
Azalea tersenyum melihat banyak anak-anak, remaja, dan warga yang berkunjung ke tokonya. Sebagian besar mengambil pesanan, sementara yang lain asik bermain dan membantu merawat tanaman.
“Sakura!” panggilnya pada adik Poppy.
“Iya, Azalea!” balas Sakura sambil berteriak dan berlari mendekat.
“Kamu senang bermain di sini?” tanyanya lembut.
“Aku senang karena kamu florist yang baik,” jawab Sakura.
“Kalau begitu, apakah aku boleh meminta tolong padamu?”
“Minta tolong apa?”
“Tidak lama lagi, aku harus kembali ke tempat asalku. Akan ada seorang florist yang menggantikanku. Apakah kamu bisa berteman juga dengannya?”
“Apakah dia baik?”
“Sangat baik.”
“Kalau begitu, aku mau berteman dengannya.”
“Terima kasih. Sebelum pergi nanti, aku akan membuatkanmu kue kesukaanmu. Sekarang, kembalilah bermain.”
Azalea tersenyum melihat kepergian Sakura. Dia menatap dandelion dan menggunakan kekuatannya untuk mengambil sebuah biji ray floret. Dia menutup biji ray floret itu dengan tangan kirinya dan memejamkan mata.
“Pergilah. Temui Briana dan sampaikan pesanku padanya.”
Dia meniup ray floret itu dan memperhatikannya hingga menghilang. Dia mengetahui dari Ratu Aleena kalau florist biasa hanya memiliki satu kekuatan alami, berbeda dengannya. Dalam hati, dia bertanya-tanya kekuatan apa yang dimiliki Briana.
* * *
Briana tengah membereskan kamarnya ketika matanya menangkap sebuah biji ray floret masuk ke dalam kamarnya. Tangannya menengadah menangkap biji ray floret itu. Namun sebelum sempat menyentuh tangannya, biji ray floret itu berubah menjadi secarik kertas. Dibukanya kertas itu.
Briana,
Pergilah ke dalam hutan pinus, carilah di sana sebuah tanaman. Ketika kamu menyentuhnya dan tanaman itu mengeluarkan sinar, maka itu tanaman yang tepat. Ambilah satu tangkai dan bawalah pulang. Aku akan menemuimu 2 hari lagi.
Azalea.
“Baiklah, Azalea. Aku akan mencarinya,” ucapnya sambil tersenyum.
* * *
“Azalea?” panggil Alder pelan.
“Kenapa?” jawab Azalea sambil terus merangkai bunga.
“Apakah aku boleh menemuimu ketika kamu berada di tempat asalmu nanti?”
Azale berhenti dan menatap Alder. Pemuda itu tengah menunduk menatap bunga lavender yang berada di tangannya. Senyum kecil terukir di wajahnya cantiknya.
“Tentu saja, dan kamu bisa menggunakan kekuatanmu untuk itu.”
“Apakah kamu tidak takut telah mempercayaiku secara penuh, Azalea?”
“Kenapa aku harus takut?”
“Entahlah. Hanya aku merasa ada yang kurang dari potongan ingatanku.”
“Aku percaya penuh padamu dan Aren. Siapapun sosok kalian dulu, kalian yang sekarang adalah orang yang berbeda.”
Alder menatap Azalea. Dia bisa menangkap keseriusan di dalam kedua bola matanya. Azalea yang sekarang jauh lebih kuat, berani dan dewasa. Berbeda dengan Azalea yang ditemuinya ratusan tahun yang lalu.
Azalea memang tidak paham akan ucapan Alder. Dia hanya merasa kalau ucapan Alder benar. Ada potongan yang belum terbuka di sini. Potongan itulah yang harus dia cari dan ungkap. Dia berharap, potongan itu memiliki petunjuk cara untuk mengakhiri semuanya. Dan dia siap menerima rasa sakit apapun itu.
“Kalau kalian sudah selesai, kalian boleh pulang. Kita bertemu dua hari lagi,” ucap Azalea pada Alder dan Aren yang masuk.
“Kenapa kami tidak boleh ke sini besok?” tanya Aren bingung.
“Ada yang harus kulakukan besok. Anggaplah ini kejutan untuk kalian juga,” sahut Azalea.
“Baiklah,” sahut Alder. “Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku atau Aren.”
“Iya.”
Begitu Alder dan Aren pulang, Azalea menutup toko dan pergi ke danau. Dia berdiri memandang tengah danau. Matanya memandang jauh menembus jernihnya air danau. Dia kemudian menjulurkan kedua tangannya dan memejamkan mata.
“Three angel lights, keluarlah!”
Dari dalam danau, muncul cahaya dan tak lama muncul three angel light di atas danau. Ketiga bunganya bersinar untuk beberapa saat. Setelah itu, terdengar bisikan yang dibawa oleh semilir angin.
“Kamu yakin soal ini, Putri?”
“Melakukannya, sama artinya membuka kekuatan Rosetta.”
“Aku yakin. Karena itulah, aku memerlukan bantuan kalian, para Guardian Tree. Tolong bantu aku, Rodochea, Judas Tree.”
“Baiklah kalau begitu, Putri.”
Tak lama, dari langit muncul kerlap-kerlip cahaya dan kuntum-kuntum bunga berwarna merah muda cerah. Keduanya melingkupi three angel light dan air danau. Selama beberapa saat, danau bercahaya terang. Namun meredup seiring tenggelamnya three angel lights kembali ke dalam danau.
“Maafkan aku, Rosetta. Aku merasa kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” gumamnya pelan.
Setelah itu, dia kembali menuju ke rumah. Sampai di depan toko, dia mengambil dua buah biji ray floret dan menyalurkan kekuatannya.
“Pergilah, ray floret. Temukan Asphodella dan Rosetta. Sampaikan pesanku pada mereka. Jangan sampai ada yang tahu.”
Setelah kedua biji ray floret itu menghilang, dia masuk ke dalam rumah. Ada banyak pekerjaan yang menanti esok hari. Dia ingin memberikan salam perpisahan yang mengesankan untuk warga Maple Willow, sekaligus memperkenalkan Briana sebagai florist baru.
* * *
Dua hari berselang, Azalea yang tengah mengamati semak berbunga putih dikejutkan dengan teriakan Aren. Pemuda itu berjalan mendekatinya diikuti Alder. Senyumnya mengembang melihat kedua pemuda itu tampak bersemangat.
“Semalam kami menerima pesanmu. Bagaimana caramu mengirimkan pesan lewat biji ray floret?” tanya Aren.
“Aku hanya sekadar menggunakan kekuatanku. Bukankah kamu bisa menggunakannya untuk menemukan Della?”
“Benarkah? Ajarkan kami!” pinta Aren.
“Nanti. Sekarang ayo kita pergi ke Perchea dulu. Keburu hari semakin siang,” sahut Alder.
“Okay.”
Di sepanjang perjalanan, mereka mengobrol santai sambil bercanda. Azalea tahu kalau Alder dan Aren sama-sama belum bisa menerima kalau tidak lama lagi dia akan pergi. Dia hanya takut kalau kedua pemuda itu tidak mau menerima Briana sebagai florist pengganti. Tentu saja dalam istilah membantu Briana.
“Kita langsung ke rumah Briana ‘kan?” tanya Aren yang menyetir.
“Yep,” sahut Azalea.
Perjalanan memakan waktu singkat karena Aren mengemudi dengan kecepatan cukup tinggi. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai. Azalea sendiri tampak menikmati perjalanannya. Dia akan merindukan semua ini ketika telah kembali nanti.
“Kita sampai,” ucap Aren.
“Dua jam lebih sepuluh menit,” ucap Azalea yang menghitung waktu perjalanan.
“Kalau Alder yang menyetir kita bisa sampai kurang dari dua jam,” sahut Aren.
“Benarkah begitu, Alder?” tanya Azalea.
“Kalau sedang sendiri atau hanya berdua dengan Aren,” jawab Alder kemudian melanjutkan ucapannya, “Kalau bersama yang lain, aku tidak mau harus bertanggung jawab kalau terjadi kecelakaan.”
Azalea tertawa mendengar ucapan Alder. Bersamaan dengan mereka keluar dari mobil, pintu depan rumah terbuka. Mereka membalas senyum Briana yang menyambut kedatangan mereka. Namun senyum Briana sedikit memudar karena Mrs. Yonna dan Amara muncul.
“Good luck, Alder,” ucap Aren sambil menepuk bahu Alder pelan, kemudian menjauh sambil tertawa.
“Awas kamu, Aren!” ucap Alder dengan nada kesal.
Azalea sedikit terkejut ketika Alder meraih dan menggandeng tangannya masuk. Tapi dia tidak menolak dan menurut saja. Dia bisa merasakan tatapan tidak suka dari Amara ketika melihatnya bergandengan tangan dengan Alder.
“Apakah kamu sudah bersiap, Briana?” tanya Azalea.
“Sudah, hanya saja…”
“Aku tahu,” potong Azalea melihat Briana melirik Mrs. Yonna dan Amara.
“Jadi, tumben kalian datang ke rumah kami lagi. Ada apa?” tanya Mrs. Yonna dengan nada ramah yang dibuat-buat.
“Kami kemari untuk menjemput Briana. Mulai sekarang, dia akan tinggal di Maple Willow,” sahut Alder sopan.
“Atas dasar apa kami harus mengijinkan hal itu?” tanya Amara dengan nada angkuh.
“Kami…”
Azalea menyentuh bahu Alder untuk menghentikan ucapannya. Matanya melihat kedua bola mata Mrs. Yonna dan Amara tadi sekilas memancarkan cahaya merah. Rupanya, benar dugaanya selama ini. Mrs. Yonna dan Amara adalah salah satu anak buah Ratu Mary. Dia merasakan setetes darah mengalir dari kedua lubang hidungnya.
“Pelindungmu…” gumam Azalea pada Alder.
Alder mengulurkan tangannya tepat ketika Mrs. Yonna dan Amara melemparkan serangan. Aren dan Brian berkumpul di belakang Alder. Aren memegangi bahu Azalea kemudian membopongnya.
“Bri…” panggil Azalea pelan.
Briana menerima uluran tangannya. Setelah itu, dia menyentuh bahu Alder dan memejamkan mata. Dia memusatkan kekuatannya dan menggunakan kemampuan teleportnya untuk membawa mereka ke chocolate cosmos.
“Mereka kabur, Bu,” ucap Amara.
“Tenang saja, Sayang. Racun dari Ratu Mary sangat kuat. Ibu memang hanya sengaja memberinya sedikit, tapi mencampurnya dengan quacking grass dari Putri Flora” sahut Mrs. Yonna.”
* * *
Aren membaringkan Azalea di atas rumput. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengetahui racun apa yang dimasukkan ke dalam tubuh Azalea.
“Yew berry, untungnya dalam jumlah yang tidak membahayakan. Masalah ada pada quacking grass,” ucapnya.
“Apakah kamu tidak bisa mengeluarkannya, Aren? Kekuatanmu kan terhubung dengan Asphodella,” tanya Alder dengan raut wajah gelisah.
“Cara kerja kekuatanku berbeda dengan Della,” sahut Aren sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Briana dengan nada takut sekaligus khawatir.
Briana memeriksa denyut jantung Azalea yang semakin lemah. Baik Alder maupun Aren tidak ada yang menjawab karena mereka sama-sama tidak tahu. Dulu ada Ratu Aleena, tapi sekarang mereka hanya sendiri.
“Yarrow bisa menyembuhkan apapun. Tapi butuh seorang florist dengan cahaya hati yang sama untuk bisa menggunakannya.”
Briana terkejut mendengar suara itu. Dia kemudian mengambil setangkai tanaman yang didapatkannya di hutan pinus kemarin. Tanaman dengan bunga berwarna putih dan buah merah.
“Apakah tanaman ini bernama yarrow?” tanya Briana pada Alder dan Aren.
“Kami tidak tahu,” jawab Aren.
“Kucoba sajalah,” ucap Briana.
Dia kemudian meletakkan tanaman itu di dada Azalea dan memejamkan matanya. Dalah hati, dia berdoa agar caranya ini berhasil. Bagaimanapun juga dia bukan florist, tepatnya belum menjadi florist.
Alder dan Aren terkejut melihat tanaman itu bercahaya. Tampak cahaya itu menyelubungi tubuh Azalea. Tak seberapa lama, Azalea membuka matanya. Keduanya menghela napas lega, begitu juga Briana yang membuka mata karena merasakan gerakan.
Alder bergerak memeluk Azalea erat. Dia sudah ketakutan tadi kalau-kalau Azalea tidak membuka matanya. Hatinya menghangat merasakan Azalea membalas pelukannya.
“Di mana kita?” tanya Azalea setelah Alder melepaskan pelukannya.
“Kamu membawa kita ke bukit chocolate cosmos,” sahut Aren.
“Yah. Entah kenapa yang terpikir adalah bukit ini,” ucap Azalea.
Dia menerima uluran tangan Alder yang membantunya berdiri. Setelah itu, dia menoleh dan tersenyum menatap Briana yang tampak lega.
“Aku baik-baik saja, Bri,” ucapnya lembut.
“Syukurlah,” ucap Briana sambil memeluknya erat.
“Bagaimana kamu tahu kalau tanaman tadi bisa menolong Azalea?” tanya Alder.
“Tadi ada suara yang mengatakan padaku kalau yarrow bisa menyembuhkan apapun. Hanya saja, butuh seorang florist dengan cahaya hati yang sama untuk menggunakannya,” jelas Briana.
“Benar,” sahut Azalea. “Cahaya hatimu adalah yarrow. Bertahun-tahun kamu disakiti oleh keluargamu. Keikhalasan dan kesabaranmu yang akhirnya membentuk cahaya hatimu.”
“Bagaimanapun juga, Ibu Yonna telah merawatku sejak kecil.”
“Aku tahu. Kemarikan tanganmu,” sahut Azalea. “Pejamkan mataku dan ikuti kata-kataku.”
“Okay.”
"Luz, flor, cura.”
Tiba-tiba, muncul cahaya dari keduanya tangan Azalea dan Briana yang berpegangan. Alder dan Aren melihat cahaya dari tangan keduanya menyelimuti tubuh Briana.
“Selamat datang di dunia florist, Briana,” ucap Azalea.
“Selamat datang,” sahut Aren. “Selama kamu menjadi florist, aku dan Alder akan membantumu.”
“Terima kasih,” sahut Briana yang merasa menyatu dengan alam.
“Ayo kita pulang.”
Alder dan Aren menyentuh bahu Azalea yang kemudian memejamkan matanya. Begitu membuka mata, mereka berempat telah berada di halaman toko Azalea.
Di dalam toko, Madam Annura, Bibi Brenda, Mr. Hans, dan Mrs. Carolina mendesah lega melihat ketiganya pulang dalam keadaan baik-baik saja.