First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 42 ( TERNYATA )



Kania sebentar - sebentar melihat jarum jam di pergelangan tangan nya . Hari sudah mulai sore , ana belum tampak menunjukan batang hidung nya . Dia pun mulai gelisah dan berjalan mondar mandir di depan rumah nya .


Tak berapa lama , di kejauhan dia seperti melihat sosok teman nya yang sedang berjalan berdampingan dengan agus di samping nya .


Dia pun menghela napas nya lega . Akhir nya yang dia tunggu - tunggu pun tiba .


Kania segera membuka pagar halaman rumah nya menyambut kedatangan mereka .


Dengan tak sabaran dia menarik tangan ana tanpa basa basi menuju ke dalam rumah nya .


" Ayo , na ... lekas cerita yang sebenar nya ". Tanpa ba bi bu , kania menodong ana untuk segera bercerita .


Kemudian ana menoleh ke agus yang duduk di sebelah nya , seolah - olah meminta bantuan pada adik nya untuk menceritakan yang sesungguh nya .


Agus berdehem sebelum berkata - kata , untung lah dia melihat raisa muncul membawa nampan berisi minuman ke arah mereka dari arah dapur .


Agus dan ana pun beranjak bangkit dari tempat duduk nya dan menyalami raisa secara bergantian .


" Kania menangis dari semalam . Kakak jadi ikut gak bisa tidur lihat dia ", ucap raisa sembari duduk dan melihat ke arah mereka berdua sambil tersenyum .


Suasana hening mencekam . Agus dan ana hanya saling berpandangan dan terlihat gugup .


" Em , mbak nia terakhir komunikasi sama andre , kapan ? ", tanya nya membuka percakapan .


" Semalam , Kira - kira jam 9 an , gitu ", jawab kania polos .


" Hahhh ! , jam 9 ? ", tanya agus dan ana serempak . Kedua bola mata mereka seakan - akan hendak meloncat dari kedua rongga mata nya . Mereka berdua saling berpandangan bingung dan kaget .


Lalu kania menceritakan secara detail kejadian semalam , dan dia berkesimpulan kalau andre memiliki kekasih baru . Mata nya berkaca - kaca saat bercerita .


Wajah agus dan ana telihat pucat pasi saat mendengar cerita dari mulut kania . Agus mengusap lembut lengan ana sembari mengangguk pelan dengan mata nya yang sayu . kemudian dia menatap wajah kania dan raisa yang tampak kebingungan dan menunggu jawaban dari mereka .


" Jadi gini , mbak Kania , mbak raisa ... ". Agus memulai percakapan , kemudian menhela napas nya dengan berat . " Sebelum nya , saya mewakili dari keluarga andre , mau meminta maaf jika andre mempunyai salah pada keluarga di sini . Terutama mbak kania


... ", ucap nya sembari memandang lekat - lekat wajah Kania yang duduk di hadapan nya .


" Tuh , kan , apa gue bilang , na ! ... mas andre mutusin gue itu karena dia punya pacar baru ", potong kania sambil menangis sesegukan .


Raisa mengenggam jemari kania dan mengepal nya , seakan - akan memberi semangat pada adik nya yang tengah bersedih .


Tenggorokan agus seakan tercekat . Lidah nya kelu saat akan melanjutkan cerita yang sesungguh nya . Ana yang duduk di samping nya terus gelisah , dia memaksa agus melanjutkan cerita nya .


" Begini , mbak ... sebener nya , andre dari usia 12 tahun itu mengidap penyakit kanker darah . Om dan tante sudah berusaha mengobati dengan berbagai macam pengobatan dan dokter spesialis terbaik di sini . Namun setelah tidak membuahkan hasil apa pun , dan semakin lama , andre semakin bertambah parah penyakit nya ". Agus diam sejenak , kepala nya tertunduk menahan air mata yang nyaris lolos keluar dari sudut mata nya .


Kania dan raisa tampak tegang mendengarkan cerita agus . Raisa merangkul bahu adik nya , seakan ikut merasakan kesedihan cerita agus .


" Terus ? ". kania yang tak sabaran menunggu lanjutan cerita , mencoba menahan Isak tangis nya .


" Om dan tante mencoba pengobatan ke luar negri , setelah mendengar saran dari teman nya .Setelah beberapa kali bolak balik , Alhamdulillah ada sedikit kemajuan , maka nya mereka memutuskan untuk pindah ke amsterdam saat andre menginjak usia 14 tahun "


Kania merasa napas nya semakin berat . Dada nya seakan terhimpit batu besar . Namun dia masih bersabar menunggu akhir cerita nya .


" Mbak , mbak yakin , sanggup menerima kenyataan yang sebenar nya ? ". Agus mencoba meyakinkan kania .


Kania termangu , mata nya yang tergenang air mata , melirik wajah raisa , ana dan agus secara bergantian . Kemudian dia mengangguk pasrah .


lagi - lagi agus menahan napas sesak di dada nya , lalu dia menarik dan membuang nya dengan kasar . kemudian dia mengusap wajah nya dengan kasar , dan mulai melanjutkan cerita .


" Memang pengobatan nya mengalami kemajuan , itu pun dengan biaya yang luar biasa . Namun pengobatan itu hanya bisa menahan umurnya untuk sementara . Dokter sudah memvonis usia bertahan nya hanya sampai dia menginjak umur 24 tahun . Andre yang sudah mengetahui tentang keadaan diri nya , semula terpuruk dan menyerah , maka nya , dia berjanji dalam hati nya , dia tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita mana pun ".


Agus mulai meneteskan air mata nya dan menyeka kasar dengan telapak tangan nya . Ana hanya bisa menutup wajah nya , tak kuasa lagi mendengar semua nya , walaupun dia tahu kejadian yang sesungguh nya .


Kania menutup mulut nya dengan sebelah telapak tangan nya , Air mata mulai membanjiri seluruh mata dan pipi nya . Raisa mengusap usap punggung kania dengan telapak tangan nya , meski ia juga ikut merasakan kesedihan yang mendalam .


Agus melanjutkan kembali cerita nya , setelah dia rasa emosi nya sudah mulai mereda . Suasana haru dan sedih terasa di ruangan tersebut .


" Dia sengaja mengambil jurusan kedokteran dengan otak dan kepintaran yang dia miliki , berharap suatu saat , dia bisa menemukan obat untuk penyakit seperti yang dia derita . Bahkan janji nya untuk tidak pernah jatuh cinta pun , dia langgar setelah bertemu dengan mbak ". Agus menunjuk sopan ke arah Kania dengan jempol tangan nya , sementara ke empat jari nya di kepalkan ke telapak tangan nya .


" Om dan tante terkejut saat andre mengutarakan keinginan nya , untuk menikahi gadis yang dia cintai . Tentu saja mereka terkejut karena mereka tahu , hanya sebuah ke sia - sia an saja , jika andre jatuh cinta dan menikah . Mereka sudah mempersiapkan mental mereka jauh - jauh hari , saat harus melepas andre dengan waktu yang tersisa . Dan dua hari yang lalu ... ".


Tengorokan agus terasa kering , dia mengambil gelas minum di hadapan nya , lalu dia meneguk nya sampai habis tak bersisa .


Suara Isak tangis silih berganti terdengar dari mereka yang berada di ruangan itu .


" Dua hari yang lalu ... ", ucap agus , melanjutkan lagi cerita nya . " Dua hari yang lalu , Andre koma ... dan , dan ... tepat jam 11 malam tadi , andre menghembuskan napas terakhir nya ".


JEDARRR ...


Kania seperti tersambar petir mendengar kenyataan yang sebenar nya . Kedua bola mata nya melotot , nyaris keluar dari rongga mata nya . Tubuh nya kaku tak bisa ia gerakan . Dada nya seperti di pukul palu godam yang menghantam nya .


" K - ko - kom - aa ?! " , tanya Kania terbata - bata .


Agus mengangguk pelan , kemudian tertunduk , tak kuasa menatap wajah kania .


Kania serentak berdiri , menghampiri kursi ana dan agus . Raisa berusaha menahan pergelangan tangan nya , tetapi ia tepiskan dengan kasar .


" Koma , kata mu , gus ?! ", tanya kania , masih tak percaya . Dia mencoba mencari kepastian sama agus dan ana . Lalu dia berlutut di hadapan ana , kedua tangan nya memcekal bahu ana dan menggoyang - goyangkan nya dengan keras .


" Kalau mas andre koma selama dua hari , lalu siapa yang nelpon gue , na ?! ". Dia berteriak histeris sambil terus menggoyangkan bahu ana dan menangis sekencang nya . Ana hanya mengoyangkan kepala nya pelan dan menangis tersedu - sedu .


" Gue juga nggak tahu , kan . Yang gue tahu , itu kenyataan yang sebenar nya ! . Om gue kasih kabar ke ibu , jam 12 malam . Loe yang tabah , yah , ikhlas kan andre ", ucap ana sembari menangis terisak - isak .


Tubuh kania bergetar hebat , kepala nya terasa berputar - putar , pandangan nya mendadak gelap saat itu juga , kemudian tubuh nya ambruk , jatuh ke lantai .