
“Orang tuamu udah tahu soal kamu yang seorang florist dengan kekuatan sihir?” tanya Azalea di perjalanan ke rumahnya.
“Nggak tahu juga aku masalah itu,” jawab Rosetta. “Cuma dari kecil Mama sama Papa selalu kasih perlakuan istimewa ke aku.”
“Lalu soal kakakmu?”
“Kak Laura ya? Seingetku dia nggak pernah protes sih. Soalnya Mama sama Papa tetap adil kok masalah kasih sayang.”
“Ya udah kalo gitu. Aku seneng kalo semua keluargamu sayang sama kamu.”
Rosetta tersenyum senang karena Azalea mengelus kepalanya. Keduanya mempercepat langkah hingga mengejutkan Mama, Papa, Kak Ririe, dan Kak Rasya. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.
“Kok udah balik? Mama pikir tadi kalian sarapan di rumah Mama Ilka,”ucap Mama lembut.
“Rencananya sih gitu, tapi nggak jadi,” sahut Azalea.
“Rosie mau ikut makan,” ucap Rosetta yang langsung duduk di antara Kak Ririe dan Kak Rasya.
Azalea tersenyum melihat tingkah manja Rosetta pada keluarganya. Dua minggu ini, Roseta sering main ke rumahnya, begitu juga sebaliknya. Bahkan terkadang juga menginap. Hal itu membuat keluarganya menganggap Rosetta sebagai anak sendiri. Kak Ririe dan Kak Rasya bahkan sangat menyayangi Rosetta.
“Kamu nggak sarapan dulu, Lea?” tanya Papa lembut.
“Maunya sih, cuma ada yang perlu Lea lakuin dulu,” ucap Azalea.
Matanya memandang dengan seksama ke sekeliling dapur. Kabut tipis tampak menggantung di seluruh area sekelilingnya. Dia menjulurkan tangannya dan memejamkan mata. Sekuntum bunga azalea muncul dan bersinar. Sinarnya menghisap masuk semua kabut hitam di dapur.
“Kabut hitam itu apa sih?” tanya Kak Ririe.
“Nggak tahu juga. Kabut ini ada di mana-mana,” jawab Azalea.
Dia meletakkan kuntum bunga itu di tengah meja makan. Setelah itu, dia ikut duduk di samping Mama untuk sarapan. Begitu kabut hitam tadi dihilangkan, udara dapur terasa lebih ringan dan hangat.
“Jadi, kemana Laura pergi?” tanya Kak Rasya.
“Nggak tahu. Kata Tante Ilka, di tempat tidur Laura cuma ada mawar hitam ini,” jawab Azalea sambil menyodorkan mawa hitam di tangannya. “Dugaanku, siapa pun yang menculik Laura, dia juga yang menyebarkan kabut hitam ini.”
“Semalam Kak Ririe mimpi,” ucap Kak Ririe dengan kening berkerut. “Terus pas bangun, ada tattoo ini di tangan kakak.”
Kaka Ririe menunjukkan tattoo di pergelangan tangan kanannya. Hal itu diikuti oleh Mama, Papa, dan Kak Rasya. Simbol itu berupa three angel lights tree dengan background sebuah istana berwarna biru transparent.
“Three angel lights tree,” ucap Rosetta.
“Bangunan di belakangnya ini, Mama kayaknya pernah lihat," sahut Mama. "Mama pernah melihatnya sekali dalam mimpi, tapi itu sudah lama sekali. Nggak begitu jelas mimpinya seperti apa. Tapi Mama terbangun di sebuah padang bunga krisan dan dari balik air terjun muncul sosok remaja perempuan bergaun putih keperakan. Dia mengajak Mama masuk ke air terjun yang ternyata berakhir di depan sebuah istana kristal,” cerita Mama dengan kening berkerut.
“Anak perempuan itu bilang sesuatu nggak sama Mama?” tanya Azalea.
“Nah, itu masalahnya. Mama nggak ingat anak perempuan itu bilang apa sama Mama.”
“Biar Rosie lihat kenangan Mama Lily,” ucap Rosetta.
“Boleh, Sayang,” sahut Mama.
Mama menjulurkan tangannya menghadap ke atas di atas meja. Rosetta menumpangkan tangannya tanpa menyentuh tangan Mama. Muncul sekuntum bunga mawar merah di antara telapak tangannya dan Mama. Sinar putih lembut menyelimutinya. Untuk beberapa saat hanya ada keheningan yang mengisi dapur.
Rosetta membuka matanya di padang yang sangat dikenalnya, padang chrysanthemum. Dia terkejut melihat sosok gadis berusia sekitar 10 sampai 12 tahunan bergaun kuning bersinar. Gadis kecil itu tampak bermain dengan ceria di padang kecil nan indah. Hingga kemudian, sosok gadis lain muncul dari balik air terjun.
“Aleena, main ke kolam kristal yuk!” ajak gadis kecil itu.
“Boleh,” sahut gadis kecil yang ternyata Ratu Aleena. “Ajak Andara ya?”
Rosetta memejamkan mata ketika seberkah sinar putih menyilaukan muncul. Ketika membuka mata, dia berada di sebuah padang lain. Dia ingat belum pernah pergi ke padang ini. Dia melihat tiga orang gadis kecil tengah bermain dengan ceria.
“Padang apa ini?” gumamnya pelan. “Kedua Ibunda nggak pernah ngasih tahu padang ini.”
“Kalian senang sekali bermain di sini,” ucap lembut seorang perempuan cantik bergaun putih keperakan.
“Ibunda senang kalau kalian suka berada di sini. Suatu saat nanti, kalian bertiga akan menemukan padang yang juga indah untuk merawat anak-anak kalian masing-masing.”
“Benarkah itu, Ibunda?” tanya Ratu Andara.
“Benar, Andara. Tapi, kalian tidak boleh melupakan taman ini, Sayang. Ini adalah padang di mana semua berawal. Tempat di mana semua juga akan berakhir.”
“Baik, Ibunda,” sahut ketiga gadis itu serempak.
Berkas sinar itu muncul lagi. Untuk beberapa saat, Rosetta berputar-putar di dalam ingatan Mama, tapi tidak ada hal lain lagi. Dia akhirnya menyudahi hal itu. Begitu membuka mata, dia kembali berada di dapur. Mama balik menatapnya dengan raut wajah bertanya.
“Aku nggak berhasil nemuin apa-apa soal pertemuan Mama Lily dengan perempuan bergaun keperakan itu,” ucapnya dengan kening berkerut.
Dia kemudian menceritakan apa yang dilihatnya dalam ingatan Mama. Ceritanya jelas membingungkan Azalea, maupun dirinya sendiri. Sepertinya ada yang aneh. Mama tidak pernah bertemu lagi dengan Ratu Aleena. Lalu, dari mana Mama mendapatkan ingatan itu?
Mama, Papa, Kak Rasya, dan Kak Ririe terdiam menatap Azalea dan Rosetta. Mereka menunggu keduanya untuk menjelaskan arti penglihatan Rosetta. Tapi, tampaknya Azalea dan Rosetta belum mau memberikan penjelasan.
“Kamu bisa lihat ingatan Papa, Kak Rasya dan Kak Ririe juga kan, Rosetta?” tanya Azalea.
“Bisa,” jawab Rosetta. “Kamu mau ngapain emangnya?”
“Aku mau coba hubungin lagi Asphodella, Briana, Alder, dan Aren,” jawab Azalea yang kemudian pergi ke taman belakang.
Azalea berhenti di tengah-tengah taman milik Mama. Dia memejamkan mata dan merentangkan tangannya tidak terlalu lebar. Perlahan, semilir angin berhembus dan kuntum-kuntum azalea muncul di sekeliling tubuhnya yang perlahan terangkat. Dia berusaha memfokuskan pikiran dan kekuatannya untuk merasakan aliran kekuatan Briana.
“Kok nggak bisa ya?” gumamnya sambil membuka mata. “Aku coba aja pakai cahaya hati bunga buat lihat kondisi di Maple Willow.”
Sekali lagi, dia memejamkan mata dan mengalirkan kekuatannya pada bunga-bunga di sekelilingnya. Perlahan, bayangan-bayangan sama mulai muncul. Dia melihat bayangan orang-orang yang beraktifitas seperti biasa. Hatinya lega melihat Madam Annura, Bibi Brenda, Mrs. Carolina, dan Mr. Hans baik-baik saja.
Tapi, semua berakhir di situ. Dia tidak bisa mendengar suara siapapun, bahkan suara Briana, Alder, dan Aren. Seolah-olah, ada yang mem-blocking semua suara. Dia benar-benar tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Bahkan tidak bisa menemukan keberadaan Asphodella.
“Berhasil?”
Suara Rosetta membuatnya membuka mata. Perlahan, tubuhnya kembali menjejak tanah. Dia berbalik melihat Rosetta, Mama, Papa, dan Kak Rasya yang balik menatapnya khawatir.
“Nggak bisa. Tapi, setidaknya aku berhasil melihat kalau Maple Willow baik-baik saja,” jawabnya sambil melangkah mendekat.
“Lalu, soal Della?” tanya Kak Rasya.
“Aku malah nggak bisa nemuin Della,” jawab Azalea. “Semua komunikasi terputus. Seolah-olah ada yang menghalangi kita semua untuk berkomunikasi.”
“Dan kami semua merasa, dugaan kamu benar, Lea. Semua ulah dari orang yang sudah menculik Laura,” ucap Kak Rasya lagi.
“Masalahnya… yang hilang bukan cuma Laura yang hilang,” ucap Kak Ririe yang datang dan menatapnya khawatir. “Aku barusan dapet telepon dari Tante Yohanna, ibu Gina. Tante Yohanna bilang kalau Gina juga menghilang.”
Mama, Papa, dan Kak Rasya langsung terlihat khawatir mendengar hal itu. Mereka semua menatap Azalea dan Rosetta yang tampak bingung. Mereka melihat Azalea mengerutkan dahinya dengan gelisah.
“Siapa pun yang kalian hadapi sekarang, dia benar-benar orang yang kuat dan berbahaya,” ucap Mama. “Mama bisa merasakan energi yang gelap dan sangat jahat melalui kabut hitam ini.”
“Lea dan Rosetta akan pergi mencari Della. Sebelum itu, kami akan memasang pelindung di rumah ini, rumah Rosetta, lalu membuatkan pendant pelindung,” ucap Azalea.
“Kami tidak akan menghalani apa pun yang ingin kalian lakukan. Kami hanya bisa berpesan agar kalian berhati-hati,” ucap Papa lembut.
“Pasti, Pa. Jangan khawatir. Lea akan jaga diri baik-baik. Selain itu, Lea juga akan memastikan Rosetta dan Della baik-baik saja.”
Setelah itu, Azalea memasang pelindung three angel lights tree di rumahnya. Sementara Rosetta membuatkan pendang pelindung dari bunga mawar putih. Dia memang sengaja memilih bunga mawar putih. Hal itu karena selain bisa menjadi pelindung, bunga itu berguna agar Mama Lily, Papa Thony, Kak Rasya, Kak Ririe, dan orang tuanya bisa membedakan orang jahat dan orang baik.
Azalea dan Rosetta menggunakan kekuatan teleport pergi ke taman belakang sekolah. Beruntung hari itu kegiatan ekstrakurikuler fokus di lapangan depan. Hal itu membuat taman belakang sepi. Di situ, mereka duduk di bangku favorit Azalea.
“Kalo Della kenapa-napa gimana?” tanya Rosetta dengan usara bergetar.
“Jangan takut ya. Della pasti baik-baik aja. Kita akan nemuin Della, gimana pun caranya,” sahut Azalea sambil merangkul bahu Rosetta lembut.