Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 16 QUACKING GRASS



“Kita mau ngapain ke Auburn malam-malam begini, Lea?” tanya Asphodella dengan nada sedikit mengomel.


“Duduk yang tenang dan berhenti mengomel, Della,” ucap Azalea tegas melihat Asphodella terus bergerak.


Aren yang tengah menyetir melirik Asphodella diam-diam lewat kaca belakang mobil. Senyum kecil terukir melihat tingkah lucu dari dark florist yang tengah merajuk itu. Malam gelap itu terasa sunyi dengan kabut putih yang menyelimuti area Maple Willow.


“Kita kemana, Azalea?” tanya Aren.


“Perpustakaan Auburn,” jawab Azalea mantap.


Tanpa banyak bertanya Aren segera mengemudikan mobilnya ke arah Kota Auburn. Alder tampak mengawasi daerah sekitar. Matanya awas dengan segala bayangan yang tiba-tiba muncul. Dia dan Aren hanya bisa menghela napas pelan mendengar omelan serta keluhan dari Asphodella yang masih merajuk.


Karena kesal, Azalea membungkam mulut Asphodella dengan kekuatannya. Sebuah kelopak azalea merah menutupi mulut Asphodella yang menatapnya dengan raut wajah protes. Asphodella menarik-narik lengan baju sang kakak agar mau melepaskan kelopak itu.


“Aku lepaskan, tapi berhenti mengomel,” ucap Azalea yang melepaskan kuncian Asphodella.


Asphodella duduk tenang karena tidak mau dimarahi lagi oleh Azalea. Dia bersenandung kecil untuk mengisi kebosanan karena perjalanan yang cukup jauh. Sebenarnya kalau lewat jalan utama, mereka bisa sampai hanya dalam waktu dua jam. Tapi tadi Azalea menyuruh Aren agar lewat jalu belakang yang lebih jauh.


“Rosetta sekarang ada di mana ya?” ucap Asphodella sambil tetap memandang kegelapan malam. “Pasti seru kalau dia jug ada di sini.”


“Belum waktunya dia berada di sini,” sahut Azalea.


“Terus kapan?”


“Dia masih lima belas tahun, Della. Paling tidak, ibu pasti akan menemuinya ketika dia berumur enam belas tahun. Masih setahun lagi.”


“Sehari setelah ulang tahunku yang keenam belas, kekuatan floristku terbuka. Kenapa kamu harus menunggu sampai tujuh belas tahun?”


“Sebenarnya aku bisa merasakan energi bunga setelah berumur enam belas tahun. Hanya saja aku menyembunyikan hal itu. Aku tidak mau sampai dianggap cewek aneh di sekolah.”


Alder dan Aren mendengarkan setiap obrolan kedua florist itu dengan seksama. Ada berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran mereka. Kenapa Azalea disebut sebagai kakak? Lalu, mereka berasal dari dua energi florist yang berbeda, bagaimana bisa dijuluki three angel lights? Belum lagi mereka dibuat penasaran dengan sosok Rosetta.


Mendekati gerbang belakang Kota Auburn, Azalea meminta Aren untuk memelankan laju mobil. Mereka berhenti tepat di sudut gelap tak jauh dari gerbang masuk. Azalea mengambil jubah hitamnya dan keluar lebih dulu dari mobil.


“Kita jalan kaki dari sini. Letak perpustakaan tidak terlalu jauh,” ucap Azalea sambil menatap kegelapan malam.


Alder, Aren, dan Asphodella mengambil jubah masing-masing dan turun dari mobil. Ketiganya mengikuti Azalea yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Untuk sejenak, mereka bersembunyi di balik pohon untuk memastikan tidak ada siapa-siapa.


Azelea tampak mengeluarkan serbuk sari bunga azalea dan meniupnya pelan. Tampak cahaya bulan yang menimpa serbuk itu membuatnya bekerlap-kerlip. Semua melayang masuk ke Kota Auburn. Azalea menolah dan menghela napas melihat tubuh Asphodella yang seolah memuai terkena cahaya bulan.


“Della, tubuhmu…” ucap Aren dengan nada tercekat.


“Waktumu hanya sampai besok malam, Della. Karena itulah aku bergerak cepat karena aku butuh bantuanmu dan Aren untuk mengatasi dark flower,” ucap Azalea.


“Sebenarnya Ibunda melarang aku datang dan membantumu. Tapi bagaimanapun juga kamu ini kakakku. Aku khawatir terjadi apa-apa padamu. Apalagi Rosetta juga masih belum menjadi florist ‘kan? Jadi, aku menggunakan kekuatan judas tree digabung dengan cahay bulan untuk mencipatakan sosok replika diriku dari bunga asphodel” ucap Asphodella sambil mengangkat kedua bahunya.


“Kalau begitu. Lebih baik kita bergegas, Azalea,” ucap Alder.


“Iya, ayo!”


Mereka berlari memasuki Kota Auburn mengikuti kerlap-kerlip serbuk tadi langsung menuju ke perpustakaan. Di perjalanan, Azalea menceritakan rencananya dan membagi tugas mereka masing-masing. Saat hendak melangkah memasuki gerbang perpustakaan, Azalea merasa tubuhnya ditarik mundur oleh Alder.


“Untung saja,” ucap Asphodella.


“Kenapa?” tanya Azalea kebingungan.


“Lihat ini,” ucap Asphodella sambil menggerakkan tangannya.


Kabut hitam muncul dan memperlihatkan kuntum-kuntum kecil yang disamarkan keberadaannya. Kuntum-kutum itu seolah-olah membentuk pintu. Menghalangi siapapun yang berani masuk ke perpustakaan.


“Quacking grass,” ucap Azalea.


“Sepertinya petunia bodoh itu yang memasangnya. Kuakui kalau urusan memasang jebakan dia memang ahlinya, seperti Rosetta,” sahut Asphodella.


Dia memegang pagar cahaya quacking grass dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan pagar itu. Untuk sejenak dia diam dan memeriksa apakah masih ada yang lain lagi. Setelah memastikan jalan aman untuk Azalea, dia memberi isyarat untuk mereka masuk.


“Ingat,” ucap Azalea sambil memandang Alder, Aren, dan Asphodella, “Biarkan mereka mengira kita telah terjebak prangkap mereka.”


“Okay,” jawab Asphodella dan Aren sambil menganggukkan kepala.


Alder hanya menganggukkan kepala dan memberikan tameng pelindung snowdrop untuk mereka semua. Setelah itu, mereka berempat melangkah memasuki gedung perpustakaan. Suasana sepi membuat mereka bersikap waspada.


Alder menyalakan lentera yang ada di pintu. Ternyata lentera yang lain ikut menyala dan menyinari seisi perpustakaan. Alder, Aren, Azalea, dan Asphodella memandang ke seluruh penjuru ruangan yang sangat besar itu. Belasan bahkan puluhan rak berjejer dengan rapi. Azalea dan Asphodella merasakan energi sihir yang sangat kuat melingkupi seluruh area itu.


Azalea diam dan memejamkan matanya. Dari telapak tangannya, keluar sebuah pohon kecil dan unik karena memiliki tiga bunga berbeda, azalea, asphodel, dan mawar. Dia berjalan ke tengah ruangan dan menanamkan bunga itu di lantai.


“Kita tidak boleh sembarangan menggunakan kekuatan three angel lights,” ucap Asphodella sambil menggosok kedua lengannya.


“Kita berhadapan dengan Ratu Mary, Della. Aku memasangnya untuk menekan aura sihir jahat blood tree,” sahut Azalea.


“Iya, iya. Lalu sekarang apa?” tanya Aren yang kesal karena dicuekin.


“Iya, Aren. Kita tunggu saja sampai mereka muncul,” jawab Azalea.


“Maksudmu? Membiarkan diri kita ditangkap gitu?” tanya Aren lagi dengan raut wajah kebingungan.


“Kamu ini gimana sih, Aren? Bukannya tadi udah denger apa yang dijelasin sama Azalea?” omel Asphodella sambil memandang galak Aren.


“Iya, iya. Maaf, tadi aku fokus merhatiin sekitar sih,” ucap Aren sambil menggaruk kepalanya.


“Sudah, sudah,” potong Azalea yang kasihan melihat Aren. “Della, kamu kan jago buat keributan tuh. Sana panggil Sophia.”


Asphodella memandang Azalea dengan mata berbinar. Dia menggosokkan kedua tangannya sambil tersenyum senang. Kemudian menggerakan kedua tangannya dan menciptakan angin yang memporak-porandakan area perpustakaan. Buku-buku berhamburan kemana-mana.


Saat itulah, quacking grass yang memang diletakkan untuk menjaga perpustakaan bereaksi. Asphodella memandang quacking grass yang berkumpul dan membentuk ular. Azalea, Alder, dan Aren bergerak mendekati Asphodella. Mereka memandang datar ular sihir quacking grass itu.


“Sesuai artinya, ular memang makhluk licik,” komentar Asphodella.


Keempat remaja itu berjengit merasakan sulur-sulur quacking grass membelit mereka. Tiba-tiba pintu di depan mereka dan muncul orang-orang mengenakan jubah hitam. Salah satu dari mereka menggerakkan tangannya dan sulur-sulur yang membeli mereka berempat menghilang.


“Padahal kami mengundang kalian datang besok, bukan sekarang,” ucap perempuan itu sambil membuka tudung jubahnya. Yang lain mengikuti tindakannya.


“Ah… Kami cuma nggak sabar buat memenuhi undangan kalian kok,” sahut Asphodella ketus.


“Tapi kalian berani juga ya. Datang ke sarang ular seperti ini,” komentar Poppy dengan raut wajah mengejek.


“Seperti yang dikatakan Della, kami hanya memenuhi undangan kalian, Flora, Poppy, Sophia,” sahut Azalea dengan suara tenang.


Tiba-tiba, Flora melemparkan serbuk ke arah mereka berempat. Serbuk penidur dari bunga poppy. Seketika itu juga, Azalea, Alder, Aren, dan Asphodella jatuh tidak sadarkan diri. Flora memerintahkan kedua guard-nya untuk membereskan perpustakaan, sementara yang lain membawa keempat tamu mereka ke ruang bawah tanah.


“Mereka bodoh atau gimana sih?” ucap Sophia sambil memperhatikan wajah musuhnya satu per satu. “Mereka udah tahu kalau undangan itu cuma jebakan, tapi kenapa mereka tetap datang?”


“Yah, mungkin mereka benar-benar bodoh,” sahut Poppy.


“Kamu masih menyukai Aren ya?” tanya Sophia melihat kakak keduanya itu tampak mengelus lembut wajah Aren.


“Aku mencintainya, Sophia. Aku akan melakukan apapun untuk memutus benang merah antara Della dan Aren,” jawab Poppy. “Kamu sendiri. Masih menunggu Rhys datang?”


“Iya dong. Kali ini aku nggak bakal kalah sama Rosetta,” sahut Sophia. “Tapi gimana sama Flora?”


Keduanya memandang sang kakak sulung yang tengah memasang sihir di dalam api abadi. Sihir untuk mengurung kekuatan keempat musuh mereka itu. Mereka bisa  tahu kalau Flora juga mencintai Alder. Tapi takdir selalu membawa kisah cinta mereka kepada kematian.


Belum lagi hadirnya Azalea, Asphodella, dan Rosetta yang mengambil perhatian ketiga sosok laki-laki yang mereka cintai. Membuat mereka membenci ketiga florist itu. Bahkan terakhir pertemuan mereka berakhir dengan kematian yang membawa mereka terlahir kembali ratusan tahun kemudian.


“Apakah kali ini kita akan mengalami apa yang terjadi dua ratus lima puluh tahun yang lalu?” tany Sophia dengan suara pelan.


“Tidak. Aku dan Flora akan menjagamu, begitu juga dengan ibunda. Ketika waktunya tiba nanti, kita yang akan berdiri menguasai dunia florist. Jadi, kamu tidak perlu takut,” sahut Poppy.


“Kemana perginya ibu? Sejak tadi aku tidak melihatnya.”


“Ibu sedang ada di istana. Toh, sosok Romeylda-nya sudah ketahuan. Ibu membiarkan kita mengatasi masalah ini sendiri,” jawab Flora yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


Ketiganya memandang Azalea dan Asphodella yang masih tidak sadarkan diri. Kebencian terpancar jelas dari wajah mereka.


“Sayangnya, Rosetta masih belum menjadi florist,” ucap Poppy.


“Kalau besok malam berjalan sesuatu rencana, kita akan mendapatkan Rosetta sebagai blood florist,” sahut Flora sambil tersenyum dingin.


Flora, Poppy, dan Sophia kemudian berbalik pergi keluar dari ruang tempat api abadi berada. Mereka akan mengumpulkan kekuatan sambil menunggu cahaya purnama merah bersinar besok malam.


Besok malam, Azalea dan Asphodella akan kehilangan kekuatannya sebagai florist. Kemudian tahun depan, Rosetta akan menjadi salah satu blood florist. Selain itu, mereka berencana kembali membangkitkan sihir di dunia. Demi tercapainya semua itu, Azalea dan Asphodella harus musnah.


Kalau Azalea dan Asphodella sudah bisa disingkirkan, maka menyingkirkan ratu dark florist dan ratu light florist akan jauh lebih mudah. Itulah langkah yang ditempuh oleh Ratu Mary dan ketiga putri blood floristnya. Semua demi membalaskan dendam ratusan tahun yang lalu pada orang tua dan kedua adiknya.