
Azalea mengelus lembut kelopak bunga chocolate cosmos yang begitu indah. Senyuman tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Setelah Poppy, Flora, dan Sophia menghilang, dia bisa menghela napas lega. Tidak ada lagi perasaan sesak akibat aura gelap yang selalu membayanginya. Walaupun terselip sedikit perasaan sedih karena kehilangan sosok Poppy dan Sophia sebagai temannya.
“AZALEA! AZALEA!” panggil Aren dengan suara keras.
Azalea menoleh ke arah Aren yang melambaikan tangan memanggilnya. Walaupun kesal karena kegiatannya diganggu, dia tetap memenuhi panggilan itu. Dia berjalan ke tempat Aren sedang berjongkok bersama Alder.
“Ada apa?”
“Lihat tanaman ini. Unik sekali ya? Bisa tumbuh di daerah tanah yang keras,” ucap Aren.
“Uva-ursi. Kalian belum pernah melihatnya?” tanya Azalea yang mengenali tanaman semak itu.
“Belum sih. Ini pertama kalinya kami melihat tanaman buah unik ini,” sahut Alder.
“Tanaman semak ini berguna dalam dunia pengobatan, khususnya buahnya yang berwarna merah. Tanaman ini punya nama lain, yaitu bearberry karena merupakan makanan kesukaan beruang.”
“Tapi kan di sini tidak ada beruang?” ucap Aren.
“Entahlah. Daerah bagian sini kan masih termasuk pinggiran hutan. Tidak ada yang tahu penghuni bagian terdalam hutan.”
Alder dan Aren bangkit berdiri kemudian berjalan mengikuti Azale. Mereka duduk di atas karpet yang tadi mereka hamparkan di bawah pohon maple berdaun oranye. Mereka membuka bekal makanan yang tadi dibawa dari rumah.
“Aku pasti akan merindukan suasana ini. Melayani pembeli bunga, bermain bersama anak-anak di taman, membaca dongeng, piknik bersama kalian berdua,” ucap Azalea dengan nada sedih.
“Kalau kamu ada waktu, datanglah kemari,” sahut Alder.
“Ajaklah Asphodella dan juga Rosetta,” sahut Aren.
“Aku bisa saja mengajak Asphodella, tapi tidak dengan Rosetta. Sampai saat ini, aku dan Asphodella tidak mengetahui keberadaanya.”
“Aku penasaran oleh ucapanmu, Azalea,” ucap Aren dengan kening berkerut.
“Yang mana?”
“Soal berkhianat dan terpaksa berkhianat itu.”
“Hm…”
Azalea terdiam dan mengingat ucapan Flora sebelum jati dirinya yang sebenarnya terbongkar. Sekilas dia mengingat senyum dingin Flora yang berhasil memperdayanya.
“Seorang florist akan berkhianat, bukan… terpaksa berkhianat. Florist juga tidak boleh sampai meminum dari bunga judas tree atau semua tentangnya akan hancur. Ada cahaya di balik lagu, sangat kecil sehingga membutuhkan hati malaikat untuk melihatnya,” gumam Azalea pelan, tapi masih mampu di dengar oleh Alder dan Aren.
“Apakah kamu belum berhasil memecahkan teka-teki itu dan juga menghilangnya florist sebelum kami?” tanya Alder.
“Sebentar, rasanya aku teringat sesuatu dari buku di perpustakaan,” sahut Azalea.
Minggu lalu, Azalea pergi ke perpustakaan untuk memberikan buket pesanan Madam Elsie. Iseng-iseng, dia akhirnya melihat daftar nama florist yang pernah berada di Maple Willow. Jumlahnya sangat banyak, bahkan hampir mencapai seribu florist. Hingga dia akhirnya tahu siapa nama florist yang menghilang itu, Carissa Blythier. Dia butuh waktu cukup lama untuk menghapus mantra penutup yang dipasang.
“Namanya Carissa Blythier, berasal dari London,” ucap Azalea. “Dia sama sepertiku, menjadi pengganti. Kalau tidak salah, dia lahir tanggal 21 November 2000. Usia kami berjarak tiga tahun.”
“Kemana perginya Carissa?” tanya Aren. “Apakah diculik oleh judas tree?”
“Tidak, sebenarnya…”
Azalea akhirnya memutuskan menceritakan perihal pertemuannya dengan guardian tree-nya beberapa hari yang lalu. Dengan menggunakan kekuatan three angel lights tree, dia berhasil melihat apa yang terjadi ketika Carissa menghilang.
Malam itu, Carissa berlari dalam badai ke tempat judas tree mengikuti arah lagu. Dia berhasil sampai di judas tree dan melihat three angel lights tree mengucurkan darah. Setelah itu, sekuntum bunga mawar merah muncul dan melayang turun. Bersamaan dengan itu, Carissa tampak berbicara dengan sosok tak kasat mata dan menghilang dalam berbagai macam kuntum bunga.
“Mawar merah? Apakah ada hubungannya dengan Rosetta?” tanya Aren dengan kening berkerut.
“Aku tidak tahu. Kalau memang benar berhubungan dengan Rosetta, artinya kunci untuk mengakhiri semua ini adalah dirinya,” jawab Azalea.
“Bukankah itu artinya sama dengan uva-ursi ini?” sahut Alder.
Tangannya menyentuh buah berry itu dan memetiknya satu. Dia kemudian meraih tangan kanan Azalea dan meletakkan buah itu di atas telapak tangannya.
Tampak buah itu melayang beberapa saat dan terpotong menjadi tiga bagian. Masing-masing dari potongan itu kemudian berubah menjadi cahaya membentuk 3 sosok gadis. Ketiga gadis itu berdiri membentuk sebuah segitiga mengelilingi sebuah meja. Mereka tampak menyatukan kekuatan pada sesuatu dalam cahaya di atas meja itu dan menghilang.
“Apa itu tadi?” tanya Aren dengan raut wajah terkejut.
“Lagu, cahaya, judas tree,” ucap Azalea. “Carissa mengikuti lagu hingga sampai ke judas tree. Lalu, cahaya itu maksudnya apa?”
“Entahlah. Mungkin kamu bisa mendiskusikannya dengan Asphodella,” sahut Alder.
“Kurang sedikit lagi dan kita akan berhasil memecahkan misterinya,” ucap Azalea.
“Let’s do that tomorrow,” sahut Aren sambil bangkit berdiri. “Hari semakin gelap, lebih baik kita pulang sekarang. Malam ini kita harus menata pesanan bunga untuk besok.”
“Ah. Benar juga,” ucap Alder.
Dia berdiri dan mengulurkan tangan membantu Azalea berdiri.
Kedua pemuda itu membantu Azalea merapikan tempat bekas makanan dan minuman. Aren kemudian melipat tikar yang mereka gunakan. Di sepanjang jalan, mereka asik mengobrol dan bercerita. Alder dan Aren sesekali melontarkan ejekan satu sama lain. Suasana yang sangat menyenangkan.
* * *
“Selamat pagi, Azalea.”
Azalea yang sedang merangkai bunga lily menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Sakura. Semejak malam itu, adik Poppy itu memang sering berkunjung ke tempatnya. Entah untuk bermain, membantu Azalea merapikan toko, atau bercerita bersama. Alder dan Aren sendiri tampak tidak keberatan dengan kehadiran Sakura di toko.
“Ini ada roti, cream soup, dan pasta dari Ibu,” jawab Sakura.
“Wah. Pasti makanan ini sangat enak.”
“Tentu saja. Ibuku seorang chef yang hebat.”
“Tunggulah sebentar. Aku akan mengganti tempatnya.”
“Kata Ibu, kamu bisa mengembalikan tempatnya kapan saja.”
“Ya sudah. Apakah kamu mau membantuku merangkai bunga?”
“Mau, mau. Apa tugasku?”
“Bantulah Alder dan Aren membawa masuk bunga yang sudah dipotong.”
“Siap.”
Azalea tersenyum melihat Sakura tampak begitu bersemangat. Hal itu mengingatkannya pada Poppy, karena sebagai kakak-adik, sikap dan karakter mereka memiliki banyak kemiripan. Dia menoleh ke lemari di belakangnya untuk melihat cahaya hati Poppy dan Sophia yang waktu itu diambilnya.
“Aku tahu kalian sengaja berbuat semua itu agar aku mengambil cahaya hati kalian. Aku juga tahu melaluinya, kalian mengawasiku. Aku hanya berharap kalau kalian kembali menjadi Poppy dan Sophia seperti semula,” gumamnya dengan nada sedih.
Ratusan tahun yang lalu, mereka memang tidak pernah saling mengenal. Dia sangat membenci Flora, Poppy, dan Sophia karena telah membuat dunia kacau dengan kejahatan. Namun begitu bertemu lagi sekarang, dia tahu kalau di dalam kegelapan hati mereka, masih ada setitik cahaya. Hal itu membuatnya sedih.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Alder yang tiba-tiba muncul.
Pemuda itu meletakkan bunga lavender dan mendekati Azalea. Dengan lembut, dia mengusap air mata yang mengalir di pipi florist cantik itu.
“Tidak. Aku hanya mengingat Poppy dan Sophia,” sahut Azalea.
“Mereka ‘kan jahat. Kenapa juga kamu mengingat mereka, Azalea?” sahut Aren sambil menata bunga matahari.
“Saat pertama kali bertemu ratusan tahun yang lalu,hati mereka memang sangat gelap. Tapi entah kenapa aku, Asphodella, dan Rosetta bisa melihat setitik cahaya kecil di dalamnya. Cahaya itulah yang berhaisl menahan mereka untuk tidak membunuh orang lain, berbeda dengan Flora dan Ratu Mary.”
Alder dan Aren terdiam mendengar ucapan Azalea. Mereka tidak heran Azalea menjadi kakak tertua. Sikapnya yang lembut, ramah pada semua orang, serta bijak dalam menghadapi segala hal membuat mereka kagum. Bahkan, ketika ada orang yang bersikap jahat padanya, dia masih mampu untuk memaafkan orang itu.
“Kamu memang florist yang luar biasa, Azalea,” puji Aren.
Azalea tersenyum pada Aren mendengar ucapannya. Perhatiannya kemudian teralih pada Sakura yang membawa masuk bunga lavender.
* * *
“Apa maksud uva-ursi ini, Ibunda?” gumam Azalea pada dirinya sendiri.
Dia duduk di dekat jendela memandang bulan yang bersinar lembut. Di tangannya, ada sebutih buah bearberry yang telah matang sempurna. Hati kecilnya mengatakan kalau sesuatu yang besar akan terjadi tidak lama lagi. Dia takut kalau hal itu membahayakan nyawa Asphodella dan Rosetta.
“Kalau memang semua berhubungan dengan Rosetta, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku membiarkan Rosetta terluka dan menanggung semuanya sendiri. Kumohon bantu kami, Dewi Bulan. Aku memohon padamu sebagai anak tertua dari Ibunda Aleena.”
Azalea memandang bulan dengan sorot mata sendu. Dia berharap sang Dewi mendengar permintaannya dan mau membantunya. Bagaimanapun juga, kekuatan Ratu Aleena dan Ratu Andara yang diwariskan pada ketiga putrinya adalah pemberian Dewi Bulan.
Tiba-tiba, setangkai bunga anggrek melayang dari langit. Kelopak-kelopak bunganya memancarkan cahaya lembut. Azalea menatap bunga itu heran dan menengadahkan tangan untuk menangkapnya. Begitu bunga anggrek itu telah berada di tangannya, dia mendengar bisikan lembut.
“Aku akan selalu bersama kalian bertiga, Azalea. Aku akan melindungi kedua Ibundamu dan kedua adikmu sampai saat itu tiba. Walaupun begitu, pada akhirnya nanti, kalian bertiga sendirilah yang akan memutuskan takdir hidup kalian.”
Azalea tersenyum mendengar suara itu dan berbisik, “Terima kasih.”
Setelah itu, dia beranjak ke tempat tidur dan merebahkan dirinya. Sekitar pukul 3 pagi, dia terbangun. Matanya kembali memandang ke arah langit malam. Hatinya diliputi kegelisahan. Firasat buruk mengenai Alder menghampirinya dalam mimpi.
“Semoga saja firasat itu tidak benar,” gumamnya pelan.
* * *
“Selamat pagi, Nona Azalea,” sapa Madam Annura dengan lembut.
“Selamat pagi, Madam,” balas Azalea dengan ramah. “Apakah ada yang bisa kubantu?”
“Tidak apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku hanya kebetulan sedang jalan-jalan pagi dan ingin mampir ke tempat ini.”
“Baiklah kalau begitu. Silakan melihat-lihat toko.”
Azalea kembali sibuk merangkai bunga lavender yang kemarin dipotong oleh Alder dan Aren. Kedua pemuda itu mau tidak mau masuk sekolah hari ini. Sudah beberapa hari ini mereka absen dan memilih membantunya di toko. Hingga akhirnya, Mrs. Joanne datang dan mengomeli mereka agar mau masuk sekolah.
“Sebelum aku pulang, ini ada undangan untukmu,” ucap Madam Annura sambil menyodorkan sebuah undangan.
“Datang ya. Putriku sendiri yang secara khusus memintaku mengantarkan undangan itu padamu.”
“Tentu saja aku akan datang. Apakah ada hal lain yang bisa kulakukan?”
“Iya, dia juag memintamu untuk menyediakan bunga mawar kuning, krisan putih, dan iris untuk menghias tempat acara.”
“Baiklah. Akan kusediakan ketiganya. Besok sore aku, Alder, dan Aren akan mengantarnya.”
“Terima kasih, Nona Azalea. Sampai bertemu lagi besok.”
“Terima kasih kembali, Madam.”
Setelah Madam Annura pergi, Azalea kembali meneruskan kegiatannya sambil sesekali melayani orang-orang yang datang mengambil pesanan buket bunga. Dia sama sekali tidak sempat memikirkan kegelisahannya semalam. Bahkan hanya dalam wkatu beberapa jam, dia telah melupakan soal itu. Senyumnya yang terus terukir membawa keceriaan tersendiri bagi orang-orang yang datang.