First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 18



🌟 Bantu Vote , like & komen nya ya , Kaka2 yang cantik dan ganteng , dan semoga kebaikan kalian di balas oleh yang MAHA KUASA πŸ˜‡ Aamiin 🀲 Terima kasih , sayanggg kalian πŸ™πŸ€—


🌾🌾🌾


Semalaman Kania tidak bisa tertidur , tubuh nya berguling ke sana kemari di atas tempat tidur nya . Wajah pujaan hati nya terus terbayang di pelupuk mata nya , lembut bibir nya masih terasa menempel di bibir nya , kata - kata cinta masih terus terngiang di telinganya , saat pujaan hati nya mengatakan , " jangan menangis , Kania ,,, aku sayang kamu " . sebuah kalimat yang akan selalu dia ingat seumur hidup nya .


inilah kali pertama Kania merasakan arti nya jatuh cinta , merasakan seperti apa berciuman bibir , sungguh rasa nya indah jatuh cinta , serasa terbang ke awang - awang . Hidup nya terasa jauh lebih indah dan berwarna , senyum selalu terukir di wajah nya . Tak tampak lagi wajah ketus dan sikap nya yang selalu cuek dan seenak nya


Setiap melihat ke sudut mana pun , yang tampak hanyalah bayangan wajah kekasih nya , setiap menarik napas , yang terucap dalam tiupan nya , adalah nama sang pujaan hati nya , SULTAN ANGGARA ,,, ! , yaa nama itu lah yang kini mengisi relung hati nya yang terdalam , tersimpan rapi di dalam sanubari nya, terselip dalam setiap doa yang di lantun nya


Hingga saat mata nya terpejam pun , sang pemilik hati nya terbawa dalam buaian mimpi nya . Rasa nya dia enggan untuk terbangun dari dunia mimpi nya


🌾🌾🌾


liburan kenaikan pun telah usai , kebanyakan siswa - siswi malas untuk memulai sekolah lagi , bagi mereka waktu bergerak terlalu cepat


Tapi lain hal nya bagi Kania , dia merasa waktu liburan nya sangat lah lama dan menjenuhkan . Karena dia tidak bisa bertemu dan melihat sang pemilik hati nya


Dengan semangat '45 , dia pun bergegas bangun lebih cepat dari biasa nya . Lama menatap diri depan cermin , wajah nya yang biasa polos dan hanya di taburi bedak bayi , kini dia memoles wajah nya memakai bedak remaja milik kakak nya Raisa . Tak lupa dia pun mengoles bibir nya dengan lupa glow


Seperti biasa nya , sahabat - sahabat Kania sudah saling tunggu di tempat biasa . Saling merindukan satu sama lain , saling menceritakan kegiatan liburan masing - masing .


Di ujung mendekati jalan masuk sekolah nya , mereka bertemu Cicie yang baru saja turun dari angkutan umum . Mereka pun memanggil Cicie , berpelukan dan berjalan beriringan , saling melepaskan kerinduan . Tetapi berbeda hal nya sama Kania , saat melihat wajah Cicie , terbersit perasaan bersalah di hati nya , mengingat dia telah jatuh cinta pada mantan sahabat nya sendiri


" Cie " Kania menghentikan langkah nya dan memandang sosok tubuh Cicie yang lagi bersenda gurau dengan sahabat - sahabat nya


" Yupz " , Cicie pun menghentikan langkah nya dan menolehkan wajah nya menghadap Kania


" gue mau ngomong " , ucap Kania lirih . Mata nya memandang lekat manik hitam di bola mata Cicie .


" sejak kapan pake ijin dulu ?! ", sahut Cicie sambil terkekeh . Sahabat - sahabat nya yang lain saling melirik satu sama lain , seakan mengerti apa yang akan di bicarakan mereka berdua .


Rinrin menarik tangan kemudian mengalungkan tangan nya di pergelangan lengan Rieka dan Yena , mempercepat langkah nya lebih duluan dari posisi Kania dan Cicie . Mereka bertiga memberi ruang buat mereka berdua berbicara


Kania menatap lama wajah Kania , menghela napas dalam - dalam , kemudian menghembuskan napas nya kasar . Melangkah kan lagi kaki nya pelan - pelan , berjalan beriringan berdua


" apa sih yang mau lo bicarain , tegang banget kayak nya ?! " , Cicie menghentikan langkah nya sesaat , menoleh ke wajah Kania


" gue mau jujur , tapi Lo jangan marah ya ?! ", Kania memandang lekat wajah Cicie , " dan gue nggak mau sampe persahabatan kita ancur , meski apa pun yang terjadi ", sambung nya lagi , dan kini jemari tangan nya pun mengambil jemari tangan Cicie , lalu saling memautkan di sela - sela jemari tangan mereka berdua


" iya lah , sampe kapan pun persahabatan kita tetap abadi ", balas Cicie


" janji ?! " , tanya Kania meminta kepastian