
Semalam kania sulit memejamkan mata , dia gelisah memikirkan andre yang tengah sakit . Doa terus ia panjatkan untuk calon suami nya .
Alhasil pagi ini mata nya seperti panda , ada lingkaran hitam di sekeliling nya . Dengan langkah gontai dan malas , dia harus tetap melanjutkan aktifitas nya . Mengingat hari ini terakir UAS untuk kuliah nya .
Beberapa kali dia pun menguap di dalam kelas nya . Sungguh dia sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan soal - soal ujian nya .
Menjelang istirahat , dia segera mengecek ponsel nya . Ada beberapa pesan yang dia abaikan , yang dia cari terpenting adalah pesan atau panggilan dari kekasih nya . Namun nihil , sampai siang begini , dia tidak membaca ada panggilan atau pesan dari andre .
Dia mencoba melakukan panggilan beberapa kali kepada andre , tetapi panggilan itu di abaikan , bahkan tak berselang lama ponsel nya tidak aktif .
Kania mencoba berpikir positif , mungkin andre masih sakit dan butuh istirahat . Namun tetap saja dia gelisah dan tak tenang .
Dia mencoba mengirimkan pesan meski ponsel andre tak aktif , setidak nya nanti andre akan membaca nya saat ponsel nya menyala .
-
-
-
Hufff ... Kania menghempaskan tubuh nya ke atas kasur di kamar nya dengan pakaian yang belum dia ganti . Hari ini dia merasakan lelah yang teramat sangat , mungkin karena pikiran nya yang terkuras habis - habisan . Terkuras memikirkan ujian akhir nya , dan memikirkan kekasih nya yang tengah sakit .
Berapa kali dia memeriksa ponsel nya , dan berharap ada kabar dari andre , namun sama sekali tak ia dapati . Hingga dia pun terlelap dengan ponsel yang erat dia genggam di tangan nya .
πππ
" De ... buka pintu nya . Temani kakak makan malam , buruan " . Suara ketukan pintu kamar nya membuat dia terbangun dari mimpi nya .
Dia pun menggeliatkan badan nya ke samping , sembari menguap .
" hoaahh , mimpi yang aneh ", gumam nya .
Dia pun beranjak bangun dari tempat tidur nya . Dia lirik jam di atas nakas kamar tidur nya , jam menunjukan pukul 8 malam . Pantas saja perut nya terasa perih dan terus berbunyi , ternyata sudah waktu nya makan malam .
Dia melangkah dengan gontai menghampiri ruang makan , di sana sudah terlihat raisa yang sedang menunggu nya di meja makan ."
Dengan malas dan tak berselera , dia mulai memasukan nasi ke dalam mulut dan memakan nya . jika bukan karena perut nya yang terasa perih , dia enggan sekali makan malam itu .
" Tumben makan nya sedikit " . Raisa terheran - heran melihat kania yang menyisakan makanan di atas piring nya .
" Iya , kak . Perut ku rasa nya tidak bisa menerima makanan . Maaf , makanan nya gak habis , kak ". Ucap kania dengan wajah bersalah .
" kamu sakit , de ? . Wajah kamu kelihatan pucat ". Kania menatap cemas wajah adik nya . Lalu dia menghampiri kania dan memegang kening nya dengan punggung telapak tangan nya .
" Aku ga pa pa , kok . Mungkin masuk angin , aja ". Kania berdiri dari kursi dan membawa piring kotor nya ke dapur .
" Aku pamit ke kamar , kak . Mau istirahat dan minum obat " . Raisa hanya menganggukan kepala nya . " cepet sembuh , de ", sahut nya .
πππ
Jarum jam menunjukan ke angka 9 . Sudah selarut ini , tetepi andre belum juga memberi kabar .
Dia mencoba mengalihkan pikiran nya dengan membaca buku novel kesayangan nya .
Panggilan telepon membuyarkan konsentrasi nya . Penuh semangat dia meraih ponsel nya di atas nakas samping tempat tidur nya .
Gembira bukan main takala dia melihat nama kekasih yang menghubungi nya . Secepat nya dia bergerak menggeser layar tombol hijau nya .
" Assalamualaikum , sayang . Kenapa baru menghubungi ku ? . Kamu gak tau gimana gelisah nya aku seharian ini memikirkan kamu ? . Kamu udah ke dokter belom ? . Kania bertubi - tubi memberondong pertanyaan .
Hening tak ada suara jawaban sama sekali . Hanya terdengar suara hembusan napas yang berat dan suara bunyi jangkrik di seberang sana .
" Halo ? . Halo , mas ? ". Kania terlihat mulai kesal takala tidak mendapat jawaban setelah dia menunggu beberapa lama nya .
" Mas ? " . Kania pun mendengus kesal .
Tak berapa lama dia pun merasakan suasana yang mencekam di sebrang sana . Bulu tengkuk nya terasa berdiri semua , namun dia pun mengabaikan perasaan yang tak enak itu . Dia terdiam dengan tangan yang masih memegang ponsel di telinga nya .
" Kaniaaa ... selamat tinggal ". Suara serak dan berat terdengar di telinga kania .
" Mas apaan sih ? . Gak lucu , tau ! ", bentak kania .
" Selamat tinggal ... Kania ". Suara itu mengulang lagi kalimat nya .
" Mas-s ! , maksud nya apa ? . Aku punya salah apa ? . Kenapa berkata kayak gitu ? "
Kania mulai sesengukan .
Tuutt ... tuutt
Nada panggilan berakhir pun terdengar memekak kan di telinga kania .
" MASSS ? ". Kania berteriak sekencang nya memanggil andre yang menutup telepon nya secara sepihak .
Lalu dia mencoba menghubungi andre balik . Tetapi hanya bunyi operator telepon yang ia dengar berbicara di telepon nya itu .
" Maaf , nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan ". Malahan tak berapa lama telepon nya non aktif .
Dia pun menangis sekeras nya di atas tempat tidur nya . Raisa pun berbegas menuju kamar adik nya .
" Kenapa , de ? ", Raisa terlihat panik , lalu menghampiri kania yang sedang menangis histeris .
" Andre , kak ... andre mutusin aku ". Kania menghambur memeluk raisa . suara tangis nya makin menjadi - jadi .