Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 17 RUE



Asphodella terbangun lebih dulu karena berhasil menetralisir efek serbuk bunga poppy.  Dia memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatannya sejenak. Melalui tubuhnya, dia menebarkan sebuk bunga asphodel untuk menetralisir efek sebuk bunga poppy yang ada dalam tubuh Azalea, Alder, dan Aren. Hatinya lega melihat ketiganya, terutama sang kakak, baik-baik saja.


“Efek serbuk penidur milik Poppy memang kuat,” ucap Azalea.


“Apa rencanamu sekarang?” tanya Aren sambil berusaha mengusir pusing di kepalanya.


Azalea diam sejenak kemudian memejamkan matanya. Dia membakar quacking grass yang digunakan untuk mengingat kedua tangannya. Setelah bebas, dia membantu Asphodella, Alder, dan Aren untuk bebas. Matanya mengedar ke seluruh ruangan dan berakhir pada api abadi.


Dia berjalan mendekati api abadi dan meletakkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri. Matanya terpejam. Dari api itu terbentuk bunga azalea yang melayang dan terpecah masuk ke dalam tembok di sekelilingnya.


“Buku milik Rosetta ada di ruangan puncak perpustakaan,” ucapnya sambil memandang Asphodella. “Saat ini, matahari sudah berada di puncaknya. Menjelang matahari terbenam nanti pergilah, Della. Aku, Alder, dan Aren yang tetap berada di sini menyibukkan mereka.”


“Lalu, harus kubawa kemana buku itu?” tanya Asphodella.


“Kembalikan ke perpustakaan. Di sana, Madam Elsie, Madam Annura, dan Bibi Brenda akan membantumu,” jawab Azalea.


“Kamu akan memerlukan ini,” ucap Alder tiba-tiba sambil menyodorkan setangkai snowdrop. “Aku ingat cerita Madam Elsie kalau snowdrop yang digunakan untuk mengunci dan melindungi tempat itu sudah rusak.”


“Okay.” Asphodella menerima snowdrop itu.


Azalea sedikit terkejut tiba-tiba Asphodella memeluknya erat. Sambil tersenyum lembut, dia membalas pelukan sang adik. Tangannya membelai kepala Asphodella untuk menenangkannya. Dia berusaha mengingat kapan mereka pernah berpelukkan seperti ini.


“Nanti kalau udah ketemu secara nyata aku nggak bisa lagi peluk kamu kayak gini,” ucap Asphodella. “Aku iri sama Rosetta yang bisa peluk dan nyentuh kamu.”


“Jangan gitu, nanti Ibunda Andara sedih,” sahut Azalea lembut. “Sehari sebelum ulang tahunku yang keenam belas, aku dapat mimpi aneh. Nanti saja kuceritakan setelah kita bertiga berkumpul.”


“Jaga diri baik-baik ya. Habis ini aku nggak bisa ketemu kamu lagi.”


Alder dan Aren tersenyum melihat interasi Azalea dan Asphodella. Keduanya terlihat begitu saling menyayangi. Kehangatan yang terpancar begitu nyata dan menyenangkan. Walaupun hubungan persaudaraan mereka tidak benar-benar nyata, ikatan yang dimiliki Azalea dan Asphodella telihat begitu kuat. Dan ikatan itulah yang selama ini melindungi mereka serta Rosetta.


Azalea, Alder, dan Aren kembali ke tempat duduk mereka. Asphodella mengganti ikatan quacking grass dengan ikatan bunga asphodel. Setelah itu, dia membentuk bayangan dirinya yang lain. Bayangan itu duduk menggantikannya terikat sementara dirinya sendiri berubah menjadi sekuntum bunga asphodel yang melayang dan masuk ke dalam api abadi. Azalea tadi sudah menetralisir blood tree pada api abadi.


Sekarang, tinggal menunggu kedatangan Flora, Poppy, dan Sophia. Dalam hati, Alder berharap semua rencana Azalea berjalan dengan baik. Dia masih tidak menyangka kalau Poppy, sahabatnya sejak kecil, ternyata tidaklah sepolos dan selugu yang diketahuinya. Sosok Poppy yang sekarang terasa dingin, jahat, dan kejam. Dia akhirnya menyadari ucapan Azalea di awal pertemuan dulu.


“Bisakah kamu menceritakan semuanya dari awal, Azalea? Maksudku, aku dan Alder masih sama-sama bingung,” ucap Aren memecah keheningan.


“Kalu untuk cerita dari awal, aku tidak bisa. Karena aku, kami bertiga, tidak akan memiliki ingatan apapun sampai berumur delapan belas tahun,” sahut Azalea.


“Kenapa begitu?” Giliran Alder yang bertanya dengan nada heran.


“Sanggupkah seorang anak yang baru beranjak remaja memiliki ingatan mengerikan tentang kehidupannya di masa lalu?” tanya Azalea balik sambil tersenyum. “Aku memang mengingat beberapa hal, tapi semua masih berupa potongan-potongan samar.”


“Lalu bagaimana soal Flora, Sophia, dan Poppy?” tanya Alder lagi.


“Benar. Mereka terlingat mengingat semuanya dengan jelas. Maksudku, kehidupan masa lalu kalian semua,” sambung Aren.


“Asal kalian tahu, Ratu Mary itu sosok yang kejam. Tidak ada yang dipedulikannya selain dirinya sendiri dan ketiga putrinya itu. Flora, Sophia, dan Poppy sama kejamnya seperti Ratu Mary. Demi mencapai tujuannya, Ratu Mary dan ketiga putrinya membuat mantra agar ingatan mereka tentang masa lalu tidak hilang. Walaupun terlahir kembali menjadi sosok baru.”


Alder dan Aren terdiam mendengar cerita Azalea. Meskipun ceritanya tidak utuh, mereka bisa membayangan perseteruan antara Azalea, Asphodella, dan Rosetta dengan ketiga blood florists itu. Alder masih belum bisa menerima seutuhnya kalau Poppy benar-benar sosok yang sangat jahat dan kejam.


“Azalea, apakah ketika kamu kembali ke tempat asalmu nanti kami akan melupakan semua ini?” tanya Aren tiba-tiba.


“Apakah kalian melupakan florist sebelum aku?” tanya Azalea balik.


“Tidak. Kami ingat jelas tentang florist yang datang sebelum kamu, kecuali florist yang hilang,” sahut Alder.


“Benar. Kalian akan ingat, tapi para ex-florists itu tidak. Semua ingatan mereka dihapus demi menjaga rahasia dunia florist di kehidupan modern sekarang ini.”


“Apakah itu artinya…” Suara Alder tercekat mendengar ucapan Azalea.


Azalea hanya tersenyum kecil sebagi jawaban. Dia tahu jawabannya, hanya tidak ingin memberitahu Alder dan Aren saja. Biarkan mereka berspekulasi sendiri. Hal itu karena ingin memberikan sedikit kejutan begitu dia, Asphodella, dan Rosetta sudah berkumpul. Lagipula, dia masih bingung sebenarnya siapa Alder dan Aren di sini.


Saat tengah bercakap-cakap, pintu terbuka. Ketiganya terdiam dan memandang tiga sosok yang masuk diikuti oleh kurang lebih 10 sosok berjubah hitam lainnya. Azalea melirik ke arah api abadi dan memejamkan matanya sejenak. Ini adalah saatnya bagi Asphodella untuk melarikan diri.


‘Pergilah, Della,’ ucapnya dengan menggunakan kekuatan telepatinya.


Alder dan Aren samar-samar melihat cahaya bunga asphodel melayang keluar dari pintu. Selain itu, Aren sekilas mendnegar suara Asphodella di dalam kepalanya. Berpesan untuk membantu Azalea. ‘Kekuatanmu terhubung padaku, Aren. Bantulah kakakku untuk mengatasi dark flower.’


Azalea berjengit merasakan genggaman kuat dari dua orang guard yang menyeretnya ke arah Flora. Ketiga blood florist itu berdiri mengelilingi api abadi.


“Aduhh…!”


“Jangan manja! Cuma digores aja hebohnya kayak ketusuk pisau,” ucap Flora ketus.


Azalea diam dan hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Flora. Kedua guard tadi melepaskannya, tapi tetap menjaganya agar tidak melarikan diri. Senyumnya terus terukir melihat copy-an Asphodella di tarik.


Alder dan Aren duduk diam menunggu apa yang akan terjadi. Mata Alder mengawasi setiap guard yang ada dan pedang yang tergantung di pinggang mereka. Dia melihat Azalea memberikan isyarat untuk bersiap, sementara Aren telah memegang pedangnya. Dia mengumpulkan kekuatan dan membentu pedang dari cahaya bunga snowdrop.


“Apa yang kamu lakukan, Azalea!” bentak Flora saat melihat tubuh Asphodella musnah dalam menjadi kuntum-kuntum bunga asphodel.


“Lebih baik lain kali berpikir ulang untuk menganggapku bodoh, Flora,” sahut Azalea dengan suara tenang.


Flora yang marah menggunakan kekuatannya untuk menyerang Azalea. Beruntung Aren sigap bergerak dan menahan serangan itu. Azalea berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua guard Flora.


Sambil matanya mengawasi Alder dan Aren yang bertarung dengan guard yang lain. Dia merasakan berjengit merasakan energi yang digunakan oleh kedua guard itu untuk melumpuhkannya. Dia memejamkan matanya untuk menghempaskan kedua tubuh guard itu dan mendekati api abadi. Tangannya maju dan keluar cahaya membentuk bunga azalea.


Semua menutup mata akibat cahaya yang sangat menyilaukan. Ketika Alder dan Aren membuka mata, mereka bertiga telah berada di luar perpustakkan. Tepatnya di sebuah padang tempat mereka pernah piknik dulu. Azalea mendesah lega melihat Alder dan Aren baik-baik saja.


Di ruang rahasia api abadi, Flora murka karena berhasil jatuh dalam trik Azalea. Terlebih lagi, Azalea, Aren, dan Alder berhasil melarikan diri. Dia menggunkan kekuatannya untuk menghancurkan pilar ruangan itu.


“Azalea! Aku pasti akan terus memburumu!” desis Flora. “Kalian bertiga! Bereskan tempat ini! Ayo kita pergi, Sophia, Poppy!”


“Baik.”


Ketiga blood florist itu pergi kembali ke istana sang Ratu Mary. Mereka pergi dengan membawa dendam yang menuntut untuk dibalaskan. Suatu saat nanti, mereka pasti berhasil mengalahkan para three angel lights dan menguasai dunia sihir florist.


* * *


“Kamu baik-baik saja, Azalea?” tanya Alder sambil menahan tubuh sang florist yang limbung.


Tampak darah mengalir dari hidung kanan Azalea yang langsung amruk tidak sadarkan diri. Hal itu membuat Alder dan Aren langsung panik. Mereka tampak berusaha membangunkan Azalea dengan kekuatan yang mereka miliki. Hingga muncul cahaya dari tengah danau.


“Azalea sayang…” ucap sang Ratu light florist, Ratu Aleena. Dengan lembut, tangannya menyentuh kepala sang putri.


Alder dan Aren diam memperhatikan yang dilakukan Ratu Aleena. Tampak Ratu Aleena mengeluarkan cahaya gelap lobelia dan membuangnya ke tengah danau. Ratu Aleena kemudian kembali memegang kepala Azalea untuk menyalurkan energi. Melalui kekuatan Azalea, Ratu Aleena juga menarik kembali three angel lights yang ditanamkan di perpustakaan Auburn.


Selain itu juga mengeluarkan bunga rue yang ditanamkan oleh kedua guards dalam tubuh Azalea. Cahaya bunga rue itulah yang membuat Azalea tidak sadarkan diri. Begitu cahaya bunga rue dan caha bunga lobelia berhasil dikeluarkan, wajah Azalea kembali seperti biasa. Tidak lagi nampak pucat dan dingin.


Perlahan, Azalea membuka kedua matanya dan tersenyum melihat Ratu Aleena. Tangannya terangkat mengusai air mata sang Ibunda yang tanpa disadari mengalir. Alder dan Aren mendesah lega melihat hal itu.


“Ibu…”


“Iya, Sayang. Ibunda di sini,” ucap Ratu Aleena sambil meraih tubuh Azalea dan memeluknya.


Alder dan Aren berdiri kemudian berlutut memberi hormat. “Hormat pada Ratu Aleena,” ucap mereka serempak.


“Kuterima hormat kalian, Alder dan Aren,” jawab Ratu Aleena sambil tersenyum lembut. “Kemarilah. Duduklah berkumpul.”


Azalea, Alder, dan Aren duduk di hadapan Ratu Aleena. Tiba-tiba, tampak sekuntum bunga asphodel melayang turun dan berubah menjadi sosok Asphodella. Ratu Aleena tersenyum dan memeluk Asphodella erat.


“Aku sudah meletakkan kembali buku Rosetta di ruang rahasia,” ucap Asphodella sambil duduk di sebelah kanan Azalea.


“Sebentar lagi waktumu habis, Asphodella,” sahut Ratu Aleena.


“Masih dua jam lagi, Ibunda Aleena,” ucap Asphodella dengan nada setengah merajuk.


“Baiklah, baiklah.”


Azalea, Alder, dan Aren tersenyum melihat Asphodella merajuk. Hati ketiganya terasa tenang berada bersama Ratu Aleena yang tampak lembut dan keibuan. Belum lagi senyuman yang selalu terukir di wajah cantiknya.


Alder dan Aren sedikit salah tingkah dipandang oleh Ratu Aleena.


“Jadi, ketiga cahaya biru itu ternyata lahir menjadi sosok kalian,” ucap Ratu Aleena dengan suara lembut.


“Maksud, Ratu?” tanya Aren dengan raut wajah kebingungan.


“Maafkan kami, Ratu. Kalau boleh, apakah Ratu berkenan menceritakan semuanya dari awal? Kami berdua benar-benar tidak mengerti,” ucap Alder dengan nada sopan.


“Tentu saja. Aku kira waktu dua jam cukup bagi kalian untuk memahami semuanya. Awal mula terbentuknya dunia sihir florist dan kalian para guardian angels,” sahut Ratu Aleena.