
Pagi - pagi sekali Kania dan keluarga nya sudah di sibuk kan dengan persiapan penyambutan keluarga Andre. Papa nya sibuk mengecat depan rumah yang sudah terlihat blmemudar cat nya . Mama , Raisa dan Kania sibuk di dapur , memasak ala kadar nya .
" Nia , jam berapa kira - kira keluarga Andre datang ke rumah ? " tanya mama nya . Namun pandangan dan tangan nya tetap sibuk di depan penggorengan .
" semalem udah berangkat dari Amsterdam nya , ma . Mungkin sore ini sampai nya " jawab Kania , dan tangan nya tetap sibuk menggiris kentang .
" kata Andre sih , kerumah Yuliana dulu ... baru maleman ke sini nya , barengan keluarga yuliana ", sambung nya lagi .
πππ
Selepas sholat maghrib , kania pun sibuk berdandan di kamar nya . Terlihat nampak tegang di wajah nya , berapa kali dia membetulkan riasan di wajah nya , yang menurut nya hasil nya tidak begitu memuaskan .
" Ih , kesel ", Kania merengut kesal , di lemparkan nya tisu bekas menyusut make up nya . Dia pun terduduk di depan meja rias nya .
" eh ... eh , eh ... kenapa Ade ku masih belum siap ? ". Raisa yang tiba - tiba masuk ke kamar nya Kania pun melongo heran melihat adik nya yang diam mematung di depan cermin .
Kania menolehkan kepala nya ke pintu , tampak raisa yang sedang bersidekap dada menggeleng - gelengkan kepala ke arah nya .
" Aku gugup , kak ", ucap nya sambil tertunduk lesu . " Riasan aku ... kok , gak rapi - rapi , yah ?! ". Wajah nya menatap cermin di hadapan nya .
Raisa tersenyum melihat tingkah adik semata wayang nya itu . " Bukan nya gak rapi , de ... itu karena kamu nya aja , nervous . Sini kakak bantu ". Dia pun mendekati kania dan membetulkan riasan nya .
Setelah menghabiskan waktu sektar dua puluh menit , raisa pun tersenyum puas menatap hasil karya nya . " Nah , selsai ", ujarnya sambil membentangkan kedua tangan nya dan bertepuk tangan puas . " Kamu memang dasar nya udah cantik , de ... jadi tak perlu waktu lama buat dandanin kamu ", ucap nya lagi .
" Sama - sama , de . Kakak akan melakukan apapun agar kamu bahagia ", sahut raisa sambil memeluk erat tubuh Kania .
" Jadilah istri yang sholehah , patuh sama suami kamu , de ". Raisa melonggarkan pelukan nya dan menatap wajah adik kesayangan nya .
" Kak , aku sayang kakak selama nya . Makasih untuk semua kasih sayang kakak, dan selalu ada di saat aku membutuhkan kakak ", ucap Kania menahan Isak tangis . Mata nya sudah mulai berkaca - kaca menatap kedua bola mata raisa .
" Ish , udah jangan nangis ! , nanti luntur lagi dong , make up nya ". Raisa menyeka air mata yang mulai mengalir di pipi kania . " Lekas pakai gaun nya , nanti andre sama keluarga nya keburu datang ".
Kania pun mengangguk dan melepaskan pelukan nya . Dia kemudian melangkah menuju lemari dan mengambil gaun yang baru di beli nya kemarin bersama yuliana .
" Kak , aku cocok gak pake gaun ini ? ", tanya Kania sambil mencoba memakaikan gaun nya . Gaun selutut warna coklat muda , dengan renda kecil di bawah nya , tampak terlihat indah di tubuh Kania yang mungil .
" Perfect ! " . Raisa membulatkan telunjuk nya dan mengedipkan sebelah mata nya sambil tersenyum .
TOK ... TOK ... TOK , suara ketukan pintu ruang tamu terdengar sampai ke kamar Kania . Kania pun terlonjak kaget mendengar nya .
" Kak , itu pasti andre sama orang tua nya . Gimana nanti kalo orang tua nya gak setuju sama aku ? ". Kania terlihat panik dan mulai mondar mandir di dalam kamar nya yang berukuran kecil .
" Husst , jangan dulu berburuk sangka ! . Ayo kita ke depan , kasihan nanti mereka nunggu lama ". Raisa menjulurkan tangan nya mengajak kania