
"Aku tidak melakukan apapun di dalam sini, Al. Aku hanya sedang berbincang dengan dokter Melody sebagai sesama wanita," ucap Fuji pada Alan yang berjalan masuk ke kamarnya. Bahkan Alan dengan santainya melewati Melody begitu saja.
Melody melirik Fuji seraya berjalan mendekat ke samping Fuji. "Bagaimana bisa, Tuan Alan masuk ke kamarmu seperti itu? Aha... bukankah tadi kau bilang ingin mengatakan cinta padanya? Wah sepertinya dia lebih dulu datang padamu," bisiknya dengan wajah heran.
Fuji yang mendengarnya, hanya mengangkat ke dua bahunya sebagai jawaban. Ia enggan menjawab dan lebih memilih mengikuti Alan dari belakang yang saat ini tengah berjalan ke arah ranjang.
"Bagaimana? Apa kau menyukai kamar ini?" tanya Alan setelah sekian lama terdiam.
"Yah... aku menyukainya," jawab Fuji singkat. Entah mengapa ia sedari tadi sangat malas menjawab pertanyaan orang-orang disekitarnya.
"Baguslah kalau kau menyukainya. Kau akan tidur di sini selama pelayaran kita. Dan—" Alan menghentikan ucapannya saat melihat masih ada orang asing di kamar itu. Ia menatap Melody dengan tajam sebelum berkata, "Apakah urusanmu dengan Fuji sudah selesai, Dokter Melody? Bisakah kau tinggalkan tempat ini, jika sudah selesai?" usir Alan secara halus dengan penuh penekanan. Ia tau siapa Melody karena Steven sedari awal tak ada henti-hentinya membicarakan soal Melody.
"Ah, ya... tentu saja. Maaf sudah mengganggu, Tuan dan Nona. Saya pamit undur diri," balas Melody dengan sopannya seraya membungkuk. Berlagak seperti seorang yang tidak mengenal Fuji sama sekali. Tapi diujung kepergiannya, ia menatap Fuji dengan mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum. Entah apa maksud dari gerakannya itu, tapi hanya Fuji yang mengerti hal itu. Hingga Fuji menarik nafas dalam sebelum menutup pintu dengan rapat saat melihat kepergian sahabatnya itu.
Fuji berbalik menghadap ke arah Alan yang sedari tadi menatapnya. "Sebetulnya, apa tujuanmu ke sini?" ketusnya bertanya. Entah kenapa ia malah kesal melihat wajah Alan. Bayangannya malah melayang saat Alan mengusirnya hanya untuk berbicara berduaan dengan Stella.
Alan merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah belati di sana. "Aku hanya ingin memberikan barangmu yang ketinggalan di kamarku," jawab Alan seraya mengulurkan belati itu pada Fuji.
"Kau meninggalkan belati itu di meja dekat sofa. Mungkin saat kau sedang makan," jelas Alan saat Fuji berjalan dan mengambil belati yang memang ingin ia ambil di kamar Alan.
"Terimakasih," ucap Fuji dengan ketusnya.
"Kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa kau marah karena aku memberimu kamar terpisah denganku?" tebak Alan yang malah membuat Fuji bergidik.
"Mana ada seperti itu!" seru Fuji tak terima.
Alan nampak berfikir sebelum ia melangkah lebih mendekatkan dirinya pada Fuji. "Lalu? Kenapa kau sepertinya marah padaku? Apakah ini karena Stella?" tebak Alan lagi karena merasa sikap Fuji mulai seperti ini setelah ada Stella.
"Ish... ngapain juga, aku marah karena wanita itu? Gak penting tau!" sungut Fuji seraya berjalan ke ranjang dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Alan menyusul duduk di samping Fuji. Tangannya tiba-tiba bergerak memperbaiki rambut Fuji. Menyisirnya ke belakang telinga dengan lembut. Membuat Fuji menegang saat merasakan sentuhan tangan tidak sengaja di telinganya. "A—aku sudah mengambil barangku yang kau antarkan untukku. Jadi, kau boleh pergi dari kamarku kan?" ucapnya sedikit gugup.
"Kau mengusirku?" tekan Alan tepat di telinga Fuji.
Fuji dengan cepat membalikkan kepalanya untuk melihat wajah Alan di sampingnya karena mendadak panik mendengar ucapan Alan yang penuh penekanan. Namun bukannya bertatapan, hidungnya dan hidung Alan malah bertabrakan. Bahkan bibirnya sedikit lagi menyentuh bibir seksi Alan.
"Ah... " Fuji segera menjauhkan dirinya dari Alan. Tapi Alan malah menahan bahunya. Membuat pergerakannya yang ingin menjauh. Hingga kini mata mereka bisa melihat pantulan wajah mereka masing-masing dengan hidung yang masih menempel.
Fuji terdiam dengan posisi seperti itu. Ia menahan nafas saat merasakan sesuatu menggelitik mengalir dari dalam tubuhnya. "Bisakah aku menjauh sedikit? Atau kau yang sedikit menjauh? Posisi ini sedikit tidak nyaman," ungkapnya menyampaikan perasaannya.
Alan yang mendengar itu, akhirnya melepaskan tangannya dari bahu Fuji. Ia menjauhkan tubuhnya sesuai keinginan Fuji. "Sebetulnya aku ke sini bukan hanya untuk memberikan belatimu yang tertinggal di sini. Tapi aku ingin membicarakan soal Stella," ucap Alan sambil memperhatikan perubahan wajah Fuji yang langsung menatapnya dengan kening berkerut.
"Khm... tapi menurutku ini penting. Aku tidak ingin kau salah paham mengenai Stella," tutur Alan. Ia memang sudah memikirkan hal ini. Ia baru menyadari sikapnya yang menanggapi dengan diam perkataan Stella, membuat wanita di depannya ini pasti menganggap Stella memang benar kekasihnya.
Fuji hanya diam menunggu Alan meneruskan ucapannya. Dalam hati ia berkata,"Kenapa juga, pria ini peduli jika aku salah paham?"
"Aku dan Stella bukanlah pasangan kekasih. Jadi, aku ingin kau tidak menanggapi serius perkataannya tadi," sambung Alan mengungkapkan kebenaran hubungannya dengan Stella.
Fuji menaikkan kedua alisnya sambil mengelus dagunya. Ada perasaan asing menyelinap di dadanya saat mendengar penjelasan Alan. Bibirnya tiba-tiba menarik senyum, namun ia dengan cepat mengubah ekspresi senyumnya sinis dengan mata yang ditajamkan. Lantas ia berkata, "Kau pikir aku peduli? Lagipula, apa pedulimu jika aku salah paham? Sudahlah, jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, sebaiknya kau pergi dari kamarku." Fuji mengatakan apa yang sedari ia pikirkan sambil menunjuk pintu kamarnya. Sungguh sebenarnya ia sudah tidak sopan mengusir pemilik kapal keluar dari kamar yang juga merupakan miliknya. Tapi mau bagaimana lagi, ia merasa ingin melampiaskan perasaannya sendiri tanpa dilihat oleh Alan. Ia tidak ingin Alan mengetahui kalau ia sangat bahagia dengan penjelasan Alan.
Sementara Alan yang mendengar pengusiran untuknya yang sudah dua kali, memiliki bangkit dari duduknya. "Baiklah... aku akan pergi. Tapi ini hanya untuk saat ini saja. Untuk kedepannya, aku akan sering ke kamarmu ini. Aku tidak ingin kau mengusirku lagi seperti ini. Aku memang sudah menyiapkan kamar ini untukmu. Agar kau merasa nyaman berada di sini. Tapi kau harus tetap ingat, dengan surat perjanjian kita. Perintahku nomor satu, dan keinginanku harus kau penuhi. Jagalah dirimu dengan baik," tutur Alan seraya melangkah meninggalkan Fuji yang masih duduk di ranjang.
Sebelum Alan melangkah keluar dari pintu kamar yang sudah ia buka, Fuji tiba-tiba berteriak. "Al!" panggil Fuji menghentikan Alan.
"Ada apa?" tanya Alan singkat.
"Apakah steller itu akan tidur di kamarmu?" tanya Fuji seraya menutup mulutnya dengan cepat menggunakan kedua tangannya. Entah mengapa pertanyaan yang sedari tadi ia pendam, akhirnya keluar juga dari mulutnya. Ia sungguh penasaran dengan kehadiran Stella. Ia hanya berharap Alan tidak menganggapnya cemburu, meskipun kenyataannya memang seperti itu.
Alan yang mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba melengkungkan bibirnya membentuk senyum. "Tidak," jawabnya singkat seraya melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Fuji.
Fuji yang mendengar jawaban singkat Alan, mendadak bahagia. Ia merasa kupu-kupu berterbangan di perutnya. Dengan langkah cepat, ia berjalan menutup pintu. Kemudian berlari menaiki ranjang dan lompat bahagia seperti anak kecil.
"Ah... kenapa aku sebahagia ini—"
Krekkk... tiba-tiba aksi lompat bahagianya terhenti saat melihat pintu kamarnya kembali terbuka dan membuatnya mati kutu di tempatnya karena sosok yang membuka pintu.
"Aku sepertinya melupakan ponselku di sini."
.
.
.
.
.
.
.