
Azalea tidak bermaksud mengajak semuanya kembali ke padang anyelir. Dia memilih membuatkan sebuah pondok kecil dari sulur tanaman menggunakan kekuatannya. Rhys dan Rosetta pergi ke tengah hutan mencari buah-buahan untuk dimakan. Masalah keberanian, Rosetta memang tidak ada tandingannya.
* * *
“Nanti kalau Rosie sudah besar, Rosie akan jadi pelindung Azalea dan Asphodella,” ucap Rosetta dengan ceria.
“Kamu akan jadi cahayanya, Sayangku. Kedua kakakmu akan jadi istanamu,” sahut Ratu Aleena.
“Apa maksudnya, Ibunda?” tanya Azalea.
*“Nanti kamu juga mengerti, Sayang,” sahut Ratu Andara membelai kepala*Azalea lembut.
* * *
Azalea, Asphodella, dan Briana memandang ketiga kristal yang mereka dapatkan, warisan terakhir dari kedua ratu. Azalea mendapatkan kunci kristal, Rosetta anak panah kristal, dan Asphodella mendapatkan pedang kristal. Ketiganya tampak berkilauan tertimpa cahaya bulan karena mereka berada di luar gubuk.
“Aku bisa memegang pedang Asphodella, tapi tidak dengan anak panah Rosetta,” ucap Azalea pelan. “Apa yang membedakan anak panah itu?”
“Ini bukan cahaya hati kedua Ratu,” sahut Briana. “Kedua cahaya hati milik kedua Ratu diberikan pada Rhocya dan Cercia. Jadi, ini adalah ketiga benda yang berbeda.”
Asphodella menjulurkan tangannya dan memejamkan mata. Seberkas sinar muncul melingkupi pedang kristalnya. Hanya ada satu hal yang bisa dilihatnya, yaitu sebuah istana kristal. Dalam hati, dia berterima kasih pada Rosetta yang mengajari cara melihat ingatan dari benda.
“Istana Kristal,” ucapnya pelan.
“Tidak ada yang tahu di mana letak istana itu. Bahkan aku yang menjadi putri dari istana kristal saja tidak tahu,” ucap Briana.
“Menurut kalian, kalau ucapan Ibunda Andara diurutkan jadinya seperti apa?” tanya Azalea dengan raut wajah berpikir.
“Mulainya dari gerbang pertama yang terbuka ‘kan?” tanya Briana.
“Bukan." Asphodella tampak ragu, kemudian berujar pelan, “Masa yang telah datang ini akan menjadi penentu dari masa depan yang akan datang.”
“Benar, itulah kalimat pertama,” sahut Azalea.
Briana kemudian diam dan sibuk menyusun teka-teki yang diucapkan oleh Ratu Andara. Azalea berjalan pergi mendekat ke arah danau diikuti oleh Asphodella. Untuk sesaat, keduanya menikmati keheningan dan ketenangan yang ada. Menatap kagum pada kerlap-kerlip cahaya hati yang menghampar di atas danau yang luas.
“Apakah kita semua akan pergi ke Maple Willow?” tanya Asphodella memecah keheningan.
“Kenapa? Apakah kamu ingin bertemu dengan Aren?” Azalea bertanya balik dengan nada menggoda.
“Tidak kok,” sahut Asphodella cepat. “Aku ingin melepaskan tanda ikatan dengan Aren.”
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Azalea.
“Karena kamu melepaskan milikmu dan Alder,” jawab Asphodella polos.
“Tidak, Della.” Azalea menatap Asphodella dengan sorot mata penuh rasa sayang. “Aku memang sengaja melepaskan ikatan itu karena punya tujuan tersendiri. Tapi, aku tidak mengizinkanmu melepas ikatanmu dengan Aren. Kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti.”
“Apa yang berbeda antara ikatanku dengan ikatanmu?” tanya Asphodella kebingungan.
“Karena memang berbeda, Della. Kalau aku mati, Alder juga akan mati. Itu makna ikatanku dengannya. Aku membutuhkannya untuk melindungi kalian berdua saat aku tidak ada.”
“Memangnya kamu mau pergi ke mana? Kamu ‘kan sudah janji akan selalu bersamaku dan Rosetta.”
Azalea tersenyum lembut. “Aku hanya memikirkan kata-kata Ibunda Andara.”
“Apakah ada yang membebanimu?” Asphodella terus mengajukan semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. “Kalau iya, kamu bisa menceritakannya padaku dan Rosetta. Kami berdua akan selalu ada dan membantumu.”
“Bukan hal penting. Hanya masalah ingatan yang terkunci. Aku memikirkan bagaimana cara membukanya.”
“Aku dan Rosetta akan membantumu.” Asphodella tersenyum pada sang kakak. “Dan … ini bittersweet pesananmu. Aku hampir lupa memberikannya karena asik melihat ketiga kristal tadi.”
“Terima kasih,” ucap Azalea sambil menerima bunga berkelopak warna putih-pink-ungu.
Asphodella diam memperhatikan Azalea yang memejamkan matanya. Bittersweet itu melayang di atas telapak tangan Azalea dan mengeluarkan sinar. Mata Asphodella tampak kagum ketika perlahan bunga itu berubah menjadi kerlap-kerlip yang melayang ke langit. Kekuatan pengendali hati bunga yang hanya dimiliki oleh Azalea.
“Biarkan bittersweet melaksanakan tugasnya di Maple Willow. Kita fokus dulu pada ketiga benda peninggalan kedua Ibuda,” ucap Azalea.
“Ya sudah. Yuk, kembali ke tempat Briana.”
Azalea mengikuti Asphodella yang berlari dengan semangat. Dia berhenti sejenak dan mengamati three angel lights tree di tengah danau. Tiba-tiba, sebuah bisikan masuk ke dalam telinganya.
‘Jangan biarkan kegelapan itu menguasai hati kalian bertiga, Sayangku. Kalian pasti menemukan cara untuk menghentikannya. Aku percaya kalian bisa.’
Sekuntum bunga mawar putih melayang turun. Dia menangkap bunga itu dan tersenyum melihatnya. Walaupun tidak tahu siapa yang mengirimkannya, dia tahu kalau ada orang yang diam-diam melindunginya dan kedua adiknya. Dia mengirimkan bunga itu ke danau menggunakan kekuatannya.
“Azalea!”
Teriakan Asphodella mengagetkannya. Dia menoleh dan tersenyum melihat adik pertamanya melambaikan tangan. Perlahan, dia mendekati tempat Asphodella dan Briana berada. Senyum kelegaan terpancar melihat Rosetta dan Rhys kembali membawa dua buah keranjang berisi makanan.
Sambil menikmati buah-buahan segar, mereka berlima duduk beralaskan rumput melingkari ketiga pusaka kristal. Mereka terkejut ketika cahaya bulan tepat berada di puncak singgasananya di langit, ketiga benda kristal itu bersinar. Tampak sulur-sulur tanaman dari cahaya keluar dan melingkari ketiganya.
“Cahayanya cantik sekali,” ucap Rhys penuh kekaguman.
“Aku pernah mendengarnya, di Maple Willow. Lagu ini menghipnotisku hingga tidak sadar. Alder yang mencegahku mengikuti lagu ini,” ucap Azalea.
“Ikut ia menuju cahaya ….” gumam Azalea pelan. “Bagaimana kalau ia yang dimaksud di sini adalah suara ini? Carissa juga mengikuti alunan lagu ini sebelum dia menghilang.”
“Kalau itu benar, ke mana kita harus pergi mengikutinya?” tanya Asphodella.
Azalea diam dan memandang ketiga kristal itu. Tangannya terulur pada anak panah Rosetta, tapi terhenti. Dia memandang ke arah danau dan mengulurkan tangannya. Mengambil kembali bunga mawar yang tadi diletakkannya di sana. Dia menoleh pada Rosetta dan menyerahkan mawar itu.
“Pilihan ada di tanganmu, Rosie,” ucapnya lembut.
Rosetta menerima mawar itu dan memandang penuh keraguan pada anak panah kristalnya. Ada keraguan untuk melakukannya, membuka segel pengunci kekuatannya. Tiba-tiba, kilasan akan masa lalu masuk kembali dalam pikirannya. Ingatan yang berusaha dikuburnya bersama ingatan lain.
Dia menggunakan kekuatannya menyimpan mawar itu. “Maaf, aku-aku nggak tahu,” ucapnya sebelum pergi.
“Rosetta!” Asphodella hendak mengikuti Rosetta, tapi dicegah oleh Azalea.
“Biarkan saja, Della. Apa pun yang dingatnya, sudah pasti melukai hatinya dan membuatnya takut untuk membuka kekuatannya. Lagi pula, dia membawa pergi anak panahnya. Mungkin, dia ingin membukanya saat sedang sendirian,” ucap Azalea.
Semua memandang Rosetta yang berlari ke tengah danau dan menghilang di balik cahaya pelindung three angel lights tree. Entah kemana perginya sang Putri Ketiga. Mereka memilih membiarkan dan menunggu sampai Rosetta kembali sendiri ke situ.
Azalea memandang Rhys dan Briana. “Saat bulan tepat berada di puncak singgasananya besok malam, kita berpisah.”
“Kenapa?” tanya Asphodella.
“Rhys dan Briana memiliki urusan mereka sendiri, Della. Rhys juga masih harus menangani masalah Alder dan Aren di Maple Willow. Kita dan mereka berbeda. Suatu ketika, kita semua akan bisa kembali bersama dengan mereka,” jelas Azalea memberi pengertian pada Asphodella.
“Tapi, tunggu Rosetta kembali dulu, ya?” pinta Asphodella.
“Tenang saja. Kami akan pergi besok malam. Pasti besok Rosetta sudah kembali bersama kita di sini,” sahut Briana.
* * *
Rosetta jatuh terduduk di sebuah padang kecil. Dia sendiri tidak tahu berada di mana karena hanya asal pergi. Matanya memandang sendu ke arah danau. Perlahan, anak panah kristalnya muncul dan melayang di depannya. Tangannya terulur mengeluarkan mawar putih tadi.
“Haruskah?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Pertama dan terakhir aku membukanya, aku membuat kedua kakakku terluka. Sebenarnya, aku ini kenapa? Kenapa aku begitu berbeda dengan kedua kakakku, Ibunda?”
Tak terasa, air mata jatuh mengalir di kedua pipinya. Walaupun Azalea tidak pernah mengatakan apa-apa, dia tahu kalau dirinya berbeda. Dia ingat bagaimana Azalea dan Asphodella melindunginya. Dia ingat kesalahannya di masa lalu yang memecahkan mahkota kristal karena marah. Tiba-tiba, dia terdiam.
“Mahkota kristal? Aku ingat Azalea pernah nyinggung masalah mahkota kristal, tapi di mana ya?” gumamnya pelan.
Tiba-tiba, dari arah danau muncul cahaya. Sosok perempuan bergaun putih berkilau berdiri di belakang anak panah kristalnya. Sosok itu tersenyum lembut padanya.
“Ratu Krystal?” Dia berdiri dan tersenyum memandang sang Ratu penguasa Istana Kristal.
“Halo, Rosetta. Aku memenuhi permintaan kakak pertamamu untuk membantu mengatasi kegundahan hatimu,” ucap Ratu Krystal lembut.
“Aku tidak mau membuka kekuatanku, Ratu. Aku takut, mereka akan kembali terluka,” ucap Rosetta dengan suara bergetar.
“Kamu lupa apa yang pernah kuucapkan dulu, Rosie sayang?” Ratu Krystal mendekati Rosetta dan mengelus kepala lembut. “Semua sudah berubah, Rosie. Apakah kamu tidak merasakan perubahannya?”
“Soal kekuatan kami bertiga? Lalu, soal Alder, Aren, Rhys, dan Briana?”
“Benar, Sayang. Sekarang, kamu tidak perlu takut dengan apa pun lagi. Bebaskan semuanya dan lakukan apa pun yang kamu mau. Jangan takut! Kedua kakakmu akan selalu menjagamu.”
“Baiklah.” Rosetta menghela napas. “Ratu mau ‘kan membantuku membuka segel di anak panah kristalku?”
“Aku akan membantumu. Hanya saja, ada risikonya,” ucap Ratu Krystal.
“Apa itu, Ratu?” tanya Rosetta penasaran.
“Aku juga akan ikut menghilang seperti kedua Ibundamu. Aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan kekuatanku seiring bertambahnya kekuatan kalian.”
“Jadi, intinya kekuatan kalian terhubung dengan kami?” Rosetta mengernyitkan dahinya.
“Benar. Kekuatan kami terhubung dengan kalian, tapi kami yang mengambil kekuatan kalian.”
“Aku tidak mengerti, Ratu,” ucap Rosetta sambil menghela napas.
“Lakukan saja, Rosie. Perlahan, kalian bertiga akan mulai memahaminya.”
Rosetta merasakan tubuhnya memanas seiring cahaya biru yang masuk lewat dadanya. Bunga mawar di tangannya berubah menjadi kerlap-kerlip cahaya yang melingkupi tubuhnya serta anak panah kristalnya. Tubuhnya perlahan terangkat seiring kedua matanya yang terpejam.
Ratu Krystal tersenyum dan perlahan tubuhnya memudar, kemudian menghilang.
* * *
NB: Maaf updatenya lama banget.