
“Good morning!” ucap Azalea melihat Rosetta bangun.
“Kamu kok udah bangun, Azalea?” tanya Rosetta sambil tengkurap memandang sang kakak.
“Aku nggak bisa tidur nyenyak semalam,” jawab Azalea.
Rosetta terdiam mendengar ucapan Azalea. Dia bisa melihat kegelisahan dalam hati sang kakak. Kalau begini, dia jadi bingung apakah harus memberi tahu masalah semalam atau tidak. Dia menggunakan kemampuan soul travelernya dan pergi ke Maple Willow. Melihat sosok asli Briana yang ternyata adalah Flora.
“Akhirnya Rosetta bangun juga,” ucap Briana yang masuk ke kamar. “Sarapan yuk! Bibi Lula udah masak makanan enak.”
“Boleh,” sahut Rosetta dengan suara bersemangat.
Mereka bertiga kemudian turun dan pergi ke ruang makan. Ternyata Bibi Lula, Paman Jake, dan Rhys sudah menunggu. Mereka semua menikmati sarapan pagi bersama dengan suasana santai.
“Setelah ini, Paman dan Bibi akan pergi ke Auburn. Kalian baik-baiklah di rumah,” ucap Paman Jake.
“Untuk apa Paman dan Bibi ke Auburn?” tanya Azalea.
“Kami hanya mengikuti pesan Ratu Aleena yang terakhir sebelum benar-benar menghilang. Ratu Aleena ingin kami pergi ke Auburn begitu kalian bertemu dengan Briana yang asli. Di sana, kami akan tahu tindakan selanjutnya,” jelas Bibi Lula.
“Rhocya bilang, kedua Ratu sudah pergi sejak kami akan lahir. Tapi, kenapa masih bisa menemui kita semua?” tanya Rosetta.
“Memang. Untuk sekarang kita smeua sudah tidak bisa bertemu dengan Ratu Aleena karena Azalea sudah mendapatkan cahaya kristal kedua. Tapi kita masih bisa menemui Ratu Andara,” jawab Bibi Lula.
“Aku mendapatkan kristalku semalam,” ucap Azalea pelan.
“Azalea…” Bibi Lula mengelus kepala Azalea lembut, “jangan sia-siakan pengorbanan Ibundamu. Sejak sebelum kematian kalian dua ratus lima puluh tahun yang lalu, kedua Ratu telah merasakan ada sesuatu yang berbeda. Semua terbukti dari kelahiran kalian yang membutuhkan waktu selama itu.”
“Memangnya apa yang diketahui oleh kedua Ratu?” tanya Briana.
“Tidak ada yang tahu, Sayang,” jawab Bibi Lula.
“Semua tergantung pada Azalea, Asphodella, dan Rosetta. Ada yang terjadi jauh sebelum kemunculan Ratu Aleena, Ratu Andara dan Ratu Mary. Dan hal itu, mulai bangkit menunjukkan kegelapannya sekarang,” sambung Paman Jake.
“Kami akan berusaha,” ucap Azalea.
Setelah itu, Paman Jake dan Bibi Lula pergi ke Auburn. Rosetta memandang kepergian orang tua Rhocya dengan sorot mata sendu. Diam-diam, dia melemparkan dua kuntum bunga mawar pada mereka. Dia berharap, itu bisa melindungi mereka.
Dia kemudian pergi ke taman belakang menyusul Azalea, Briana dan Rhys. Saat membuka pintu rumah, dia terkejut melihat kabut hitam yang menyelimuti tempat itu. Hingga perlahan, kabut itu menjauh karena muncul cahaya dari tengah taman. Dia melihat Azalea, Briana, dan Rhys membuat pelindung.
Matanya terbelalak melihat sosok dari kabut hitam berada di belakang Azalea. Tangannya terulur dan sebuah anak panas kristal terlempar. Di sekeliling anak panah itu muncul kuntum-kuntum mawar merah. Sosok itu mengeluarkan jeritan melengking ketika tubuhnya terhunus anak panahnya.
“AZALEA!” pekiknya melihat sang kakak, Briana dan Rhys terhempas oleh angin dari sosok kabut hitam itu. “Kamu nggak apa-apa?” Dengan raut khawatir, dia membantu Azalea berdiri.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Azalea lembut.
“Apa itu tadi?” tanya Briana.
Rhys bergerak mengambil sekuntum bunga berwarna putih yang jatuh di tanah. Sorot matanya menyendu ketika mengangkat bunga itu. Dia hendak memusnahkan bunga itu ketika muncul sehelai kertas dan seuntai kalung berliontin bunga tadi.
Rhys, aku tahu kamu marah dan membenciku serta Aren. Aku minta maaf semua harus menjadi seperti ini di kelahiran kita yang sekarang. Tapi aku mohon padamu untuk percaya padaku, Rhys. Saat ini, incaran utama Ratu Mary dan Flora adalah Azalea. Berikan kalung pendant ini padanya. Aku juga minta tolong padamu untuk menjaga Azalea. Jangan tanya alasannya, karena aku sendiri pun tidak tahu. Yang pasti, ada sesuatu yang mereka inginkan dan hal itu dimiliki oleh Azalea. Sekali lagi maafkan aku, Rhys.
“Ada apa, Rhys?” tanya Briana melihat Rhys terdiam.
Rhys buru-buru melenyapkan surat dari Alder. Dia berbalik dengan senyuman di wajahnya. Dalam diam, dia memperhatikan Azalea dengan teliti. ‘Apa yang salah dengan Azalea sebenarnya? Kenapa semua hal ini selalu mengarah padanya?’ tanyanya dalam hati.
“Rhys?”
Suara Rosetta mengagetkannya. “Nggak apa-apa kok. Ada titipan untuk Azalea,” ucapnya.
Dia mengulurkan telapak tangannya. Kerlap-kerlip cahaya muncul dan langsung melayang ke arah leher Azalea. Dalam hati dia merasa bersalah karena meragukan janji mereka dulu. Janji bahwa mereka akan melindungi ketiga putri dari angel lights tree.
Azalea menyentuh lehernya dan mengernyit melihat liotin kalungnya. Snowdrop, bunga milik Alder. Hal itu tak ayal membuatnya bingung, ragu, dan gelisah.
“Aku sendiri masih belum tahu itu soal apa,” ucap Azalea menghela napas
pelan.
“Awalnya aku meragukan Alder dan Aren. Tapi, aku memutuskan untuk percaya pada mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah saudaraku,” ucap Rhys lagi.
“Itu urusanmu, Rhys,” sahut Azalea lembut. “Aku dan Rosetta di sini datang untuk meminta bantuanmu, bukan untuk merebutmu dari kedua kakakmu.”
“Tapi Rhocya bilang kita nggak boleh percaya selain Rhys dan Briana.” Rosetta mengeluarkan protesnya.
“Rhocya dan Cercia tidak pernah mengatakan hal penting secara langsung, Rosie. Mereka selalu menggunakan teka-teki agar tidak ada yang tahu,” ucap Briana.
“Bri benar. Lagi pula, aku merasa mereka mengawasi pergerakan kita melalui kabut hitam ini.” Azalea memandang kabut yang melayang di luar dinding cahaya pelindung. “Cercia akan datang. Kita tunggu saja di sini.”
Azalea dan Briana duduk di tepi kolam. Mereka membiarkan Rosetta dan Rhys bermain di danau. Semilir angin sejuk membuat suasana padang anyelir terasa nyaman. Membuat kegelisahan dalam hati mereka semua seolah menguap begitu saja. Walaupun kini nyawa mereka serasa berada di ujung tanduk.
“Apakah kamu tahu, Putri. Kalian bertiga entah bagaimana caranya saling terhubung dengan kami, para penjaga istana kristal,” ucap Briana memecah keheningan.
“Di mana letak istana kristal, Bri?” tanya Azalea.
“Tidak ada yang tahu, Putri,” jawab Briana. “Walaupun title kami bertiga adalah The Guardians dari Istana Kristal, kami tidak pernah tahu letaknya sama sekali.”
“Kamu bukan salah satu guardian, Bri. Kamu adalah putri angkat dari Ratu Krystal.”
“Maksud, Putri?”
“Ada dua macam mahkota kristal. Cari tahulah dan kamu akan memahami ucapanku.”
“Baiklah. Nanti aku dan Rhys akan coba mencari tahu makna simbol mahkota kristal.”
Tiba-tiba, dari tengah danau, muncul kuntum-kuntum bunga dari Judas Tree. Di baliknya, sosok perempuan berwajah cantik bergaun pink berdiri dengan seulas senyum hangat. Sorot matanya tampak begitu bahagia melihat Azalea dan Rosetta.
“Cercia!” Rosetta berlari dan memeluk sang Penjaga Jugas Tree itu.
“Halo, Putriku yang Manis,” ucap Cercia membalas pelukan Rosetta. “Aku senang melihat kalian berdua baik-baik saja, Putri.” Cercia memandang Azalea.
“Kami baik-baik aja kok, Cercia,” sahut Azalea hangat.
Mereka semua duduk melingkar di tepi danau. Azalea membuatkan kursi dan meja dari sulur-sulur tanaman. Setelah itu, dia juga membuat dindin cahaya tak terlihat agar orang lain yang tinggal di sekitar rumah Rhys tidak bisa melihat mereka.
“Aku datang membawa kabar baik dan kabar buruk,” ucap Cercia.
“Kabar apa pun itu, pasti ada buruknya,” sahut Briana.
“Putri Asphodella baik-baik saja. Dia ada di London saat ini. Selama beberapa hari aku berusaha menemukannya. Ternyata, dia sengaja menutup dirinya karena tahu kalau anak buah Ratu Mary pasti datang mencarinya.”
“Syukurlah kalau Della baik-baik saja,” ucap Rosetta.
Azalea tersenyum dan mengelus kepala Rosetta lembut. Dia juga senang mengetahui kalau Asphodella baik-baik saja. Saat ini, fokus utamanya adalah menemui Asphodella. Dia belum mau memikirkan masalah Laura dan Gina. Kalau sudah berkumpul bersama Asphodella, barulah dia akan mencari tahu cara menemukan keberadaan keduanya.
“Apa berita buruknya?” tanya Rhys.
“Maple Willow berhasil dikuasai oleh Putri Flora yang menyamar menjadi Briana,” jawab Cercia. “Tapi untuk ketiga buku, Putri tidak perlu khawatir. Alder sudah mengamankannya dan meletakkannya di tempat rahasia.”
“Alder itu sebenarnya baik atau jahat sih, Cercia?” Azalea memasang wajah sendu.
“Hanya Putri yang bisa mengetahuinya. Ketahuilah, apa yang terjadi saat ini, telah diramalkan oleh penjaga Judas Tree dan Rhodocea Tree jauh sebelum ketiga Ratu muncul. Mereka tewas ketika melindungi kalian, kemudian kami datang menggantikannya,” sahut Cercia.
Cercia mengulurkan tangannya. Dari telapak tangannya, muncul three angel lights tree dan tiga buah mahkota yang semuanya dari kristal. Setelah itu, muncul sebuah istana di sebuah tempat yang semuanya berwarna putih. Terakhir, muncul tiga buah benda, anak panah, kunci, dan pedang yang semuanya terbuat dari kristal.
“Pergilah. Termui Putri Asphodella dan dapatkan cahaya kristal yang terakhir. Aku dan Rhocya akan menemui kalian di sana.” Setelah itu, Cercia menghilang dalam kuntum-kuntum bunga Judas Tree.