First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 32



Pagi - pagi sekali Kania bangun , setelah sholat shubuh dia pun sudah bersiap menunggu mama dan papa nya pergi kerja . Dengan semangat 45 dia mengerjakan pekerjaan rumah , dari mulai beres - beres rumah , mengepel dan mencuci piring . Biasa nya pekerjaan rumah di bagi tugas dengan kakak nya Raisa , tapi hari ini dia mengerjakan semua nya dengan senang hati .


iya , dia tidak ingin mama dan papa nya keburu pergi tanpa sempat dia mengabari kedatangan Andre yang akan melamar nya .


" waduh , tumben nih , si bungsu bangun nya pagi bener ", Suara mama nya yang sedang berjalan menuruni tangga membuat nya kaget


" ish , mama nih , buat aku kaget aja ! , gimana coba kalo Kania jantungan ?! ", ujar nya yang sedang mengelap lemari mainan


" hehehe ... lagian harus nya mama dong , yang kaget , gak biasa nya si bungsu rajin seperti ini ? , ada angin apakah gerangan ? ", mama menyeret kursi meja makan yang sudah terlihat reyot , kemudian mama pun mendudukkan pantat nya dan mengambil selembar roti yang berada di atas meja


" Emang nya selama ini aku gak rajin , ma ? ", gerutu Kania . Dia melangkah kan kaki nya ke rak lemari mengambil gelas dan sebungkus kopi , lalu dia menyeduh kopi dan memberikan pada mama nya .


" Ma , papa kok , belum turun sih? ", tanya Kania . Dia menyeret kursi di hadapan mama nya dan menduduki nya .


Mama yang sedang sibuk mengoles roti dengan selai pun memalingkan wajah , lalu menatap kania heran . " tumben kamu nanyain papa ? , sudah habis uang bulanan nya ? ", mama melengkungkan bibir nya dan mulai memasukan roti ke dalam mulut nya


" bukan , ma . Ada hal penting yang mau Kania omongin , nih ", ucap nya gelisah . Dia pun beranjak bangkit menuju dapur untuk menyeduh kopi buat papa dan Raisa


" sebentar lagi juga , papa nanti turun ", sahut mama nya . Tangan mama bergerak ke dalam tas yang sudah dia bawa dari tadi . Mama pun sibuk berdandan hendak pergi kerja


TAK , TOK , TAK , TOK ... terdengar suara derap sepatu menuruni anak tangga satu persatu . Papa Kania sudah terlihat rapi memakai kemeja batik berwarna coklat tua , dan warna nya pun sudah terlihat memudar . Celana kain yang di pakai nya pun sudah nampak lusuh .


Wajah papa terlihat mulai keriput di sana sini , nampak jelas lelah tergambar di raut wajah nya . Kania memandangi wajah papa dan mama nya bergantian , sedih rasa nya , seharus nya di masa tua nya , mereka sudah tak seharus nya bekerja banting tulang seperti ini .


Kania ingin sekali menggantikan beban mereka , namun mama dan papa nya serta Raisa bersikukuh jika Kania harus mendapatkan gelar sarjana , setidak nya nanti dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang tentu nya besar .


Beruntung nya dia mendapat beasiswa untuk kuliah nya , setidak nya itu mengurangi beban biaya orang tua dan kakak nya .


Raisa hanya menyelesaikan sampai sekolah menengah atas saja , dia tak ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan alasan ingin membantu biaya keluarga . Karena kegigihan dan rajin nya Raisa menabung , kini dia mempunyai outlet kosmetik kecil di tengah kota


" Pa , Kania udah bikinin papa kopi sama roti , nih ", Kania menyeret kursi di sebelah mana nya , agar papa segera duduk di meja makan


" makasih , sayang ", papa nya tersenyum lalu duduk di kursi yang sudah Kania sedia kan


Meja makan kecil di sebelah dapur itu hanya berisikan empat buah kursi kayu yang sudah tua dan agak reyot .


" em , ma ... pa , Kania mau bicara nih ", ucap Kania ragu - ragu . Tangan nya sibuk mengoles roti dengan selai untuk nya


" bicara lah ... tumben harus minta ijin dulu ", sahut papa nya heran


" besok lusa Andre dan keluarga nya hendak datang ke rumah , dan ...", Kania tertunduk dan terlihat bingung untuk menyampai kan nya


" Andre yang di Amsterdam itu ? , sodara nya Yuliana ? ", tanya mama mengerutkan kening nya. Mama nya memang sudah tahu perihal hubungan Kania yang LDR an sama Andre , namun mama tidak menyangka bahwa Andre serius menjalin hubungan dengan putri bungsu nya


Kania menganggukan kepala nya , lalu dia pun mulai mencerita kan niat serius Andre yang ingin menikahi nya .


Papa dan mama nya terkejut bukan kepalang mendengar cerita dari mulut Kania . " Kania , mama dan papa sangat berharap padamu , nak ", papa menghela napas nya . " tetapi sebagai orang tua , wajib hukum nya dalam agama , jika anak nya meminta untuk menikah . Jika dia baik menurut kamu dan agama mu , kami pun akan merestui ", papa memalingkan wajah nya menatap mama yang duduk di sebelah nya , kemudian melanjutkan lagi bicara nya ," tetapi itu pun harus seijin kakak mu Raisa , karena bagaimana pun juga kamu akan melangkahi nya "


Kania masih diam dengan kepala tertunduk , dia menyimak dan mencerna semua ucapan papa nya . Ada rasa sedih saat dia merasa sebentar lagi harus berpisah dan meninggalkan orang tua nya . Karena mungkin saja dia akan mengikuti Andre untuk tinggal menetap di Amsterdam .


Tak berselang lama , Raisa pun muncul dari kamar nya . Rambut nya masih terlihat berantakan dengan masih memakai baju tidur nya . Mulut nya menguap tanda masih mengantuk . Dia pun heran saat melihat suasana di meja makan masih ada orang tua nya di jam segini , yang seharus nya mereka sudah pergi bekerja .


"eh , tumben mama sama papa belum pergi ? ", sapa nya , sambil menarik kursi di sebelah Kania . Kania pun menoleh pada Raisa dan menyodorkan segelas susu yang sudah dia bikin sebelum nya untuk Raisa .


Papa nya kemudian menceritakan dan menjelaskan perihal pernikahan adik semata wayang nya . Awal nya Raisa terkejut mendengar semua nya , namun setelah terdiam dan berpikir sejenak , dia pun mulai berkata sambil menatap satu persatu wajah orang tua dan adik kesayangan nya.


" de , kakak merestui kalian ... jika dia membuat mu bahagia nanti ", ucapnya sambil tersenyum


Kania yang sedari tadi harap - harap cemas pun tak menyangka bahwa Raisa akan menyetujui pernikahan nya dengan Andre . Mata nya berkaca - kaca sambil menatap kedua manik bola mata kakak nya . Kemudian dia pun menangis dan memeluk kakak nya


" terima kasih , kak ... terima kasih sudah mau mengerti dan merestui kami . hiks ... hiks ... aku sayang sama kakak ", ucap nya sambil menangis terisak - Isak


Raisa mengeratkan pelukan Kania , tangan nya mengelus pelan punggung Kania . Di kecup nya pucuk kepala Kania , dia tatap wajah adik nya , lalu dia mengusap air mata di pipi Kania .


" kakak juga sayang kamu , de . berbahagia lah dengan pilihan pasangan hidup mu . Doa kakak menyertai mu ", ucap Raisa yang ikut meneteskan air mata nya


Tangis Kania makin menjadi , dia semakin mempererat pelukan kakak nya . Dia bersyukur pada TUHAN , walau pun hidup nya sederhana , namun dia memiliki limpahan kasih sayang dari orang tua dan kakak nya


Mama dan papa nya yang menyaksikan keharuan tersebut , ikut meneteskan air mata bahagia