Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 33 : ENOAC



Fuji menutup matanya dengan perasaan tak menentu. Usapan lembut dan suara lembut Alan, membuat hatinya bergetar tak menentu. Pelukan Alan di sampingnya dengan tubuhnya yang terlentang menghadap langit-langit, benar-benar menghangatkan tubuh hingga menjalar ke hatinya. Ia nyaman dengan semua ini. Tapi ia sangat malas untuk mengakui ini semua.


Fuji menarik nafasnya dalam. Ingin rasanya ia membalik tubuhnya hingga menelusup masuk ke dada Alan. Namun itu tidak mungkin ia lakukan. Apalagi mereka belum cukup sehari bersama.


"Kalau kau kedinginan, kenapa tidak mematikan AC? Kita baru saja menghabiskan waktu yang lama di kolam. Kau akan bertambah kedinginan karena dinginnya AC. Kemungkinan itu yang mengakibatkan kau flu seperti sekarang," ucap Alan penuh kelembutan dan penuh perhatian.


Suara Alan begitu merdu di telinga Fuji. Perhatian Alan membuatnya serasa ingin menjerit tertahan. Bayangan tentang percintaan mereka di kolam, kembali terbayang di ingatannya. "Perasaan macam apa ini, Tuhan. Kenapa pria asing ini membuatku seperti ini," keluh Fuji dalam hati. Masih menutup mata, ia memilih membalikkan tubuhnya membelakangi Alan. Hingga posisi mereka sekarang kembali seperti tadi.


Sementara Alan masih setia memeluk Fuji meski dari belakang. "Tidurlah yang nyenyak," gumam Alan dengan mata yang perlahan ikut terpejam. Ia juga merasa sangat kelelahan dan membutuhkan istirahat. Apalagi ia merasa begitu nyaman memeluk Fuji. Meski Fuji sempat membangkitkan terong kemakmurannya, tapi ia juga tidak mungkin melampiaskan dalam keadaan Fuji yang sepertinya sakit.


Fuji yang mendengar gumaman Alan, tersenyum tipis. Entah kenapa ia merasa seperti tersihir dengan kata-kata Alan. Matanya mulai terasa berat untuk sekedar terbuka dan melihat Alan. Hingga akhirnya ia memilih tidur. Di akhir tidurnya, ia pun menyentuh tangan yang memeluknya. "Selamat tidur dan terimakasih," batinnya seraya memasuki mimpi.


Entah untuk apa ia mengatakan kata maaf dan terimakasih di waktu yang sama pada Alan. Fuji menyangkal semua alasan yang membuatnya mengucapkan dua kata keramat untuknya itu. Karena Fuji sejujurnya malas untuk mengakui kalau pria yang tengah memelukknya, mampu membuatnya luluh hanya dalam waktu singkat. Ia cuma berharap, Alan tidak mendengar ucapan lirihnya yang mengatakan maaf tadi. Karena itu sungguh akan membuatnya semakin rendah di mata Alan. Setidaknya, itu yang sekarang ia pikirankan.


.


.


.


.


.


.


.


Alan membuka matanya lebih dulu. Ia menatap wajah wanita yang saat ini tengah menelusup masuk ke dadanya. Bibitnya tersenyum seraya membalas pelukan wanita yang tidak lain adalah Fuji dengan tangan kekarnya.


"Aku malu mengakuinya. Tapi wanita ini sepertinya sudah mulai—"


"Egh... " erang Fuji seraya menggerak-gerakkan kepalanya lebih dalam ke dada Alan. Ia bahkan menggesek-gesekkan hidungnya di sana. "Ah... kenapa gulingku tidak seempuk biasanya yah?" gumamnya yang masih mampu ditangkap oleh telinga Alan.


Alan menatap pergerakan Fuji dengan tubuh yang mulai kaku dan memanas. Ia merasa gairah yang tadi tidak tersalurkan karena ingin Fuji istirahat agar lekas sembuh dari flu, sekarang malah kembali bangkit. Ia bahkan merasa kalau alat kebanggaannya sudah mulai bangun dan berdiri tegak karena tubuh Fuji yang menggeliat dalam pelukannya. Bahkan tangan wanita itu sudah merambat ke sana ke mari untuk menelisik tubuhnya.


"Apa ini? Kenapa tidak seperti guling? Kamu sekali guling ini. Keras kayak kayu," keluh Fuji masih dengan mata yang tertutup. Tangannya memeras tangan kekar langit, hingga tangannya perlahan merambat ke bawah dan menyentuh sesuatu yang membuat Alan menahan sesuatu.


Alan mendesis saat tangan nakal Fuji sudah menyentuh barang pusaka miliknya. Bahkan tangan itu mulai memerasnya hingga membuat wajah Alan memerah tidak berdaya.


"Ah... ini kenapa makin lama, makin tegak gitu yah?" gumam Fuji saat merasa benda yang ia peras, semakin lama semakin mengeras dan tegak. Ia menarik senyum seolah merasa menemukan mainan baru.


Sementara Alan yang sudah tidak tahan dengan tingkah Fuji, segera menahan tangan Fuji yang semakin memeras pusakanya menjadi-jadi.


Saat kedua matanya terbuka dengan sempurna, ia langsung disuguhkan oleh mata abu-abu yang tajam sedang menatapnya. Bahkan wajah pria itu merah, membuat Fuji segera tersentak bangun dari tidurnya. Dan, "Aaaaa!" Fuji berteriak karena masih sedikit belum sadar dari tidurnya.


"Eh... mm... " Fuji terdiam saat tangan kekar Alan membekap mulutnya. Ia perlahan mulai mencerna keadaannya. "Astaga... bagaimana mungkin aku sebodoh ini sampai tidak menyadari kebenarannya. Bahkan masih berfikir berada di dalam kamarku sendiri. Padahal mulai dari semalam dan kedepannya, aku terjebak bersama pria ini. Alan Aprilio Domenico," batinnya merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya berteriak karena menganggap ada orang asing yang masuk ke kamarnya. Meskipun memang Alan memang orang asing untuknya, tapi pria ini sudah membuatnya menandatangani surat perjanjian konyol agar dirinya selalu di samping pemilik kapal mewah ini.


Alan melepas bekapan tangannya dari mulut Fuji setelah merasa Fuji mulai tenang. "Apa kau mulai gila? Berteriak tidak jelas seperti itu?!" sinis Alan seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang dengan kedua tangan dilipatnya di depan dada.


"Eh, itu... maaf. Aku lupa, kalau aku tidur bersamamu," tutur Fuji seraya meneguk salivanya sedikit kesusahan.


"Yah... kita tidur bersama. Dan kau sudah melakukan kesalahan besar," ucap Alan dengan menatap tajam Fuji yang masih mengenakan gaun yang dibawa Rojer. Ingin rasanya ia merobek baju itu sekarang juga. Tapi ia tidak akan melakukannya sebelum Fuji lebih dulu yang melakukan.


"Kesalahan?" beo Fuji bingung. Ia memperbaiki duduknya hingga berhadapan dengan Alan.


"Kau melakukan kesalahan karena sudah membangunkannya," jawab Alan seraya melirik ke arah barang pusakanya yang sudah tegak.


Fuji mengikuti lirikan Alan dan matanya sekarang berpusat pada gundukan di balik celana Alan. Ia menelan saliva dan paham dengan maksud Alan tentang barang yang bangun. Tapi ia masih memikirkan apa kesalahannya. Bukankah ia tidak. melakukan kesalahan? Kalaupun itu bangun, seharusnya yang disalahkan bukanlah dirinya. Karena ia merasa baru bangun dari tidurnya.


Merasa tidak bersalah, Fuji mendongakkan kembali wajahnya menatap wajah merah Alan yang sudah dipenuhi kabur gairah. "Aku tidak merasa melakukan kesalahan. Itu mu saja, yang suka bangun dan malah menyalahkanku? Bilang saja, kalau kau sebenarnya sudah kecanduan denganku kan?" ucap Fuji seraya menipiskan senyum mengejek.


Alan yang merasa diremehkan dan dihina oleh Fuji, segera bergerak mendorong Fuji hingga terlentang di ranjang dengan ia yang berada di atasnya. Sementara Fuji yang mendadak mendapatkan serangan tiba-tiba dari Alan, tidak bisa melawan karena Alan sudah lebih dulu mengunci tangan dan kakinya.


"Hei! Lepaskan aku gila!" teriak Fuji memberontak.


"Kau yang bangunkan! Seharusnya kau juga yang menidurkannya! Kenapa malah menuduhku! Sialan kau Alan!" tambah Fuji tidak terima.


Tapi Alan mengabaikan teriakan Fuji. ia memajukan wajahnya hingga bibirnya sudah sampai di telinga Fuji. "Kau harus bertanggungjawab setelah meremas tongkat ajaibku," bisik Alan dan segera melancarkan aksinya untuk menuntaskan rasa panas menggebu di tubuhnya.


Sementara Fuji menelan salivanya setelah mengetahui kelakuannya yang tanpa sadar sudah membangunkan singa yang kelaparan.


.


.


.


.


.


.