
Azalea duduk termenung di taman belakang sekolah. Menikmati embusan sejuk angin yang membelai lembut wajahnya. Netranya yang bagaikan langit biru, mengamati keindahan rumpun bunga azalea yang mekar dengan indah, bunga milik kelasnya. Bunga bernama sama dengannya, Azalea. Di SMA-nya ini, setiap kelas memang memiliki sepetak tanah berukuran 1x1 meter untuk ditanami berbagai macam tanaman. Setiap tahun akan bertambah seiring masuknya siswa baru.
“Kamu suka sekali memperhatikan bunga azalea itu,” komentar Gina sahabatnya sambil menyodorkan gelas berisi ice chocolate pesanannya.
“Cuma suka aja kok,” sahut Azalea sambil tersenyum kecil. “Kebetulan sekali mereka mekar sekarang, sebelum musim hujan tiba.”
Tiba-tiba, muncul 3 orang cewek yang memandang sinis keduanya.
“Apanya yang bagus? Bunga jelek kayak gitu harusnya dimusnahin,” sahut Laura, musuh bebuyutan Azalea sejak SMP.
“Kamu mau ngapain, Lau?” tanya Gina saat melihat cewek itu beserta kedua temannya berjalan mendekati taman bunga Azalea itu.
"Laura!” Azalea memekik keras saat melihat Laura mematahkan satu dahan bunga Azalea dan menghancurkan bunganya.
“Kenapa? Nggak terima?” sahut Laura dengan nada mengejek dan tertawa melihat kemarahan Azalea. “Aku tuh heran, bunga jelek kayak gini kenapa selalu aja dipuji-puji yang lain sih?”
Azalea diam sambil mengepalkan kedua tangannya hingga memutih. Selama ini, dia selalu bersikap sabar dengan kelakuan Laura yang senang sekali mengganggunya. Tapi kini emosinya benar-benar memuncak. Apa yang dilakukan oleh Laura sekarang benar-benar sudah sangat keterlaluan.
Dia berjalan mendekati Laura yang masih tertawa bersama kedua temannya sambil meremas bunga azalea. Begitu sampai di dekatnya, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia menampar pipi Laura dengan keras. Hal itu tentu saja membuat Gina, Laura dan kedua temannya diam memandangnya dengan raut wajah terkejut.
“Aku udah sabar sama semua perbuatan kamu selama ini, Lau. Tapi kalau kamu sampai berani merusak hal yang berharga untukku, apalagi sampai merusak taman bunga kelasku, aku tidak akan tinggal diam,” ucap Azalea dengan nada dingin.
“Aku tuh benci banget sama kamu!” ucap Laura dengan menekankan ucapannya. “Kamu udah merebut perhatian semua orang, termasuk guru-guru, di tambah cowok yang aku suka juga ternyata lebih milih kamu. Bahkan hingga kita masuk SMA ini juga semua perhatian tertuju padamu.”
Azalea terhenyak mengetahui alasan Laura membencinya selama ini. Ternyata semua karena rasa iri akibat dirinya lebih disayangi oleh bapak/ibu guru walaupun mereka sama-sama termasuk golongan siswi berprestasi. Tapi soal cowok yang disukai Laura, dia sama sekali tidak tahu.
“Aku sama sekali nggak bermaksud seperti itu, Lau. Aku nggak berminat untuk bersaing denganmu, apalagi memperebutkan seorang cowok. Aku hanya ingin kita bisa berteman. Tapi sekarang aku baru tahu kalau keberadaanku di sini membuatmu sedih dan marah,” ucap Azalea dengan nada pelan. “Aku nggak pernah berharap semua lebih menyukaiku daripada kamu. Tapi tolong jangan rusak apapun itu, karena aku sendiri juga tidak melakukannya.”
Azalea kemudian mengajak Gina untuk pergi meninggalkan Laura dan kedua temannya. Mereka berjalan beriringan dalam keheningan kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Disisa pelajaran hari itu, dia tidak bersemangat untuk mendengarkan guru yang tengah menjelaskan di depan. Dia hanya ingin bel pulang sekolah segera berbunyi.
Sepulang sekolah, Azalea menghabiskan waktunya dengan melukis di taman milik Mama di belakang rumah. Dia menggelar karpet kecil dan membiarkan semua peralatan melukisnya terserak. Suasana sore yang nyaman degan embusan angin sejuk membuatnya mengantuk. Tanpa sadar saat tengah berbaring mengistirahatkan tubuh, dia jatuh tertidur.
“Di mana aku? Ini bukan di taman milik Mama.”
Azalea memandang ke sekeliling tempatnya berada. Dia terbangun di sebuah padang rumput kecil dengan beberapa semak dan tanaman perdu. Tampak berbagai macam bunga berwarna-warni. Senyumnya merekah melihat rumpun bunga azalea yang mekar dengan indah.
Aroma bunga, tanah, dan rumput berbaur menjadi satu di padang dekat kaki air terjun kecil. Membuatnya nyaman dan merasa tenang. Entah kenapa ada perasaan rindu yang menyeruak dalam hatinya tentang tempat itu.
“Kamu menyukai tempat ini?” Sebuah suara lembut mengagetkannya.
Azalea menoleh dan menatap kagum pada seorang perempuan berparas cantik yang tersenyum padanya. Rambut pirangnya tergerai bebas bermahkotakan jalinan bunga. Gaun putihnya tampak indah berkilauan. Kelembutan terpancar dari wajahnya yang dihiasi senyuman hangat. Senyuman yang terasa begitu familiar untuknya.
“Iya, tempat ini indah sekali,” jawab Azalea sambil tersenyum. Dia bangkit berdiri sambil mengibaskan tanah yang menempel di roknya.
“Aku senang kalau kamu menyukai padang ini,” sahut perempuan itu dan mengajak Azalea duduk di tepi danau kaki air terjun. “Ini merupakan satu dari tiga padang pribadiku. Di padang ini juga aku membesarkan kedua putriku.”
“Bagaimana aku bisa sampai di sini?” tanya Azalea. “Entah kenapa aku seolah merasakan perasaan rindu.”
Perempuan itu hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya.
“Tentu saja kamu merindukan tempat ini, Azalea.” Dengan lembut, dia membelai rambut Azalea. “Melalui mata di setiap bunga, aku akhirnya bisa menemukan keberadaanmu dan mengamatimu. Melihatmu tumbuh besar di lingkungan yang baik membuat hatiku tenang.”
Azalea merasa nyaman bersama dengan perempuan itu. Perasaan rindu itu bagaikan seorang anak yang merindukan ibunya. Dia menikmati saat-saat mengobrol santai bersama perempuan itu. Tertawa dan bercerita riang.
“Hari sudah mulai gelap. Sebelum kamu pulang, aku ingin memberitahumu bahwa aku hendak menghukum temanmu, Laura, karena perbuatannya merusak bunga kesayanganmu.”
“Tolong maafkan dia. Semua salahku. Kebenciannya padaku membuatnya melakukan hal itu,” pinta Azalea dengan raut wajah memohon.
Perempuan itu tersenyum penuh arti, seolah tahu Azalea akan mengatakan hal itu. “Setiap manusia yang merusak alam akan mendapatkan hukumannya, Sayangku. Kalau aku tidak menghukum Laura, lalu apa yang harus aku lakukan sebagai ganti atas perbuatannya?”
Azalea terdiam mendengar ucapannya. Dia sendiri bingung apa yang bisa diberikannya sebagai ganti hukuman untuk perbuatan Laura. Dia hanya tidak ingin membuat Laura bertambah sedih. Sudah cukup Laura menahan kesedihan karena apapun yang dilakukkannya selama ini sia-sia karena semua mata lebih tertuju padanya, Azalea.
“Aku tidak berniat menyakiti Laura. Aku hanya ingin memberinya hukuman ringan. Dia akan menjadi seorang florist spesial yang bertugas menjaga bunga istimewa di suatu tempat,” ucap perempuan itu setelah Azalea hanya bisa terdiam tidak bisa menjawab.
“Apakah hukumannya akan berlangsung lama?”
"Bagaimana kalau aku menggantikan hukumannya?”
Perempuan itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kalau kamu memang mau menggantikannya, aku akan membuka kekuatan floristmu secara penuh, Azalea. Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, Nak.”
“Aku mohon padamu, Ibu.” Entah kenapa Azalea refleks memanggil perempuan itu dengan sebutan ibu. Sudah sejak awal tadi dia ingin melakukannya.
“Ah… Walaupun terlahir sebagai sosok lain, ternyata alam bawah sadarmu tetap akan menganggapku sebagai ibumu,” ucap perempuan itu penuh haru. “Baiklah kalau kamu benar-benar memohon seperti itu. Walaupun artinya, kamu rela harus berpisah dengan keluarga dan teman-temanmu?”
“Iya, aku bersedia, Ibu." Azalea menjawab dengan nada mantap setelah berpikir sejenak.
“Kalau begitu, kamu akan berangkat besok malam. Tepat saat bulan berada di puncak singgasananya di langit.”
Setelah itu, perempuan tadi menghilang. Azalea mengerang karena merasakan bahunya digoncang-goncang oleh seseorang. Dia membuka mata dan menatap kesal Kak Ririe, kakak keduanya, karena membangunkannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Kak Ririe balik menatapnya kesal yang tengah meregangkan tubuh kemudian duduk.
"Kamu tu ya, kalau hibernasi di kamar bukannya di sini,” ucap Kak Ririe sambil berkacak pinggang. “Cepat bereskan barang-barangmu dan kita makan malam.”
Saat makan malam, Azalea merasakan ada yang aneh dengan raut wajah Mama. Entah apa yang diperhatikan Mama darinya hingga membuat Mama tampak menghela napas sedih. Dia ingin bertanya, tapi juga tidak ingin menimbulkan keributan yang tidak perlu saat makan malam, apalagi sampai kedua kakaknya, Kak Ririe dan Kak Rasya tahu. Mama memang sangat menyukai bunga, sehingga aku, Kak Ririe, dan Kak Rasya diberi nama yang berhubungan dengan bunga.
Namanya sendiri memang diambil dari nama bunga Azalea, tapi arti sebenarnya adalah padang bunga. Nama Kak Chrysantarie, yang biasa dipanggil Ririe, diambil dari nama bunga Krisan dalam bahasa Inggris. Lalu nama kakak laki-lakiku, Kak Rasya, diambil dari bunga mawar. Papa sendiri tampak tidak keberatan akan hal itu, karena sejak kecil Papa sering membantu di toko bunga milik Nenek yang sekarang dikelola oleh adiknya, Tante Aster.
“Ada yang membuat Mama sedih?” tanya Azalea yang bertandang ke kamar orang tuanya.
Azalea duduk di antara kedua orang tuanya. Ketiganya bersantai sambil menonton film horror di televisi. Dia diam hingga Mama meraih tangan kanannya dan mengusap sebuah tato tembaga yang entah sejak kapan ada di situ. Azalea sendiri terkejut saat melihatnya. Mama mengecup pelipisnya dengan penuh rasa sayang.
“Malam itu, seorang perempuan datang dan berkata bahwa Mama akan menjadi ibu bagi seorang putrinya,” ucap Mama. “Sembilan bulan kemudian lahirlah kamu, Nak. Mama pikir perempuan itu akan mengambilmu, tapi ternyata tidak.”
“Apa maksudmu, Ma?” tanya Azalea dengan raut wajah bingung.
“Saat SMA, Mama pernah melakukan kesalahan dengan merusak bunga-bunga di sekolah. Mama didatangi seorang perempuan dan dihukum menjadi seorang florist. Kurang lebih tiga tahun Mama hidup di kota lain. Di situ Mama belajar banyak hal dan di hari terakhir perempuan itu mendatangi Mama. Dia senang dengan perubahan hidup Mama dan berharap Mama suatu saat nanti bisa menjadi ibu dari kedua putrinya. Tidak disangka enam belas tahun yang lalu dia benar-benar datang dan memberikan seorang putrinya pada Mama, yaitu kamu,” cerita Mama.
“Papa awalnya menolak, tapi perempuan itu berkata dengan lembut, “Selamanya dia akan menjadi putri kalian. Aku hanyalah ibunya di masa lalu. Walaupun begitu, dia akan menjadi seorang yang istimewa dan membuat kalian bangga.” Papa akhirnya hanya bisa mengucapkan terima kasih padanya,” sahut Papa.
“Jadi, aku ini reincarnasi dari putri perempuan itu?”
“Reincarnasi atau bukan, kamu tetaplah putri kecil kami yang istimewa. Setelah ini, akan ada tugas berat menantimu, Sayang. Kalau kamu berhasil melakukannya, kamu bisa hidup tenang. Kalau tidak, peristiwa di masa lalu akan kembali terulang. Itu pesan terakhir darinya sebelum pergi dan tidak pernah menemui Mama lagi.”
Malam itu, Azalea mendengarkan semua cerita tentang masa lalu Mama yang pernah menjalani hukuman sebagai florist. Walaupun awalnya bingung, perlan-pelan dia mulai mengerti tentang dunia florist, dunia para penyihir bunga. Cerita Mama memang tidak utuh karena hanya sekadar menjelaskan apa yang dialaminya selama menjadi florst. Tapi baginya itu sudah cukup menjadi bekalnya nanti.
“Kata Mama kamu mau pergi ke rumah Tante Aster ya, Lea?” tanya Kak Rasya.
“Iya, Kak,” jawab Azalea sekenanya.
“Baik-baik ya di sana,” sahut Kak Ririe. “Rumah bakalan sepi nih nggak ada kamu.”
Azalea sedikit tercekat mendengar ucapan kedua kakaknya. Kak Rasya dan Kak Ririe memang selama ini sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Tapi ternyata jauh di dalam hati, mereka sama-sama menyayanginya sebagai adik.
“Aku kan nggak lama perginya kak, cuma sampai lulus SMA aja. Habis tu ya balik ke sini kok,” ucapnya.
“Iya sih,” sahut Kak Rasya. “Di sana jangan nakal ya. Jaga diri baik-baik, soalnya kakak nggak ada buat jagain kamu.
“Siap, kakakku tersayang.”
Setelah menghabiskan seharian ini bermain bersama Gina, Kak Rasya, dan Kak Ririe, Azalea duduk menyendiri di dalam kamar. Mama dan Papa menemaninya bercerita dan memberikan nasehat agar menjaga diri baik-baik. Menjelang tengah malam, sekuntum bunga azalea merah melayang masuk ke dalam kamar dan jatuh tepat di hadapannya.
“Sudah mendekati waktunya kamu untuk berangkat,” ucap Mama meliat kuntum bunga itu.
“Kalau tugas Azalea selesai, kita ke London ngunjungin Tante Aster ya, Ma, Pa,” ucap Azalea sambil meletakkan kuntum bunga itu di dalam telapak tangannya.
“Pasti, Nak. Kita ke sana melihat kondisi Tante Aster,” sahut Papa.
Azalea menoleh dan tersenyum memandang kedua orang tuanya. Ada rasa takut, tapi juga penasaran akan apa yang dialaminya setelah ini. Tapi berkat dukungan Mama dan Papa, hatinya terasa jauh lebih tenang. Dia memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya seolah melayang terbang di bawa angin malam yang lembut.