
Setiap hari nya Kania di isi dengan perhatian dan kemesraan dari Sultan , kejutan - kejutan dan ucapan dari Sultan selalu membuat Kania melambung terbang dalam dunia indah nya .
Cinta yang di rasakan Kania pada sultan , setiap hari nya kian bertumpuk , separuh napas dan hidup nya adalah milik Sultan .
Namun kebahagiaan Kania pun tak berlangsung lama , tepat menginjak hubungan mereka dua bulan , Kania merasakan perubahan sultan .
Sultan selalu menghindari Kania , setiap Kania menghampiri sultan ke ruangan kelas nya , sultan pun mengacuhkan diri nya .
Kania mencoba menelaah kesalahan apa yang dia lakukan , sehingga Sultan terus - terusan menghindari nya
Kini wajah murung selalu menghiasi hari nya Kania , air mata nya selalu mengalir tanpa dia sadari . keceriaan seolah - olah terenggut dari nya , rasa bahagia yang melambung tinggi di hempaskan dalam sekejap
Sahabat - sahabat yang menyayangi nya pun tidak bisa diam begitu saja , mereka ikut bersedih melihat keadaan dia yang seakan tidak ingin hidup lagi
" Kania , ayo lah jangan menangis lagi ", Rinrin mengusap rambut Kania yang tertungkup di atas meja , suara lirih Isak tangis Kania membuat nya ikut perih . " hidup mu terlalu berharga untuk menangisi lelaki seperti dia , lepaskan lah dia ... ", ucap nya lagi
" tapi gue cinta banget sama dia Rin , cinta pertama dan ciuman pertama gue udah di renggut sama dia ", suara nya lirih bercampur dengan Isak tangis nya
Cicie dan Yena yang duduk di meja depan mereka pun membalik kan duduk nya , mengusap lembut pergelangan tangan Kania memberikan kekuatan pada nya untuk tegar
" hiks , hiks ... salah gue apa coba sama dia ?! , perasaan kemaren - kemaren kita masih mesra , kita nggak pernah berantem ", sambil menyeka air mata nya yang terus mengalir
Teman - teman nya menghampiri meja Kania dan mulai memberikan semangat
" dud , kamu coba deh tanyain sama si Sultan , ada masalah apa sama hubungan mereka ?", Rieka menyuruh dudi , pacar nya , untuk menanyakan perihal hubungan sultan sama Kania , karena Dudi bersahabat dan bertetangga dengan Sultan .
" iya nanti aku cari momen yang tepat buat ngobrol sama dia ", jawab Dudi sambil mengusap kasar muka nya dan mencoba berpikir mencari cara
Di saat guru menerangkan memberi mata pelajaran pun Kania tidak bisa berkonsentrasi , pikiran nya menerawang dalam kenangan kisah cinta nya
Heru , Apep , Virga dan Ivan yang selalu menjahili diri nya pun kini merasa iba pada nya . Tak ada lagi canda tawa di dalam kelas di antara mereka , seakan - akan ikut merasakan kesedihan diri nya .
Bel bubaran sekolah pun berbunyi , murid - murid berlomba - lomba berhamburan keluar kelas melepaskan penat mereka tentang pelajaran .
Kania masih terdiam di bangku tempat duduk nya , meski ruangan kelas mulai sepi . Sahabat - sahabat nya masih setia menunggu di depan kelas .
berjalan lesu melangkahkan kaki nya keluar ruangan kelas nya , langkah kaki nya terasa berat berjalan , tak ada gairah hidup di pancaran wajah nya
Kania yang sedari tadi menunduk kan wajah nya pun kemudian melihat satu persatu wajah - wajah sahabat nya satu persatu . Ada rasa haru di hati nya , di saat dia sedang rapuh sekarang ini , mereka selalu bersama nya
Kania berusaha tersenyum kemudian mengangguk atas ajakan sahabat - sahabat nya . Dia memandang ke seluruh sudut sekolahan nya , suasana tampak mulai lenggang , hanya ada beberapa murid yg tersisa
" gue mau ke toilet dulu ya , kalian tungguin aja depan gerbang ", ucap Kania dan hendak melangkah ke arah toilet
" gue antar ya ? ," tanya yena yang merasa khawatir takut terjadi apa - apa dengan sahabat nya
" nggak usah , gue cuma sebentar kog , lagian gue nggak akan bunuh diri ", jawab nya sambil terkekeh berusaha becanda menenangkan kecemasan sahabat - sahabat nya
Kania memasuki toilet wanita yang hanya terdiri dari empat ruangan , toilet pria dan wanita hanya di batasi setengah tembok antara atap dan lantai .
saat dia membasuh wajah nya di depan cermin , dia tertegun menatap wajah nya yang begitu kusut , dia pun mengambil bedak tabur di dalam tas nya , agar wajah nya tidak terlalu pucat
samar - samar dia mendengar suara percakapan di toilet pria yang hanya di batasi dinding berlubang , mau tak mau telinga nya pun dia tajam kan untuk curi dengar
" terus kenapa kamu berusaha menghindari nya ? , menurut ku sih ... mending kamu jujur sama dia , aku nggak bisa bantu kamu lagi ! ", suara cowok di belakang tembok berkata dengan nada mengancam
Kania mengerenyitkan kening nya , seperti nya dia hapal suara tersebut , penasaran Kania mendekatkan lagi telinga nya berusaha lebih jelas lagi dengan percakapan mereka
suara tarikan napas kasar terdengar dari lawan bicara lelaki yang tadi mengancam
" Kamu tahu kan sebenarnya aku nggak cinta sama dia ?! , dendam ku sudah terbalas kan sekarang ", diam sejenak ," aku ingin dia merasakan bagaimana rasa nya di putuskan seseorang saat cinta mulai tumbuh , itu lah yang aku rasakan waktu Cicie mutusin aku , dan itu pun bukan kemauan dia ", suara itu mulai meninggi dan terdengar amarah yang terluapkan
" heuhh , nggak mungkin aku jatuh cinta sama dia yang sudah pernah menghina ku karena di mata nya aku culun ! "
itu kannn ,,, i-itu suara Sultan kekasihnya .Batin Kania
Jedarrr !!! Kania seolah tersambar petir mendengar pengakuan dari Sultan , dada nya seperti di pukul sebuah palu godam ,tubuh nya merosot ke bawah , tubuh nya lunglai seketika , luluh lantak seperti tak bertulang
kedua bola mata nya membesar seketika , seakan tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, air mata nya mulai mengalir deras di kedua sudut mata nya , kepala nya terasa berat , pandangan mata nya mulai berlubang - kunang
BRUKK ... tubuh Kania pun jatuh ke lantai tak sadar kan diri saat itu juga