“Masalahnya adalah …,” Azalea memotong ucapan kedua adiknya, “aku meminta Alder untuk menguncinya dengan snowdrop. Jadi, aku butuh snowdropnya untuk membuka pelindung yang dipasang.”
Serempak Rosetta dan Asphodella diam berpikir. Kalau di sana tidak ada Flora yang menyamar jadi Briana, tentu saja semua akan mudah. Sepertinya, Briana dan Rhys belum berhasil mengusir Flora dari Maple Willow. Anehnya, mereka berdua tidak mau meminta bantuan kalau memang kesulitan.
Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan sekuntum cahaya hati bunga yang muncul dan melayang turun. Cahaya hati bunga florist itu berhenti di depan mereka. Sosok Briana muncul dan memandang mereka ketakutan. Mereka bertiga langsung berdiri dan menatang sang Putri Kristal.
“Azalea, tolong kami!”
“Bri? Ada apa? Apa yang terjadi?” Azalea ikut panik.
“Putri Flora hendak menghancurkan pelindung snowdrop di ruang rahasia. Alder saat ini benar-benar tidak berdaya mengahalau kabut hitam ini,” jelas Briana.
“Apa yang terjadi di Maple Willow sebenarnya, Bri? Pesan dari bittersweet tidak lengkap,” tanya Azalea dengan suara tenang. Kalau dia panik, Asphodella dan Rosetta juga akan ikut panik.
“Putri, ketiga buku di ruang rahasia menyimpan sesuatu yang sangat besar. Apabila Putri Flora berhasil mendapatkan buku itu, nyawa semua florist akan terancam. Alder selama ini secara berkala memperbaiki pelindungnya, tapi kini dia sudah terlalu lemah. Hal itu karena dia telah menyerahkan hampir separuh kekuatannya untuk membuatkanmu pelindung,” jelas Briana.
Azalea terdiam mendengar ucapan Briana. Membuatkannya pelindung? Tangannya tanpa sadar menyentuh liontin kalung yang waktu itu diberikan oleh Rhys. Apakah ini benar-benar pelindung snowdrop dari Alder? Mengirimkannya di tengah kabut hitam seperti ini pasti membutuhkan kekuatan yang cukup besar.
“Tolong kembalikan pelindung ini padanya,” ucap Azalea sambil melepas kalung itu.
“Tidak, kamu lebih membutuhkannya, Putri. Pelindung itu akan melindungimu,” tolak Briana.
“Masalahnya, sekarang Alder membutuhkannya, Bri. Dia bisa mengirimkannya lagi padaku ketika kondisinya sudah lebih baik,” sahut Azalea.
“Masalah itu, hanya kamu yang bisa menyembuhkannya,” ucap Briana yang tubuhnya mulai memudar. “Tolong kami, Putri.”
Azalea memegang erat kalung itu. Tubuhnya bergetar ketakutan mengetahui Alder dalam beradaan bahaya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Alder bisa mati kalau dia tidak menyelamatkannya, tapi dia juga harus mengambil ketiga buku itu. Matanya memandang Rosetta dan Asphodella yang balik menatapnya.
“Aku butuh bantuan kalian berdua untuk menyelamatkan Alder, lebih tepatnya Rosie,” ucap Azalea pelan.
“Kenapa aku? Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Rosetta.
“Oke,” sahut Asphodella.
Mereka bertiga pergi ke tengah danau. Azalea yang berada paling depan menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu teleportasi ke Swan Lake. Cahaya terang menyelimuti tubuh mereka dan tak lama, menghilang. Mereka telah berada di Swan Lake, tak jauh dari rumah yang dulu ditempati oleh Azalea.
“Siapa di sana?!”
Azalea mengulurkan tangannya dan menghempaskan dua orang berjubah hitam yang mendekat. Saat hendak lari, Asphodella mengeluarkan sulur-sulur untuk menahan langkah dan menutup mulut mereka.
Beruntung Asphodella langsung menarik kedua sosok itu masuk masuk ke dalam padang. Tempat itu telah diberi pelindung oleh Azalea. Tidak sembarang orang bisa masuk ke tempat itu, kecuali pada light florist. Rosetta bergerak membuat tudung kepala mereka.
Asphodella bergerak melepaskan sulur-sulur itu dari keduanya. Dia berdiri di sebalah kanan Azalea dan ikut memandang kedua orang itu. Wajah mereka yang rupawan dihiasi kegelapan dan kekejaman, balik memandang dingin. Serelah berdiri sempura, mereka bermaksud menyerang ketiga Putri yang mereka kenali itu.
“Percuma saja,” ucap Azalea. “Ini daerah teritorialku. Kegelapan akan hancur kalau masuk ke sini tanpa izin.”
“Huh! Kalian tunggu saja sampai Putri Flora datang ke sini!” desis sang blood florist perempuan.
“Annabeth dan Zachary,” ucap Azalea. “Sayang sekali kamu memilih pihak yang salah, Beth.”
“Bukan urusanmu!” sentak Annabeth.
Asphodella menggerakkan tangannya, membuat tubuh kedua musuh itu terangkat. Ketakutan tergambar jelas di wajah keduanya. Entah ke mana menghilangnya keangkuhan mereka tadi. Di tangan kiri Asphodella keluar pendang kritalnya. Pedang itu mengeluarkan cahaya dan kuntum-kuntum bunga asphodel putih.
“Kalian akan memberi tahu cara kami menyelamatkan Putri dan ketiga penjaga Istana Kristal, atau …,” Asphodella menodongkan pendangnya, “pedangku akan memisahkan kepala kalian.”
“Ba-baik, kami akan membantu kalian,” ucap Annabeth.
Mendengar hal itu, Asphodella menurunkan keduanya. Namun, pedangnya tetap teracung, seperti Rosetta yang sudah siap dengan busur dan anak panah kristalnya. Kedua senjata itu sudah bersiap untuk memusnahkan kedua blood florist itu.
Azalea menggerakkan tangannya, mengeluarkan cahaya kristal pengendali. Dengan cahaya itu, dia bisa mengendalikan Annabeth dan Zachary. Cara termudah dan tercepat yang bisa digunakan untuk saat ini. Mereka bertiga tiga punya waktu kalau sampai keduanya ternyata menyerang mereka.
“Annabeth, kamu akan mengantar Rosetta ke tempat Alder berada sekarang. Bantu dia bagaimanapun caranya!” titak Azalea.
“Baik, Putri,” sahut Annabeth.
“Sementara kamu, Zachary, akan mengantarku ke perpustakaan,” ucap Azalea, kemudian menoleh pada Rosetta. “Bawalah pendant pelindung dan bunga cahaya bulan ini bersamamu.”
“Apa yang harus kulakukan dengan kedua benda ini?” tanya Rosetta.
“Mereka akan menunjukkannya sendiri padamu,” jawab Azalea.
“Baiklah.”
Setelah itu, mereka bertiga berpencar. Rosetta bergerak mengikuti Annabeth menuju ke rumah florist. Langkahnya tanpa suara tanpa alas kaki, begitu juga dengan Annabeth. Dia menajamkan telinganya untuk mendengarkan sekitarnya.
Kabut hitam pekat melayang menyelimuti Maple Willow, atau bahkan seluruh dunia. Untuk bisa memusnahkan kabut ini, mereka bertiga harus bisa menemukan sumbernya. Kabut hitam ini mampu menghancurkan seorang light florist. Beruntung sekali kedua Ibunda telah memberikan pelindung untuk semua florist.
Anehnya, Rosetta tidak merasakan auran Ratu Mary sedikit pun saat ini. Hanya aura Flora, Poppy, dan Sophia, serta aura lain yang lebih dominan. Semuanya terasa sangat jahat dan gelap. Dia penasaran siapa gerangan pemilih aura dominan ini.
Rosetta dan Annabeth berhenti di halaman belakang rumah. Mata Rosetta dengan awas memperhatikan rumah, sementara telinganya mendengarkan dengan seksama. Dia memejamkan mata dan menyenandungkan lagu pelan. Terasa embusan angin di sekitarnya.
“Aku bukan orang jahat, Putri,” ucap Annabeth pelan.
Rosetta menghela napas pelan dan membuka matanya. Dia menoleh dan menatap Annabeth. Sepertinya, cahaya hati yang dipasang oleh Azalea tadi juga berguna untuk menghalau pengaruh jahat Flora.
“Aku tahu, Beth. Masalahnya, kamu tetap memilih berada di pihak blood florist,” ucap Rosetta pelan. “Kamu boleh pergi. Aku bisa sendiri dari sini.”
Rosetta menggerakkan tangannya mengambil cahaya hati pengendali dari Annabeth. Setelah itu, Annabeth pergi menghilang dalam kabut hitam. Tinggallah Rosetta sendirian di tempat itu. Kedua mata Rosetta mengamati keindahan taman bunga yang tertutup oleh kabut hitam. Tiba-tiba ….
“Akhirnya kamu datang juga, Rosie.”