Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
PART 2 BABY BREATH



Dengan senyuman di wajahnya, Azalea membersihkan dan mengatur toko bunga barunya. Tampak berbagai macam bunga mekar dengan indah yang ditata rapi di dalam toko. Sudah hampir seminggu ini dia berada di kota kecil nan indah dengan pohon maplenya. Menjadi florist di toko bunga yang diberikan untuknya dari Nenek Louisa, pemilik sebelumnya yang pindah ke London.


Kling…


“Selamat pagi. Namaku May. Kulihat di papan pengumuman kalau toko ini sudah buka. Apakah aku bisa mendapatkan satu buket bunga krisan putih?” pinta seorang perempuan berparas cantik memandangnya sambil tersenyum hangat.


“Selamat pagi. Namaku Azalea, florist di toko ini. Tentu saja. Silakan duduk dulu, Nyonya May.” Azalea segera memotong beberapa tangkai krisan putih dan merangkainya dengan rapi.


Nyonya May tersenyum melihat sang florist yang tengah merangkai bunga. Sejenak matanya memandang suasana toko. Dia seolah tengah menilai sang florist dan juga hasil karyanya. Senyum puas terukir di wajah cantiknya yang berhiaskan make up tipis.


“Ini uangnya, ambil saja kembaliannya. Aku puas dengan hasil rangkaianmu,” ucapnya. “Oh iya. Aku pesan bunga untuk hiasan ulang tahun putriku ketujuh belas tiga hari lagi. Tolong antarkan ke rumahku. Dua blok dari sini, ada taman anggrek kecil.”


“Baiklah. Sampai jumpa tiga hari lagi, Nyonya.”


Azalea kemudian kembali melanjutkan kegiatannya bersih-bersih sambil sesekali melayani pembeli yang datang. Walaupun masih asing, dia merasa nyaman dengan suasana kota kecil yang tenang dan nyaman. Belum lagi penduduknya yang bersikap hangat dan ramah sejak kedatangannya ke kota ini.


Kling…


Hari menjelang malam ketika seorang pemuda berwajah tampan masuk. Pemuda itu memandang Azalea sekilas kemudian berjalan pelan melihat-lihat bunga yang ada. Dari tempat duduknya, Azalea bisa membaca keraguan di wajah pemuda itu ketika memandang rumpun bunga mawar merah dan putih.


“Selamat malam, Tuan Muda. Namaku Azalea, florist di sini. Ada yang bisa kubantu?” tanya Azalea sambil tersenyum ramah.


“Aku hendak menyatakan perasaanku pada seorang gadis. Tapi entahlah…” Pemuda itu tampak menghela napas pelan.


“Apa yang membuatmu ragu?” tanya Azalea.


“Aku takut kalau cintaku bertepuk sebelah tangan selama ini,” jawab pemuda itu sambil memandang ke dalam bola mata Azalea dengan kedua matanya yang berhiaskan iris abu-abu kebiruan.


“Duduklah. Aku akan merangkaikan bunga yang cocokmu.”


Azalea beranjak menuju ke rumpun bunga gardenia. Saat tengah memilih yang bagus, sebuah suara terdengar dalam kepalanya, “Kamu memiliki kekuatan spesial, Anakku. Pergunakanlah dengan baik untuk membantu orang lain dan melindungi dirimu sendiri. Untuk sementara, Ibu akan melepasmu menjalankan tugasmu. Ketika waktunya tiba, Ibu akan kembali menemuimu.” Dia terdiam sejenak, memikirkan kata-kata sang Ratu penjaga bunga yang selama seminggu ini masih mengawasinya. Hingga kemudian dia tersenyum kecil karena mendapatkan sebuah ide.


Setelah rangkaian bunga itu selesai, Azalea memegang bunga itu dan menutup mata. Cahaya putih mengalir dari kedua tangannya dan masuk ke dalam bunga itu. Setelah beberapa saat, Azalea membuka mata dan tersenyum mengamatinya sebentar. Perlahan Azalea melangkah ke tempat pemuda yang masih duduk menunggu itu.


Saat pemuda itu hendak membayarnya, Azalea menolak dengan halus. “Bunga untukmu ini spesial, jadi bayarannya juga spesial. Aku akan mengambil bayarannya nanti ketika urusanmu telah selesai,” ucapnya sambil tetap tersenyum.


“Baiklah. Apa nama bunga ini dan apa artinya?” Pemuda itu mengamati buket bunga yang diterimanya dengan wajah serius.


“Gardenia, secret love.”


“Terima kasih. Aku akan menyerahkannya besok pada Poppy, gadis yang kusukai.”


Azalea tersenyum mengikuti kepergiannya. Setelah itu, dia memutar papan penunjuk toko menjadi tutup. Selesai mengunci pintu, dia mengambil sebuah pot kosong dan mengisinya dengan tanah. Dia memejamkan mata dan tak lama tampak sebuah tanaman tumbuh di dalamnya. Tanaman itu terus tumbuh hingga berbunga, Dandelion. Bunganya tampak bersinar beberapa saat. Setelah itu, Azalea meletakkannya di atas pagar.


Keesokan harinya, Azalea yang memakai rok pendek warna hitam dan sweater warna merah maroon, pergi menuju ke sekolah yang dikatakan pemuda pembeli bunga tadi malam. Suasana hari itu cukup ramai, tebersit dalam hatinya untuk melanjutkan sekolah di situ, tapi segera ditepisnya pikiran itu. Dia datang ke sekolah itu untuk mengetahui tentang pemuda itu dan gadis bernama Poppy.


“Hai. Apakah kamu siswi baru di sini?” tanya seorang pemuda dengan ramah.


“Bukan. Aku hanya sedang jalan-jalan ke mari,” sahut Azalea.


“Namaku Aren. Siapa namamu?” Aren menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


“Azalea.” Azalea tersenyum menyambut uluran tangan itu.


Setelah Aren pergi karena harus masuk kelas, Azalea berjalan-jalan mengamati suasana di sekiat sekolah. Banyak sekali tanaman bunga dan buah di situ. Tangannya bergerak untuk memetik sebuah strawberry yang sudah matang dan memakannya. Manis dan asam bercampur menjadi satu. Walaupun tidak pernah menyukai buah strawberry, dia tetap akan mengatakan kalau rasanya enak.


Saat jam istirahat, Azalea tengah asik memperhatikan rumpun bunga mawar merah di dekat taman sekolah. Dia terlalu fokus dengan kegiatannya itu hingga tidak menyadari sepasang remaja laki-laki dan perempuan yang mendekatinya.


“Kamu gadis penjual bunga. Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Jalan-jalan,” sahut Azalea sambil tersenyum memandang pemuda yang sejak tadi dicarinya.


“Siapa dia, Alder?” tanya seorang gadis berparas cantik yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


“Dia gadis yang mengambil alih toko Nenek Louisa,” jawab pemuda yang ternyata bernama Alder itu.


“Oh, florist baru pengganti ya.”


Azalea tersenyum tipis merasakan nada sinis dan meremehkan dalam suaranya. Walaupun begitu, dia tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Dia bisa menilai kalau Poppy tipikal gadis yang sombong dan angkuh. Diam-diam, dia berusaha menepis energi aneh yang dirasakannya. Walaupun dalam hati bertanya-tanya dari mana energi aneh itu berasal.


Alder tampak terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala. “Kamu kembali saja dulu ke kelas, Poppy. Nanti kususul.”


“Okay.”


Setelah Poppy pergi, mereka duduk di bangku yang ada di bawah pohon maple di situ. Azalea memejamkan mata menikmati semilir angin. Aroma bunga, buah, dan tanah bercampur menjadi satu memenuhi rongga hidungnya. Aroma yang selalu sanggup membuatnya tenang sejak dia masih kecil.


“Apakah itu Poppy gadis yang kamu maksud semalam?”


Azalea membuka mata dan menatap pemuda yang tengah mengamati semak blueberry di depannya. Ada jeda cukup panjang hingga Alder menjawab pertanyaannya. Dengan keraguan yang semakin jelas dari pada semalam.


“Benar.”


“Aku tidak bermaksud mengaturmu untuk urusan ini, Alder. Tapi pikirkanlah kembali baik-baik. Iya atau tidak, aku tetap akan mengambil bayarannya.”


Alder terdiam mendengar ucapan sang florist di sebelahnya. Dia menunduk memandang setangkai bunga mawar yang tadi dipetiknya. Azalea bisa melihat kalau pemuda berwajah tampan dan dingin itu tengah berpikir.


“Aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi nanti.”


Tanpa menunggu tanggapan dari Alder, Azalea langsung beranjak pergi dan membiarkan semilir angin mengangkat tubuhnya perlahan. Dia berbalik memandang Alder yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebuah senyuamn terukir di wajahnya saat melihat sekilas sinar keyakinan tampak di dalam kedua mata Alder.


Azalea menghela napas pelan ketika sudah kembali berada di toko bunganya. Tangannya sibuk merangkaikan pesanan bunga dari beberapa pelanggan yang tadi datang. Otaknya sibuk mematangkan rencananya untuk mengubah sistem pembelian bunga di tokonya.


Hal itu dilakukannya karena tadi meliat toko bunga lain yang tampak sepi milik seorang gadis muda. Sepertinya, orang-orang lebih suka beli di toko bunga ini. Karena itulah dia membuat pengumuman kalau mulai sekarang hanya menerima pesanan jumlah besar dan jangka waktu maksimal 6 hari. Dia kasihan pada gadis muda yang toko bunganya sepi itu.


“Azalea, kenapa sekarang aku tidak bisa lagi langsung membeli buket bunga? Bagaimana kalau aku terburu-buru?” tanya Nyonya May.


“Di kota ini, ada 3 toko bunga, Nyonya May. Tapi hanya tokoku yang selalu ramai kedatangan pelanggan. Hari ini tanpa sengaja aku melihat kedua toko yang lain sangat sepi. Aku kasian pada kedua gadis muda yang menjadi penjual itu. Kalau memang sedang terburu-buru, kalian bisa memesan pada mereka. Mulai sekarang, aku hanya akan melayani pembelian dalam jumlah besar dan pembelian oleh tamu khusus,” jelas Azalea dengan nada tegas tapi sopan.


Tampak kekaguman dari wajah Nyonya May mendengar penjelasannya. “Kamu memang gadis yang luar biasa,” pujinya dengan nada lembut. “Baiklah. Aku pesan 4 buket bunga mawar merah. Sudah kucatat semua di sini dan tanggal-tanggal aku mengambilnya.”


“Terima kasih, Nyonya May.”


Sepeninggalan Nyonya May, Azalea mengatur pesanan yang sudah jadi di tempat khusus. Orang yang memesan berjanji akan mengambilnya nanti sore. Selain itu, dia juga teringat pesanan bunga untuk acara ulang tahun 2 hari lagi. Dia berencana mengerjakan pesanan itu besok agar tidak layu. Sekarang dia hanya duduk santai menunggu pesanan yang lain.


Sore hari setelah selesai mencatat seluruh pesanan yang masuk, Azalea menutup toko dan berjalan keluar. Aku mengikuti sebuah biji ray floret dari bunga Dandelion sihir yang semalam ditumbuhkannya dengan sihir. Biji ray floret itu terbang melayang dan jatuh di dekat Alder yang tengah duduk di bangku taman.


Pemuda itu tampak melamun menatap langit yang mulai memerah. Alder bahkan tidak menyadari kedatangannya. Azalea duduk diam menunggu sampai Alder menyadari keberadaannya.


“Aku sudah memikirkannya dan tetap mengutarakan semua pada Poppy.”


“Itu artinya sekarang kamu dan Poppy memiliki hubungan?”.


“Tidak.”


Azalea menoleh dan menatap Alder dengan raut wajah terkejut. Dia terus menatap Alder dalam diam menunggunya melanjutkan ucapannya


“Setelah kupikir-pikir, aku memang mencintainya. Aku bahkan senang ketika dia meminta supaya kami berpacaran. Tapi dalam hati aku hanya merasa kalau Poppy bukan gadis yang tepat untukku. Aku tidak ingin menyesal hanya karena rasa tidak tega menolaknya.”


“Itu semua keputusanmu sendiri, Alder. Aku hanya sekadar membantumu menyadari semuanya.”


“Terima kasih.”


Azalea terkejut mendengar Alder mengucapkan terima kasih. Mata mereka beradu ketika Azalea menoleh padanya dengan raut wajah terkejut. Tampak keseriusan di wajah Alder, yang di dalamnya juga terselip kelembutan ketika memandang Azalea. Membuat Azalea sedikit merasa malu dan membuang pandangan kembali ke depan.


“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya menjalankan tugasku.”


“Aku tahu. Kamu tidak pulang?”


“Nanti. Aku masih ingin menikmati suasana malam di sini. Pulanglah. Kamu perlu istirahat.”


Alder kemudian mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Azalea sendirian. Azalea memejamkan mata dan menggunakan kekuatannya untuk mengambil bayaran spesial dari Alder. Saat dia membuka mata, di atas tangannya tergeletak setangkai bunga baby breath. Warnanya yang putih bersih tampak berkilauan terkena cahaya lampu taman.


“Baby breath yang cantik. Tapi kenapa kamu memberikanya padaku sebagai bayaran, Alder?” gumamnya.


Setelah itu, dia kembali membiarkan tubuhnya terbang dibawa angin kembali ke rumah. Dia menyimpan bunga itu di dalam sebuah botol kaca khusus. Kemudian dia meletakkannya di dalam lemari kaca di belakang meja rangkai di ruang toko bunga. Dia bermaksud mengembalikan bayaran spesial itu nanti ketika waktunya sudah tepat.