
Alan tidak lagi tersenyum. Wajahnya bahkan terkesan dingin. Dengan datar ia berkata, "yang kau ucapkan itu memang benar. Aku tidak akan membiarkan orang asing memasuki wilayahku. Tapi kalimat itu masih kurang sempurna. Kau seharusnya menambahkan sedikit kalimat lagi."
Alan memajukan tubuhnya semakin dekat pada Fuji. Tidak nyaman terlalu dekat membuat Fuji bangkit dari duduknya. Ia perlahan mundur karena merasa terancam dengan sikap Alan.
Alan tak tinggal diam. Ia mengikuti langkah mundur Fuji hingga tubuh Fuji membentur tembok. Ia mengikis jarak antara dirinya dan Fuji. "Aku memang tidak akan membiarkan orang asing memasuki wilayahku. Kalaupun sudah terlanjur masuk, maka dia tidak bisa keluar tanpa izinku. Apa sekarang kau mengerti?" tutur Alan dengan penuh penekanan.
Fuji terdiam. Ia mulai merasa kekurangan pasokan udara. Apalagi saat ini, Alan tengah menghimpit tubuhnya ke tembok. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Ia menunduk. Namun tangan Alan mencengkram dagunya hingga membuatnya mendongak. "Ja—di, apa ma—u mu?" tanya Fuji ragu saat tangan Alan sudah terlepas dari dagunya.
"Kau sudah pasti bisa menyimpulkan ucapanku barusan," duga Alan yang memang benar.
Fuji mengerutkan keningnya berfikir. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk menatap Alan. "Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan izinmu keluar dari wilayahmu ini? Jangan kau pikir aku takut denganmu," ucap Fuji tak kalah datarnya.
Melihat sikap Fuji yang berubah-ubah, membuat Alan semakin tertantang. Baru saja ia melihat Fuji bagaikan kelinci kecil yang ketakutan. Namun sekarang berubah menjadi seperti singa yang dengan beraninya melawannya. "Kau hanya perlu memenuhi keinginanku," jawab Alan dengan mata yang menatap intens dan tersenyum tipis meski hanya sebentar. Ia mengusap rambut Fuji hingga sampai ke wajah dan berakhir di bibir merah Fuji.
"Jangan banyak basa-basi. Katakan sebenarnya apa yang kau inginkan dariku," ucap Fuji penuh keberanian. Entah kemana ketakutan yang tadi muncul dalam hatinya. Semuanya menghilang saat merasakan sentuhan lembut dari tangan Alan. Apalagi sekarang tangan itu berada di ujung bibirnya.
"Aku menginginkanmu—" Alan langsung ******* bibir yang sedari tadi ingin ia rasakan. Dengan menggebu-gebu, ia menyalurkan hasrat yang sudah sejak tadi ia tahan.
Bagai tersengat arus listrik, Fuji membeku ditempatnya. Sikap dingin dan keberaniannya tadi sirna hanya karena tingkah Alan. Jantungnya berdetak cepat.
Ingin rasanya Fuji membalas. Namun akal sehatnya melarang. Sebab ia tidak akan tau apa yang akan terjadi jika ia membalasnya. Mungkin saja ia tidak akan pernah bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup.
"Aaaa... persetan dengan yang akan terjadi! Aku menginginkan ini juga!" jeritnya dalam hati seraya mengalunkan tangannya ke leher Alan. Ia tidak bisa berfikir jernih. Dan dengan bodohnya, ia membalas ciuman Alan dengan penuh gairah.
Alan terdiam meski hanya sebentar. Ia tersenyum di balik ciumannya yang panas saat merasakan balasan dari wanita yang semalam tak bisa berciuman, tapi sekarang malah membalas ciumannya dengan tak kalah menuntutnya.
Saling bertukar saliva, membuat Fuji merasa kesulitan bernafas. Ia pun memukul pundak Alan agar melepaskannya. "Emhhg... lepas—kan Al. Aku tidak bisa ber—nafas," ucapnya setelah lepas dari tautan bibir mereka. Ia menghirup oksigen seperti orang kesetanan.
Sedangkan Alan tersenyum semakin mengembang. Ia menyentuh sudut bibirnya yang tersisa saliva. Lalu mengusapnya dengan gerakan seksual.
Gleg! Fuji menelan salivanya saat melihat Alan. Sungguh pria yang ia panggil Al ini, tidak hanya tampan, maskulin dan kaya. Tapi Alan selalu berhasil menggodanya. Padahal mereka bahkan baru bertemu selama dua belas jam.
Fuji mengepalkan kedua tangannya. "Tolong hentikan ini semua. Dan cobalah untuk serius. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Apakah dengan menyentuhku sekali lagi akan membuatmu melepaskanku?" tanya Fuji dengan wajah memerah.
"Aku sedari tadi memang serius. Kau saja yang menganggapku bercanda," jawab Alan. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ranjang. Mendudukkan diri di atas ranjang, setelah mengambil sebuah map di laci paling bawah.
"Baca ini. Dan putuskan sekarang!" perintah Alan seraya melemparkan map itu ke arah Fuji yang masih berdiri.
"Apa ini?" tanya Fuji sembari mengambil map yang tergeletak di lantai. Ia membuka map itu yang ternyata berisi kertas. Perlahan ia melangkah ke arah sofa dan duduk sebelum membaca kertas itu.
Kening Fuji mengerut tak suka saat kalimat demi kalimat ia baca. "Apa maksudnya dengan surat perjanjian ini?" tanya Fuji seraya melempar kertas itu ke meja dengan kencang hingga menimbulkan bunyi.
"Kau hanya perlu menyetujuinya dan menandatanganinya. Bukankah itu menguntungkan untukmu? Aku mendapatkan apa yang aku mau, sedangkan kau mendapatkan uang, kebebasan dan kesenangan," tutur Alan.
"Tapi aku tidak mau sialan?!" teriak Fuji seraya berdiri dan menatap tajam Alan.
"Tuan Max pasti akan senang saat aku menemukan calon pengantinnya yang berhasil kabur bukan? Entah apa yang akan pria tua itu lakukan padamu," tambahnya. Ia memang sudah tau siapa Fuji setelah menyelidiki semuanya. Tapi meski begitu, ia tidak mengetahui identitas Fuji secara rinci.
Fuji seketika duduk kembali saat mendengar Alan menyebutkan nama orang yang paling ia hindari. Ia merasa kalau Alan memang merupakan orang kaya yang sangat berpengaruh. "Tapi siapa?" pikirnya.
Dengan cepat, Fuji kembali mengambil surat perjanjian itu. Ia menatap isi surat perjanjian yang menyatakan dia sebagai pihak kedua dengan Alan sebagai pihak pertama. "Alan Aprilio Domenico," gumamnya saat membaca nama lengkap Alan. Ia terdiam saat merasa tak asing dengan nama itu.
"Alan Aprilio Domenico pewaris tahta kerajaan bisnis nomor di dunia dengan kekayaan mencapai USD 200 milyar atau jika di rupiahkan sebanyak 3 kuadriliun rupiah," batinnya mengulang kalimat yang pernah ia baca di surat kabar saat masih remaja.
Fuji mengalihkan tatapannya pada ke arah Alan. ia menatap intens Alan. "Mengapa aku harus berurusan dengan orang seperti ini," batinnya. Ingin sekali ia menjerit saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa bertemu dengan pria menyeramkan di depannya ini. Yang sialnya, sudah menikmati tubuhnya dengan gratis.
"Apa yang kau pikirkan kelinci kecil... Jangan terlalu lama berfikir. Atau aku akan membatalkan surat perjanjian itu sekarang. Dan kau sudah pasti tau konsekuensinya," tutur Alan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Surat perjanjian ini memang menguntungkanku. Tapi ini akan menjatuhkan harga diriku. Sial!" batinnya yang tak henti-hentinya mengumpat.
Fuji menarik nafas dalam. Dan berucap dengan berat hati, "Baiklah aku akan menuruti semua keinginanmu, Tuan. Tapi ingat! Ini hanya untuk 11 malam! Sesuai rute perjalanan kapal ini, bagaimana?"
Akhirnya Fuji memutuskan untuk menerima isi surat perjanjian itu meski dengan berat hati. Semuanya sudah tertera dalam surat perjanjian itu. Bahkan ada waktu yang menerangkan jika kapal pesiar ini berlayar selama sebelas malam. Haruskah Fuji sekarang merasa dijebak? Padahal dia sendiri yang menjatuhkan tubuhnya ke ranjang orang yang sialnya ternyata sangat berkuasa. Meskipun ini semua karena pengaruh obat. "Hanya sebelas malam di kapal pesiar ini, Fuji. Kau pasti bisa!" batinnya menyemangati dirinya sendiri setelah mengambil keputusan penting dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
...****************...
Langit
Bulan, boleh saja menjadi penerang malammu
Tapi biarkan aku tetap menjadi langitmu yang akan setia menyelimutimu.
~Juz Amma~
...****************...