Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 4 DAFFODIL



Hari menjelang sore ketika Azalea menyelesaikan pesanan hari itu. Saat hendak menutup toko, matanya melihat seorang gadis berjalan masuk. Setelah jarak mereka cukup dekat, barulah Azalea mengenalinya sebagai Poppy. Tak ada keangkuhan yang ditujukan padanya seperti saat bertemu. Raut wajahnya justru tampak dihiasi senyum ceria. Tapi sekali lagi, dia merasakan energi aneh samar terpancar. Energi itu sama seperti yang terpancar dari Sophia.


“Ada yang bisa kubantu, Nona Poppy?” tanya Azalea sambil tersenyum kecil.


“Aku ingin membeli bunga, Nona Azalea. Tolong panggil aku Poppy,” sahut Poppy sambil tersenyum malu.


“Baiklah. Kamu juga bisa memanggilku Azalea. Ayo masuk.”


Poppy berjalan masuk mengikuti Azalea. Sorot matanya memandang berbagai macam bunga di dalam toko dengan penuh kekaguman. Dia tidak begitu memmperhatikan halaman karena terlalu fokus pada Azalea. Tapi dia sempat melihat rumpun bunga matahari di dekat toko. Dia segera bergerak mendekati rumpun bunga lily putih dan mengagumi keindahannya.


“Bunga apa yang kamu butuhkan?” tanya Azalea yang sejak tadi memperhatikan Poppy.


“Aku diam-diam menyukai seseorang dan baru menyadari kalau aku benar-benar jatuh hati padanya. Awalnya kukira aku menyukai Alder, tapi baru kusadari kalau selama ini aku hanya mengaguminya dan menganggapnya sebagai sahabat,” ucap Poppy dengan pandangan menerawang.


Azalea diam menunggu Poppy melanjutkan ucapannya. Akhirnya dia mendengar sendiri alasan Poppy bersikap angkuh waktu itu. Walaupun sudah menduganya sejak awal.


“Aku ingin bunga daffodil itu. Boleh kan?”


Azalea memandang gadis berwajah ceria itu dengan tatapan penuh tanya, tapi tidak menolak pemintaannya. Dia segera bergerak dan memotong beberapa tangkai kemudian membawanya ke meja rangkai. Tangannya bergerak cekatan saat merangkai bunga itu dan memberinya pita berwarna putih bersih.


“Bunga daffodil selain berarti semangat baru, kehormatan dan penghargaan, masih ada satu lagi artinya yang tersembunyi,” ucap Azalea sambil menyerahkan buket itu pada Poppy yang tersenyum ceria. “Artinya adalah cinta satu sisi.”


“Benar. Aku mencintainya dalam diam dan ini adalah perasaanku untuknya. Itulah yang ingin kukatakan padanya, tanpa memaksanya untuk membalas perasaanku.”


Azalea tersenyum mendengar ucapan Poppy. “Kalau begitu, semoga beruntung, Poppy.”


Dia tersenyum melihat kepergian Poppy sambil menimang buket bunga di tangannya. Dia mendongak dan terkejut melihat sekuntum feverfew melayang jatuh. Dia menengadahkan tangannya untuk menangkap bunga itu. Raut wajahnya terlihat sedikit kebingungan.


“Dari mana asalmu?” gumamnya sambil masuk dan melihat rumpun bunga feverfew di dalam toko. “Ya sudah. Aku akan menyimpanmu.”


Azalea menikmati kegiatannya menata ulang bunga-bunga di dalam tokonya. Dia mengambil beberapa pot kosong dan mengisinya dengan tanah. Stok bunga di dalam toko tinggal sedikit. Karena itulah dia hendak mengambil beberapa dari taman untuk dibawa masuk. Walaupun mengangkat pot berisi tanah dan bunga itu cukup berat, dia tidak mengeluh sama sekali.


“Selamat siang, nona florist. Namaku Edgar,” sapa seorang remaja bertubuh tambun.


“Selamat siang, Edgar. Ada yang bisa kubantu?” sahut Azalea dengan senyum ramah.


“Ibuku memintaku untuk membeli bibit water lily dan bertanya bagaimana caranya. Ibu ingin meletakkanya di kolam kecil di halaman rumah.”


“Tentu saja boleh. Ayo ikut aku.”


Azalea berjalan ke halaman belakang toko yang juga ditumbuhi berbagai macam bunga. Bahkan di halaman belakang jauh lebih banyak. Azalea mendekati kolam berukuran kecil yang tampak ditumbungi bunga lotus dengan berbagai macam warna.


“Ibumu ingin warna apa?”


“Kata ibu terserah, kalau bisa masing-masing satu.”


“Baiklah. Pertama aku akan memberimu tiga macam warna.”


Azalea diam-diam memasukkan tangannya ke dalam air dan memejamkan matanya sejenak. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengambil benih bibit water lily. Setelah itu, diberikannya tiga biji itu pada Edgar yang menerimanya dengan pandangan bertanya. Jelas sekali remaja itu tidak tahu biji itu untuk apa. Dengan sabar, Azalea menjelaskan secara detail cara merawat dan menanam bunga lotus.


“Kalau masih bingung, kamu bisa bilang padaku. Aku akan datang ke rumahmu dan menunjukkan langsung cara menanamnya.”


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, nona florist.”


Azalea membalas lambaian tangan Edgar dan kembali menunduk mengambil sekuntum feverfew yang tadi kembali muncul. Dia hendak berbalik masuk ke dalam toko dan terkejut melihat Alder yang berdiri di dekat rumpun bunga daffodil yang berwarna kuning cerah, tapi dalam posisi kuncup.


“Sejak kapan kamu di sini?” tanyanya sambil mendekati Alder.


“Sejak kamu menjelaskan tentang cara menanam water lily,” jawab Alder santai.


“Lalu, apakah ada yang kamu butuhkan? Atau kamu mau membeli bunga daffodil?”


“Tidak,” jawab Alder sambil mengikuti langkah Azalea.


Mereka masuk ke dalam toko yang masih berantakan. Alder meletakkan tasnya di atas salah satu kursi yang ada di situ. Dia kemudian menggulung lengan seragam sekolahnya sampai siku.


Azalea membiarkan saja Alder berkeliaran di tokonya, atau lebih tepatnya di sekitarnya. Entah kenapa pemuda itu bisa selalu ada di dekatnya sejak awal dia berada di sini. Dia tidak keberatan akan hal itu karena Alder juga tidak pernah mengganggunya. Bahkan pemuda itu selalu hadir ketika dia membutuhkan bantuan.


“Kamu sedang apa?” tanya Alder ketika melihatnya masuk membawa sebuah pot berisi bunga lavender.


“Menambahkan stok bunga di dalam toko. Seminggu kemarin pesanan bunga sangat banyak sampai-sampai stok di dalam habis. Aku lelah kalau harus mondar-mandir keluar,” jawab Azalea sambil meletakkannya di sudut dekat jendela.


Alder kemudian mengikutinya keluar. Pemuda itu tidak banyak bicara dan lebih suka langsung ketindakan. Azalea tersenyum kecil ketika Alder mengangkat pot yang sudah berisi bunga dan membawanya masuk. Akhirnya, dia memilih mengisi pot dengan tanah dan bunga, dan membiarkan Alder yang membawanya masuk.


“Terima kasih sudah mau membantuku, Alder,” ucap Azalea sambil menyodorkan secangkir lemon tea.


“Sama-sama,” jawab Alder dengan nada pelan.


Hari menjelang malam ketika Azalea selesai menyusun seluruh bunga-bunga itu. Bahkan kini tokonya jadi jauh lebih bersih dan rapi.


“Aku tidak tahu kamu punya tato,” ucap Azalea dengan nada lalu.


“Aku memang tidak pernah membuat tato.”


“Lalu tato kecil di bawah daun telingamu itu?”


“Ah, ini.” Alder menyentuh tato yang dimaksudnya. “Kata ibuku ini adalah tanda lahirku. Tato ini sudah berada di sini sejak aku lahir.”


“Kamu tahu itu apa?”


“Aku tidak tahu nama bunganya.”


“Snowdrop, protection.”


Alder memandang Azalea dengan pandangan penuh tanya. Tapi dia tidak memaksa Azalea untuk menjelaskan maksud ucapannya. Dia bergerak membantu Azalea merapikan gelas dan piring bekas kue serta minuman mereka.


Saat tengah mencuci piring serta gelas, sebuah biji ray floret jatuh di tangannya. Azalea menatap biji ray floret yang tampak bersinar redup. Berbeda dengan ray floret miliki Sophia yang kemarin berwarna hitam. Cahaya yang muncul melambangkan hati setiap pemiliknya. Senyuman kecil menghiasi wajahnya.


“Sebentar lagi aku ke sana. Antarkan Alder pulang,” ucapnya dengan nada pelan.


Dia menghampiri Alder yang tengah duduk tenang mengamati rumpun bunga. “Sudah malam, Alder. Sebaiknya kamu pulang. Aku hendak menutup toko.”


“Iya,” jawab Alder pendek sambil meraih tasnya. “Selamat malam, Azalea.”


“Selamat malam, Alder.”


Setelah Alder menghilang dari pandangan, Azalea menutup toko dan pergi keluar. Dia menikmati angin yang membelai lembut wajahnya. Walaupun telah mengenakan sweater lengan panjang, udara tetap terasa dingin menyentuh kulit. Seharusnya tadi dia membawa coat atau jaket. karena malas harus bolak-balik, dia tetap berjalan menuju ke rumah Poppy.


Dari jalan, Azalea melihat Poppy tengah berada di jendela. Gadis itu menopang wajahnya dengan kedua tangan. Senyumnya mengembang sambil menatap langit malam yang dihiasi ribuan bintang. Senyumnya bukan senyum ceria, tapi senyum lembut. Membuat wajahnya tampak lebih bercahaya.


“Cintamu tidak pernah bertepuk sebelah tangan, karena Aren juga diam-diam mencintamu, Poppy. Kuambil cinta satu sisimu. Kuharap kamu bisa bersama dengan Aren,” ucap Azalea sambil tersenyum.


Kali ini Azalea membiarkan cahay hati yang diambilnya tetap berada dalam bentuk biji ray floret. Dia takut kejadian saat memegang bung kamelia putih kemarin terulang. Hal itu, karena Poppy mengeluarkan energi yang sama seperti Sophia.


Dia kemudian memilih berjalan kaki sembari menikmati keindahan langit malam. Baru beberapa langkah dari depan rumah Poppy, dia dikagetkan oleh siluet sosok yang berdiri bersandar di pohon maple. Dengan langkah pelan, dia mendekati sosok itu.


“Alder,” panggilnya pelan.


Alder berdiri santai sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Azalea dengan sorot mata tenang. Dia kemudian bergerak melepas jaketnya dan bejalan mendekati Azalea.


“Kuantar pulang,” ucapnya sambil menyampirkan jaketnya di bahu Azalea.


Walaupun terkejut, Azalea tidak menolak apa yang dilakukan Alder. Dia kemudian berjalan tenang di sebelah pemuda itu. Untuk beberapa saat, mereka berjalan dalam keheningan hingga Alder membuka suara.


“Bunga yang lain tadi mekar, dan kenapa hanya bunga daffodil yang tidak?”


“Bunga yang dibeli oleh pembeli istimewa akan menguncup sampai aku mendapatkan bayarannya,” jawab Azalea sambil lalu.


Setelahnya, tidak ada obrolan lagi. Walaupun begitu, Azalea menikmati perjalanan pulangnya bersama Alder. Diamnya Alder justru membuatnya nyaman. Pemuda berwajah tampan itu juga tidak pernah bertanya hal-hal yang bersifat pribadi. Alder selalu bergerak menolongnya tanpa bicara. Bahkan, tanpa harus Azalea meminta tolong.


“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucap Azalea sambil tersenyum memandang sepasang iris abu-abu kebiruan itu.


“Sama-sama,” jawab Alder dengan nada menggantung. Kemudian dia bertanya dengan nada ragu, “Aren mengajakku pergi piknik besok sore, bersama Poppy dan Sophia. Dia bilang, aku juga bisa mengajakmu. Apakah kamu mau ikut?”


Azalea terdiam sejenak mendengar pertanyaan Alder. Senyumnya mengembang dan dia menganggukkan kepala. “Tentu saja aku akan ikut. Besok Sabtu toko libur dan aku akan meletakkan bunga pesanan di teras depan.”


“Kami yang akan menjemputmu besok. Selamat malam, Azalea.”


“Selamat malam, Alder.”


Azalea menatap kepergian Alder dengan senyuman. Tiba-tiba, dia teringat jaket Alder yang masih dipakainya. Dia hendak memanggil Alder tapi kemudian berhenti. Dia akan mengembalikan jaket itu besok saja. ‘Kan besok akan bertemu lagi.


Dia melangkah masuk dalam toko bunga dan meletakkan biji ray floret di dalam botol kacanya. Perlahan, biji ray floret itu berubah menjadi setangkai bunga daffodil. Bersamaan dengan itu, bunga daffodil di tokonya kembali mekar menunjukkan kelopak bunganya yang indah.