
Flashback on
Beberapa menit yang lalu, saat Fuji sedang menunggu taksi yang sudah ia pesan. Ia nampak duduk di halte tunggu bersama sepasang kekasih di sebelahnya.
Fuji meminum sebotol air mineral di tangannya dan nampak menatap acuh pada pasangan itu. Apalagi saat wanita itu nampaknya tengah marah pada lelaki itu.
"Maaf, Nona. Sepertinya Anda meminum minuman yang salah," sahut Pria yang menjadi pasangan wanita di sampingnya.
Fuji yang mendengar hal itu terlihat bingung. Ia mengerutkan alisnya sebelum berkata, "maksudnya apa yah?"
"Kau meminum minuman kekasihku!" cecar Pria itu yang nampak kesal dan merebut sebotol air mineral yang diminum Fuji.
Fuji diam untuk mencerna keadaan yang dimaksud pria itu. Apalagi saat ini, ia mulai merasakan kalau memang ada sesuatu yang salah dalam minuman yang ia minum.
"Sayang, kamu kenapa sih. Itu cuma masalah minuman. Lagian aku juga belum meminumnya. Jadi tidak masalah kan? Itu juga bukan salahnya, karena aku yang menyimpan minuman yang kamu berikan itu di sebelah minumannya. Jadi wajar saja kalau dia salah mengambil minuman," ucap Wanita di samping Fuji karena melihat kekasihnya menegur orang lain.
"Bukan begitu masalahnya, Sayang. Minuman itu khusus untukmu. Bukan untuk orang lain," ujar Pria itu ragu.
"Ishh... maksudnya apa sih, Yang. Kok khusus buatku?" tanya Wanita itu bingung.
"Karena dalam minuman itu sudah aku campur cairan afrodisiak biar kita bisa menyelesaikan masalah kita di ranjang, Sayang. Makanya aku bilang kalau itu hanya khusus untukmu," jelas Pria itu pada kekasihnya.
Deg! Jantung Fuji berdetak lebih kencang saat mendengar penjelasan Pria itu. Ia tau apa itu cairan afrodisiak yang dimaksud Pria itu.
"Afrodisiak sialan! Ini obat perangsang!" umpatnya dalam hati. Badannya mulai terasa panas bersamaan dengan sebuah taksi yang berhenti di depannya.
Fuji segera berlari ke taksi tanpa mempedulikan teriakan sepasang kekasih yang sialnya membuatnya dalam masalah besar.
Flashback off
"Sial!" umpat Fuji seraya berlari di area pelabuhan. Kini Fuji merasakan aliran darahnya kian memanas. "Astaga... aku butuh air. Ah, sial! Semua ini karena pasangan gila itu! Seharusnya aku tak bertemu dengan mereka!" ucapnya tertuju pada pasangan yang membuatnya dalam keadaan seperti ini.
"Aku butuh pelampiasan. Bagaimana ini, Tuhan. Aku tidak mungkin menarik sembarang pria. Apalagi sekarang pengawal Tuan Max masih mengejarku," ucapnya seraya bersembunyi di balik kapal yang nampak sepi dan minim pencahayaan.
"Aku tidak mungkin bersembunyi di sini terus. Mereka akan menemukanku dan membawaku pada Tuan Max baji-ngan kelamin itu. Ah... lebih baik aku bercinta dengan sembarang orang dari pada dengan tua bangka gila ranjang itu," gerutunya sembari melihat ke kanan dan ke kiri.
"Sial! Mereka sudah mulai mendekat. Aku harus pergi dari sini," ucapnya panik.
Fuji mulai berlari ke arah sebuah cahaya. Ia melihat sebuah kapal pesiar yang sangat besar dan penuh dengan penerangan. "Sepertinya di sana ada pesta. Aku bisa bersembunyi di sana. Keramaian akan membuat perhatian pengawal Tuan Max teralihkan untuk mencari dan menemukanku," gumamnya pelan seraya mencoba menyelinap ke dalam kapal pesiar yang ia taksir sangat mahal itu.
Sangat banyak pengawal yang menjaga pintu masuk kapal pesiar itu. Namun Fuji tak gentar untuk masuk dalam sana. Justru ia semakin tertantang dan menganggap kapal pesiar itu adalah persembunyian paling aman.
"Aku akan mencoba mengalihkan perhatian pengawal itu agar ia pergi dari pintu kapal dan aku bisa masuk," ucap Fuji dalam hati sembari mengambil sebuah balok.
Prank! Bryurr! Suara itu berhasil mengundang perhatian pengawal yang menjaga pintu kapal sekaligus perhatian pengawal Tuan Max.
Mereka semua pergi ke sumber suara. Pengawal yang menjaga pintu kapal pesiar melihat ada lima pria berbadan besar dengan pakaian hitam dan sangat mencurigakan, seketika berteriak memanggil temannya yang lain.
"Penyusup! Penyusup!" teriak mereka semua hingga tak tersisa pengawal lagi yang menjaga pintu kapal pesiar itu karena semuanya sudah ikut mengejar pengawal Tuan Max yang mereka tuding sebagai penyusup.
"Yes! Berhasil!" seru Fuji yang tak menyangka akan berhasil mengalihkan pengawal yang menjaga pintu. Bahkan lebih dari itu, ia mampu mendorong mundur pengawal Tuan Max hanya dengan sebuah balok yang ia lempar. "Wah... aku menjatuhkan dua burung dalam satu serangan. Ini hebat!" pujinya pada diri sendiri.
Tanpa membuang banyak waktu, Fuji segera melesat masuk ke dalam kapal pesiar yang sangat mewah itu. Ia bahkan sudah menaksir kalau pemilik kapal ini pasti seorang milyader.
Entah mengapa, Fuji tidak menemukan keramaian yang ia prediksikan. Saat masuk, ia hanya melihat beberapa ruangan yang terkunci. Ia berfikir mungkin para tamu berada di ruang atas untuk melakukan pesta. Karena memang cahaya lampu dan musik berasal dari atas kapal pesiar itu.
"Ah... tubuhku sangat panas dan sangat bergairah. Sial! Aku haru benar-benar mencari salah satu ruangan yang bisa aku gunakan untuk menuntaskan hasratku sendiri. Meskipun mungkin aku tidak akan puas. Setidaknya berendam air dingin lebih baik untuk situasi saat ini," gumamnya yang mulai merasa pusing. Bahkan ia berjalan sedikit sempoyongan.
Sambil memegang kepalanya dengan satu tangan, Fuji berjalan dari pintu satu ke pintu yang lainnya. Berharap menemukan ruangan kosong yang ia yakini adalah sebuah kamar. Namun, lama ia mencoba, ia tak mendapati ruangan yang terbuka. Hingga matanya menangkap sebuah ruangan sendiri di pojok kapal yang nampak terlihat berbeda dari ruang yang lain.
"Ini ruangan terakhir. Aku harap pintunya dapat terbuka. Kalau tidak, maka aku terpaksa harus ke atas dan bergabung dengan pesta mereka. Ah... sial! Jika itu terjadi, maka aku akan menjadi bahan incaran penjahat kelamin. Ah... mungkin Tuan ingin aku akan mati dalam keadaan berhasrat," gerutu Fuji seraya mengarahkan tangannya untuk menekan tuas pintu seraya mendorong tubuhnya.
Ceklek! Berhasil! Pintu itu terbuka dan menampakkan kamar mewah bernuansa hitam dan putih yang tampak maskulin.
"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih karena masih berpihak padaku," ucap Fuji sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk berdoa dan mengucap syukur.
Perlahan Fuji menarik langkahnya menuju ruang kamar yang berhasil ia buka setelah menutup pintu terlebih dahulu. "Akh... shhh... aku butuh air dingin! Ini panas sekali," desisnya seraya membuka jaket yang menutupi gaun pengantinnya.
"Aku harus segera menuntaskan mengendalikan ini. Aku tidak bisa dalam keadaan seperti ini lebih lama." Fuji melepas semua pakaiannya. Bahkan gaun pengantinnya sudah berada di lantai dengan **********.
Tubuh polos Fuji yang indah, kini terekspos. Bahkan wajahnya sudah memancarkan gairah. Untungnya tidak ada orang di kamar mewah ini yang melihatnya seperti ini. Jika ada, mungkin ia akan di terkam atau malah sebaliknya. Ia yang akan menerkam pria yang muncul dihadapannya.
Fuji segera berlari ke arah bathroom untuk merendam dirinya dengan air dingin. " Entah sampai berapa lama aku akan begini. Tuhan, jangan buat aku mati tanpa pernah merasakan bagaimana pelepasan hasrat. Orang bilang itu surga dunia. Aku bahkan belum tau apakah aku akan merasakan surga atau neraka saat mati nanti. Jadi setidaknya berbaik hatilah padaku, Tuhan. Beri aku kesempatan merasakan surga dunia yang dikatakan orang-orang," celetuknya asal.
Kini akal sehatnya sudah bercampur dengan hasrat. Tapi sekarang ia tak peduli hal itu. Baginya, ia sudah selamat dari kejaran pengawal Tuan Max saja sudah hal yang sangat beruntung untuknya. Karena itu berarti, ia tak akan menikah dengan pria tua berotak mesum itu.
.
.
.
.
.