Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 9 THE FIRST GATE



Setelah Cercia pergi, Azalea mengajak Rosetta, Rhys, dan Briana kembali ke dalam rumah. Dia memasang pelindung three angel lights tree untuk menghalau kabut hitam itu. Sampai di dalam rumah, dia dan Briana menyiapkan makan siang. Dia membiarkan Rhys yang menjaga Rosetta.


Rosetta sendiri berjalan-jalan mengelilingi seluruh penjuru rumah. Sesekali tangannya menyentuh beberapa barang atau tempat-tempat tertentu. Dia menggunakan kekuatannya untuk terus mengambil ingatan penting yang tersimpan di rumah itu dan juga menyelidiki rumah lain. Cukup banyak yang didapatkannya, tapi semua disimpannya sendiri.


“Aku tahu kamu punya sesuatu yang penting, Rosie. Apakah kamu nggak mau memberi tahu Azalea?” Rhys berdiri di sebelah kanan Rosetta.


Rosetta tetap diam mengamati foto yang sejak tadi memang tengah diperhatikannya. Tangannya kemudian meraih foto berbingkai itu dan mengeluarkannya. Kertas fotonya tampak mulai menguning. Di dalam foto itu, ada dirinya, Asphodella, dan Azalea bersama kedua Ibunda. Dia tidak ingat kapan foto itu diambil.


“Aku bukannya nggak mau, tapi nggak bisa. Aku nggak punya keberanian buat ngasih tahu Azalea apa yang kutahu,” jawab Rosetta.


“Kenapa?”


“Bayarannya adalah nyawa, Rhys.” Rosetta tersenyum pada Rhys dan beranjak untuk duduk. “Kemarilah, akan kuperlihatkan sesuatu padamu.”


Rhys duduk di samping Rosetta dan memutar tubuhnya sehingga mereka berdua duduk berhadapan. Rosetta meraih kedua tangan Rhys dan memejamkan matanya. Memperlihatkan ingatan yang entah sejak kapan muncul dalam pikirannya.


Ratu Aleena dan Ratu Andara tampak duduk di sebuah danau es. Di dekat mereka, terlihat Azalea, Rosetta, dan Asphodella bermain dengan ceria. Di dekat mereka, ada sebuah istana yang berdiri dengan megah terbuat dari kristal. Cahaya matahari yang terpantul, membuat istana itu tampak berkilauan.


“Ibu!” Rosetta berlari ke tempat kedua ratu diikuti kedua kakaknya.


“Iya, Rosetta sayang?” sahut Ratu Aleena lembut.


“Kita ada di mana? Ibu belum pernah membawa kami ke sini sebelumnya,” tanya Azalea.


“Kita ada di Istana Kristal, Sayang,” sahut Ratu Andara. “Ini adalah istana kalian sebenarnya. Ketika waktunya tiba nanti, kalian bertigalah yang akan duduk di atas singgasananya.”


“Benarkah itu, Ibu?” tanya Asphodella. “Kenapa baru sekarang Ibu menunjukkan tempat ini pada kami?”


“Karena memang ini sudah waktunya, Sayangku. Ibu tidak berhak melarang kalian memilih takdir kalian sendiri. Tapi sebelum memutuskannya, pikirkanlah matang-matang,” ucap Ratu Aleena mengelus rambut Rosetta.


“Bisakah kami sering-sering datang ke sini, Ibu?” tanya Azalea.


“Tidak bisa, Azalea. Tempat ini dijaga oleh Ratu Krystal, putrinya, dan ketiga guardian. Tidak ada seorang pun yang bisa menginjakkan kaki di tempat ini, kecuali kami berdua dan Ratu Krystal. Untuk bisa sampai ke tempat ini,


kalian harus bisa membuka gerbangnya.”


Rosetta membuka matanya dan menarik kembali kedua tangannya. Kepalanya agak sakit karena harus mengerahkan energi untuk menujukkan ingatan itu. Apalagi, ingatan yang ditunjukkannya belum selesai karena dia tidak kuat lagi. Seolah-olah, ingatan itu benar-benar diberi pelindung yang sangat kuat.


“Kamu nggak apa-apa, Rosie?” Rhys tampak khawatir melihat wajah Rosetta pucat.


“Kepalaku sakit,” jawab Rosetta.


“Energimu lemah sekali,” ucap Rhys menyentuh kening Rosetta. “Aku panggilkan Azalea sebentar.”


Rhys pergi ke dapur dan kembali dengan cepat bersama Azalea. Briana mengikuti dari belakang dengan membawa segelas air.


Azalea duduk di samping Rosetta dan menggenggam kedua tangannya. Dia meyalurkan energinya untuk memulihkan Rosetta. Selain itu, dia juga mengahalau cahaya mistletoe yang melekat pada cahaya hati Rosetta. Dia lega ketika membuka mata, wajah Rosetta perlahan kembali seperti biasa. Dia duduk merangkul Rosetta dan mengelus kepala adiknya lembut. Dia duduk diam menunggu hingga Rosetta sadar.


“Aku lanjut siapin makan siang dulu,” ucap Briana. “Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku.”


“Iya, Bri. Terima kasih ya,” sahut Azalea.


“Aku mau memperkuat cahaya pelindungmu dulu, Azalea,” sahut Rhys berdiri. “Kabut hitamnya semakin tebal. Aku takut kalau kabut itu berhasil menghancurkannya.”


“Hati-hati, Rhys.”


Azalea kembali memfokuskan perhatiannya pada Rosetta. Dia tahu kalau Rosetta tadi mengambil energi Rhys untuk membuka ingatan terkunci. Nanti akan coba dilihatnya apa yang sudah dilihat oleh Rhys. Saat ini, memastikan Rosetta baik-baik saja adalah yang utama.


Saat tengah duduk seperti itu, senyumnya mereka melihat sekuntum bunga asphodel melayang turun. Dengan tangan kirinya, dia menangkap bunga itu dan muncul asphodel versi kecil. Dia benar-benar merindukan sosok Asphodella.


“Azalea, aku baik-baik aja kok. Kamu nggak perlu khawatir. Cercia udah cerita kondisi kalian sama aku. Temui aku di padang chrysanthemum ketika bulan berada di puncak singgasananya. Ingat! TEMUI AKU! Jadi, kamu HARUS ke sana, bukan cuma ngirimin bayangan kamu aja. See you later my lovely sister. Sampaikan pada Rosetta kalau aku membuatkan kue kesukaannya.”


“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Della,” gumam Azalea pelan.


“Aku tahu. Itu pesan dari Della untuk kita,” potong Azalea.


“Engghhh…”


Azalea menatap Rosetta yang tampak menggerakkan kepalanya. Untuk beberapa saat. Rosetta mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang bingung pada Azalea.


“Kok kamu di sini?” tanya Rosetta dengan wajah polos.


“Apa maksud pertanyaanmu itu?” Azalea memandang Rosetta galak. “Kamu nyaris tewas karena cahaya mistletoe.”


“Kok bisa ada cahaya mistletoe dalam diri Rosetta?” tanya Briana yang datang membawa baki berisi makanan,


“Kamu mau jelasin sendiri atau aku yang jawab pertanyaan Bri, hm?” Azalea menyentil pelan kepala Rosetta.


“Aku jangan diomelin dong,” rengek Rosetta.


“Kamu emang salah. Kalo nggak dimarahin, kamu pasti kayak gini lagi!”


“Iya, iya. Aku minta maaf.”


Briana dan Rhys tersenyum melihat interaski Azalea dan Rosetta. Mereka bisa melihat bagaimana sayangnya Azalea pada Rosetta. Walaupun ratusan tahun terpisah, ikatan mereka tidak pernah bisa terputus. Selalu memiliki cara untuk bisa saling bertemu, sejauh apa pun jarak yang memisahkan mereka. Takdir yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.


“Kita makan siang dulu,” ucap Briana.


Mereka berempat duduk berkumpul di ruang santai. Sambil makan, mereka mengobrol masalah kabut hitam dan Asphodella. Mereka khawatir, kabut hitam itu akan menghalangi kepergian mereka ke padang chrysanthemum. Hal itu karena kabut itu mengikat dan menahan kekuatan mereka.


Sore hari, Azalea pergi ke padang anyelir sendirian, pandangan matanya tampak kosong. Rosetta, Rhys, dan Briana di dalam rumah menunggu kedatangan orang tua Rhocya. Matanya memandang ke sekeliling padang yang tampak diselubungi kabut hitam. Beruntung Rhys tadi sudah memperkuat pelindung cahayanya. Kalau tidak, sudah pasti mereka tertelan kabut.


Tangannya terulur. Perlahan, sulur-sulur cahaya muncul dan berkumpul di atas telapak tangannya. Sulur-sulur itu membentuk tree angel lights tree yang cahayanya perlahan berubah menjadi merah darah seiring kedua irisnya yang juga berubah warna.


“La primera hija de la Reina Aleena y la Reina Andara abre la primera Puerta (Putri pertama dari Ratu Aleena dan Ratu Andara membuka gerbang pertama),” gumamnya pelan.


Three angel lights tree di atas telapak tangan Azalea berubah bentuk menjadi mahkota. Simbol itu terukir di dahinya dan bersinar beberapa saat sebelum akhirnya meredup dan dia jatuh tak sadarkan diri.


Di dalam rumah, Rosette menatap pergelangan tangan kanannya. Sepasang irisnya yang berwarna merah darah menatap simbol mahkota perak yang terukir di situ. Dia memejamkan matanya dan kedua irisnya kembali seperti semula.


“Ada apa, Rosetta?” tanya Briana yang menyadari keanehan Rosetta.


“Gerbang pertama sudah dibuka,” jawab Rosetta.


“Gerbang apa?” Giliran Rhys yang bertanya bingung.


“Nggak tahu. Membuka gerbang ini seperti panggilan alam bawah sadar. Tapi, kami bertiga nggak tahu gerbang apa itu,” sahut Rosetta.


“Emang, itu tanda apa?” Briana memandang Rosetta was-was.


“Katanya, kalau udah waktunya membuka gerbang, kami akan denger alunan lagu. Ibunda Aleena yang bilang, tapi nggak mau kasih tahu apa-apa. Kedua Ibunda bener-bener tutup mulut soal ini.”


Briana dan Rhys terdiam mendengar ucapan Rosetta. Sudah sejak awal mereka tahu kalau kedua Ratu dan ketia putrinya menyimpan banyak rahasia. Seperti apa pun mereka berusaha menguaknya, semua justru semakin tertutup. Begitu juga masalah Istana Kristal, mereka benar-benar tidak tahu apa-apa.


“Aku minta minum,” ucap Azalea yang muncul tiba-tiba.


“Azalea!” Rosetta dengan panik menghampiri Azalea dan memapahnya untuk duduk.


“Aku ambilkan minum,” ucap Rhys.


Briana dan Rosetta memandang Azalea khawatir. Tidak lama, Rhys kembali dari dapur dengan segelas air di tangannya. Rosetta membantu Azalea minum perlahan. Rosetta membiarkan Briana menyalurkan energinya untuk membantu Azalea.


“Panggilan membuka gerbang pertama sudah datang, Rosie,” ucap Azalea sambil duduk dengan memegangi kepalanya. “Aku ngelihat, ada tiga orang perempuan duduk di atas tahta kristal dengan kegelapan yang menyelimuti dunia.”


“Istana kristal kan milik kalian,” ucap Briana. “Akankah Flora, Poppy dan Sophia berhasil mengambil alih istana itu?”