Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 13 THE PROPECHY



Azalea, Rosetta, dan Asphodella berjalan kembali ke arah danau. Suasana padang benar-benar terang oleh kerlap-kerlip cahaya hati yang melayang tidak hanya di danau, tapi melingkupi seluruh tempat tidur. Begitu ketiganya memasuki padang, tampak kuntum-kuntum bunga Rhodocea dan Judas Three melayang turun.


“Rhocya dan Cercia memberi hormat pada Ketiga Putri,” ucap Rhocya dan Cercia membungkuk perlahan.


Azalea membiarkan Rosetta berjalan lebih dulu, kemudian Asphodella, dan dia menjadi yang terakhir. Inilah urutan yang benar. Sang Putri Cahaya akan selalu menjadi di depan dan Sang Putri Pelindung akan selalu berada di paling belakang. Sementara itu, Sang Putri Penjaga Kegelapan akan selalu berada di tengah untuk memastikan cahaya tidak ditelan kegelapan dan penjaga tidak kehilangan arah.


“Sekali pintu terbuka, tidak akan bisa ditutup kembali, kecuali mengakhiri semuanya,” ucap Cercia.


“The real question is, are you both ready for anything happens if we opened the pandora box?” Azalea menatap kedua penjaga itu.


“Apa pun yang terjadi, kami akan selalu ada di sini untuk melindungi Rhodocea dan Judas Tree,” sahut Rhocea.


“Memori dalam kotak pandora ini, ….” Rosetta memejamkan mata dan mengulurkan tangannya pada bunga mawar simbolnya.


Azalea dan Asphodella berdiri di tempat masing-masing, lalu mengikuti tindakan Rosetta. Mereka semua memejamkan mata, merasakan semilir angin berhembus perlahan. Tak lama, tubuh mereka semua terangkat dan melayang tak jauh dari permukaan danau.


Azalea mengeluarkan kekuatannya untuk memunculkan kunci kristalnya. Perlahan, kunci itu muncul di atas tengah-tengah mereka dan kali ini dilingkupi kekuatan gelap. Tugas Asphodella-lah menekan kekuatan gelap itu. Rosetta sendiri diam dan memfokuskan kekuatannya untuk membuka kunci itu.


Perlahan, Rosetta membuka matanya dan terhenyak melihat sosok perempuan yang tidak dikenalnya. Wajah mereka mirip, hanya saja terlihat lebih tua beberapa tahun.


“Rosie, ketika kamu membukanya, segel penahan sihir akan terlepas. Begitu terbuka, Azalea harus segera melepaskan Alder dan Aren dari pengaruh Putri Flora. Mereka harus segera pergi menemukan ketiga mahkota kristal. Waktunya hingga sebelum gerbang ketiga terbuka. Apabila terlambat, sang Ratu Kegelapan akan menghancurkan light florist. Cari ramalannya di tempat semua berawal dan akah berakhir,” ucap perempuan itu yang kemudian menghilang.


“Etreyaouverta,” ucap Rosetta pelan.


Hempasan angin terasa di sekitar mereka. Perlahan, tubuh ketiganya terlentang melayang di udara. Iris mata Azalea dan Rosetta berwarna merah darah, sedangkan Asphodella hitam kelam.


When the magic lives, there are tree flowers.


The first is protector,


the last is the light, and


the middle is the darkness holder.


There will be a moment,


the first will falling apart.


The darkness wrath, the light becomes destroyer.


Once they become dark,


can’t turn back into the light.


The crystals are the anchors.


The moon’s light will show.


Blood is the key ….


To end this, the choice is in her hands


Seiring alunan lagu itu, kilatan-kilatan memori yang tidak pernah diketahui muncul. Ingatan yang terjadi jauh sebelum kelahiran kedua Ratu. Ingatan tentang tiga perempuan yang meramalkan akan kelahirkan ketiga gadis di masa depan.


* * *


“Kamu sedang?”


Gadis yang tengah melukis itu berhenti dan tersenyum menoleh pada kedua gadis lainnya. “Melukis apa yang akan terjadi di masa depan,” sahutnya pelan.


“Siapa ketiga gadis kecil itu?” tanya gadis berambut cokelat tua.


“Mereka adalah ketiga putri yang akan mengakhiri semua kekejaman sang Ratu,” jawab gadis itu. “Hanya saja, tidak ada yang tahu kapan mereka akan lahir.”


“Kalau Ratu melihatnya, kita semua bisa celaka,” sahut gadis berambut cokelat terang.


“Dibutuhkan pengorbanan untuk semuanya,” sahut gadis itu. “Apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama.”


“Pasti!” sahut gadis berambut cokelat tua.


“Lepaskan kami, Ratu!”


“Terima kasih sudah menunjukkan padaku ketiga putri dari ramalan itu,” ucap perempuan itu dingin. “Kalau kalian mau berlutut di hadapanku dan mengatakan di mana mereka, mungkin aku akan mengampuni kalian.”


“Sampai kapan pun, kami tidak akan pernah mau!” desis gadis berambut cokelat tua.


Tiba-tiba, muncul kuntum-kuntum bunga petunia. Tampaklah ketiga gadis lain berwajah angkuh. Ketiganya berjalan santai menghampiri sang Ratu.


“Kenapa Ibunda tidak langsung saja menghabisi mereka?” tanya gadis berambut pirang. “Kita kan sudah berhasil mengetahui ketiga gadis dalam ramalan itu.”


“Tidak semudah itu, Flora,” sahut sang Ratu. “Kita tidak tahu siapa ketiga gadis itu. Mungkin kalian bisa memaksa Annabeth, Angela, dan Rachel mengatakannya.”


Ketiga gadis itu, Annabeth, Angela, dan Rachel, tercekat ketika tubuh mereka perlahan melayang. Mereka semua, menghilang dari tempat itu dan muncul di sebuah ruangan besar seperti ballroom kastil. Ketiganya jatuh ke lantai dan memandang sang Ratu ketakutan.


Annabeth memegang tangan Angela dan Rachel. “Juramentia!” ucapnya pelan.


Perlahan, darah muncul dari celah bibirnya dan juga kedua adiknya. Mereka langsung ambruk ke lantai dan tewas seketika itu juga. Sang Ratu menjerit murka karena ketiga tawanannya pergi dan dia tidak berhasil mendapatkan jawaban atas sosok ketiga gadis dalam lukisan itu.


* * *


Azalea yang pertama kali tersadar dan menjejakkan kaki di atas danau. Matanya memandang three angel lights tree di hadapannya. Sorot matanya berubah serius. Tangannya terulur mengambil kembali kunci kristalnya. Begitu sampai di atas tangannya, kunci kristal itu perlahan berubah menjadi sebuah tongkat.


Rosetta dan Asphodella perlahan turun, kemudian berlari mendekati sang kakak. Hal itu diikuti oleh Rhocya dan Cercia. Rosetta memeluk Azalea erat, sementara Asphodella berdiri diam di sampingnya.


“Siapa mereka?” tanya Azalea memandang kedua penjaga itu.


“Tidak tahu, Putri,” jawab Cercia.


“Mereka sudah ada jauh sebelum kedua Ratu hidup,” sambung Rhocya.


“Apakah kedua Ibunda dan Ratu Kristal bersaudara?” Giliran Asphodella bertanya.


“Kami tidak tahu, Putri,” sahut Cercia lagi.


“Oke,” Azalea menghela napas pelan, “kalau begitu, kita harus mencari tahu ketiga sosok gadis itu, lalu sang Ratu, dan hubungan kedua Ibunda dengan Ratu Kristal.”


“Tapi, di mana kita bisa mendapatkan semua jawabannya?” tanya Rosetta.


“Di tempat semua berawal dan juga akan berakhir,” sahut Rhocya. “Kami akan datang kalau kalian memanggil kami. Sekarang, kami akan kembali ke tempat Rhodocea dan Judas Tree.”


“Baiklah. Hati-hati!” pesan Azalea.


“Selama Putri baik-baik saja, kami juga akan aman,” ucap Rhocya yang kemudian menghilang bersama Cercia.


Azalea mengajak kedua adiknya pergi ke tepi danau. Saat ini, fokusnya adalah melindungi mereka. Namun, ada banyak hal yang dipikirkannya. Dia memikirkan arti lagu yang terdengar tadi, lalu ramalam yang ada dalam ingatan aneh itu, serta keberadaan Laura dan Gina yang sampai sekarang tidak diketahui.


Pulanglah ….


Sebuah suara berbisik di telinga Azalea, membuatnya terhenyak. Pulang? Itukah yang harus dilakukannya sekarang? Namun, setelah membawa kedua adiknya pulang, lalu apa? Apakah ini artinya dia harus pergi sendiri ke Maple Willow?


“Seorang perempuan tadi menampakkan dirinya padaku,” cerita Rosetta begitu sampai di tepi danau. “Dia bilang, Azalea harus pergi ke Maple Willow menyelamatkan Alder dan Aren.”


“Kalau begitu, aku akan antarkan kalian berdua pulang lebih dulu,” sahut Azalea.


“Nope! Aku nggak akan biarkan kamu pergi sendirian ke sana!” sergah Asphodella.


“There are tree flowers. The first is protector, the last is the light, and the middle is the darkness holder.” Azalea tersenyum memandang Asphodella yang khawatir. “Kamu tidak perlu khawatir, Della. Aku akan langsung pulang begitu berhasil membebaskan mereka.”


“Mereka harus segera pergi menemukan ketiga mahkota kristal. Waktunya hingga sebelum gerbang ketiga ….”


“Rosie?” Asphodella memotong ucapan Rosetta. “Bisa nggak ngomongnya langsung jadi satu kalimat, jangan dipotong-potong?”


Rosetta bersembunyi di belakang Azalea ketika diomeli oleh sang kakak keduanya itu. Setelah itu, dia menjulurkan lidah iseng dan melanjutkan ucapannya. Dia diam memandang Azalea yang tampak tengah berpikir serius. Dia belum begitu memahami semua ucapan Ratu Andara ataupun ucapan perempuan tadi.


“Della?” Azalea memandang Asphodella serius. “Promise me, kamu nggak akan pernah membiarkan cahaya berubah menjadi penghancur!”


“Aku janji!” sahut Asphodella tegas.