Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 6 FEVERFEW



 “Apa arti bunga feverfew?” tanya Alder memotong perdebatan lucu kedua gadis yang sama-sama berparas cantik itu.


“Ada banyak, salah satunya berkaitan dengan perlindungan,” jawab Azalea. “Kenapa kamu bertanya soal bunga itu?”


“Tidak ada. Hanya penasaran.”


Alder tahu kalau Azalea memandangnya dengan kening berkerut. Tapi dia tidak berminat menjelaskan apapun dan mengajak Aren untuk mencari buah. Kebetulan di sekitar lembah itu banyak semak blueberry yang sudah matang. Dia membiarkan Sophia ikut dengan sikap cerianya.


“Azalea itu cantik dan cerdas. Tapi kenapa dia nggak ngelanjutin sekolah aja ya di sini? Usianya juga sepertinya tak jauh berbeda dari kita,” ucap Aren sambil memandang Azalea bermain bersama Poppy.


Alder ikut memandang Azalea yang memang cantik. Itulah kata yang langsung terlintas di kepalanya ketika pertama kali bertemu di toko bunga. Pagi harinya, dia sekolah mendengar suara yang menyuruhnya pergi ke toko bunga. Tak disangka, dia bertemu dengan Azalea.


“Sampai jumpa minggu depan.”


Azalea melambaikan tangan pada keempat teman barunya. Setelah mereka menghilang dari pandangan, dia berbalik hendak masuk ke rumah. Sayangnya, tanpa sepengetahuannya, sosok bayangan telah menantikan di balik rimbunnya bunga matahari. Hal terakhir yang dirasakannya adalah tengkuknya dipukul dengan keras dan sosok misterius mengangkapnya sebelum jatuh.


Hari Senin pagi, Poppy bermaksud mengantarkan kue dari ibunya untuk Azalea. Hal yang dilihatnya adalah kerumunan orang-orang yang tampak antri dengan wajah gelisah. Keningnya berkerut melihat hal itu. Setahunya, pukul 6 pagi toko bunga Azalea sudah buka. Sekarang sudah pukul 7 lewat. Kalau orang-orang itu sampai berkerumun, itu artinya…


“Ada apa? Kenapa kalian berkerumun di depan toko bunga Azalea?”


“Ah. Selamat pagi, Nona Poppy,” sapa Nyonya May. “Hari ini kami hendak mengambil pesanan bunga kami. Entah kenapa toko bunga Nona Azalea tutup sejak hari Minggu kemarin. Kami pikir dia sakit, tapi kami sudah berkali-kali mengetuk pintu rumahnya tidak ada jawaban.”


Poppy segera menuju ke toko bunga Azalea. Dia ingat waktu piknik Azalea memberitahunya kalau kunci pintu toko bunga selalu diletakkan di atas kepala patung peri. Benar saja. Dia langsung membuka pintunya dan tidak tampak ada orang di dalam. Buket bunga yang sudah jadi tampak bertumpuk rapi di lemari kaca.


“Masuklah dan katakan apa pesanan kalian,” ucapnya dengan cepat.


Ternyata semua pesanan sudah selesai. Jadi dia tinggal membagikannya saja. Tak dihiraukannya jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Itu artinya, dia terlambat ke sekolah.


“Setelah ini, aku dan ketiga temanku akan mencarinya, Officer,” ucapnya pada Officer Bram yang setia menunggunya.


“Berhati-hatilah, Nona Poppy. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku,” ucap Officer Bram yang memang telah mendapat laporan hilangnya sang florist terkenal di kota kecilnya.


“Baik, Officer. Terima kasih.”


Begitu semua pesanan bunga selesai, Poppy langsung berlari ke sekolah walaupun dia jelas-jelas terlambat. Tujuan utamanya adalah Alder. Sahabatnya sejak kecil itu sudah dari awal dekat dengan Azalea. Hatinya mengatakan kalau hal yang buruk telah terjadi pada sang florist. Kalau tidak salah tadi Nyonya May bilang toko tutup sejak hari Minggu. Itu artinya, Azalea telah menghilang sejak Sabtu malam, pulang dari piknik.


“Engghhh…”


Azalea membuka matanya dan samar-samar melihat bayangan api yang menari di perapiran. Begitu bisa melihat dengan jelas, ternyata dia duduk terikat di sebuah ruangan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Selain karena efek pukulan di tengkuk, dia mengingat samar-samar setiap kali sadar akan diberi minuman yang terbuat dari herbal.


“Kamu sudah bangun, Nak?”


Azalea menoleh dan melihat seorang perempuan paruh baya menatapnya sambil tersenyum. Di tangannya ada sebuah nampan berisi makanan serta minuman. Azalea memperhatikan perempuan itu meletakkan baki di atas meja kemudian bergerak membuka penutup mulutnya. Tak sedikitpun ada niatan dalam dirinya untuk berteriak minta tolong.


“Sini, makan. Ibu suapi ya,” ucap perempuan itu sambil menyuapkan sesendok penuh bubur apel.


Azalea dengan patuh memakannya karena merasa lapar. Perempuan itu tampak senang melihatnya patuh. Dengan senyuman di wajah, dia menyuapi Azalea hingga buburnya habis dan membantu untuk minum. Dia kemudian pergi untuk membereskan peralatan makan itu.


Azalea menghela napas lega. Hatinya yang peka mengatakan kalau perempuan tadi baik. Hanya saja energi jahat dari kesedihan telah menutupi cahaya hatinya.


“Panggil aku ibu,” ucap perempuan itu. Dia kemudian duduk di belakang Azalea dan mulai menyisir rambut halusnya.


“Tapi kamu bukan ibuku,” jawab Azalea.


“Aku ini ibumu, Nak. Ibu yang melahirkan dan merawatmu selama ini,” ucap perempuan itu masih dengan nada lembut.


“Bukan. Ibuku berada di tempat yang jauh dari sini.”


Ucapan Azalea membuat perempuan itu marah. Perempuan itu kemudian berdiri di hadapan Azalea dan menampar pipinya. Selain itu dia juga membentak dan mengatakan Azalea anak tidak tahu diri. Azalea hanya bisa diam menahan sakit akibat tamparan itu. Dia berusaha menahan air mata yang hendak keluar.


Beruntung tak lama seorang laki-laki yang juga terlihat tua masuk menenangkan perempuan. Sepertinya mereka sepasang suami istri, itulah yang ada di dalam pikiran Azalea. Kini, tinggallah dia sendiri begitu perempuan tadi menurut untuk dibimbing keluar oleh suaminya.


“Maafkan istriku ya, Nak. Putri kami yang hilang sama-sama menyukai bunga sepertimu. Mungkin karena itu dia menganggapmu sebagai anak kami,” ucap laki-laki itu.


“Tolong lepaskan aku, Paman,” ucap Azalea pelan dengan nada takut.


“Jangan takut. Nanti kami akan membebaskanmu.” Laki-laki itu kemudian melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Tangannya memegang lengan kanan Azalea agar gadis itu tidak melarikan diri. “Kamu ganti bajumu dulu ya. Mandi dan berdandanlah, sembari menunggu bulan datang.”


Azalea memandang kamar berukuran sedang tempatnya berada. Dia melihat kalau jendelanya diberi besi sehingga siapapun yang berada di dalamnya tidak bisa keluar. Samar-samar dia melihat matahari yang berwarna kemerahan. Ternyata hari sudah sore. Dis sebenarnya bisa saja menggunakan kekuatannya untuk melarikan diri. Tapi ada sesuatu yang menahannya untuk pergi. Energi lemah yang terasa sedih.


Menjelang tengah malam, suami istri itu masuk dengan memakai pakaian rapi. Dia memandang mereka dengan sorot ketakutan. Laki-laki itu ngikat tangannya dengan sebuah tapi panjang. Ujungnya digunakan sebagai alat untuk menariknya berjalan mengikuti mereka masuk ke arah hutan.


“Bangunlah, Alder. Azalea membutuhkanmu. Bawa feverfew itu.”


Alder membuka mata dan menemukan setangkai feverfew di tangannya. Dia memandang keluar jendela dan melirik sekilas jam di atas meja belajarnya. Pukul 11 lewat 20. Masih terngiang di teliganya bisikkan yang mengatakan kalau Azalea membutuhkannya.


Tanpa menunggu lagi, dia segera mengganti piyamanya dengan celana panjang dan kaos. Dia keluar diam-diam dari jendela kamarnya dan terdiam di jalanan. Tempat pertama yang didatanginya adalah rumah Azalea.


“Di mana kamu, Azalea?” gumamnya sambil memandang langit malam.


Tadi pagi Poppy mengatakan kalau Azalea menghilang. Seharian dia bersama Poppy dan Aren mencari keberadaan sang florist. Tapi tidak juga ketemu. Dalam kebingungan, kuntum-kutum bunga feverfew muncul dan melayang menuju ke arah Barat.


Dia segera berlari mengikuti bunga itu masuk ke dalam hutan. Masuk hutan tengah malam adalah hal yang sangat mengerikan. Gelap, belum lagi kalau binatang malam yang mengerikan keluar. Kuntum-kuntum itu mengeluarkan cahaya yang menerangi langkah kakinya.


Saat itu, Azalea tengah berlari tak tentu arah di tengah hutan. Gaun yang dikenakannya kotor dan robek di berbagai tempat. Pergelangan kaki kanannya yang telanjang terasa nyeri, terkilir saat tersandung akar pohon tadi. Tubuhnya terasa lelah karena sudah hampir sejam berlari tak tentu arah.


“Tidak! Lepaskan aku!” jeritnya ketika laki-laki gila itu berhasil menemukan keberadaanya.


Dia diseret kembali menuju ke sebuah jurang. Matanya menatap ngeri ke ujung jurang. Kalau sampai dia jatuh, tamatlah sudah riwayatnya. Dia hanya bisa berdoa akan ada orang yang datang menolongnya.


“Kumohon, lepaskan aku. Apa salahku sampai kalian tega berbuat seperti ini?” Azalea memandang suami istri itu dengan raut wajah memelas.


“Kami akan terus memburu florist sepertimu agar putri kami kembali,” ucap sang perempuan dengan tawa senang. “Dan sebentar lagi dia akan pulang kembali.”


“Apa yang terjadi dengan putrimu?”


“Sebenarnya, semua salahku,” ucap perempuan itu dengan nada sendu. “Aku yang tidak suka pada bunga merusak apapun yang berhubungan dengan bunga. Ketika perempuan bermahkota bunga itu datang hendak menghukumku, putriku memohon agar dirinya saja yang dihukum.”


“Putrimu masih hidup. Dia tengah menjalani hukumannya. Bersabarlah, dia pasti akan kembali," ucap Azalea berusaha memberi tahu perempuan itu dan mengulur waktunya.


“Putriku akan kembali kalau aku membunuhmu!”


Azalea memejamkan matanya bersiap untuk didorong jatuh. Namun gerakan perempuan itu terhenti ketika terdengar suara yang sangat dikenalnya.


“HENTIKAN!”


Dia membuka mata dan tersenyum senang melihat Alder datang. Matanya melihat setangkai feverfew di tangan kiri Alder. Sekarang dia ingat kalau pernah membuatkan buket bunga feverfew untuk perempuan cantik bermata sendu.


“Jangan mendekat, anak muda!” bentak sang laki-laki sambil mengacungkan parang. “Atau aku akan mendorong nona ini ke jatuh ke jurang.”


“Lepaskan non florist itu, Paman,” ucap Alder dengan nada tenang sambil perlahan mendekat. “Apa salahnya sampai kalian tega hendak membunuhnya?”


“HEI! KUBILANG DIAM DI TEMPAT!”


Azalea takut sekali ketika Alder tidak mengindahkan ucapan laki-laki itu dan terus mendekat. Hingga dia menangkap bisikan lembut, “Tolong aku agar bisa bertemu dengan orang tuaku untuk yang terakhir kalinya, nona florist.”


Azalea akhirnya paham kalau perempuan berwajah sendu itu adalah putri suami istri gila ini. Melalui feverfew yang juga dimaksud untuk melindunginya, perempuan itu meminta tolong agar bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, untuk yang terakhir kalinya. Azalea memejamkan matanya dan menggunakan bunga feverfew yang dipegang Alder.


Perlahan dari bunga feverfew itu bercahaya. Alder terkejut ketika kelopaknya rontok dan melayang. Dari balik kelopak-kelopak itu, muncul sosok perempuan bergaun putih. Suami-istri itu tampak terkejut.


“Ini aku, Stacey. Ibu, aku sedang menjalani hukumanku demi ibu. Ibu tidak perlu khawatir, ketika waktunya tiba aku akan kembali. Kita akan berkumpul lagi di surga. Sang Ratu mengabulkan permintaanku untuk mengambil tubuh fanaku.”


“Maafkan ibu, Stacey. Kalau saja ibu tidak merusak bunga-bunga itu,” isak sang ibu.


“*T*idak apa-apa, Bu. Aku senang dengan begini aku bisa melupakan laki-laki yang telah menyakitiku. Pulanglah dan lupakanlah semua yang terjadi selama ini. Tolong jangan lagi ganggu nona florist.”


“Kamu janji kita akan bertemu lagi, Nak?” tanya laki-laki, sang ayah.


“Kita akan bertemu lagi, ayah. Aku janji.”


Sosok perempuan itu kemudian menghilang kembali menjadi bunga feverfew yang jatuh di tanah. Suami istri itu berpelukan dan menangis terisak-isak. Mereka tidak menghiraukan Azalea yang berdiri dan berlari ke arah Alder. Azalea sempat meraih feverfew di tempat Stacey berdiri tadi.


Alder kemudian membopong tubuh Azalea dan berjalan pergi dari tempat itu. Sekuntum azalea merah melayang dan menerangi jalan mereka. Berkat bunga itu, mereka bisa sampai di tepi hutan dengan cepat.


Azalea sendiri tampak tidak mengindahkan bunga itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Alder. Perasaannya tenang berada dalam dekapan Alder. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana bisa Alder menemukannya yang berada jauh di tengah hutan?