
Kania memarkirkan mobil pemberian andre di halaman rumah yuliana . Pagi ini dia sengaja datang kesana untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenar nya .
Mata nya masih bengkak akibat menangis semalam , dia lalu mencari - cari kaca mata hitam di dashboard mobil nya .
Dia pun segera memakai kan kaca mata nya dan beranjak keluar dari mobil , melangkah masuk ke dalam rumah yuliana .
TING TONG ...
Dia menekan keras - keras bel di sebelah pintu rumah dengan tak sabaran . Semoga saja teman nya itu belum pergi melakukan aktifitas nya , dalam hati kania .
Tak berselang lama ibu yuliana membuka pintu , sesaat setelah melihat dari balik jendela siapa yang memencet bel rumah nya .
" Kania - aa ? ". Ibu tampak gugup saat melihat kania berdiri di hadapan nya .
" Assalamualaikum , bu . Ana nya masih ada di rumah ? ", sapa kania sembari mencium telapak punggung ibu ana .
" em , anu ... em , dia ... "
Kania mengerenyitkan dahi nya heran . Kenapa ibu nya ana bertingkah gugup saat melihat nya . Seperti ada sesuatu yang beliau tutupi , pikir nya dalam hati .
" Kenapa , bu ? ". Kania membuyarkan lamunan ibu ana yang semula terdiam tampak kebingungan .
" Masuklah dulu , nak . Biar nanti ana yang jelas kan ", sahut ibu sambil tak berani menatap wajah kania .
" Ana masih di kamar nya . Pergilah ke sana ! ", sambung beliau kemudian segera berlalu meninggalkan Kania yang masih diam termangu .
Dia pun berusaha menepis pikiran - pikiran aneh di benak nya . Lalu dia segera menuju ke kamar ana dan mengetuk nya .
TOK ... TOK ... TOK
" Assalamu'alaikum . Ana , ini gue kania . Bisa gue masuk ". Panggil kania di depan pintu kamar ana .
Tak ada sahutan di dalam kamar . Kania pun mencoba mengetuk nya lebih keras . Mungkin ana masih tidur , pikir nya .
Setelah lumayan lama dia menunggu , pintu kamar pun terbuka , lalu seraut wajah dengan rambut yang masih acak - acakan muncul di balik pintu .
" iya , ini gue . napa lo kayak lihat hantu , sih ?! " , ucap Kania ketus .
Rasa penasaran dan keheranan pun bertambah di benak kania melihat tingkah orang - orang yang baru saja dia temui .
Kania menyerobot masuk ke dalam kamar , lalu dia rebahkan tubuh nya ke atas kasur dan membuka kaca mata hitam yang bertenger di hidung nya .
Ana hanya diam mematung melihat kania . Dia hanya berdiri dengan wajah yang pucat dan tampak gelisah .
" Gue heran lihat tingkah lo sama nyokap lo , na ! . Jangan - jangan lo udah tau kalo andre mutusin gue ?! ", ucap kania penuh selidik .
Ana menundukan kepala nya . Dia terdiam seribu bahasa . lalu dia tengadahkan kepala nya setelah dia mengumpulkan keberanian .
" Kan , lo mending pulang dulu ke rumah . Ntar gue sama agus ke rumah agak siangan ", ucap nya sambil menatap sayu wajah kania .
Lagi - lagi kania mengerenyitkan dahi nya tak mengerti . Kenapa seolah - olah mereka menyembunyikan sesuatu .
" Na , ada apa dengan kalian ? . Kenapa kalian bikin gue penasaran kayak gini ? ". Suara kania mulai meninggi . Mata nya suda terlihat berkaca - kaca .
" Nanti gue bakalan jelasin ke elu . Tapi sebaik nya lo tenangin dulu di rumah . Gue pasti ke sana bareng agus ", ucap nya sembari mengusap lengan kania yang duduk di sebelah nya . Dia berusaha mencoba menenangkan teman nya yang mulai panik .
" Ngapain coba harus di rumah gue segala ? . Emang gak bisa jelasin sekarang ?! ". Kania mulai terlihat emosi dan kesal .
" Gue janji , ini yang terakhir bikin lo penasaran "
Kania menatap tajam wajah ana . Sungguh dia merasa seperti terombang ambing di lautan yang bergulung ombak . Dia terdiam mencari kejujuran di kedua manik bola mata ana .
" Baiklah , gue balik sekarang . Tapi kalo sampe sore Lo gak datang ke rumah gue , pertemanan kita cukup sampai di sini ! " . Ancam nya , sembari berdiri dari tempat duduk nya .
Ana mengangguk pelan dan tersenyum ketir menjawab perkataan kania .
TUHAN , beri kekuatan saat nanti aku menceritakan yang sebenar nya . Batin ana berdoa dalam hati nya .
Kania pun melangkah pulang dengan gontai , sebentar dia membalikan badan nya menoleh ke arah ana yang masih duduk terdiam memandangi tubuh nya . Lalu dia berbalik lagi meninggalkan ana tanpa menoleh lagi ke belakang .