
“Kita harus kembali,” ucap Briana setelah diam beberapa saat. “Semakin lama di sini, entah kenapa aku semakin merasa tidak nyaman.”
“Aku setuju dengan Bri,” sahut Rhys.
Azalea dan Rosetta bisa melihat wajah keduanya tampak pucat. Mereka terkejut ketika tiba-tiba Rhys dan Briana ambruk tidak sadarkan diri. Dalam kondisi panik, Azalea langsung mengeluarkan kekuatannya untuk membuat pelindung. Dia terkejut melihat ada semacam kabut yang seolah-olah terlepas dari tubuh Rhys dan Briana.
“Apa itu?” tanya Rosetta dengan raut wajah ketakutan.
“Aku juga nggak tahu,” jawab Azalea. “Bagaimana kondisi Rhys dan Briana?”
“Energi mereka lemah sekali. Seolah-olah, kabut itu menarik semua energi mereka,” jawab Rosetta.
Azalea memejamkan mata. Tangannya menggenggam kedua tangan Rhys dan Briana untuk memeriksa cahaya hati mereka. Rupanya, kabut putih tadi merenggut energi cahaya hati mereka. Kalau sampai ketiga cahaya hati mereka mati, Rhys dan Briana juga ikut mati. Cahaya hati itu menyatu dengan diri mereka.
“Kita harus rebut kembali cahaya hati mereka, Rosie,” ucapnya sambil membuka mata.
“Caranya gimana? Kita aja nggak tahu tempat cahaya hati Rhys dan Briana,” ucap Rosetta. “Kabut itu nyembunyiin cahayanya.”
“Kita harus mencarinya. Lagipula, kabut itu tidak berefek apa-apa pada kita,” sahut Azalea.
Rosetta mengikuti Azalea berjalan keluar cahaya pelindung. Embusan kabut terasa dingin di kulit mereka. Dia menangkup kepingan-kepingan yang melayang turun dari langit. Sebuah kepingan kristal es dengan bentuk yang sangat cantik. Kepingan itu tidak menyentuh tangannya, tapi melayang.
“Kenapa kepingan ini tidak menyentuhku?” tanyanya pada Azalea.
Azalea melihat sekilas dan ikut menangkap kepingan itu. “Entahlah. Sepertinya, semua yang terjadi pada Rhys dan Briana di sini tidak berefek pada kita.”
“Ya sudahlah, tidak penting juga. Ayo kita cari cahaya hati Rhys dan Bri,” ucap Rosetta.
Azalea dan Rosetta berjalan hati-hati dalam kabut yang tiba-tiba menjadi semakin pekat. Berkali-kali mereka merasakan ada yang bergerak dalam kabut itu. Hal itu membuat mereka semakin meningkatkan kewaspadaan. Ada bahaya tersembunyi yang mengancam dalam kabut itu.
Benar saja. Tiba-tiba, sebuah anak panah kristal nyaris menembus jantung Rosetta kalau Azalea tidak bergerak cepat. Keduanya jatuh terjerembab ke samping dan memandang anak panah itu. Ada simbol three angel lights di bagian atasnya yang terbuat dari kristal
“Apa itu, Azalea?” tanya Rosetta.
“Entahlah. Aku sepertinya pernah melihat ini dulu,” jawab Azalea.
Rosetta diam dan memejamkan matanya. Dia menggunakan kekuatannya untuk merasakan energi di tempat itu. Tidak ada siapa-siapa di situ selain dirinya, Azalea, Rhys, dan Briana. Tapi dia memang merasakan ada energi aneh yang terasa berat. Selain itu, dia berhasil mengetahui tempat cahaya hati Rhys dan Briana.
“Di sebelah Timur ada three angel lights tree dan... seorang perempuan yang membawa cahaya hati Rhys dan Briana,” ucapnya membuka mata.
“Ya sudah. Ayo kita ke sana,” ucap Azalea yang kemudian bergerak mengambil anak panah kristal tadi. Namun... “Ouch!”
“Kenapa? Ada apa?” tanya Rosetta berbalik kembali menghadap Azalea.
“Aku nggak bisa megang tongkat ini,” ucap Azalea. “Tanganku seperti ditusuk ribuan jarum dan panas.”
“Coba sini aku lihat.”
Rosetta menyentuh tangan Azalea yang memerah dan memejamkan matanya. Perlahan, bekasnya menghilang dan sembuh. Setelah itu, dia mengikuti kata hatinya untuk mengambil anak panah itu.
“Kamu nggak bisa, tapi kenapa aku bisa?” tanyanya pada Azalea.
Dia dan Azalea memandang anak panah di tangan kanannya. Anak panah itu bersinar beberapa saat kemudian meredup.
“Aneh sekali,” gumam Azalea. “Kalau begitu, kamu simpan saja anak panah itu. Suatu saat pasti akan berguna untuk kita.”
“Okay.”
Setelah itu, mereka pergi ke three angel lights tree di bagian Timur taman. Sosok perempuan berbalut cahaya tersenyum melihat kedatangan mereka. Sosok itu adalah Rhocya, sang penjaga Rhodocea Tree. Rhocya menyerahkan cahaya hati milik Rhys dan Briana.
“Rhocya? Ngapain kamu di sini? Aku nggak tahu kalau kamu berada di sini sejak tadi,” ucap Azalea. “Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu.”
“Aku juga baru datang, dan aku ke sini karena merasa kalau kalian berdua berada dalam bahaya,” ucap Rhocya.
“Lalu, ada apa sebenarnya?” tanya Rosetta.
“Kita tolong dulu Rhys dan Putri Briana,” ucap Rhocya sambil mengibaskan tangannya.
“Kemana Ibunda Aleena?” tanyanya.
“Putri, Ratu Aleena dan Ratu Andara telah pergi setelah menitipkan kalian pada orang tua kalian. Orang yang selama ini menemui kalian bukanlah Ratu Aleena. Dia adalah sosok yang sangat jahat dan kuat sehingga bisa mengelabui kalian.”
“Apa maksudmu Ibunda Aleena dan Ibunda Andara pergi?” tanya Azalea dengan kening berkerut.
“Apakah dia menyakiti Asphodella?” tanya Rosetta dengan raut wajah khawatir.
“Putri Asphodella baik-baik saja, walaupun memang saat ini dia membutuhkan bantuan kalian. Ada yang mengacaukan semuanya sejak kematian Ratu Aleena dan Ratu Andara. Hal itu berkaitan dengan kelahiran kalian.” Rhocya terlihat menolak untuk menjawab pertanyaan Azalea.
“Bisakah kamu beri memtahu kami semuanya, Rhocya?” pinta Azalea.
“Aku hanya bisa memberi tahu apa yang disampaikan oleh Ratu Aleena dan Ratu Andara. Selebihnya, kalian bertiga harus bisa mencari padang awal semua ini bermula.”
Azalea dan Rosetta menganggukan kepala sebagai jawaban. Rosetta menumpangkan tangannya di atas tangan Rhocya tanpa menyentuh. Dia juga melakukan hal yang sama pada Azalea. Mereka seperti membentuk lingkaran di sekeliling three angel lights tree.
* * *
Rhocya kala itu tengah bersama Cercia, sang penjaga Judas Tree. Mereka duduk di padang chrysanthemum, pada milik ketiga putri yang mereka jaga. Dari tempat itulah, Rhocya dan Cercia menjaga ketiga putri three angel lights. Namun, hingga saat ini ketiga putri belum terlahir kembali.
“Kalian senang sekali bersantai di padang ini.”
“Ratu Aleena… Ratu Andara,” ucap Rhosya sambil berdiri.
Dia dan Cercia berdiri memberi hormat pada kedua Ratu. Mereka kemudian berjalan ke tengah danau dan duduk di situ menggunakan kursi dari cahaya. Ini pertama kalinya setelah 250 tahun sejak kematian ketiga putri, kedua Ratu menemui mereka.
“Kami ingin menitipkan ketiga Putri pada kalian berdua,” ucap Ratu Aleena lembut.
“Maksud, Ratu? Bukankah Ratu akan ada untuk mengawasi kami?” tanya Cercia.
“Sebelum ketiga putri tiada, aku merasakan ada sebuah kekuatan gelap yang bangkit. Aku dan Aleena tidak bisa mengetahui asal energinya. Yang aku tahu, apapun itu akan membahayakan nyawa ketiga putri nantinya,” jelas Ratu Aleena.
“Kami memutuskan untuk memberikan cahaya kristal pada mereka bertiga,” sambung Ratu Andara. “Hanya dengan cahaya kristal, mereka bisa mengalahkan kegelapan itu.”
“Tapi hal itu akan membuat Ratu Aleena dan Ratu Andara menghilang,” protes Cercia.
“Benar, Ratu. Kami tidak setuju,” sahut Rhocya tegas.
“Aku dan Aleena sudah tahu akan hal itu, Rhocya. Tapi, kami juga sudah lelah. Ratusan tahun kami hidup, melihat perjalanan dunia ini. Yang paling menyakitkan adalah memberikan beban berat ini pada Azalea, Asphodella, dan Rosetta, hingga mereka harus tewas bekali-kali.”
Rhocya dan Cercia terdiam mendengar ucapan Ratu Aleena. Hati mereka pun sakit setiap kali ketiga putri tewas karena melindungi mereka berdua dan kedua Ratu. Tapi, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa. Kekuatan mereka sebenarnya milik ketiga putri. Tanpa ketiga putri, mereka juga akan menghilang.
“Ini sudah dua ratus lima puluh tahun sejak mereka pergi. Sepertinya, luka mereka benar-benar sangat menyakitkan sehingga mereka tidak berniat untuk kembali,” ucap Ratu Andara dengan nada pahit.
“Kalian juga semakin melemah, anak-anakku. Setidaknya, cahaya kristal bisa membantu kalian berdua bertahan lebih lama.” sambung Ratu Aleena. “Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menemui Azalea, tapi hanya bisa sekali. Sisanya, kita percayakan pada Azalea, Asphodella, dan Rosetta.”
Setelah itu, kedua Ratu pergi meninggalkan Rhocya dan Cercia. Mereka masih setia berada di padang chrysanthemum menunggu kedatangan kedua Ratu. Sayangnya di malam purnama, hanya kedua cahaya kristal yang datang. Kedua Ratu telah pergi meninggalkan mereka berdua.
* * *
Azalea membuka mata dan mundur. Ketidakpercayaan, kesedihan, dan luka bercampur jadi satu di wajahnya. Dia jatuh terduduk dan menangis. Hal itu juga terlihat di wajah Rosetta yang hanya terdiam memandang Rhocya. Air mata perlahan jatuh mengalir di kedua pipinya.
“Ini nggak mungkin! Ibunda Aleena datang menemuiku beberapa kali saat aku di Maple Willow,” ucapnya di sela isak tangis.
Rhocya hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu untuk saat ini usaha apa pun untuk menghibur Azalea dan Rosetta akan berakhir sia-sia. Dia memilih mengelus three angel lights tree yang sinarnya meredup. Hal itu karena Azalea dan Rosetta tengah berduka. Sesaat kemudian, dia tersenyum melihat Azalea menghapus air matanya dan berdiri menghampiri Rosetta.
“Hei, hei. Jangan menangis lagi ya? Aku akan selalu menjaga dan melindungimu,” ucap Azalea lembut sambil mengelus punggung Rosetta.
“Bagaimana kalau saat ini Della juga dalam bahaya?” tanya Rosetta dengan suara terisak.
“Putri Asphodella memang sedang lemah, tapi dia baik-baik saja. Cercia berusaha untuk menemukan keberadaannya,” sahut Rhocya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Rhocya? Kenapa semua jadi seperti ini begitu aku kembali dari Maple Willow?” tanya Azalea.
Rhocya diam dan memejamkan matanya. Perlahan, keluar kuntum-kuntum bunga lily putih yang melayang ke langit.