
Kania membuka mata nya dan mengerjap - ngerjapkan nya . Cahaya lampu yang terang menyilaukan penglihatan nya . Dia picingkan kedua mata nya , lalu dia mengedarkan kedua bola mata nya ke semua penjuru . Tampak ruangan serba putih terlihat . Pergelangan tangan nya terasa nyeri , kepala nya masih terasa berat .
Dahi nya berkerut saat melihat seorang wanita berpakaian putih memasuki ruangan nya dan mulai memeriksa diri nya . Lalu Wanita berpakaian putih itu berlalu meninggalkan diri nya yang masih penuh tanda tanya .
Di manakah aku kini ? apa yang telah terjadi ? , batin nya .
Tak berselang lama muncul lah satu persatu wajah yang tak asing bagi diri nya , dari balik pintu ruangan itu .
Mama , papa , raisa , ana , berjalan menghampiri diri nya dengan mata yang terlihat sembab .
" Nak , syukurlah kamu sudah sadar ", ucap mama sambil memeluk dan menghujani ciuman di pipi dan kening nya .
" Emang nya aku kenapa , ma ? ", tanya kania yang masih belum sepenuh nya mengingat .
Raisa menggenggam dan mengusap pergelangan tangan nya , lalu dia berkata , " kamu pingsan dari kemaren , de . emang kamu gak ingat ? ".
Kania terdiam dan mencoba mengumpulkan ingatan nya .
Tok ... tok ... tok . Pintu ruangan di ketuk , lalu muncul mami dan papi nya andre dari balik pintu .
" Kania ". Mami andre menghampiri nya , lalu memeluk tubuh nya sambil menangis terisak - isak .
" Maafin andre , yah , kalo dia pernah punya salah sama kamu , nak . Relakan kepergian nya . Maaf , kami tidak menunggu mu untuk pemakaman nya ".
Kania melepaskan pelukan mami andre dan menatap raut wajah mami . Ingatan nya sedikit - sedikit terkumpul , walau dia merasakan sakit yang mendera di kepala nya .
" Mas andre kenapa , mam ? , mana dia ? kania kangen dia ".
Mami andre menjadi ambigu , dia menghentikan tangisan nya dan menolehkan kepala nya pada mama dan papa nya kania . Dia bingung dengan kania yang seperti hilang ingatan .
" Papi , ana ... mas andre di mana ? kenapa dia tidak datang menengok ku ? ". Kania memberondong pertanyaan sembari menangis tersedu - sedu . Mata nya menatap satu persatu wajah mereka .
Semua orang tertunduk dengan air mata berlinang , mereka tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan dari kania .
Papa mengusap kepala nya dan berkata ," andre sudah meninggal , nak . Relakan kepergian nya , jangan memberatkan diri nya , dia sudah tenang di surga ".
" Mam , ma , kak , ana ... betulkah itu ? ". kania mandangi mereka bergantian . Mereka pun mengangguk pelan lalu menunduk , menyeka air mata yang menetes di mata nya .
" Tidaaakkk ! , tidak mungkin ! . Bukan kah kami akan menikah bulan depan ? ". Kania menggeleng - gelengkan kepala nya . Pandangan mata nya kosong lurus ke depan .
" Tiddaakkk !!! , tidakk , masss , jangan tinggalin aku , mas ! , bawa aku , mas ! ".
Kania menjerit - jerit histeris sembari menutup kedua telinga nya dengan kedua telapak tangan nya . Dia melemparkan bantal dan mencoba menarik infusan di pergelangan tangan nya .
" Kania , sadar , nak ". Papa nya berusaha merangkul diri nya . Ana dan raisa memegang tangan nya untuk mencegah diri nya mencabut selang infusan .
Tak berapa lama dokter dan perawat datang memasuki ruangan . Buru - buru dokter menyuntikan obat penenang ke lengan kania di bantu perawat yang memegang tubuh dan lengan nya .
Kania meronta - ronta mencoba melepaskan tubuh nya . Suara teriakan nya perlahan - lahan mulai melemah , kemudian tak lama badan nya terkulai jatuh lemas di kasur pesakitan .
Suara isak tangis keluarga nya silih berganti . Mereka iba dan kasihan terhadap kania yang masih terpukul dan belum menerima kenyataan .
Dokter pun meminta dengan sopan pada keluarga nya untuk membiarkan kania beristirahat .
" Dok , bagaimana keadaan anak saya ? ", tanya papa dengan wajah cemas saat mereka berada di luar kamar .
Dokter cantik yang menangani kania membetulkan letak kacamata yang bertenger di batang hidung nya yang mancung , lalu dia berkata ," pasien mengalami depresi akut , dia ---. "
" Depresi akut ??? " . Pertanyaan serentak keluar dari mulut keluarga nya dengan suara yang meninggi dan bola mata yang membesar .
Dokter mengangguk dan melanjutkan perkataan nya yang tadi sempat terpotong ." Saya harap jangan terlalu memaksa ingatan nya untuk mengingat kejadian yang membuatnya terluka . Penyakit nya tidak terlalu berbahaya . Jika jiwa pasien sudah mulai tenang dan stabil , mungkin si pasien sudah bisa mengingat nya sendiri dan tidak akan sehisteris seperti sekarang ini ".
" Kira - kira berapa lama untuk bisa stabil lagi , dok ? " , tanya mama sembari sesengukan .
" Selain obat, support dari kalian juga selaku pihak keluarga nya bisa membantu cepat kesembuhan nya . Pasien mengalami syok , karena tubuh nya terlalu lemah , dia juga terlalu kencang pikiran nya " .
lalu dokter pamit undur diri pada keluarga kania yang masih tidak percaya dengan sakit yang di derita kania .