Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 27 SWEET PEA [2]



“Aku tahu soal itu, Azalea. Sepenuhnya aku percaya padamu. Selain itu, tanpa kamu melakukan hal itu, aku akan berada di pihakmu. Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah,” ucap Alder dengan nada lembut.


Diam-diam, Azalea lega mendengar ucapan Alder. Walaupun Alder, Aren, dan Rhys merupakan tiga sosok yang berdiri sendiri, Azalea tahu kalau dia bisa mempercayai ketiganya. Yang membuatnya yakin adalah cahaya hati Alder dan Aren. Tidak sekalipun cahaya hati mereka berubah.


"Masalahnya adalah Aren..." lanjut Alder dengan menggantungkan ucapannya.


“Biarkan dia sendiri yang memutuskan.”


Setelah bercakap-cakap, keduanya memilih kembali ke toko. Langit mulai menampilkan warna birunya seiring munculnya sunflower di ufuk Timur. Sampai di toko, mereka disambut omelan Aren yang sudah sibuk bersama Briana.


“Kalian ini pergi lama sekali sih! Lihat tuh! Sudah banyak pelanggan yang menunggu.”


“Iya, iya,” sahut Alder yang langsung membantu sahabatnya itu.


Azalea tersenyum dan mendekati Briana. Dengan cekatan, dia membagikan pesanan bunga yang sudah jadi. Dia bisa merasakan kalau Briana masih sedih karena ini hari terakhirnya di sini. Walaupun Briana sama sekali berusaha tidak menunjukkan hal itu.


Sore hari, setelah semua pesanan selesai dikerjakan, Azalea berada di dalam kamarnya.


Tok…tok…tok…


“Iya?”


“Apakah aku boleh masuk, Azalea?” tanya Briana.


“Tentu saja. Ada apa?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya sedih karena kamu akan pergi.”


“Jangan sedih ya. Masih ada Alder, Aren, Sakura, Bibi Brenda, dan yang lainnya. Mereka akn selalu membantumu.”


Briana menganggukkan kepalanya. Azalea tersenyum melihat kedua mata Briana tampak berkaca-kaca. Dia bergerak memeluk Briana dan mengelus punggungnya lembut. Telinganya yang tajam mendengar pintu depan di buka.


“Alder dan Aren sudah datang. Sebaiknya kita keluar.”


“Baiklah.”


“Tunggu, Bri,” panggil Azalea pelan.


Dia berjalan mendekati Briana yang berdiri dan menatapnya dalam kebingungan. Tangannya menyibak rambut di belakang telinga kanannya. Kemudian menyentuh tato berbentu mahkota yang ada di situ. Dia mengenali mahkota itu seperti yang dikenakan oleh Ratu Krystal. Keningnya berkerut.


“Apa hubungan Briana dan Ratu Krystal?” gumamnya pelan.


“Kenapa, Azalea?”


Pertanyaan Briana membuat Azalea tersadar. “Nggak apa-apa kok. Cuma ngelihat simbol resmimu menjadi florist.”


Setelah itu, keduanya keluar menemui Alder dan Aren yang sudah menunggu.


Mereka berempat kemudian keluar rumah dan pergi ke Swan Lake. Di sepanjang jalan, Alder dan Aren menyampaikan pesan perpisahan dari kedua orang tua mereka. Pesannya yang lucu tak urung menyingkirkan suasana sedih yang ada.


Sampai di tepi Swan Lake, Azalea menggerakkan tangannya. Mereka duduk kursi sulur yang dibuat oleh Azalea. Menikmati keindahan danau yang dihiasi kerlap-kerlip cahaya bunga. Sembari menunggu tengah malam, mereka bercakap-cakap.


“Apakah Flora, Sophia, dan Poppy tidak akan datang mengganggu Briana?” tanya Aren.


“Apa yang mereka lakukan?” tanya Alder.


“Entahlah. Apapun itu, pasti sesuatu yang buruk.”


“Apakah kamu tidak takut kalau tiba-tiba aku memihak pada mereka?” tanya Aren tiba-tiba.


“Tidak,” sahut Azalea. “Hidupmu, pilihanmu. Masalah kamu memihak padaku atau pada Flora, itu hakmu. Karena pada akhirnya nanti, urusanmu adalah dengan Alder dan Rhys.”


“Itu artinya, pada dasarnya, mereka terpisah dari kamu?” tanya Briana.


“Benar. Alder, Aren, dan Rhys adalah sosok berbeda. Siapapun mereka, mereka tidak terikat pada three angel lights ataupun blood florist. Mereka berhak memilih, karena pada akhirnya nanti, urusan mereka akan kembali pada diri mereka sendiri.”


Ucapan Azalea membuat Alder dan Aren terdiam, sementara Briana memperhatikan kedua pemuda itu. Mereka kembali mengobrolkan hal ringan. Alder dan Aren mengusulkan agar bisa jalan-jalan dan menonton film ketika mereka semua berkumpul kembali. Azalea mengiyakan usulan itu sambil tertawa.


“Sudah waktunya,” ucap Alder sambil melihat jam tangannya.


Azalea berdiri dan menatap ketiganya sambil tersenyum. Dia berbalik dan berjalan ke arah danau. Sampai di tengah, dia kembali menatap Alder, Aren dan Briana yang berdiri di tepi danau memandangnya.


“Ketika bulan berwarna biru dan cahayanya terpantul di danau, semua harus menentukan takdirnya.” Setelah berkata seperti itu, Azalea menghilang dalam kuntum-kuntum bunga azalea yang terbang ke langit.


Alder, Aren, dan Briana terkejut melihat kuntum-kuntum bunga sweet pea muncul. Lebih tepatnya, semua penduduk Maple Willow terkejut. Namun, mereka semua tahu kalau sang Putri Florist, Azalea, tengah menyampaikan salam perpisahannya. Selain sweet pea, muncul kuntum-kuntum bunga sunflower yang bersinar. Membuat suasana Kota Maple Willow diliputi cahaya untuk beberapa saat.


Di dalam kamarnya, Madam Annura tersenyum melihat semua hal itu. Sekuntum sweet pea dan sunflower tampak melayang di sekitarnya.


“Azalea sudah pergi?” tanya Mr. Paul, suaminya.


“Dia sudah pulang kembali ke tempat asalnya,” jawab Madam Annura.


“Tapi, dia berjanji akan selalu melindungi kota kecil kita ini, Sayang.”


“Benar, dan aku percaya akan janjinya itu,” ucap Madam Annura pelan sambil mengelus sekuntum bunga azalea pemberian sang florist dulu.


Benar, melalui sweet pea, sang florist mengucapkan selamat tinggal. Namun, sang florist juga berjanji melalui sunflower kalau Kota Maple Willow akan selalu aman dalam perlindungan three angel lights.


Di tepi danau, Alder, Aren, dan Briana memandang three angel lights yang masih bersinar. Menikmati keindahan kuntum-kuntum sweet pea dan sunflower yang melayang di sekitar danau.


“Kamu sedih, Alder?” tanya Briana memecah keheningan.


“Tidak,” jawab Alder sambil tersenyum.


“Kupikir kamu akan sedih, terus jadi pendiam, terus berubah jahat,” sahut Aren yang membuahkan tabokan di kepalanya. “Sakit…”


“Makanya, kalau ngomong jangan sembarangan!” tukas Alder. “Aku tidak sedih karena Azalea baru saja berpesan lewat bunga sunflower ini. Dia akan datang kembali. Dan saat itu tiba, dia akan datang bersama Asphodella dan Rosetta.”


“Benarkah?” sahut Briana dengan mata berbinar. “Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Asphodella dan Rosetta.”


“Kita tunggu saja sampai mereka datang,” ucap Aren.


Ketiganya bercakap-cakap sambil berjalan kembali ke toko bunga. Seiring kepergian mereka, three angel lights kembali ke tempatnya di dasar danau. Menjalankan tugasnya melindungi Kota Maple Willow dan Briana, sang florist terpilih. Tentu saja bersama kedua guardian yang saat ini bersamanya, Alder dan Aren.