
“Terus, kita harus ke Maple Willow kan? Gimana caranya?” tanya Rosetta.
“Aku masang three angel lights tree di Swan Lake. Kalo kita bisa pasang di sini, kita bisa pakai buat teleport,” jawab Azalea.
“Oke. Mumpung sepi. Sekarang aja.”
Azalea dan Rosetta berdiri di tengah taman kemudian memejamkan mata. Semilir angin muncul dan membentuk pusaran di tengah. Di dalam pusaran itu, perlahan muncul tree angel lights tree. Suasana di sekitar taman menjadi lebih bersinar, sejuk, dan harum. Membuat siapa pun merasa tenang dan nyaman.
Rosetta menggunakan kekuatannya agar three angel lights tree tidak bisa dilihat oleh siapa-siapa, termasuk para florist. Hanya dia, Azalea, dan Asphodella yang bisa melihatnya. Dia juga memasang cahaya hati rose (tea) untuk menangkap ingatan siapa saja yang datang ke taman ini.
“Untuk apa?” tanya Azalea.
“Mungkin aja ada orang yang bawa ingatan penting. Aku bisa lihat lewat three angel lights tree ini,” jawab Rosetta.
Setelah itu, Azalea dan Rosetta bergandengan tangan. Mereka menjulurkan tangan menyentuh bunga azalea merah dan mawar merah yang menjadi sumber kekuatan mereka. Mereka memejamkan mata dan merasakan embusan angin.
Begitu membuka mata kembali, mereka berada di tepi Swan Lake. Udara sejuk yang berembus membuat suasana terasa tenang dan nyaman. Sesekali terdengar kicau burung. Untuk beberapa saat, Azalea dan Rosetta menikmati keindahan Swan Lake.
“Lihat kondisi Briana yuk!” ajak Azalea.
“Ayo! Terus aku mau jalan-jalan ya? Aku kan nggak pernh ke sini,” pinta Rosetta.
“Boleh. Alder atau Aren bisa menemanimu besok jalan-jalan.”
Keduanya sampai di halaman belakang toko yang penuh dengan berbagai macam bunga. Kuntum-kuntum bunga itu mengeluarkan sinar lembut. Bukan hanya yang ada di toko, tapi di seluruh Maple Willow. Semua menyambut kedatangan Azalea dan Rosetta ke kota kecil nan indah itu.
“Azalea?”
Azalea tersenyum menatap Briana, Alder, dan Aren yang tampak terkejut melihat kedatangannya. Dia menyambut pelukan Briana. Diam-diam, dia menyerap sedikit energi Briana. Setelah itu, dia menyalurkannya pada Rosetta. Mereka kemudian berkumpul di meja rangkai.
“Gimana kalian berdua bisa bertemu?” tanya Alder membiarkan Rosetta menggelayut manja di lengannya.
“Ternyata, selama ini Rosetta itu selalu ada di deketku. Dia lahir jadi adik Laura, musuhku sejak SMP,” cerita Azaela.
“Terus, kamu ke mana aja sih beberapa hari ini?” tanya Aren. “Kami semua udah coba hubungin kamu, tapi nggak ada jawaban. Della juga menghilang gitu aja.”
“Kami nggak kemana-mana kok,” awab Azalea. “Ada kabut hitam di mana-mana dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya. Tapi, semua orang bisa merasakan kabut hitam itu.”
“Terus? Ada masalah lain?” tanya Alder lembut.
“Kabut ini muncul setelah Kak Gina sama Kak Laura menghilang,” sambung Rosetta. “Dan yang tertinggal cuma setangkai mawar hitam di tempat tidur masing-masing.”
Azalea meletakkan kedua mawar hitam yang dibawanya di atas meja. Dia membiarkan Alder mengambil setangkai mawar. Yang membuatnya terkejut adalah bunga mawar hitam itu bereaksi. Perlahan, kelopak-kelopak bunganya berubah menjadi putih bersih.
Alder memejamkan matanya sejenak. Perlahan, muncul kepingan-kepingan es yang membalut bunga mawar itu. Berbagai bayangan muncul di kepalanya, tiga orang gadis kecil yang tengah bermain dengan ceria di sebuah padang bunga. Tapi, dia tidak bisa melihat wajah mereka.
“Apa yang kamu lihat, Alder?” tanya Briana sambil menepuk lembut bahu Alder.
“Bayangan tiga orang gadis kecil yang sedang bermain di padang bunga. Cuma, aku nggak bisa lihat wajah mereka,” jawab Alder. “Mereka masing-masing memakai gaun merah, putih, dan merah muda.”
Kening Azalea berkerut mendengar ucapan Alder. Rosetta melihat ketiga gadis kecil itu di dalam ingatan Mama. Ketiga gadis kecil itu adalah Ratu Aleena, Ratu Andara, dan Ratu Krystal. Lalu, apa hubungan ingatan akan masa kecil kedua Ibundanya bersama Ratu Krystal dengan masalah yang terjadi saat ini?
Rosetta tidak berkomentar apa-apa. Dia melihat kalau Azalea tidak mau membuka siapa ketiga sosok gadis kecil itu. Karena itulah, dia juga ikut bersikap seolah-olah tidak tahu. Entah kenapa, dia tidak suka dengan cara Briana menatap dan menyentuh Alder. Hal itu karena sekilas dia menangkap raut wajah tidak nyaman pada Azalea.
“Kalian mau menginap di sini kan?” tanya Aren.
“Iya, kami akan menginap di sini untuk beberapa hari,” jawab Azalea.
“Kamu bisa pakai kamar lamamu, Azalea,” sahut Briana. “Aku tidak pernah memakainya sejak kamu pergi.”
“Terima kasih, Briana.”
Setelah berkata seperti itu, Azalea bangkit dan pergi menuju ke halaman depan. Matanya memeriksa semua bunga yang tumbuh rapi. Hal itu membuat hatinya sedih terasa tenang. Entah kenapa pandangan lembut Briana pada Alder mengganggu hatinya. Ada sedikit perasaan tidak nyaman yang masuk.
“Kamu kenapa?”
“Aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan, Azalea.”
“Sepertinya kamu dekat dengan Briana.”
“Kami memang dekat, Aren juga dekat dengan Briana. Kami memiliki suatu ikatan khusus, Azalea. Tapi, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.”
“Lalu, ke mana kalung batu yang kuberikan padamu sebelum aku pergi?”
“Aku menggunakannya untuk melindungimu,” jawab Alder. “Kalau kamu nggak percaya, Rosetta bisa melihatnya untukmu.”
Azalea terdiam mendengar ucapan Alder. Dia memejamkan mata dan berpikir sejenak. Setelah mantap, dia menatap kedua bola mata Alder dan meletakkan telapak tangannya di dada pemuda itu. Perlahan, keluar sinar merah dari tangannya.
Alder mengernyit merasakan sakit di dada dan belakang telinga kanannya. Tapi, dia tetap diam menahan rasa sakit itu. Hingga perlahan rasa sakitnya berkurang seiring cahaya di tangan Azalea yang meredup dan menghilang. Dia menatap cahaya hati bunga azalea merah yang diambil oleh Azalea.
“Kenapa?” tanyanya.
Azalea diam dan tidak menjawab. Perlahan, cahaya hati bunga azalea itu melayang dan berhenti di depan dada Alder. Tak lama, masuk ke dalam pendant pelindung yang pernah dibuatkan olehnya dulu.
“Aku nggak tahu siapa kamu sebenarnya, Alder. Tapi, aku memilih untuk tetap mempercayaimu sepenuhnya. Cahaya hati itu adalah janjiku padamu. Sebagai gantinya, aku minta kamu janji sama aku, kalau kamu, Aren, dan Rhys akan selalu menjaga kedua adikku apa pun yang terjadi. Bisa kan?”
“Azalea, kenapa kamu ngomong kayak gitu?”
“Berjanjilah, Alder. Aku mohon.”
“Iya, Azalea. Aku berjanji padamu.”
Azalea membiarkan dirinya dipeluk oleh Alder. Yang membuatnya percaya kalau Alder jujur mengenai hubungannya dengan Briana adalah cahaya baby breath yang tadi sekilas muncul menyelimuti tangannya. Walaupun begitu, dia memiliki alasan tersendiri mengapa melepas ikatan yang dibuatnya pada Alder.
“Aku senang kalau lihat Azalea dan Alder bersama,” ucap Briana.
“Kenapa? Bukankah kamu suka pada Alder?” tanya Rosetta tajam.
“Nope. Aku nggak suka sama dia, Rosetta. Nggak mungkin aku nyakitin hati Azalea. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa ngerasa punya ikatan khusus dengan Alder, Aren, dan Rhys.”
“Kalau gitu, kamu tahu di mana Rhys berada?”
“Aku nggak tahu. Aku nggak bisa lihat di mana Rhys berada, tapi aku bisa ngerasain kalau dia baik-baik aja di suatu tempat.”
“Ikatan itu… seperti…”
Rosetta terdiam dan memandang Azalea. Sepertinya, dugaan Azalea mengenai Briana benar. Briana memang bukan florist biasa, apalagi Ratu Aleena sendiri yang menunjuknya. Itu artinya, Ratu Aleena punya jawaban mengenai siapa Briana sebernarnya. Dia harus mengajak Azalea menemui Ratu Aleena.
* * *
“Nggak bisa, Rosie. Kenapa kita nggak bisa menghubungi kedua Ibunda juga?” Azalea memijat keningnya perlahan.
“Yang membuatku heran, kenapa kabut hitam itu nggak ada di Maple Willow? Apa Briana yang berhasil menghalau kabut itu?”
Azalea diam mendengar ucapan Briana. Entah kenapa ada rasa marah yang merasuki hatinya. Sejak awal dia tahu ada yang aneh dalam diri Briana. Tapi, Briana selalu jujur padanya. Seperti ada yang mem-blocking suatu bagian dalam ingatan Briana. Itu artinya, dia harus bisa mencari tahu ingatan Briana yang hilang itu.
“Kita pergi malam ini, Rosie,” ucapnya sambil tersenyum pada Rosetta.
“Kenapa? Aku lihat kamu seneng di sini, sama Alder juga,” ucap Rosetta.
“Kalau lama-lama di sini, aku akan terlena, Rosie. Aku bisa-bisa melupakan tugas utamaku sebagai florist. Apalagi, sekarang ada masalah yang harus kita selesaikan.”
“Kita pamit ke Alder, Aren, dan Briana?”
“Nggak usah. Aku takut kalau Alder tahu ada yang aku sembunyiin darinya.”
Rosetta menurut saja pada Azalea. Dia menyambar jubah hitam yang tergantung di belakang pintu dan memakainya cepat. Setelah itu, dia mengikuti Azalea yang pergi ke kamar Briana. Dia tersenyum melihat Azalea memasang pelindung di kalung yang dipakai oleh Briana.
Setelah melakukan hal yang sama pada Alder dan Aren, Azalea mengajak Rosetta untuk langsung pergi ke Swan Lake. Mereka akan menggunakan pancaran energi tree angel lights tree untuk menemukan keberadaan Asphodella. Walaupun tidak bisa langsung, setidaknya bisa menemukan kota tempat tinggal Asphodella.