
Kling…
Hari masih pagi ketika sosok gadis berseragam masuk. Azalea yang tengah merangkai pesanan bunga matahari mendongak dan tersenyum menatap gadis berparas manis itu. Tampak sehelai biji ray floret di bahunya. Walaupun merasakan sedikit energi aneh dari gadis itu, dia tetap menyambutnya dengan hangat.
“Hai. Apakah ada yang bisa kubantu?” tanyanya dengan nada hangat.
Gadis itu memandang Azalea dengan raut wajah gugup. “Namaku Sophia. Aku menyukai seseorang dan hendak menyatakan perasaanku padanya,” ucapnya pelan. “Apakah kamu bisa merangkaikanku bunga yang cocok, nona florist? Aku tidak terlalu ahli dalam bunga.”
“Tentu saja. Duduklah dulu,” jawab Azalea sambil menuangkan teh hangat.
Azalea kemudian berjalan pelan mencari bunga yang cocok untuk Sophia. Tangannya menyentuh mawar merah dan putih, kemudian beralih pada bunga lain dan terhenti di depan rumpun kamelia putih. Dia tersenyum menatap bunga yang tampak bersinar lembut ketika tangannya menyentuk kelompak bunganya. Dengan cepat, dia memotong beberapa tangkai dan merangkainya di meja.
Begitu selesai, dia menyerahkan buket bunga itu pada Sophia yang setia menantinya. Raut wajah manisnya tampak berbinar menerima buket bunga kamelia putih itu.
“Kamu tidak perlu membayarnya, Sophia. Buket bunga itu spesial, jadi bayarannya juga spesial. Aku akan mengambilnya nanti ketika urusanmu telah selesai,” ucap Azalea ketika Sophia menyodorkan sejumlah uang.
“Baiklah. Terima kasih. Doakan aku, nona florist,” ucap Sophia kemudian pergi dengan langkah riang.
Azalea tersenyum menatap kepergian Sophia. Saat hendak masuk, dia dikejutkan dengan rumpun bunga berwarna violet yang tumbuh di dekat pintu. Petunia. Hati-hati, dia memasang selubung pada bunga itu. Petunia termasuk dalam bunga dark flower, artinya juga buruk. Sambil memasang selubung, dia berusaha mengingat-ingat keberadaan petunia yang baru disadarinya sekarang. Atau petunia itu memang baru saja muncul sekarang?
Keesokan harinya, Azalea pergi mengantarkan pesanan Nyonya May. Sambil bersenandung kecil, dia tersenyum menikmati semilir angin dan keindahan daun maple di sepanjang jalan. Hidup sebagai florist tidak terlalu buruk menurutnya. Bisa tinggal di kota lain dan mengetahui hal-hal baru.
“Apakah kamu perlu bantuan?”
Sebuah suara bass yang sejak kemarin sering menyapa gendang telinganya membuatnya tersenyum. Dia mendongak sedikit menatap Alder yang berdiri tak jauh di depannya. Alder masih mengenakan seragam sekolah dan tasnya juga tersampir di bahu kirinya. Satu tangannya tampak dimasukkan ke dalam saku celana.
“Tidak perlu. Rumah Nyonya May tidak terlalu jauh dari sini,” sahut Azalea sambil menggelengkan kepala pelan.
“Hm.”
Azalea terkejut ketika tiba-tiba Alder meraih kedua tas besar berisi bunga dari tangannya. Tanpa bicara apa-apa, Alder berjalan mendahuluinya. Diam-diam, senyuman terlukis di wajah Azalea walaupun heran dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Dia berlari kecil mengejar Alder dan menyamakan langkah di sampingnya.
Tak ada obrolan di antara mereka sepanjang jalan. Alder berjalan tenang di samping Azalea membawakan bunga-bunganya. Azalea sendiri berjalan sambil menikmati keindahan Kota Maple Willow. Tampak beberapa gadis remaja menyapa Alder yang hanya dibalas senyuman singkat.
“Penggemarmu banyak juga, Alder,” komentar Azalea sambil tertawa pelan. “Oh iya. Apakah kamu tahu gadis bernama Sophia?”
Suasana terasa tenang. Hal itu karena Alder mengajak Azalea lewat di jalan yang lebih sepi. Dia risih dengan cewek-cewek yang menyapa dan menggodanya di sepanjang jalan.
“Dia teman seangkatan tapi beda jurusan. Dia juga jadi wakil manager di klub basket,” jawab Alder dengan nada acuh.
“Tadi pagi dia datang ke toko bunga dan membeli sebuah buket untuk menyatakan perasaannya pada seorang
laki-laki.”
“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Alder masih dengan sikap cueknya.
“Karena laki-laki yang kumaksud adalah kamu. Dia sedang berada di taman dan hendak mengirimimu pesan. Pergilah ke sana sekarang. Aku bisa pulang sendiri.”
Alder tampak diam mendengar ucapannya. Namun tak sedikitpun terlihat pemuda itu akan melaksanakan ucapannya. Hal itu membuat Azalea menghentikan langkah dan menatapnya heran. Tak lama, sebuah senyuman terukir.
“Pergilah, Alder. Walaupun kamu tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Setidaknya, kamu telah memberitahunya dengan baik.”
“Baiklah.”
Azalea tersenyum menatap punggung Alder yang berjalan menjauh darinya. Dia memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya ringan terbang dibawa angin. Sambil menunggu, dia kembali melanjutkan pekerjaannya memenuhui pesanan-pesanan yang tidak habis-habis.
Walaupun begitu, dia senang kedua gadis lain yang berjualan bunga tampak lebih ceria. Azalea teringat ketika beberapa hari yang lalu dia mampir ke toko bunga salah satu di antara mereka.
“Kamu Nona Azalea ‘kan? Florist baru di Maple Willow,” sapa gadis berwajah cantik dengan ramah.
“Benar,” sahut Azalea sambil menganggukan kepala.
“Apakah kamu memerlukan sesuatu?”
“Tidak. Lanjutkan saja kesibukanmu. Aku hanya kebetulan sedang jalan-jalan sore dan tertarik untuk mampir ke sini.”
Gadis itu kemudian kembali ke belakang meja rangkainya. Tangannya tampak lincah merangkai pesanan bunga mawar. Sang pembeli duduk menunggu dengan tenang. Azalea mengingat wajahnya sebagai salah satu pelanggan tetapnya yang selalu memesan rangkaian bunga lavender untuk hari Minggu, Tuan Hans.
“Aku berterima kasih padamu, Nona Azalea,” ucap gadis itu sambil menyeduhkan teh lemon untuk Azalea dan dirinya sendiri. “Oh iya, namaku Erica.”
“Karena sejak kamu yang mengelola toko bunga itu, aku bisa mendapatkan pembeli. Dulu, Nenek Louisa terlalu egois untuk membagi pelanggannya pada toko bunga yang lain. Padahal florist sebelum kamu semua sangat baik padaku.”
“Sudahlah. Lupakan masa lalu dan teruslah berproses dalam kehidupanmu.”
Azalea tersenyum kecil melihat bagaimana bahagianya Erica ketika menceritakan pertama kali mendapatkan pembeli. Walaupun Nenek Louisa baik padanya, tetap saja dia seorang manusia. Dan setiap manusia memiliki sisi buruknya masing-masing. Dia melupakan pernyataan Eric tentang florist sebelum dirinya.
Senyum Azalea merekah ketika tampak sebuah biji ray floret jatuh di atas tangannya. “Iya, aku segera ke sana,” ujarnya pada biji itu.
Azalea menatap sosok Sophia yang tengah duduk di bangku taman. Raut wajah gadis itu tampak sedih. Perlahan, dia berjalan menghampiri Sophia dan duduk di sebelah kanannya. Tidak dihiraukannya energi asing yang mengganggunya sejak tadi.
“Jangan bersedih, Sophia. Masih banyak laki-laki lain di luar sana.”
“Tapi aku hanya ingin bersama Alder.”
Azalea menangkap nada tinggi yang memaksa dalam kalimat itu. Sophia tidak menyadari kalau perasaannya selama ini hanyalah sebuah kekaguman. Sayangnya, kekaguman itu mengubah hatinya menjadi egois. Hal negatif yang muncul ketika mencintai seseorang akibat rasa takut dan tidak terima akan penolakan yang diterimanya.
“Sophia, kamu tidak bisa memaksakan perasaanmu,” ucap Azalea dengan suara lembut. “Alder juga memiliki hatinya sendiri untuk orang yang dicintainya. Baik kamu maupun dirinya, sama-sama berhak untuk bahagia.”
“Benarkah aku juga berhak bahagia?” Sophia memandangnya.
“Benar. Sekarang pulanglah hari sudah malam. Besok pagi kamu akan bangun dengan hati lebih tenang.”
“Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuannya, nona florist,” ucap Sophia dengan senyuman riang.
Azalea tersenyum menatap kepergian Sophia. Biji ray floret yang berada di atas bahu gadis manis itu terbang melayang dan jatuh di atas tangannya. “Akan kuambil kekagumanmu pada Alder, Sophia. Saat ini, kamu tidak membutuhkannya,” gumamnya sambil melihat biji ray floret tadi menghilang digantikan setangkai bunga kamelia putih.
Keningnya berkerut kecil merasakan ada sengatan aneh ketika memegang bunga itu. Dia berusaha menahan sengatan itu dan segera membawanya pulang ke rumah. Setelah meletakkan bunga itu di botol kaca dalam lemari, dia memandang tangannya yang tampak memerah.
Walaupun toko tutup setiap Sabtu dan Minggu, para pembeli tetap bisa mengambil pesanan mereka. Hari menjelang siang ketika hampir setengah pesanan sudah diambil, bahkan ada yang memesan lagi. Azalea merasa beruntung sejak kecil sering membantu Mama merawat dan menanam bunga. Kalau tidak, dia pasti sudah kelimpungan sejak hari pertama berjualan bunga.
“Selamat siang, Azalea.”
Azalea yang tengah menyirami tanaman lavender di halaman menoleh dan tersenyum melihat Aren berjalan menghampirinya. Pemuda itu tampak santai dengan celana jeans selutut dan kaos lengan pendek birunya.
“Selamat siang, Aren.” Dia membalas sapaan Aren dengan nada hangat. “Apa ini?” tanyanya sambil menerima
bungkusan yang disodorkan oleh Aren.
“Ini roti buatan ibuku untukmu. Dia berterima kasih karena bunga-bunga yang kamu kirimkan membuat café kecil keluargaku jadi lebih berwarna.”
“Tidak perlu berterima kasih. Lagi pula aku hanya sekadar menebak bunga yang cocok untuk cafemu.”
“Baiklah kalau begitu. Aku harus segera pulang untuk membantu membuat roti. Sampai jumpa, Azalea.”
Azalea membalas lambaian tangan Aren dan membawa bungkusan itu masuk ke rumah. Saat tengah duduk di meja rangkai sambil menikmati roti dan secangkir rose tea, matanya memandang rumpun azalea yang bersinar. Suasana siang hari di Maple Willow tetap terasa sejuk walaupun matahari bersinar ukup terik.
Kling…
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan masuklah seorang perempuan berparas cantik. Sorot matanya tampak sendu memandang ke sekeliling ruangan yang penuh bunga itu. Dia berdiri dan memandangnya yang tengah memandang rumpun bunga feverfew. Tak ada reaksi untuk beberapa saat, maka dia berinisiatif menghampirinya.
“Apakah ada yang bisa kulakukan untukmu, Nona.”
Perempuan itu memandang Azalea dengan sorot mata sendunya. “Apakah kamu tahu kalau bunga bisa digunakan untuk melindungi orang yang berharga untuk kita?” tanyanya dengan suara merdu.
“Aku tahu soal itu. Apakah kamu mau membeli buket bunga feverfew ini?”
“Iya, buatkan aku buket bunga ini untuk kubawa pergi bekerja di luar kota.”
Dengan cekatan, Azalea segera memotong agak banyak bunga feverfew dan merakainya dengan rapi. Di sepanjang dia mengerjakannya, perempuan itu terus menatapnya tanpa memalingkan wajah. Cantik, tapi pucat. Lagipula, kesenduan di matanya tidak cocok sama sekali untuknya. Setelah selesai, Azale menyerahkan buket itu padanya.
“Anda tidak perlu membayarnya. Anggaplah ini sebagai hadiah atas pekerjaan yang anda terima,” tolaknya dengan
nada halus.
“Terima kasih, nona florist.”
Perempuan itu pergi meninggalkan toko bunganya dengan langkah pelan. Walaupun bingung dengan sikap anehnya, Azalea tidak terlalu memikirkan hal itu. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tampak sedih seperti itu.