Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 21 VISCARIA



“Kamu terlihat ceria sekali sore ini,” komentar Aren.


“Hanya sedang senang,” sahut Azalea sambil mengangkat kedua bahunya.


“Apa yang membuat kamu senang?”


Aren mengikuti Azalea yang berjalan keluar toko untuk menemui Alder yang tengah menyiram bunga anggrek. Rasa penasaran tergambar jelas sekali di wajahnya.


“Kenapa kamu ingin sekali tahu alasannya?” tanya Azalea.


“Entah. Tidak biasanya kamu memasang wajah ceria seperti saat ini.”


“Tidak ada alasan khusus, Aren.


“C’mon, Azalea. Beri tahu aku atau aku katakan pada Alder kalau kamu menyukai laki-laki lain.”


Azalea berhenti dan berbalik menatap Aren. Dia menghela napas pelan mendengar ancaman Aren. Dia dan Alder hanyalah teman biasa. Bisa dibilang, Alder adalah guard-nya, sama seperti Aren. Tapi entah kenapa dia takut kalau Alder pergi meninggalkannya. Dia sudah terlanjur nyaman dengan pemuda itu.


“Okay…” ucap Azalea.


“Apa yang sedang kalian perdebatkan?”


Alder tiba-tiba telah berada di dekat mereka. Hal itu tak ayal membuat keduanya terkejut. Aren melirik Azalea dan tersenyum licik.


“Aku baru tahu kalau ternyata Azalea…”


“Aren!?”


Alder memandang Aren dan Azalea dengan kening berkerut. Dia memandang keduanya itu bergantian dalam diam menunggu penjelasan.


“Ternyata Azalea apa?” tanyanya pada Aren.


“Oke fine! Diam dan aku kan memberitahumu alasannya,” ucap Azalea mengalah. “Kita masuk dulu ke dalam. Kasian Alder.”


Alder menghela napas pelan. Dia berjalan mengikuti Azalea dan Aren. Sekilas Aren membisikkan sesuatu padanya. Senyum kecil terukir di wajahnya. Sampai di dalam, dia meletakkan bunga begonia, krisan, dan carnation di tempat bunga yang akan dirangkai.


Azalea sendiri bergerak menyediakan satu teko rose tea untuk mereka bertiga. Diam-diam, dia tersenyum melihat interaksi Alder dan Aren. Kedua sahabat itu tampak bercanda dan tertawa bersama sambil memilah-milah bunga yang rusak.


“Alder! Aren! Kita minum teh dulu,” ucapnya memanggil kedua pemuda itu.


“Siap,” sahut Aren.


Mereka bertiga duduk di meja rangkai menikmati teh dan kue. Mereka mengobrol santai mengenai bunga, lalu rencana piknik ke danau hutan maple, pesanan bunga. Hingga Aren membuka suara soal hal yang sebenarnya telah membuat sikap Azalea lebih ceria hari ini.


“Tadi sekolah aku dan Alder dapat undangan pesta ulang tahun ketujuh belas dari Melissa.”


“Lalu?” sahut Azalea.


“Kamu mau datang juga ‘kan?” tanya Alder


“Entahlah,” jawab Azalea. “Aku tidak punya gaun yang bagus untuk datang ke pesta seperti itu.”


Alder dan Aren terdiam mendengar ucapan Azalea. Keduanya berpandang-pandangan sejenak. Mereka menikmati kue dalam diam. Alder sendiri tampak sedang memikirkan sesuatu.


Melihat kedua pemuda itu terdiam, Azalea tertawa kecil.


“Hahahahaha...”


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Aren.


“Kalian lucu”


“Kami tidak bermaksud membuatmu sedih, Azalea. Maksudku…”


“Aku akan datang,” potong Azalea sambil memandang Alder dengan senyuman. “Tadi siang, Madam Annura datang memesan bunga dan memberikan undangannya sendiri padaku.”


“Pesan bunga apa? Lalu kapan kita akan memotong dan mengantarkan bunganya?” tanya Aren.


“Mawar kuning, krisan putih, dan iris,” jawab Azalea.


“Apakah kita bisa memotong dan menyiapkannya mulai dari sekarang? Maksudku, kalau baru memotongnya besok, waktunya tidak akan cukup. Aku dan Aren baru pulang sekolah pukul dua siang,” ucap Alder.


“Tentu saja bisa. Kita kerjakan setelah menghabiskan kuenya.”


“Kalau begitu, malam ini kami menginap di sini ya?” pinta Aren.


“Terserah kalian saja. Asalkan kalian memberi tahu orang tua kalian dulu.”


“Siap,” sahut Aren dan Alder serempak.


Alder dan Aren langsung memotong bunga yang dipesan oleh Melissa. Azalea sendiri pergi ke dapur dan membereskan piring serta gelas yang kotor. Barulah setelah selesai, dia pergi ke halaman depan menemui kedua pemuda itu. Dia membiarkan saja Alder dan Aren memotong bunga, sementara dia menyiram tanaman lain.


Tiba-tiba, sekuntum bunga asphodel melayang turun dari langit. Azalea menengadahkan tangannya dan menggunakan kekuatannya agar kuntum itu melayang di atas telapak tangannya. Perlahan, kuntum itu berubah menjadi secarik kertas yang dilipat rapi.


‘Tolong berikan pada Aren ya…’


Azalea tersenyum mendengar pesan yang dibisikkan oleh angin itu.


“Iya, nanti aku berikan padanya,” gumamnya.


Setelah itu, Azalea pergi sebentar untuk membeli roti di toko roti milik orang tua Edgar. Sepeninggalan Azalea, Alder dan Aren bergantian membawa bunga-bunga yang sudah dipotong masuk. Mereka meletakkannya di tempat yang sesuai yang diberi tahu oleh Azalea.


Saat tengah beristirahat, Alder tertarik membaca buku tentang bunga. Dia duduk di sofa dan asik membacanya secara acak. Hingga sebuah bunga menarik perhatiannya. Namanya viscaria flower. Keningnya berkerut sejenak dan tersenyum kecil.


“Kamu mau kemana?” tanya Aren yang sedang meminum teh.


“Ke halaman belakang, ada bunga yang kucari,” jawab Alder.


Senyumnya mengembang melihat rumpun bunga yang dicarinya. Untuk beberapa saat, dia mengamati rumpun bunga berwarna coral. Dia yang diam-diam selalu mengamati Azalea menghafal semua tentangnya. Mulai dari warna kesukaannya, makanan, minuman, bunga, dan hal-hal kecil lainnya. Ah! Sepertinya dia benar-benar telah jatuh hati pada florist cantik itu.


* * *


“Kalian baik sekali mau menemaniku membeli gaun,” ucap Azalea.


“Kalau aku sih karena sedang malas pulang ke rumah,” sahut Aren.


Azalea melirik Alder yang menyetir mobil dalam diam.


Mereka sampai di sebuah toko pakaian yang cukup besar di kota itu. Griselda’s Boutique. Milik orang tua Griselda, teman sekelas Alder dan Aren.


“Selama datang,” sapa Griselda yang ternyata menyambut kedatangan mereka. “Namaku Griselda, Nona Florist. Semoga ada gaun yang cocok untukmu di tokoku.”


“Panggil saja Azalea,” sahut Azalea menerima uluran tangan Griselda.


“Baiklah. Silakan lihat-lihat dulu. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku.”


“Terima kasih.”


Azalea berjalan pelan memperhatikan berbagai macam gaun yang dipajak. Dia terlalu menyukai gaun dengan bagian atas terbuka. Hingga perhatiannya tertarik pada sebuah gaun berwarna merah tua. Memang bentuknya off shoulder, tapi ada tali untuk diikat di belakang leher dan potongannya tidak rendah.


Dia beranjak ke fitting room untuk mencobanya. Benar-benar pas di tubuhnya. Panjang gaun itu sampai ke mata kaki dan ada belahan sampai setengah paha di kaki sebelah kanan. Dia memandang pas pantulannya di cermin dan melepas gaun itu.


“Kamu sudah menemukan gaun yang cocok?” tanya Griselda yang menghampirinya.


“Aku mau gaun ini, dan tolong pilihan aksesoris serta sepatu yang cocok,” jawab Azalea.


“Baiklah kalau begitu.”


Azalea menuju ke tempat Alder dan Aren menunggu. Dia tersenyum melihat kedua pemuda itu sedang mencoba sebuah jas. Dia duduk santai sambil memperhatikan keduanya.


“Boleh lihat gaunmu, Azalea?” tanya Aren.


“Tidak boleh. Nanti tidak jadi kejutan,” jawab Azalea.


Aren memberengut mendengar hal itu. Sementara Alder hanya meliriknya sekilas.


* * *


Alder menjemput Azalea dan menunggunya di halaman. Pemuda berwajah tampan itu memakai jeans dan sneaker hitam, dipadukan dengan kaos putih dan jas hitam. Tangannya menyentuh lembut kelopak bunga lavender. Di tangan kanannya sendiri ada sebuah buket bunga viscaria berwarna coral yang kemarin diam-diam diambil dan rangkainya. Dalam hati dia berharap Azalea tidak marah.


“Kamu melamun.”


Azalea berjalan mendekat sambil tersenyum pada Alder. Matanya menangkap kegelisahan dan kegugupan di dalam kedua mata Alder. Dia berhenti setelah berada cukup dekat dengan pemuda itu.


“How do I look?” tanyanya.


“You… look perfect,” jawab Alder, kemudian melanjutkan ucapannya, “Aku harap kamu nggak marah padaku.”


“Kenapa aku harus marah padamu?” tanya Azalea dengan raut wajah heran.


“Karena aku sudah memotong beberapa tangkai bungamu untuk membuatkanmu buket bunga ini.”


Azala tersenyum melihat buket bunga yang disodorkan padanya. Tangannya mengelus lembut bunga berwarna coral itu. Dia jelas tahu apa nama sekaligus arti bunga itu.


“Will you?”


“Yes,” jawab Azalea.


Dia menyambut uluran tangan Alder dan berjalan sambil bergandengan tangan ke rumah Madam Annura. Di sepanjang jalan, banyak yang tersenyum dan menyapa mereka. Beberapa orang tua bahkan menggoda mereka.


“Kalian serasi sekali,” ucap Mrs. Carolina, ibu Poppy.


Azalea benar-benar merasa senang di sepanjang pesta. Mengobrol, berdansa dan tertawa bersama Alder. Tentu saja dengan gangguan dari Aren yang tidak punya pasangan. Padahal banyak sekali gadis-gadis remaja yang terang-terangan menatapnya tertarik.


“Carilah pasanganmu, Aren!” tukas Alder yang lama-lama jengah.


“Tidak mau,” sahut Aren dengan nada setengah merajuk.


“Kenapa memangnya?” tanya Azalea.


“Itu… aku…” Aren tanpa tergagap untuk menjawab pertanyaan Azalea.


“Aku tahu,” potong Azalea kemudian menyodorkan surat dari Asphodella. “Beberapa hari yang lalu, Della mngirimkannya. Aku sengaja ingin memberikannya padamu saat pesta. Bersenang-senanglah!”


Aren membuka surat itu dan membaca isinya. Raut wajahnya melembut dan mengelus surat itu. Dia kemudian melipat lagi suratnya dan menyimpannya dalam saku. Setelah itu, dia bangkit dan mengajak Melissa, sang pemilik pesta, untuk berdansa. Tentu saja setelah meminta ijin pada kekasih Melissa.


“Apa isi surat itu?” tanya Alde ryang penasaran melihat perubahan sikap sahabatnya.


“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri padanya? Kalian kan sahabat.”


“Nanti aku akan coba bertanya,” sahut Alder kemudian mengulurkan sekuntum bunga viscaria pada Azalea.


Azalea sendiri menatap kuntum bunga itu dan tersenyum. Dia mengulurkan telapak tangannya dan memejamkan mata. Tampak muncul cahaya dan membentuk sekuntum mawar merah. Dia membuka mata dan mengambil viscaria itu dan meletakkan mawar merah sebagai gantinya.


Sambil tersenyum mereka bergabung bersama Aren dan Melissa yang tengah berdansa. Aren dan Melissa menggodanya. Alder membalasnya dengan menyebut nama Asphodella. Tak ayal hal itu membuat Aren tergagap. Alder, Azalea dan Melissa tertawa melihat hal itu.


“You’re doing great,” ucap Mr. Hans yang menghampiri Azalea. “Ini istriku, Yulia.”


“Hai, Mrs. Yulia,” sapa Azalea.


“Hello, Sweet Girl. We want to say thank you. Berkat kedatanganmu, Maple Willow kembali seperti dulu lagi. Aku harap, masalah apapun yang kamu hadapi berkaitan dengan florist yang menghilang itu cepat selesai,” ucap Mrs. Yulia lembut.


“Terima kasih. Waktuku juga tinggal sebentar lagi di sini. Aku harap bisa datang kembali ke sini.”


“Kota kami akan menerima dengan tangan terbuka kedatanganmu,” sahut Melissa yang berjalan mendekat bersama pacarnya, Rico, Alder, dan Aren.


“Kalian baik sekali.”


Azalea menatap semua yang ada di situ dengan senyum haru. Belum pernah sekali pun dia diperlakukan begitu hormat, baik, dan dilindungi seperti sekarang. Dia kemudian memejamkan mata dan menggerakkan tangannya. Perlahan, keluarlah cahaya-cahaya dari sleuruh bunga yang ada di situ. Setelah melayang beberapa saat, cahaya-cahaya itu menghampiri setiap orang dan berubah menjadi kuntum-kuntum bunga kaca yang cantik.


“Anggaplah sebagai hadiah ulang tahunmu, dan hadiah atas kebaikkan seluruh penduduk kota kecil ini padaku,” ucap Azalea.


Semua bersorak senang dan saling memamerkan milik mereka. Melissa senang sekali karena bisa merayakan ulang tahun secara meriah. Bagaimana tidak membahagiakan? Maple Willow tidak lagi suram, suasana kota kembali seperti semula, florist baru datang dan membawa kebahagiaan bagi seluruh penduduk di kota.


Azalea sendiri memandang viscaria di tangannya dan memejamkan mata sejenak. Viscaria itu berubah menjadi kaca dan dia memasangkan di gelang menggunakan kekuatannya.