
Cicie mengerenyitkan kening nya , tidak seperti biasa nya Kania bersikap seperti ini , mengangukan pelan kepala nya , senyum kecil terlihat di bibir nya yang mungil
" iya , gue janji ! ", Cicie memberi kepastian untuk pertanyaan Kania
" emm , maafin gue , cie ", menarik napas nya dengan kasar , menatap manik di kedua bola mata Cicie , " loe marah nggak kalo gue jadian sama sultan ? ", tanya Kania penuh rasa was - was
" hhhh ??? loe sama sultan ?! ", Cicie malah bertanya balik pada Kania , kedua bola mata nya membesar , seakan tak percaya dengan kata - kata yang terucap dari mulut Kania , mulut nya ternganga lebar , kedua telapak tangan nya kemudian secepat nya menutupi mulut nya yang terbuka kaget
" gimana cerita nya loe bisa jadian sama dia ? " sambung Cicie lagi , setelah beberapa saat suasana hening sejenak
Kania menunduk pelan , tak kuasa lagi untuk menatap wajah Cicie , perasaan bersalah mendera di dada nya . lama Kania diam terpaku , memikirkan bagaimana dia akan menceritakan dan mencoba merangkai kata - kata untuk menjelaskan pada nya .
Kedua nya melangkahkan kaki nya perlahan , dari kejauhan nampak terlihat gedung sekolah mereka . Cicie masih menatap Kania yang berjalan di sebelah nya , masih menunggu dan mencari jawaban dari nya
" kejadian nya pas waktu bikin tumpeng di rumah gue , dia datang bareng dudi ", Kania terdiam sambil mencoba mengingat lagi bagaimana awal cerita nya ," loe tahu gue nggak suka sama dia dari dulu juga , gue juga bersikap jutek sama dia ", mengayunkan pelan langkah nya yang sebentar lagi jarak mereka semakin dekat menuju gerbang sekolah
" gue lupa lagi gimana mula nya dan siapa yang memulai duluan , cie ", Kania menolehkan wajah nya dengan sendu , mencoba berani menatap wajah Cicie ," yang pasti nya , kejadian nya begitu cepat gue bisa akrab sama dia , dan ... ", Kania menghentikan cerita nya saat mereka telah sampai gerbang sekolah , dan dia rasa tidak mungkin untuk bercerita dengan suasana yang mulai riuh suara siswa - siswi di sekeliling mereka
sampailah mereka di depan kelas nya yang bersebelahan dengan kelas sultan , tampak di depan pintu kelas sultan , masih ada sebagian anak - anak yang masih nongkrong , salah satu nya Sultan yang duduk dengan posisi jongkok dan sedang bersenda gurau dengan teman - teman nya
langkah Kania pun langsung terhenti saat mata nya melihat keberadaan sultan , kedua nya saling berpandangan . Kania menundukan wajah nya dengan perasaan yang berdebar kencang saat melihat wajah sang pujaan hati nya , sedang kan sultan langsung menolehkan tatapan nya ke arah Cicie , senyum tersungging di sudut bibir nya yang di tarik satu .
Ketika langkah Kania dan Cicie sebentar lagi mendekati pintu kelas mereka , sultan pun langsung berdiri lalu menghampiri mereka berdua , tangan nya menggapai telapak tangan Kania dan sontak dia pun menghentikan langkah nya dengan kaget , wajah nya malu saat melihat ke sekeliling , semua mata tertuju pada mereka berdua , bahkan Cicie yang berjalan di sebelah nya pun ikut menatap mereka
" apa an ? ," tanya Kania dengan nada pelan dan langsung menundukan wajah nya yang tak kuasa untuk menatap wajah pujaan nya , kedua pipi nya terlihat merah merona
" nanti pulang nya kita maen dulu ke rumah Robi , Beb ", ucap Sultan dengan nada yang di keras kan
Sontak suara riuh terdengar dari semua mata yang sedari tadi tertuju ke arah mereka berdua . Bahkan bergantian dengan suara suitan dari cowok - cowok yang menggoda mereka
" iya ", gumam Kania menahan malu . secepat nya dia menarik pergelangan tangan Cicie dan menyeret langkah nya memasuki ke dalam kelas nya