
"Biar aku sendiri saja," tahan Fuji saat tangan Alan yang sudah menuju ke arah celanannya.
"Kau yakin tidak butuh bantuanku?" tanya Alan dengan nada suara seraknya. Sejujurnya gairahnya sudah terpancing sejak tadi. Apalagi melihat Fuji saat ini dengan buah dada yang menyembul keluar.
Fuji menggeleng dengan cepat seraya berkata, "Tidak sama sekali! Biar aku saja."
"Kalau kau yang membukanya, itu akan sangat lama. Jadi biar aku—"
"Jangan modus! Biar aku saja yang buka. Aku juga bisa cepat," potong Fuji seraya membuka celananya. Kini ia hanya memakai bikini saja. Bikini yang menjadi ********** saat menggunakan gaun pengantin kemarin.
Alan menatap intens tubuh Fuji sebelum menelan saliva dengan kesusahan. "Jangan menatapku seperti itu! Kau harus memikirkan pakaian apa yang akan ku pakai setelah ini. Ck, celana dan bikiniku jadi basa semua," ucap Fuji menatap nanar pada kemeja dan celananya yang sudah terlempar di lantai.
"Kau yang membuatku berbuat seperti tadi. Jadi jangan salahkan aku," jawab Alan seraya mengarahkan tangannya ke rambut Fuji. Menyelipkan tangan di sela rambut Fuji, kemudian seolah menyisirnya hingga terlepaslah kepangan rambut Fuji.
"Kau cantik seperti ini," puji Alan tanpa sadar. Sementara Fuji yang mendengarnya, segera menghempaskan tangan Alan dari rambutnya. Kemudian tersenyum bangga dan berkata, "Aku memang cantik dari lahir."
Alan pun tersadar sudah memuji wanita di depannya ini. "Baru dipuji begitu saja, kau sudah seperti ini. Ckck," dungus Alan kesal.
Alan segera menjauh dari Fuji. Ia bersandar kembali ke tempatnya tadi. Saat ini jaraknya satu meter dengan Fuji. Ia lebih memilih menjauh dari pada lepas kendali. Bagaimanapun, setelah merasakan kenikmatan tiada tara bersama Fuji. Akan membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi.
"Al... " panggil Fuji. Membuat atensi Alan kembali pada Fuji.
"Hm?" jawab Alan.
"Kenapa harus berendam di sini sih. Aku kan tadi juga sudah berendam di bathroom," keluh Fuji memperhatikan dada kekar milik Alan.
Gleg! Fuji menelan salivanya saat matanya tidak sengaja sampai ke bagian bawah. Meski Alan mengenakan bokser, tapi Fuji masih misa melihat jelas bentuk tembakan yang membuatnya semalaman mendesah.
"Apa yang kau lihat? Ini? Kalau mau, katakan saja. Tak usah malu," celetuk Alan seraya mengarahkan tangannya memegang terongnya. "Bagus, mintalah Fuji. Maka aku akan dengan senang hati memberikannya," batinnya. Ia masih punya harga diri yang ia junjung sangat tinggi. Karena baginya, harus wanita yang meminta. Dan bukan dia. Maka sedari tadi ia mencoba menahan hasratnya agar tidak lepas kendali dan malah menjatuhkan harga dirinya di depan wanita.
"Yah, tidak selera. Tapi meminta lebih terus semalam—"
"Kau!" potong Fuji merasa kepalanya mau pecah karena arah pembicaraan Alan yang selalu mengingatkannya tentang kejadian semalam.
"Kenapa? Bukankah yang kukatakan benar?" ucap Alan menarik turunkan alisnya.
"Kenapa kau selalu membahas semalam? Bukankah kau juga menikmatinya hingga memanggilku sayang tanpa henti?"
Duar! Alan skakmat. Ia membeku dengan wajah sudah seperti kepiting rebus. Padahal ia yang sudah memancing wanita di depannya itu. Tapi kenapa saat ini, ia yang malah jadi malu sendiri?
"Ucapanku benar kan? Lagipula, aku menganggap kejadian semalam hanya sebuah kesalahan. Dan setelah perjanjian kita selesai—"
"Apa maksudmu kesalahan?" potong Alan memandang tidak suka. Sekarang wajah merahnya malah bercampur kekesalan setelah mendengar ucapan Fuji.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣