First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 4



Ke esokan pagi nya , Kania memulai hari nya dengan membuka lembaran baru . Dia mulai menerima nasib yang telah di garis kan . Bagaimana pun hidup akan terus berjalan . Dia sudah berjanji dalam hati nya , tak akan lagi menyalahkan keadaan dan orang tua nya . Dia juga merasa bersyukur mempunyai kakak yang selalu sabar menjaga dan menyayangi diri nya . Setidak nya itu yang menjadi penguat untuk hidup nya .


" ayo , kak cepetan ... nanti Kak Aida sama Rinrin nungguin kita ! ".


Raisa yang sedang mengikat tali sepatu nya sampai terkejut mendengar Kania berbicara . Tak salah apa yang dia dengar tadi . Mimpi apa semalam Kania sampai jadi seperti ini . Atau dia sudah mendapat hidayah dari Tuhan . Tapi yang terpenting , Raisa senang melihat Kania yang sudah mulai bersemangat tuk bersekolah dan mau menerima keadaan .


" Iya sebentar . Yuu , lekas ! aku sudah selesai nih ". Raisa berdiri dan tangan nya menuntun Kania sambil tersenyum . Tangan yang satu nya lagi mengusap pelan rambut Kania .


" Aku sayang kamu , dek "


" Maafin Kania yah , kak . Kania terlalu egois dan lupa cara nya bersyukur " . Mata Kania mulai berkaca kaca . Dia memeluk Raisa dengan erat .


" ssttt ...ssttt... sudah ah. kog kita jadi mulai cengeng sih . kamu harus tahu , dek ... aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu sampai kapan pun " . Raisa melonggarkan pelukan dan menyusut air mata di pipi Kania .


" yuk nanti kita terlambat " . ajak Raisa sambil melangkah dan tangan nya tidak melepaskan genggaman tangan Kania .


kedua nya berlari kecil dengan penuh semangat meninggal kan rumah dan siap menuju jalan besar tempat bertemu nya mereka dengan Aida dan Rinrin .


Betul saja , dari kejauhan mereka sudah melihat Aida dan Rinrin dengan ekspresi wajah yang sudah kesal .


Mereka pun berjalan tergesa gesa menuju sekolahan .


Terpancar bahagia di kedua wajah Kania dan Raisa . Mereka berdua mengacuhkan Omelan yang terus menerus keluar dari mulut Aida .


Rinrin tak kalah sibuk nya nyerocos terus seputar idola kakak OSIS nya .


Sampai tak terasa langkah mereka tiba depan gerbang sekolahan . Bunyi bel terdengar dari kejauhan . Pintu gerbang baru setengah nya di tarik sama Pak Jono penjaga gerbang sekolahan . Mereka berlari sekencang mungkin dan berhambur menuju kelas mereka masing - masing .


" huff... Save by the bell ." Rinrin menyeka peluh di kening nya saat memasuki kelas dan bangku nya . Keringat menetes membanjiri . Rinrin yang bertubuh tambun memang mudah berkeringat .


" Maaf yah , Rin . Gara gara aku sama kak Raisa , kamu sama kak Aida jadi terburu buru . Janji deh , besok besok kita nggak akan ngulangi nya lagi ". Kania menatap Rinrin dengan sorot mata penyesalan di kursi tempat duduk nya .


" nyantai aja , beb . Lagian sekalian olah raga , biar badan aku nggak terlalu gemuk . Jadi kan aku bisa percaya diri PDKT sama kak Gugum ". Rinrin menatap tersenyum kania dengan tatapan mata yang tulus terpancar .


Rinrin memang gadis baik dan ramah . walau pun seharian kemarin dia di beri sikap yang menyebalkan oleh Kania , dia masih saja bersikap baik . Beruntung Kania mendapat sahabat sebangku yang baik seperti dia