Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 19 THYME



“Jadi, intinya adalah kita harus mencegah agar Ratu Mary dan ketiga putrinya tidak menguasi dunia dengan kejahatan,” ucap Alder setelah mendengar cerita Ratu Aleena.


“Benar, tapi tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Beratus-ratus tahun aku dan Andara mencari tahu cara untuk mengambil kekuatan Ratu Mary, tapi hasilnya nihil.”


“Lalu kami berdua ini siapa?” tanya Aren.


“Entahlah. Aku hanya tahu kalau sebelum perang besar itu, sosok yang mirip Alder sering memperhatikan Azalea di padang chrysanthemum. Lalu kalian juga muncul dan membantu kami dalam perang, serta menghilang setelah menyampaikan pesan itu. Selebihnya, aku tidak memiliki informasi apapun tentang kalian,” jawab Ratu Aleena.


“Apakah sosok kami dulu jahat?” tanya Alder.


“Tidak, tapi cahaya hati kalian berwarna abu-abu. Suatu ketika, kalian yang saat ini memihak pada kami, bisa saja akan berpaling dan memihak pada mereka.”


Alder dan Aren terdiam mendengar ucapan Ratu Aleena. Jelas kalau mereka bingung karena tidak memiliki ingatan apapun soal masa lalu itu. Terlebih lagi, entah ikatan apa yang mereka miliki dengan masing-masing keenam florist itu.


“Kalau kami bisa mengakhirinya, apakah aku boleh memilih untuk mengakhiri semuanya, Ibu? Maksudku, biarlah kita semua hidup menjadi manusia biasa?” tanya Azalea.


“Itu terserah padamu dan kedua adikmu, Azalea. Ibu dan Ibunda Andara sebenarnya sudah lelah hidup abadi seperti ini, Nak.”


“Baiklah. Aku akan memikirkannya sambil menunggu Rosetta datang,” ucap Azalea kemudian menoleh pada Asphodella. “Waktumu sudah habis, Della.”


“Iya, aku tahu,” sahut Asphodella. “Sampai bertemu tahun depan, Azalea. Ibunda, Della pamit pergi dulu.”


“Iya, Sayang. Hati-hati ya.”


“Bye, Alder, Aren.”


Setelah berkata seperti itu, tubuh Asphodella berubah menjadi kuntum-kuntum bunga asphodel yang melayang ke langit dan menghilang. Diam-diam, Alder dan Aren merasa sedih karena harus berpisah dengan Asphodella, dan berharap bisa bertemu lagi suatu saat nanti.


“Waktumu sendiri kurang satu tahun lagi, Azalea. Nikmatilah. Ibu berharap, tidak ada lagi masalah yang datang.”


“Baik, Ibu. Tenang saja, aku akan baik-baik saja.”


“Kalau begitu, Ibu pergi dulu,” ucap Ratu Aleena kemudian menoleh pada Alder dan Aren. “Aku percaya siapapun kalian sebenarnya, kalian memang datang untuk menolong ketiga putriku. Terima kasih, Alder dan Aren. Sampai bertemu lagi.”


“Terima kasih kembali, Ratu,” sahut Alder dan Aren serempak.


Ratu Aleena mengecup pipi Azalea lembut, kemudian memejamkan mata. Tubuh Ratu Aleena menghilang dalam kerlap-kerlip cahaya yang terbang ke langit. Azalea tersenyum melihat Ibundanya kembali ke istana.


“Ayo kembali ke rumah,” ajaknya pada kedua pemuda itu.


Azalea berjalan santai diapit oleh Alder dan Aren. Langit malam mulai terang seiring matahari yang mulai muncul. Azalea tersenyum dan menatap kagum keindahan suasana pagi di hutan. Mereka berjalan sambil bercanda dan tertawa. Ketika tiba di rumah, langit sudah terang.


“Oh my…” ucap Azalea melihat Officer Bram dan banyak warga yang berkumpul di depan toko bunganya.


“Don’t worry. Kami akan membantumu beres-beres,” ucap Aren.


“Okay.”


* * *


Azalea tersenyum senang melihat tokonya sudah kembali bersih dan rapi. Hatinya terasa hangat melihat Madam Annura dan beberapa penduduk sekitar rumah membantunya. Dia kemudian menghadiahi mereka semua masing-masing buket bunga kesukaan mereka. Semuanya tampak pulang dengan wajah bahagia dan saling memamerkan keindahan bunganya.


Hari menjelang sore ketika semua sudah benar-benar selesai. Saat hendak menyiram bunga lavender, Azalea dikejutkan dengan Alder yang memanggilnya. Pemuda itu dengan jongkok di dekat pagar sisi luar.


“Kenapa?” Azalea berjalan mendekati pemuda itu dan bertanya, “Ngapain kamu di situ, Alder?”


“Lihatlah tumbuhan ini.”


Azalea mengalihkan pandangan matanya. Keningnya berkerut heran, karena seingatnya dia tidak pernah menanam thyme di toko ataupun di rumah. Tanaman itu tumbuh dan masih baru tepat di balik pagar.


“Tanaman apa itu?” tanya Aren yang datang bergabung.


“Namanya thyme. Entah dari mana tanaman ini berasal,” sahut Azalea.


Hingga seorang gadis kecil berumur 8 tahunan berjalan mendekat dengan takut-takut. Azalea tersenyum lembut pada gadis itu. Matanya menatap penasaran dengan tas plastik hitam besar di tangannya. Susah payah gadis itu berjalan mendekati Azalea dan Alder sambil menyeret kantung itu.


“Siapa namamu?”


“Sakura,” jawab gadis itu dengan suara pelan.


“Nama yang cantik,” puji Azalea. “Lalu, ada masalah apa kamu datang menemuiku, Sakura?”


“Aku datang untuk mengembalikan tanaman ini, nona florist,” ucap Sakura sambil membuka kantung plastik yang dibawanya.


“Dandelion,” ucap Alder begitu melihat isinya.


“Kemarin setelah nona florist pergi, aku tidak sengaja terbangun karena mendengar bunyi keras dari sini. Aku melihat seorang berjubah hitam hendak mengambilnya. Namun aku berhasil mencegahnya dan mengusirnya.”


“Wah… Terima kasih banyak, Sakura. Dandelion ini memang sangat penting untukku. Kamu gadis kecil yang pemberani.”


Azalea mengambil pot itu dan meminta tolong pada Alder untuk meletakkannya kembali di atas pagar. Alder dan Aren tidak begitu mengerti fungsi dandelion itu. Walaupun begitu, mereka tahu kalau dandelion itu bukanlah tanaman sembarangan. Buktinya ray floretnya bahkan tidak terbang setelah terkena angin keras.


“Sebagai ucapan terima kasih, maukah kamu masuk ke rumah dan makan kue? Aku akan membuatkanmu buket bunga spesial,” ucap Azalea.


“Wah… Mau, mau.”


“Nona florist…” panggil Sakura pelan.


“Kamu bisa memanggilku Azalea atau Lea, Sakura,” sahut Azalea sambil menuangkan teh di dalam cangkir-cangkir.


“Aku senang karena Poppy tidak lagi berada di rumah,” ucap Sakura dengan nada riang.


“Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Sakura. Bagimanapun juga, Poppy adalah kakakmu,” ucap Azalea lembut.


“Tapi Poppy sering sekali bersikap jahat padaku. Dia sering memasukkan bunga aneh dalam minumanku. Untungnya aku tahu dan tidak pernah mau meminumnya.”


“Bunga aneh seperti apa?” tanya Aren.


Tangannya mengusap serpihan kue di pipi Sakura dengan lembut.


“Kalau nggak salah namanya poppy, sama kayak nama kakakku itu. Lalu kadang juga masukkin bunga kecil warna-warni atau daun hijau kecil-kecil.”


Alder dan Aren menatap Azalea yang tampak menghela napas pelan.


“Petunia dan quacking grass,” ucap Azalea sebelum mereka sempat bertanya.


“Pernah sih sekali nggak sengaja aku minum. Rasanya aneh dan pahit, terus dada sama kepalaku sakit.”


“Apakah masih sakit sampai sekarang?” tanya Alder sambil memperhatikan wajah Sakura dengan seksama.


“Tidak, kadang-kadang aja kepala rasanya pusing.”


“Apa yang harus kita lakukan, Azalea? Bagaimana kalau bunga yang diminumnya berefek negatif padanya?” tanya Aren agak panik.


Azalea meletakkan teko yang dipegangnya dan duduk di hadapan Sakura. Dengan lembut, digenggamnya kedua tangan gadis itu dan memejamkan matanya. Samar-samar, dia merasakan aura jahat. Namun aura itu tertutup oleh sesuatu yang menahannya hingga tidak bisa keluar.


“Sakura, pejamkan matamu dan ikuti kata-kataku ya?”


“Baik,” sahut Sakura yang langsung memejamkan matanya.


“Magia, oscultha, distucha.”


Alder dan Aren terkejut melihat cahaya yang memancar dari dalam diri Sakura. Perlahan, di atas kepalanya muncul asap hitam dan di dalamnya ada kuntum bunga poppy. Asap hitam dan bunga poppy itu dikurung oleh semacam tanaman hijau. Alder mengenali tanaman itu sama seperti yang tumbuh di depan pagar.


Azalea membuka mata. Perlahan, asap hitam yang mengelilingi kuntum bunga poppy itu menghilang. Tak lama, kuntum itu hancur menjadi cahaya. Setelah itu, tanaman thyme itu menghilang dan masuk lagi ke dalam tubuh Sakura.


“Kamu gadis kecil yang pemberani sekali, Sakura. Aku harap saat kita bertemu lagi suatu saat nanti, tanaman ini tetap ada padamu.”


Azalea menatap setangkai thyme yang berada di antara tangannya dan tangan Sakura.


“Wah… Apa ini namanya, Azalea?”


“Thyme, tumbuhan untuk melambangkan keberanian. Memang ada tanaman lain, tapi thyme ini melambangkan keberanian yang murni.”


“Aku akan menyimpannya baik-baik.”


Sakura tampak senang dan memeluk erat tanaman itu. Mereka menghabiskan sisa sore hari itu dengan bercerita dan bercanda riang. Sakura tampak senang bersama Azalea yang menurutnya baik. Bahkan dalam hati Sakura menganggap Azalea sebagai kakaknya sendiri.


Azalea tersenyum melihat Sakura yang pulang diantar oleh Alder. Gadis kecil itu tampak berceloteh riang sementara Alder sibuk menggodanya.


“Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Azalea?” tanya Aren yang berdiri di sampingnya.


“Kenapa, Aren?”


“Soal Poppy. Aku sedang memikirkan hubunganku dengannya, karena bagaimanapun juga aku dan Poppy belum putus.”


Azalea tertawa kecil mendengar ucapan Aren dan mengajak pemuda itu duduk di ruang santai. Dia menyalakan televisi sambil mengobrol dan menunggu Alder kembali.


“Untuk saat ini aku jelas akan menahanmu untuk terus berada di pihakku, Aren. Tapi begitu semua masalah selesai, aku akan membiarkanmu memilih antara Poppy dan Della. Bagaiamanpun juga, hatimu milikmu dan kamu berhak menentukan siapa yang akan menjadi pemilik hatimu sepenuhnya.”


“Hm. Begitu ya?” sahut Aren sambil menghela napas pelan. “Lalu bagaimana denganmu?”


“Aku memang diam-diam menyukai, Alder. Dia cowok pertama yang berhasil masuk ke dalam hatiku. Tapi aku tidak akan memaksanya untuk bersamaku kalau memang dia memilih bersama Flora.”


“Tunggu dulu,” potong Aren. “Kamu dan Flora itu tentang Alder, lalu Poppy dan Della tetang aku. Kalau begitu, Rosetta dan Sophia tentang siapa?”


“Aku tidak tahu. Bukankah sosok itu bersama kalian sejak ratusan tahun yang lalu?” Azalea balik bertanya.


“Entahlah, kami tidak mengingat apapun,” ucap Aren.


“Nanti kalau sudah waktunya juga kita semua akan ingat.”


Alder kembali dengan membawa dua buah kantung plastik di tangannya. Ternyata, Ibu Sakura membekalinya dengan berbagai macam makanan dan kue. Karena itulah, dia agak lama kembali, hampir satu jam.


Mereka makan malam sambil mengobrol dengan santai. Kemudian mereka menyambung obrolan itu di ruang santai.  Mereka berusaha untuk tidak memikirkan peristiwa yang telah terjadi. Mareka tahu, hal yang akan terjadi di depan akan jauh lebih besar daripada peristiwa kemarin malam.


Azalea memutuskan membersihkan kamar tamu agar Alder dan Aren bisa memakainya. Dia membiarkan saja kedua pemuda itu tidur kapanpun di rumahnya. Lagipula, orang tua mereka juga percaya penuh. Tentu saja, mereka akan tetap pulang di waktu-waktu tertentu. Bagaimanapun juga, family is first and everything.