First Kiss And The Last Love

First Kiss And The Last Love
BAB 44 ( TEGAR )



Keluarga kania dengan sabar dan penuh kasih sayang membantu kania pulih dan bangkit dari keterpurukan nya . Sahabat - sahabat nya semasa SMA berdatangan menjenguk dan memberi support untuk nya .


Hampir sebulan lebih dia berada di rumah sakit , kondisi nya pun berangsur - angsur membaik . Tentu saja itu pun karena dokter dan psikolog terbaik yang di bayar oleh keluarga andre yang membantu menangani nya .


" Nak , mama bersyukur kamu sudah boleh pulang , besok ", ucap mama nya sambil mengusap - usap bahu kania yang terbaring di ranjang .


" Iya , ma , kania juga udah gak sabar pengen ngampus dan nongkrong sama temen - temen . Maaf ya , kania udah bikin mama , dan semua nya cape dan khawatir ", ucap nya dengan bibir yang melengkung ke bawah .


" Yang penting kamu udah sehat dan ceria lagi , kami semua udah bahagia . Karena kami semua menyayangi mu , nak ".


Kania menangis terharu lalu memeluk mama nya . " Makasih , ma , kania sayang mama " .


Tok ... tok , tok


" Silahkan , masuk ". Ucap kania dengan suara yang lantang .


" Surprise ! ". Ana , ibu dan orang tua andre muncul dari balik pintu membawa bingkisan bunga dan beberapa kado . Mereka silih berganti memeluk dan menciumi nya .


Kania terlihat bahagia sekali dengan kedatangan mereka . Dia merasa bersyukur memiliki mereka yang menyayangi nya berlimpah .


" Kania , mami sama papi harus kembali lagi ke amsterdam . Sudah lama kami tidak mengunjungi makam andre ", ucap mami .


" Mam , boleh kah aku ikut bersama kalian ? " . Kania memelas dengan kedua telapak tangan yang di tungkupkan di depan dada nya .


" Jika kamu sudah merasa kuat dan ikhlas , tak apa - apa ", jawab mami .


Kania menolehkan wajah pada kedua orang tua nya , dia tatap satu persatu wajah mereka dengan wajah yang memelas .


Kedua orang tua nya saling berpandangan kemudian serempak menatap wajah kania dan meng anggukan kepala nya bersamaan .


" Makasih , ma ... pa ". Dia berhambur memeluk mama dan papa nya .


Kania menolehkan wajah dan melepaskan pelukan nya . Dia lalu berbalik menghadap wajah papi nya andre .


" Perihal apa , pi ? ",


papi berdehem saat bertatapan dengan kania , lalu beliau berkata ," sebelum andre koma , dia menitipkan surat wasiat pada kami ".


Suasana langsung hening , semua yang ada di situ diam menyimak dan memperhatikan papi andre yang hendak melanjutkan pembicaraan nya .


" Almarhum berkata dan meminta ijin jika setengah harta yang dia miliki akan dia sumbangkan ke panti asuhan dan setengah nya lagi , akan menjadi milik kamu ".


Dahi kania berkerut , dia masih belum menangkap isi dan maksud surat wasiat tersebut .


" Semua nya sudah di tulis dan di hitung oleh pengacara keluarga kami ", lanjut papi andre . " Setengah harta yang menjadi bagian mu itu mencangkup salah satu usaha nya yang di bandung dan uang tabungan nya sekitar 25 M "


Kania terlonjak kaget tak percaya , begitu pula dengan kedua orang tua nya . Tetapi kemudian dia menjatuhkan kepala nya di atas bantal dan menangis kencang .


" Are you , okay ? ". Ana menepuk pundak kania yang merasa heran . Bukan nya menangis bahagia , tapi dia melihat sahabat nya itu menangis sedih .


" Gue sedih , na ! , bahkan di saat dia akan meninggalkan gue , dia masih tetap memikirkan buat kebahagiaan gue ! ", suara teriakan nya bersamaan dengan suara tangisan nya . " Kalo boleh gue minta sama TUHAN , gue pengen tuker harta nya , biar bikin andre idup lagi ! ".


Kania meraung - raung , berteriak di sela - sela tangis nya . kepalan tangan nya di pukul - pukul kan ke bantal .


Suara isak tangis keluarga nya pecah mendengar ucapan dari mulut nya .


Mami mengusap punggung kania dengan air mata yang mengalir di kedua pipi nya . " Istighfar , nak . Semua sudah takdir nya , ikhlas kan andre , jangan membuat dia berat , ".


Seketika suara tangis kania berangsur - angsur pelan . Terdengar sedu sedan dan tubuh nya saja yang bergetar menahan tangis . Kemudian dia membalikan badan nya yang semula tengkurap di atas ranjang , dia bangun dan memeluk mami andre .


" Maafin , Kania , mi "