
π Hai , Readers tercintaπ€ Mohon maaf , saya baru bisa melanjutkan cerita nya sekarang π Berhubung ada sesuatu hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu . Beribu - ribu ucapan terima kasih untuk pembaca setia yang masih menunggu kelanjutan cerita ini . Dukungan dan Support dari kalian sangat berarti dan menjadi penyemangat untuk saya menyelesaikan cerita ini ππ₯°π Semoga cerita nya bisa menghibur para pembaca setia dan semoga kalian selalu di beri kesehatan π€²ππ
_____________________________________
Kania menundukkan kepala nya , menunggu reaksi dari lelaki angkuh di hadapan nya . Dalam hati nya dia terus merapalkan doa pada Tuhan , agar bisa terselamatkan di hari pertama nya .
Setelah dia menarik napas dalam - dalam , dia pun memberanikan diri untuk menatap wajah lelaki yang masih berdiri tegak di hadapan nya . Kedua tangan lelaki itu di masukan kedalam kantung saku celana nya .
" Maaf , pak ... bisa saya bertemu dengan Bapak Direksi ? ". Kali ini dia mampu menaikkan wajah nya tak kalah angkuh dengan lelaki itu . Dengan penuh keyakinan dan percaya diri , dia mampu mengendalikan rasa panik yang sebelum nya mendera diri nya .
" Pak , anda bisa berbicara atau anda bisu ? . Maaf , jika anda tidak bisa berbicara , anda bisa menjawab nya di secarik kertas ".
Seketika itu juga mata lelaki itu memerah menahan emosi , tangan nya yang berada di dalam saku , terlihat mengepal mengalirkan amarah di tiap - tiap urat nadi nya .
" Kau pikir siapa dirimu , hahh !!! berani menghina saya ! , menghina seorang pimpinan !!! ". Bentakan lelaki itu menggelegar di seantero ruangan staff direksi .
Ruangan yang sebelum nya terdengar hingar oleh suara mesin dan komputer , mendadak hening . Semua mata tertuju pada mereka berdua , yang menjadi pusat perhatian .
" Oh , jadi Bapak bisa berbicara , toh ? . Saya kira , dari tadi tidak menjawab , karena gagu ". Dengan enteng nya kania berkata tak kalah angkuh nya .
" Maka nya , Pak ... orang nanya itu , di jawab ! , bukan di pelototin ", sambung nya lagi .
Para karyawan yang menyaksikan peristiwa itu , hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala nya , seperti tahu apa nanti yang bakalan terjadi pada kania . Tamat lah riwayat mu ! , dalam hati mereka .
" Iya lah , di mana - mana juga masuk tuh ke dalam , bukan keluar . Anak SD juga tahu , Pak ".
Dengan santai nya dia masuk sambil melenggak lenggokan badan nya .
Bukan main , selama ini dia merasa tidak ada yang berani melawan diri nya dan baru kali ini dia merasa di sepelekan oleh orang yang baru pertama bertemu dengan nya , seorang wanita bertubuh mungil , di hadapan para anak buah nya .
Kania berjalan santai menuju kursi sofa yang dia rasa itu di khusus kan untuk para tamu , setelah sebelum nya dia merapikan dulu rok nya dengan jari tangan nya .
" lho , kenapa masih berdiri , Pak ? . Silahkan duduk . Tidak sopan jika tuan rumah nya berdiri , sedangkan tamu nya sudah duduk . ayo , jangan malu - malu . Anggap saja di rumah sendiri ".
Dengan tak tahu malu nya , kania berkata dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk sembari dia melemparkan senyum manis nya .
Suara gemeretuk gigi dari lelaki itu terdengar keras . Kedua tangan nya mengepal , menyalurkan amarah nya . Tapi entah mengapa , kedua kaki nya pun seolah - olah bergerak dan berjalan menuju kursi yang di tunjuk oleh telapak tangan wanita itu .
Dengan keras nya , dia menghempaskan tubuh nya dan menaik kan kaki nya ke salah satu kaki nya lagi .
Mata elang nya tajam menatap wanita mungil di hadapan nya . Gemas dan geram terlihat dari raut wajah tampan nya .
Tanpa rasa bersalah , kania balas memandang lelaki di hadapan nya dengan senyum yang tersungging dari bibir nya