
Rosetta menghentikan langkahnya dan berbalik. Senyuman terukir saat bertatapan dengan Sophia. Berbeda dengannya yang mengenakan dress panjang berwarna pink lembut, Sophia mengenakan dress hitam panjang. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai bebas dengan hiasan mahkota quaking grass.
“Halo, Sophia! Sudah lama nggak bertemu, ya?” Rosetta terus mengulas senyum.
“Hm … nggak usah basa-basi!” ketus Sophia. “Kamu pasti ke sini mau bebasin Putri Kristal dan ketiga guardian, ‘kan?”
“Nah … itu udah tau.”
“Kamu berani banget, lho. Dateng ke sini sendirian. Mana Azalea dan Asphodella?” tanya Sophia angkuh.
“Ada kok, mereka lagi jalan-jalan,” jawab Rosetta.
Trang …!
Rosetta menepis sebuah anak panah hitam yang tiba-tiba meluncur ke arahnya. Di tangannya ada sebuah busur kristal. Dia menggunakan busur itu untuk menepis anak panah yang dilontarkan oleh Sophia. Raut wajah polos dan cerianya menghilang, digantikan sorot mata dingin dan tajam.
Kejengkelan Rosetta memuncak melihat senyum angkuh Sophia. Namun, dia masih bisa menahan diri untuk tidak bertindak ceroboh. Dia tidak ingin terpancing tindakan Sophia. Hal yang membuatnya berhati-hati adalah karena sedang berada di wilayah musuh.
Jangan hiraukan dia, Rosie …. Dia hanya mengulur waktumu agar gagal menyelamatkan Alder ….
Tiba-tiba, terdengar suara bisikan di telinganya. Mendengar hal itu, dia sibuk memikirkan cara melepaskan diri dari Sophia. Matanya menangkap gerakan Sophia yang melemparkan cahaya quaking grass. Dia tidak berminat mengelak dan melakukan serangan untuk menghalaunya.
Rosetta mempersiapkan busur dan menarik talinya. Tampak sebuah anak panah cahaya terbentuk. Gerakannya sangat cepat hingga Sophia tidak sempat mengelak.
“Ouch!” Sophia menjerit kecil ketika kakinya tertembus.
“Sorry!” ucap Rosetta tersenyum kecil. “See you later!”
“ROSETTA!” jerit Sophia.
Rosetta tidak memedulikan Sophia lagi. Dia berlari menuju ke rumah. Ada satu hal yang disadarinya saat ini, yaitu Sophia sendirian saja menjaga rumah florist itu. Hal itu jelas sedikit membawa keuntungan baginya. Dia hanya harus berhati-hati pada blood florist army yang sudah ditempatkan oleh Flora di situ.
Dia berhasil melumpuhkan dua guards yang menjaga pintu masuk toko. Tanpa menunggu waktu lama lagi, dia masuk dan berhenti di tengah ruangan. Dia berjongkok dan meletakkan telunjuknya di lantai. Matanya terpejam sejenak, menyalurkan kekuatannya.
“Ini rumahku! Aku nggak akan biarkan kalian ambil rumahku!” gumamnya pelan. “Etreyaouverta.”
Terbentuk simbol kepingan salju di lantai. Dia kemudian membuka mata dan mundur. Sebuah three angel lights tree muncul dan bersinar.
Dia kemudian mendongak dan menatap ke sekeliling rumah. Senyumnya mereka melihat kabut hitam itu tampak menyingkir perlahan. Sebelum ke Maple Willow, Azalea sempat memasang pelindung cahaya padanya. Sekarang, hanya tinggal mencari keberadaan Alder, Aren, Briana, dan Rhys di rumah ini.
Matanya kembali terpejam untuk merasakan energi mereka. Cukup lama juga dia karena kekuatannya yang terbatas. Sampai akhirnya … ketemu! Ada sebuah ruang bawah tanah yang ditutup dengan dark magic florist milik Flora. Kekuatannya saat ini tidak mungkin bisa membukanya.
“Itu urusan nantilah …. Sekarang aku coba lihat dulu pintunya,” gumamnya pelan.
Dia beranjak pergi kembali ke kolam belakang. Beruntung Sophia sudah pergi, entah ke mana. Dia mengejek sikap pengecut dan penakut Sophia yang tidak juga hilang sejak dulu. Langkahnya terhenti di depan semak petunia. Otaknya sibuk berpikir cara menghilangkan semak itu.
“Coba aja deh …,” gumamnya pelan.
Tangannya terulur mengeluarkan anak panah kristalnya. Setelah itu, dia mencari bagian paling bawah mendekati akar. Cukup sulit mengingat semak itu tumbuh sangat rapat. Sambil menahan sakit, dia menyibak semak itu. Senyumnya merekah melihat yang dicarinya terlihat di depan mata.
Tak!
Ujung anak panah kristalnya menancap di batang. Setitik darah keluar dari situ. Matanya terpejam dan menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan semak itu. Walaupun butuh usaha keras, perlahan dia berhasil. Tak lama, petunia itu mulai layu dan hancur menjadi abu.
Dia tidak mau repot-repot mencari kunci dan langsung menghancurkan pintu kayu itu dengan kekuatannya. Setelah itu, dia melongokan kepalanya dan mendesah lega melihat Briana tersenyum padanya. Matanya memandang Aren dan Rhys tengah berjongkok di sisi tempat tidur batu.
“Hup ….” Rosetta melompat masuk tanpa ragu.
“Syukurlah kamu bisa sampai di sini dengan selamat, Rosie!” Briana memeluk Rosetta.
“Kenapa dengan Alder?” tanya Rosetta setelah melepas pelukan mereka.
“Flora memberinya racun petunia,” jawab Aren.
“Ini.” Rosetta melepas kalung pendant dari Azalea.
“Kamu yang bisa, Rosie. Tepatnya, para putri light florist yang bisa melawan kekuatan blood florist,” ucap Aren.
Rosetta meletakkan pendant itu di atas dada Alder, kemudian menumpangkan tangannya tanpa menyntuh. Dia memusatkan kekuatannya. Melawan kekuatan Flora bukanlah tandingannya. Namun, dia ingat kalau dirinya adalah sang Putri Cahaya, maka harus bisa melawan kegelapan.
Berhasil! Perlahan, asap hitam keluar dari dada Alder dan melayang di bawah tangannya. Setelah itu, dia memasukkan cahaya hati snowdrop dalam pendant kembali ke tubuh Alder. Dia membungkus asap hitam tadi dalam bola kristal dan menyimpannya. Matanya terbuka dan tersenyum melihat Alder mulai membuka mata.
“Uhuk! Uhuk!” Alder terbatuk pelan.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa,” ucap Briana memeluk Alder.
Rosetta berdiri dan mengernyit sedikit. Kepalanya agar pusing.
“Kamu tidak apa-apa, Rosie?” tanya Aren, membuat yang lain ikut memandang Rosetta.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Rosetta.
Namun, sedetik kemudian tubuh Rosetta ambruk. Beruntung Aren cepat tanggap menangkap tubuh Rosetta. Namun, hal itu tak urung membuat Aren, Rhys, dan Briana panik. Mereka belum benar-benar lepas dari bahaya. Kalau sampai Flora, Shopia, dan Poppy datang, habislah mereka!
* * *
Nyut!
Azalea memegang dadanya yang terasa nyeri. Hal itu membuat Asphodella menoleh kebingungan. Mereka berdua kini tengah berada di ruang rahasia, berusaha memperkuat cahaya pelindung snowdrop.
Saat mereka datang, tempat itu hanya dijaga oleh sepuluh blood florist army. Melumpuhkan mereka bukan masalah sulit bagi keduanya. Entah ke mana perginya Flora, Poppy, dan Shopia, hingga tidak menjaga tempat paling penting itu. Mereka tidak tahu kalau Sophia sempat berhadapan dengan Rosetta.
“Ada apa?” tanya Asphodella khawatir.
“Entahlah, rasanya sakit,” jawab Azalea sambil mengernyit.
Tiba-tiba, sekuntum mawar kristal muncul di hadapan mereka. Azalea mengambilnya, kemudian memejamkan mata. Perlahan, mawar kristal itu hancur dan terbang menuju ke arah rumah. Azalea diam memperhatikan dalam kebimbangan.
“Della, kamu tahu kristal yang ada di dinding itu?” tanya Azalea menunjuk yang dimaksud.
“Tahu. Mau diapakan itu?” tanya Asphodella.
Azalea mengeluarkan sebuah botol kecil dan menyerahkannya pada Asphodella, “Ambil dan bawalah lebih dulu. Pergilah lebih dulu ke Swan Lake dan tunggu aku di sana,” ucapnya tegas.
“Baik,” jawab Asphodella.
Azalea langsung pergi ke rumah florist. Matanya awal memandang ke sekitar. Dia memilih menghindari blood florist army, karena tidak punya banyak waktu. Langkahnya cepat, seperti melayang. Dia menggunakan kekuatannya untuk menghalau kabut hitam.
Saat hampir sampai di rumah. Langkahnya terhenti dan langsung bersembunyi di balik pohon maple. Jantungnya berdegub kencang melihat Flora dan Poppy yang berjalan ke arah rumah. Otaknya sibuk berpikir cara mengalihkan perhatian mereka.
Dia mengambil langkah mundur, kemudian membungkuk mengambil sehelai daun maple. Perlahan, muncul cahaya yang membentuk sosok tubuh manusia. Matanya yang awalnya terpejam, kembali terbuka dan ternyum menatap sosok itu. Dia kemudian memasukkan cahaya hati maple.
“Aku butuh bantuanmu untuk mengalihkan perhatian Flora dan Poppy,” ucapnya pelan.
“Baik, Putri.”
Sosok itu langsung pergi. Sesaat kemudian, terdengar suara teriakan. Azalea melihat Poppy pergi mengikuti perempuan itu. Kini, tinggal Flora yang berdiri memandang ke sekelilingnya. Azalea hendak keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghadapi Flora. Namun, langkahnya terhenti.
Tampak sosok berjubah datang dengan kuntum-kuntum achillea merah muda. Azalea pun kembali bersembunyi. Keningnya berkerut merasakan aura yang sangat familiar dari sosok berjubah itu. Dia memutuskan menguping pembicaraan mereka.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Flora?” tanya sosok itu dengan suara khas perempuan, tapi terkesan dingin.
“Aku hendak ke rumah florist, Ibunda. Namun, ada gadis dari light florist yang datang. Poppy sedang mengejarnya,” jawab Flora.
“Tidak mungkin ada florist yang bisa datang ke tempat ini, Flora. Kecuali dia adalah salah satu putri dari light florist,” ucap sosok itu.
“Lalu, apakah …?”
Krek.
Azalea menahan napas. Tanpa sengaja dia menginjak dahan kering. Bunyi patahannya cukup keras, ditambah posisinya yang lumayan dekat, tentu saja terdengar oleh Flora dan kedua sosok itu. Dia memikirkan cara untuk melarikan diri dari mereka.
Bisa saja dia menghadapi Flora, tapi tidak dengan sosok perempuan itu. Jantungnya berdegub kencang melihat keduanya melangkah ke arahnya.