First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 41 ( MENCARI JAWABAN)



Kania memarkirkan mobil pemberian andre di halaman rumah yuliana . Pagi ini dia sengaja datang kesana untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenar nya .


Mata nya masih bengkak akibat menangis semalam , dia lalu mencari - cari kaca mata hitam di dashboard mobil nya .


Dia pun segera memakai kan kaca mata nya dan beranjak keluar dari mobil , melangkah masuk ke dalam rumah yuliana .


TING TONG ...


Dia menekan keras - keras bel di sebelah pintu rumah dengan tak sabaran . Semoga saja teman nya itu belum pergi melakukan aktifitas nya , dalam hati kania .


Tak berselang lama ibu yuliana membuka pintu , sesaat setelah melihat dari balik jendela siapa yang memencet bel rumah nya .


" Kania - aa ? ". Ibu tampak gugup saat melihat kania berdiri di hadapan nya .


" Assalamualaikum , bu . Ana nya masih ada di rumah ? ", sapa kania sembari mencium telapak punggung ibu ana .


" em , anu ... em , dia ... "


Kania mengerenyitkan dahi nya heran . Kenapa ibu nya ana bertingkah gugup saat melihat nya . Seperti ada sesuatu yang beliau tutupi , pikir nya dalam hati .


" Kenapa , bu ? ". Kania membuyarkan lamunan ibu ana yang semula terdiam tampak kebingungan .


" Masuklah dulu , nak . Biar nanti ana yang jelas kan ", sahut ibu sambil tak berani menatap wajah kania .


" Ana masih di kamar nya . Pergilah ke sana ! ", sambung beliau kemudian segera berlalu meninggalkan Kania yang masih diam termangu .


Dia pun berusaha menepis pikiran - pikiran aneh di benak nya . Lalu dia segera menuju ke kamar ana dan mengetuk nya .


TOK ... TOK ... TOK


" Assalamu'alaikum . Ana , ini gue kania . Bisa gue masuk ". Panggil kania di depan pintu kamar ana .


Tak ada sahutan di dalam kamar . Kania pun mencoba mengetuk nya lebih keras . Mungkin ana masih tidur , pikir nya .


Setelah lumayan lama dia menunggu , pintu kamar pun terbuka , lalu seraut wajah dengan rambut yang masih acak - acakan muncul di balik pintu .


" iya , ini gue . napa lo kayak lihat hantu , sih ?! " , ucap Kania ketus .


Rasa penasaran dan keheranan pun bertambah di benak kania melihat tingkah orang - orang yang baru saja dia temui .


Kania menyerobot masuk ke dalam kamar , lalu dia rebahkan tubuh nya ke atas kasur dan membuka kaca mata hitam yang bertenger di hidung nya .


Ana hanya diam mematung melihat kania . Dia hanya berdiri dengan wajah yang pucat dan tampak gelisah .


" Gue heran lihat tingkah lo sama nyokap lo , na ! . Jangan - jangan lo udah tau kalo andre mutusin gue ?! ", ucap kania penuh selidik .


Ana menundukan kepala nya . Dia terdiam seribu bahasa . lalu dia tengadahkan kepala nya setelah dia mengumpulkan keberanian .


" Kan , lo mending pulang dulu ke rumah . Ntar gue sama agus ke rumah agak siangan ", ucap nya sambil menatap sayu wajah kania .


Lagi - lagi kania mengerenyitkan dahi nya tak mengerti . Kenapa seolah - olah mereka menyembunyikan sesuatu .


" Na , ada apa dengan kalian ? . Kenapa kalian bikin gue penasaran kayak gini ? ". Suara kania mulai meninggi . Mata nya suda terlihat berkaca - kaca .


" Nanti gue bakalan jelasin ke elu . Tapi sebaik nya lo tenangin dulu di rumah . Gue pasti ke sana bareng agus ", ucap nya sembari mengusap lengan kania yang duduk di sebelah nya . Dia berusaha mencoba menenangkan teman nya yang mulai panik .


" Ngapain coba harus di rumah gue segala ? . Emang gak bisa jelasin sekarang ?! ". Kania mulai terlihat emosi dan kesal .


" Gue janji , ini yang terakhir bikin lo penasaran "


Kania menatap tajam wajah ana . Sungguh dia merasa seperti terombang ambing di lautan yang bergulung ombak . Dia terdiam mencari kejujuran di kedua manik bola mata ana .


" Baiklah , gue balik sekarang . Tapi kalo sampe sore Lo gak datang ke rumah gue , pertemanan kita cukup sampai di sini ! " . Ancam nya , sembari berdiri dari tempat duduk nya .


Ana mengangguk pelan dan tersenyum ketir menjawab perkataan kania .


TUHAN , beri kekuatan saat nanti aku menceritakan yang sebenar nya . Batin ana berdoa dalam hati nya .


Kania pun melangkah pulang dengan gontai , sebentar dia membalikan badan nya menoleh ke arah ana yang masih duduk terdiam memandangi tubuh nya . Lalu dia berbalik lagi meninggalkan ana tanpa menoleh lagi ke belakang .