
Alder menatap pantulan tato di balik telinganya. Sebelumnya, dia tidak pernah memperhatikan tato itu. Bentuknya unik sekali, berupa dua buah pedang bersilang di depan sebuah tameng. Di sekelilingnya tampak bunga snowdrop bertebaran. Namun, setelah diperhatikan baik-baik, samar-samar akan nampak garis-garis halus membentuk bunga lain yang menjadi background.
“Hm… Akan kucari tahu di toko bunga nanti. Mungkin Poppy bisa memberi tahuku,” gumamnya pelan.
Hari masih pagi dan orang-orang sudah mengantri di depan toko untuk mengambil pesanan. Azalea sibuk di meja rangkai, Aren sibuk mengambilkan dan menyerahkan pesanan dibantu Poppy. Azalea tidak terlalu memperhatikan Alder, tapi Poppy yang melihat Alder hanya diam merasa kesal.
“Apa yang kamu lakukan di depan rumpun bunga itu, Alder? Cepat bantu!” Poppy menarik lengan Alder, tapi ditahan oleh pemuda itu.
“Tunggu sebentar, Poppy. Apa nama bunga ini?” tanya Alder sambil menunjuk bunga yang tadi diperhatikannya.
“Azalea.”
“Aku tanya apa nama…”
“Namanya azalea,” potong Poppy sambil berkacak pinggang. “Kamu itu yang selalu berada di sini, kenapa masih belum bisa menghapal nama bunga?”
“Apa yang kalian berdua ributkan?” tanya Azalea sambil memandang keduanya dari balik meja rangkai.
“Tidak ada,” jawab Alder cepat sambil memandang Poppy tajam.
Begitu semua tamu pulang, Aren pergi ke perpustakaan kota sebentar mengambil buku. Di dalam toko, Poppy dan Alder sibuk berdebat. Azalea tidak mengindahkan keduanya dan mengecek sisa buket yang belum diambil. Samar-samar, dia melihat cahaya hitam dalam tiga botol. Di dalamnya ada cahaya hati milik Poppy, Sophia, dan Liam.
Azalea diam-diam memperhatikan Poppy. Walaupun sudah banyak bukti, entah kenapa ada keraguan dalam hatinya. Seolah tidak percaya kalau Poppy memang termasuk salah satu dari mereka. Begitu Aren kembali, mereka semua duduk melingkar di mejang rangkai.
“Ada yang kamu temukan, Aren?” tanya Azalea.
“Masalahnya adalah aku tidak mengerti apa yang harus kucari. Jadi kubawa semua supaya kamu bisa melihatnya sendiri,” sahut Aren.
Azalea diam dan menelusuri sampul buku-buku itu dengan tangan kanannya perlahan. Dari tangannya keluar sulur-sulur cahaya dan berhenti di sebuah buku bersampul cokelat. Azalea mengambil buku itu dan membukanya. Buku berisi daftar bunga dan tanaman yang termasuk dalam dark flower.
Dia hanya membolak-balik halaman dan membaca dengan serius. Hingga kemudian terhenti di halaman tentang bunga lobelia. Salah satu bunga dark flower yang digunakan untuk melambangkan dengki dan iri hati.
“Bunga apa itu?” tanya Alder yang memang tidak pernah sekalipun melihatnya di toko selama ini.
“Namanya lobelia. Tak seorang pun florist yang mau menjual bunga ini,” jawab Azalea sambil membaca keterangan yang ada di dalam buku itu.
“Kenapa? Bukankah bunga sangat cantik?” sahut Aren.
“Memang cantik, tapi semua bunga dalam buku ini tidak akan kamu temui di toko bunga. Kamu akan mendapatkannya di alam liar secara bebas,” jawab Azalea lagi. “Selain karena kelopak bunganya mengandung racun, arti bunga lobelia ini juga sangat tidak menyenangkan.”
“Apa hubungan dari semua potongan yang sudah kamu temukan, Azalea?” tanya Alder.
“Semalam aku bertemu dengan seorang florist lain, namanya Flora,” ucap Azalea sambil melirik Poppy diam-diam. “Dia mengatakan sebuah teka-teki. Isinya begini, seorang florist telah berkhianat, bukan… terpaksa berkhianat. Seorang florist tidak boleh meminum sari bunga judas tree atau semua tentangnya akan hancur. Ada cahaya di balik suara, sangat kecil hingga butuh hati malaikat untuk melihatnya.”
“Aku tidak mengerti,” ucap Poppy tiba-tiba membuka suara.
“Beri aku waktu untuk memecahkan arti kata-katanya sejenak,” sahut Azalea.
Suasana hening, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Alder dan Aren memilih mencari tahu isi buku-buku yang lain. Sementara Poppy hanya diam dan mengamati ketiga orang di hadapannya. Diam-diam, dia mengamati segala gerak-gerik Azalea dengan matanya yang berwarna hitam sepenuhnya.
Azalea sibuk memikirkan teka-teki yang diberikan oleh Flora. Semua potongan yang didapatkannya memang masih berantakan. Tapi dia yakin bisa menyatukan semuanya. Sambil dalam hati brharap kalau firasat dan dugaannya selama ini tidak benar.
“Sepertinya aku menemukan sesuatu di dalam buku ini,” ucap Aren sambil menyodorkan buku yang dibacanya bersama Alder.
Poppy memajukan tubuhnya dan membaca judulnya, “Kisah three angel lights. Tentang apa isinya?”
“Akan kuberitahu inti ceritanya. Sebentar.”
Aren sekilas membaca ulang dengan cepat. Setelah itu, dia diam menyusun kata-kata yang tepat. Matanya memandang Azalea dengan kening berkerut.
“Ketika sihir masih berkeliaran di muka bumi, lahirlah seorang bayi perempuan. Karena waktu itu bertepatan dengan mekarnya bunga azalea, maka orang tuanya itu menamainya Azalea. Dua tahun berselang, di lain tempat lahir seorang bayi perempuan. Malam kelahirannya tepat saat bulan purnama berlangsung dan hamparan bunga mawar mekar. Karena itulah, sang ayah langsung memberinya nama Rosetta. Sang dewi penjaga alam rupanya jatuh hati pada kedua bayi itu dan menganugerahi mereka kekuatan untuk menjaga alam. Tentu saja atas persetujuan dari orang tua mereka masing-masing.”
Alder dan Poppy menunggu Aren menyelesaikan ceritanya dengan sabar. Sementara Azalea tampak diam dan berpikir. Entah kenapa dia merasa familiar dengan kisah itu. Seolah-olah dirinya adalah bayi bernama Azalea itu. Sekilas, bayangan seorang gadis kecil tengah bermain di padang bunga bersama dua orang gadis kecil lainnya muncul.
“Sudah kok,” jawab Aren. “Di buku ini hanya tertulis soal bayi bernama Azalea dan Rosetta. Selebihnya membahas tentang three angel lights.”
“Tidak ada penjelasan apapun tentang kedua bayi itu dan yang disebut dengan three angel lights,” sahut Alder yang sempat membacanya sekilas.
“Oh my…” Poppy mengusap wajahnya pelan. “Kenapa banyak sekali teka-tekinya.”
“Otakmu jangan dipakai terlalu keras berpikir. Nanti kebakar,” ucap Alder tiba-tiba sambil menepuk kepala Poppy yang langsung memberengut.
Aren tertawa melihat hal itu. Tidak ada sedikit pun perasaan cemburu dalam diri Aren karena Poppy dan Alder sudah bersahabat sejak kecil. Justru dia merasa beruntung bisa ikut masuk dalam persahabatan mereka. Ditambah lagi sekarang ada Azalea, florist istimewa yang membuat hari mereka jadi jauh lebih berwarna.
“Aku tahu aku tidak sejenius dirimu. Tapi bukan berarti aku terlalu bodoh untuk memecahkan teka-teki ini. Lihat saja! Aku pasti orang pertama yang membantu Azalea.”
“Kalian lucu sekali,” komentar Azalea sambil tersenyum kecil.
“Alder itu cowok menyebalkan, Azalea. Aku berharap kamu tidak terhipnotis oleh penampilan luarnya.”
“Iya, iya.” Azalea tersenyum kemudian bertanya dengan nada pelan, “Kenapa kalian tampak biasa saja saat tahu kalau aku ini bukan florist biasa?”
Poppy memandang Alder dan Aren yang saling melempar pandangan. Seolah-olah mereka saling bertanya satu sama lain siapa yang akan menjelaskan. Aren menghela napas pelan melihat Alder menatapnya dengan sorot mata memohon. Dia yang memang menggilai sejarah selalu menjadi sasaran kalau ada orang asing yang datang saat perayaan ulang tahun kota.
“Kami sudah tahu sejak awal, Azalea. Kamu pasti heran mendengar ucapanku,” jawab Aren. “Ada sejarah mengenai kota khusus penjaga alam, salah satunya adalah Maple Willow. Kota ini selalu mendapatkan florist istimewa paling tidak tiga sampai lima tahun sekali. Apakah kamu tahu ada berapa banyak orang asing yang datang ke sini dalam kurun waktu tiga bulan?”
“Tidak. Aku hanya tahu kadang ada mobil-mobil berseliweran di jalan,” sahut Azalea.
“Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Wali kota sendiri tidak bisa memberitahukan perihal dirimu karena tidak semua yang datang itu orang baik. Sebagai gantinya, para warga, termasuk orang tua kamilah yang membeli bunga darimu untuk dikirimkan pada mereka. Wali kota tidak ingin dewi penjaga alam marah lagi dan menghukum kota ini karena lalai menjaga florist titipannya.”
“Maksudmu, florist yang menghilang itu…?”
“Benar. Setiap florist yang datang akan memilih di antara remaja-remaja yang ada di sini untuk membantunya. Biasanya, dia sendiri yang akan menunjuk mereka. Tapi kamu berbeda,” sahut Alder. “Kamu bersikap seperti florist biasa. Berjualan bunga, berinteraksi dengan penduduk yang lain, bersikap seperti remaja biasa.”
Azalea mendengarkan kisah dari Aren dan Alder tentang florist yang pernah mereka temui sejak saat masih kecil. Kisah mereka sungguh luar biasa dengan tantangan masing-masing. Hanya saja intinya semua saja. Diajarkan untuk menjadi orang yang mau lebih mencintai alam.
Hari-hari berikutnya dilalui Azalea seperti biasanya. Memenuhi pesanan bunga yang menggunung, belum lagi pesanan istri wali kota untuk perayaan. Alder, Poppy, dan Aren setia datang membantu segala keperluannya. Dia tidak lagi merasakan sakit ketika mendengar alunan lagu misterius itu. Hanya gelisah dengan energi gelap yang terpancar lebih kuat dari biasanya.
“Azalea! Aku ada informasi penting!”
Aren yang baru datang dari perpustakaan kota masuk dengan menimbulkan suara keras. Mengagetkan Azalea yang tengah merangkai bunga. Sontak dia menatap tajam Aren yang tampak memasang raut wajah bersalah,
“Sudah jam makan siang,” sahut Azalea. “Panggil Alder dan Poppy, kita makan siang dulu. Dia ada di halaman belakang.”
Aren dengan patuh pergi untuk memanggil Alder dan Poppy.
Setelah itu, Azalea pergi ke dapur dan menyiapkan makan siang. Tadi pagi ibu Alder datang dan mengantarkan mereka makanan. Jadi, dia tidak perlu repot-repot memasak. Sambil mencuci buah, Azalea melihat interaksi antara Alder dan Poppy.
Mereka makan sambil mengobrol santai. Aren sampai lupa akan informasi penting yang dibawanya. Alder yang mengingatkan sahabatnya karena penasaran akan informasi yang dibawa Aren.
“Kamu bilang ada informasi penting, Aren. Apa itu?”
“Ah, iya. Hampir saja aku lupa,” ucap Aren sambil menepuk dahinya pelan. “Saat florist sebelum Azalea menghilang, ada pencurian di perpustakaan kota. Yang dicuri adalah sebuah buku kuno. Menurut Madam Elsie, buku itu adalah satu dari tiga buku penting yang terkunci di ruangan khusus. Sampai sekarang pencurinya tidak ditemukan, begitu juga buku itu.”
“Hm…” Azalea diam mendengar cerita Aren. “Aku ada ide,” ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum. “Setelah menyelesaikan semua pesanan, ayo kita ke pepustakaan kota. Aku rasa, aku bisa menemukan letak buku itu.”
Mendengar ucapan Azalea, Poppy, Alder, dan Aren segera menghabiskan makan siang mereka. Kemudian kembali mengerjakan tugas masing-masing. Sebelum kembali ke toko, Poppy membantu Azalea membereskan piring-piring kotor. Azalea sampai harus memperingatkannya supaya hati-hati saat hampir terpeleset cipratan air sabun.
Azalea sibuk merangkai bunga matahari. Buku-buku yang dibawa oleh Aren dan Poppy dibiarkannya terbuka di sampingnya. Saat tengah serius mengikat pita, seutas cahaya muncul mengagetkannya. Dari cahaya itu, keluarlah setangkai bunga lobelia. Dia hendak mengambil bunga itu. Namun saat tangannya menyentuh bunga itu, rasanya seperti tersengat.
“Ada apa?” tanya Alder yang datang untuk menata buket bunga yang sudahselesai.
“Bunga lobelia ini tiba-tiba muncul. Tanpa sadar aku memegangnya dan tanganku seperti tersengat,” ucap Azalea sambil mengernyit menahan sakit.
Alder melihat tangan Azalea dan langsung khawatir. Dia memegang dan memeriksa lukanya. Anehnya saat tangan Alder menyentuh luka itu, perlahan lukanya sembuh. Bahkan kulit tangan Azalea yang tadi juga memerah kembali seperti biasa. Hal itu mengejutkan Alder sendiri dan juga Azalea.