
“Rosie?” panggil Asphodella pasa sang adik yang tengah bermain di tepi danau.
“Kenapa?” Rosetta menoleh dan tersenyum.
Asphodella duduk di samping Rosetta, membiarkan kakinya terbenam di dalam air. “Kamu ngerasa apa nggak kalau Azalea bersikap aneh beberapa hari terakhir ini?” tanyanya pelan.
“Lumayan,” jawab Rosetta. “Azalea tau sesuatu, tapi dia nggak mau memberi tahu kita.”
“Aku merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi,” ucap Asphodella sambil lalu.
“Azalea akan melakukan apa pun untuk melindungi kita berdua, karena dia merasa itu tugasnya,” ucap Rosetta. “Kamu sendiri pasti sedang belajar cara mengendalikan kekuatan agar tidak terlalu berbahaya, ‘kan?”
“Aku akan melakukan apa pun agar kamu tidak jatuh dalam kegelapan, Rosie,” sahut Asphodella.
Rosetta tersenyum mendengar jawaban Asphodella karena sudah menduganya. Dia memang masih belum bisa memecahkan beberapa petunjuk yang ada. Hanya saja, ada satu hal yang dipahaminya. Tidak lama lagi, akan ada sesuatu hal buruk yang menimpa salah satu di antara mereka bertiga.
Rosetta pun secara jujur mengungkapkan semua yang diketahuinya pada Asphodella. Kilatan-kilatan ingatan masa lalu soal Istana Kristal, kedua Ibunda dan Ratu Krystal, serta Ratu Mary dan ketiga putrinya. Ingatan yang bahkan dirinya sendiri merasa tidak pernah sekalipun mengalaminya. Itu artinya, ada yang memberikan ingatan itu padanya.
Mendengar penjelasan Rosetta, Asphodella ikut mengatakan semua yang ada padanya. Intinya, mereka berdua saling berbagi. Mereka merasa tidak layak sebagai saudara saling menyimpan rahasia. Apalagi, mereka dituntut untuk memecahkan misterinya bersama-sama. Sambil bercerita, Asphodella memainkan gelangnya.
“Kenapa kamu berhenti?” tanya Rosetta ketika Asphodella berhenti bercerita.
“Aku nggak benar-benar ingat soal gelang ini,” sahut Asphodella memperhatikan gelangnya. “Apakah kedua Ibunda yang menutup ingatan kita soal ini?”
“Entah.” Rosetta mengangkat kedua bahunya. “Kekuatanku terbatas karena belum berhasil menyatukan kristalnya. Lebih tepatnya, kita berdua nggak tau cara menyatukan kekuatan kristal itu.”
Rosetta dan Asphodella berpandang-pandangan sejenak. Masing-masing mengeluarkan anak panah dan pedang kristal mereka, kemudian duduk bersila berhadapan sambil memejamkan mata. Kedua benda itu melayang di antara mereka. Asphodella menumpangkan kedua tangannya di atas tangan Rosetta tanpa bersentuhan.
Mereka mulai menyatukan kekuatan dan memfokuskannya pada kedua benda itu. Perlahan, mereka dibawa pada suatu masa ketika mereka baru pertama kali menjadi florist. Ada kesedihan di sana karena harus berpisah dengan orang tua kandung mereka. Selain itu, juga ada kebahagiaan yang luar biasa.
* * *
“Aku datang ke sini untuk mengambil kedua putri kalian, Azalea dan Rosetta,” ucap Ratu Aleena lembut.
“Kami mohon, jangan ambil putri kami!” pinta seorang laki-laki sambil berlutut.
“Aku mengambil mereka bukan untuk melakukan hal jahat. Mereka berdua dan seorang yang lain akan menjadi penyelamat dunia suatu saat nanti,” sahut Ratu Aleena lembut.
Ucapan itu tak urung membuat laki-laki dan perempuan yang merupakan sepasang suami-istri itu terdiam. Sang Ibu memeluk erat seorang gadis kecil, sementara kakaknya berada di dekat sang Ayah. Tak tampak sedikit pun ketakutan di wajah keduanya melihat seorang perempuan asing hendak mengambil mereka.
“Apakah kami masih bisa bertemu dengan mereka?” tanya sang Ibu lirih.
“Mereka tetaplah putri kalian,” sahut Ratu Aleena. “Gelang buatanmu cantik. Apakah aku boleh minta tiga buah?”
“Tentu saja, Ratu. Silakan ambil apa pun yang Anda suka,” sahut sang Ayah.
Ratu Aleena mengambil dua buah gelang, tapi saat hendak pergi, mengambil lagi satu. Ratu kemudian tampak tersenyum pada sosok gadis lain yang mengintip dari dalam rumah. Setelah itu, Ratu Aleen membungkuk dan tersenyum pada dua gadis kecil yang tengah bersama orang tua mereka itu.
“Kemarilah! Jangan takut! Aku tidak akan menyakiti kalian,” ucap Ratu Aleena lembut.
Saat kedua gadis kecil itu keluar, tahulah Rosetta dan Asphodella kalau mereka adalah sosok Rosetta dan Azalea di masa anak-anak. Keduanya perlahan mendekati Ratu Aleena. Lebih tepatnya Rosette mengikuti Azalea.
Mereka tampak memperhatikan ucapan Ratu Aleena dengan seksama. Rosetta tampak memegang erat lengan sang Kakak. Tak lama, Rosetta membiarkan dirinya digendong oleh Ratu Aleena. Tangan kecilnya menyentuh mahkota bunga kristal yang ada di kepala Ratu Aleena. Mahkota itu tampak mengeluarkan cahaya.
“Kalau kalian ingin bertemu mereka, datanglah ke padang lily of valley pagi-pagi sekali. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama mereka sampai matahari terbenam,” ucap Ratu Aleena lembut.
“Baik, Ratu. Terima kasih,” ucap suami-istri itu sambil membungkuk memberi hormat.
* * *
Asphodella dan Rosetta kembali membuka mata. Mereka saling berpandang-pandangan dalam kebingungan dan keterkejutan. Untuk pertama kalinya, mereka melihat ketika pertama kali Ratu Aleena mengambil Rosetta dan Azalea dari orang tua mereka.
“Tapi, siapa gadis kecil yang dilihat oleh Ibunda, ya?” tanya Rosetta pelan.
“Aku nggak tau. Bukankah dia salah satu saudara kandungmu juga?" Asphodella memandang Rosetta dengan kening berkerut.
“Masalahnya, aku nggak ingat punya kakak selain Azalea,” sahut Rosetta.
Keduanya kembali terdiam. Mereka memperhatikan kedua kristal mereka. Samar-samar, tampak bayangan kotak di bagian tengah. Rosette menajamkan pandangan matanya dan seketika itu juga dia terbelalak.
“Pandora box!” ucapnya pelan.
“Kuncinya ada pada Azalea,” sambung Asphodella.
“Kita nggak bisa membuka kotak itu sampai waktunya tiba nanti,” sahut Azalea yang tiba-tiba muncul.
Rosetta dan Asphodella tersenyum senang melihat kedatangan sang kakak. Mereka berdua langsung mengajak Azalea untuk duduk bersama di tepi danau. Mereka sama-sama menceritakan apa yang tadi mereka lihat bersama. Keduanya sama-sama terkejut ketika Azalea berkata tidak pernah mengingat hal itu.
Mereka kemudian kembali melihat ingatan gelang itu. Hal aneh yang terjadi adalah mereka tidak bisa melihat wajah gadis kecil ketiga itu. Satu-satunya yang terlihat jelas adalah gelang berwarna merah darah-hitam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Selain itu, tidak ada yang bisa mereka dapatkan.
Petunjuk kedua adalah ketika gadis kecil itu memanggil orang tua Azalea dan Rosetta dengan sebutan ayah dan ibu. Itu artinya, gadis itu masih memiliki hubungan darah dengan mereka. Namun, siapa dia? Kenapa Ratu Aleena tidak mengizinkan mereka melihat wajahnya? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran mereka, tapi tidak ada yang bisa menjawabnya.
“Siapa ya gadis kecil itu?” tanya Rosetta penasaran.
“Nggak tau juga. Aku nggak ingat kita pernah punya saudara lain,” sahut Azalea.
“Kayaknya dia lebih tua dari Azalea. Artinya, urutannya jadi gadis itu, Azalea, lalu Rosetta,” sambung Asphodella.
“Kalau kamu sendiri, punya saudara apa nggak, Della?” tanya Rosetta.
“Nggak punya aku. Sejak dulu aku selalu anak tunggal,” jawab Asphodella.
Azalea kemudian diam mendengarkan kedua adiknya bercakap-cakap. Dia memikirkan misteri gadis kecil di dalam ingatan masa lalu. Kalau bukan karena Rosetta dan Asphodella yang berhasil menemukan cara melihat ingatan tertentu, sudah pasti dia tidak akan tahu soal itu. Lebih tepatnya, dia dan Rosetta tidak akan tahu.
“Kita istirahat dulu. Besok pagi, kita pergi dari padang ini,” ucapnya lembut.
“Mau ke mana kita besok?” tanya Asphodella.
“Ke Maple Willow,” jawab Azalea.
“Aku ingat kalau kamu tidak mau mengajak kami ke Maple Willo,” sahut Rosetta.
“I changed my mind. Kalian harus ikut bersamaku besok. Bittersweet sudah melakukan tugasnya. Jadi, kondisi di sana sudah aman,” jelas Azalea.
“Yey!” Rosetta dan Asphodella berteriak senang karena tidak perlu pulang.
Mereka bertiga kembali ke tepi danau three angel lights tree dan menghabiskan waktu di sana. Suasana tetap terasa terang, walaupun hari sudah malam. Kerlap-kerlip cahaya hati florist yang ada di sekitar padang itu menjadi penerang. Cahaya itu adalah simbol para florist yang ada saat ini.
Ada sebagian dari para florist yang memilih kembali sebagai manusia biasa, tapi ada juga yang masih tetap memilih menjadi florist. Ada baik dan buruknya menjadi seorang florist. Baiknya, mereka bisa hidup abadi menjaga suatu tempat, bisa padang ataupun kota. Buruknya, mereka harus berpisah dengan keluarga atau orang yang mereka cintai.
Banyak di antara para florist itu yang memohon sendiri untuk dijadikan salah satu di antara penjaga. Ratu Aleena dan Ratu Andara tidak sembarangan menerima, tapi menyeleksi dulu mereka semua. Tugas utama mereka adalah menjaga padang ini agar tidak dimasuki oleh siapa pun, terutama para Blood Florists.