Florist World: The Sisters

Florist World: The Sisters
[S02] PART 5 RHYS & SECOND BRIANA



Saat membuka mata, Azalea dan Asphodella terkejut melihat tempat mereka berada. Sungguh sangat indah dan memukai. Ribuan kunang-kunang tampak di sekeliling padang bunga kecil itu. Selain kunang-kunang, sinar lembut bunga yang ada pada bunga asphodel membuat suasana semakin terang.


“Kita di mana?” tanya Rosetta sambil membelai lembut kelopak bunga asphodel. “Kalau banyak bunga asphodel di sini, seharusnya kita juga dekat dengan Della ‘kan?”


“Atau Della mengirimkannya ke tempat ini,” sahut Azalea.


Dia membungkuk dan menangkupkan kedua tangannya tanpak menyentuh. Tak lama, dari tangannya keluar cahaya. Dia berusaha merasakan energi Asphodella untuk melacak keberadaannya. Namun, hasilnya tidak sesuai yang diharapkannya. Dia memang merasakan energi Asphodella, tapi sangat lemah.


“Energinya sangat lemah, Rosetta. Kemungkinannya hanya ada dua,” ucapnya sambil memandang Rosetta.


“Della berada jauh dari sini atau… dia sedang terluka,” sahut Rosetta.


“Lebih baik, kita nggak berspekulasi sembarangan,” ucap Azalea lembut. “Aku yakin, Della pasti sedang berada di suatu tempat dan baik-baik saja.”


“Okay. Lalu, kenapa kita bisa sampai di tempat ini?”


“Sepertinya Della memang ingin kita sampai di tempat ini. Aku merasakan ada suatu energi aneh di tempat ini, walaupun samar-samar. Energi yang sama seperti…”


“Alder dan Aren…”


“Mungkinkah…?”


“AWAS!!!”


Sebuah anak panah mengarah pada Rosetta. Azalea mendorong Roseta sementara dia sendiri melompat kebelakang. Anak panah itu menancap pada pohon dan mengeluarkan ledakan cahaya yang menghancurkan batang pohon itu.


Azalea tersadar dan langsung membantu Rosetta berdiri. Dia menggunakan kekuatannya untuk memeriksa kondisi adiknya. Helaan napas lega terdengar mengetahui Rosetta baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun.


“Kalian baik-baik saja?” tanya sosok misterius bersuara merdu.


Azalea menarik Rosetta ke belakang tubuhnya. “Kamu siapa?”


Sosok misterius berjubah hitam itu berhenti beberapa langkah dari tempat Azalea dan Rosetta berdiri. Azalea tercengang melihat wajah di balik tudung hitam itu. Wajah yang amat sangat dikenalinya.


“Briana?”


“Putri Azalea… Putri Rosetta…”


Briana membungkuk sekilas untuk memberi hormat. Setelah itu, dia bergerak memeluk erat kedua Putri dari Ratu Aleena dan Ratu Andara. Hatinya lega mengetahui Azalea dan Rosetta baik-baik saja. Dia takut sekali karena tidak bisa menemukan keberadaan Azalea, Rosetta, dan Asphodella.


“Aku nggak ngerti. Semalem kamu ada di Maple Willow, di rumah toko bunga,” ucap Azalea.


“Apa maksudmu? Aku nggak pernah pergi ke Maple Willow,” sahut Briana dengan raut wajah kebingungan. “Lebih baik, kita keluar dari hutan ini dulu. Sepertinya ada sesuatu yang hendak kamu katakan padaku.”


Briana meraih tangan Azalea dan Rosetta kemudian memejamkan matanya. Kepingan-kepingan es muncul dan menyelimuti tubuh mereka. Azalea dan Rosetta ikut memejamkan mata. Ketika membuka mata kembali, mereka berada di halaman sebuah rumah kecil. Halaman rumah itu dipenuhi dengan berbagai macam bunga.


Azalea menggandeng tangan Rosetta dan menariknya berjalan mengikuti Briana. Begitu masuk, mereka disambut oleh sepasang suami-istri dan seorang pemuda. Briana memperkenalkan mereka semua.


“Azalea, Rosetta, mereka ini keluarga angkat aku,” ucap Briana. “Paman Jake, Bibi Lula, dan Rhys.”


“Namaku Azalea dan ini adikku, Rosetta,” ucap Azalea dengan nada sopan.


“Selamat datang di rumah kami, Putri,” ucap Bibi Lula dengan lembut.


“Bibi, aku mau ajak Azalea dan Rosetta ke taman belakang. Kalau ada apa-apa, Bibi panggil saja aku.” Briana langsung pergi begitu melihat Bibi Lula menganggukkan kepala.


Azalea dan Rosetta berjalan mengikuti Briana. Ternyata, halaman belakang rumah berupa padang bunga kecil. Mereka tersenyum kagum melihat keindahannya. Bunga azalea merah, mawar merah, dan asphodel putih tumbuh memenuhi area itu. Sebuah kolam dengan air mancur buatan juga ada di situ. Tepat di belakang rumah dan menempel di dinding rumah.


Rosetta terdiam dan melangkah memasuki padang itu. Entah kenapa dia merasa familiar dengan padang itu. Dia menujulurkan telapak tangannya menghadap ke atas. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengambil ingatan yang tersimpan di dalam cahaya hati bunga. Matanya terpejam untuk melihat ingatan itu.


“Rosie, bagus ya?”


“Wahh… Bagus, aku suka.”


“Kamu mau kasih sihir apa?”


“Gelang ini akan muncul di tempat pertama kali kita bertemu. Dengan begitu, kita akan terus teringat awal mula ikatan persaudaraan kita.”


Berbagai bayangan berkelebat dalam kepala Rosetta. Dia terus menggali lebih dalam ingatan di padang itu. Dia merasa ada hal penting yang harus diingatnya di tempat itu. Dia hanya harus bisa memilah-milah semuanya, lalu menyatukannya dengan ingatan penting yang sudah didapatkannya.


Azalea membiarkan Rosetta melakukan apa pun itu. Dia duduk santai bersama Briana dan bercakap-cakap ringan. Ketika tengah mengobrol, Rhys datang membawa baki berisi kue dan minuman untuk mereka bertiga. Pemuda itu ikut bergabung bersama Azalea dan Briana. Rhys tidak langsung kembali dan ikut bergabung bersama mereka.


“Kamu dapat apa?” tanya Azalea pada Rosetta yang berjalan mendekat.


“Beberapa sih. Cuma aku nggak tahu ini penting atau nggak,” jawab Rosetta sambil mengangkat kedua bahunya.


Rosetta kemudian duduk di antara Azalea dan Rhys. Dia ikut menikmati kue dan minuman yang disuguhkan. Tidak ikut mengobrol dan memilih menjadi pendengar. Otaknya sibuk memikirkan masalah ingatan yang didapatkan di padang ini. Sesekali dia diam untuk merasakan energi yang ada.


“Jadi…” Rhys memandang Azalea. “Kenapa kalian hanya berdua? Di mana Asphodella?”


“Well, itu masalahnya,” sahut Azalea. “Aku dan Rosetta tidak berhasil menemukan Asphodella. Sebelumnya, aku masih bisa berkomunikasi dengannya, tapi sejak Laura, kakak kandung Rosetta, dan Gina, sahabatku, menghilang, semua menghilang.”


“Masalah lainnya, kalau Briana di sini adalah yang asli, lalu yang ada di Maple Willow siapa?” tanya Rosetta.


“Aku juga nggak tahu. Aku sama sekali nggak pernah pergi ke Maple Willow. Aku di sini karena Ratu Aleena menyuruhku untuk menjaga taman ini sejak lima tahun yang lalu,” jawab Briana.


“Tapi sejak dua minggu yang lalu, aku, ayah, ibu dan Briana sama sekali tidak bisa menghubungi atau menemui Ratu Aleena,” sambung Rhys.


Mereka berempat duduk dalam kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi si sini? Kenapa ada dua Briana? Di manakah Asphodella dan Ratu Aleena? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran mereka masing-masing.


“Energimu sekilas mirip dengan Alder dan Aren, tapi entah kenapa ada yang berbeda,” ucap Rosetta pada Rhys.


“Itu karena ada hal lain yang disembunyikan oleh Alder dan Aren dari kita semua,” sahut Rhys. “Sejak awal kekuatan kami muncul, aku sama sekali nggak bisa berkomunikasi dengan mereka. Apa pun itu, aku merasakan kekuatan gelap yang mulai bangkit.”


“Kekuatan apa itu?” tanya Azalea.


“Kekuatan gelap yang jauh lebih jahat dan berbahaya dari pada Ratu Mary. Kekuatan ini sudah ada jauh lebih dulu dari pada Ratu Mary, Ratu Aleena, dan Ratu Andaraa.”


“Kamu sepertinya mengerti lebih banya, Rhys,” ucap Briana. “Bisakah kamu menejelaskan semuanya pada kami?”


Azalea, Rosetta, dan Briana memandang Rhys dengan raut wajah bertanya. Untuk sejenak, mereka bertiga melihat Rhys mengerutkan keningnya berpikir. Setelah beberapa saat, Rhys mengulurkan tangannya dan di atas telapak tangannya terbentuk sebuah mahkota kristal.


“Aku melihatnya, di belakang telinga Briana. Maksudku, Briana yang ada di Maple Willow,” ucap Azalea. “Bedanya, kristalnya warna hitam.”


“Kita akan pergi melihat apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu,” ucap Rhys. “Gunakan kekuatanku, Rosetta.”


“Oke.”


Rosetta menggulurkan tangannya dan mengeluarkan cahaya hati bunga mawar. Perlahan, kuntum-kuntum mawar merah muncul di sekeliling mereka berempat. Mereka berempat menutup mata dan merasakan embusan angin. Ketika membuka mata, mereka berada di sebuah padang lain.


Rosetta memandang ke sekelilinya dengan kening berkerut. Dia ingat pernah melihat padang ini dalam ingatan Mama Lily. Kenapa Rhys membawa mereka ke dalam ingatan padang itu juga? Dia menoleh dan mendekati Azalea. Tangannya menggandeng tangan sang kakak.


“Padang apa ini?” tanya Briana.


“Aku nggak tahu,” sahut Rhys. “Seingatku, aku berusaha membawa kita ke danau kristal.”


“Danau kristal?” Azalea memandang Rhys dengan kening berkerut.


“Danau itu awal mula kami –aku, Alder, Aren, Briana– bertemu kalian bertiga,” jawab Rhys.


“Tapi Alder bilang kalian bertiga ketemu kami di padang chrysanthemum,” sanggah Azalea.


Dia memandang padang itu dengan kening berkerut. ‘Ada apa ini? Kenapa Alder berbohong padaku? Apa yang disembunyikan oleh Alder dan Aren? Lalu, siapa sosok Briana yang berada di Maple Willow saat ini?’ ucapnya dalam hati. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran dan hatinya, membuatnya gelisah memikirkan keselamatan kedua adiknya.