Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 34 : ENOAC



Sementara Fuji menelan salivanya setelah mengetahui kelakuannya yang tanpa sadar sudah membangunkan singa yang kelaparan.


Alan menjilati leher jenjang putih milik Fuji. Hingga membuat Fuji menahan nafasnya. Bahkan tangan Alan sudah mulai bergerak dari menyentuh pahanya di balik dress yang masih dikenakannya. Tangan Alan menjalar naik ke atas hingga melewati gowa kenikmatannya. Mengelus perutnya lembut, hingga membuat Fuji menutup matanya dengan wajah memerah karena sudah berhasil dibuat bergairah oleh sentuhan Alan. Apalagi tangan itu perlahan sudah menyentuh buahnya di balik kacamata berbusanya itu.


Tok! Tok! Tok! Baru saja tangan Alan bergerak akan meremas buah kesukaannya, namun tiba-tiba kesenangannya terganggu karena ketukan pintu.


"Al, lepaskan. Ada orang di—depan," ucap Fuji sedikit terbata-bata karena Alan yang hanya berhenti sejenak karena ketukan pintu itu. Bahkan ia mulai mendorong Alan dengan tangannya yang sudah tidak dikunci Alan, agar pria itu mau melepaskannya dan menghentikan permainan ini.


Alan tetap melancarkan aksinya, tidak mempedulikan ketukan pintu yang semakin lama semakin kencang. Bahkan semakin meremas buah kesukaannya itu, dengan sedikit kencang agar wanita yang berada di bawahnya itu tetap diam dan tidak terus mendorongnya.


"Akh... sialan kau Alan! Dadaku sakit sialan!" pekik Fuji mengumpat seraya mengumpulkan kekuatannya untuk mendorong Alan. Tapi yang ia dapatkan bukannya Alan yang berpindah, pria itu malah semakin meremas dadanya. Membuat gairah yang awalnya berkumpul, malah lenyap karena rasa sakit yang ia rasakan.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" tekan Alan seraya membungkam mulut Fuji dengan bibirnya. Ia menyesap bibir yang begitu manis itu dengan penuh gairah. Bahkan salivanya sudah kemana-mana karena Fuji yang tidak membalas ciumannya. Ia sedikit menggigit bibir Fuji hingga terbuka dan ia kembali melanjutkan aksinya.


Fuji kesal dengan tingkah Alan, akhirnya dengan sekuat tenaga berencana menendang Alan. Dengan ancang-ancang dalam hati ia menghitung, "Satu... dua... ti—"


"Akh!!!" pekik Alan meringis seraya memegang pusakannya yang baru saja ditendang Fuji dengan menggunakan lutut.


"Ck, sialan! Kau!" umpat Alan yang segera melepaskan tautan bibirnya dari Fuji. Ia bangkit berdiri setelah mengeluarkan tangannya dari balik dress Fuji.


"Ini sakit sialan!" murka Alan menatap tajam Fuji.


"Kau juga menyakitiku. Dadaku dan bibirku, pasti sudah bengkak karena ulahmu yang kasar itu!" balas Fuji seraya mendudukkan tubuhnya cepat sebelum akhirnya ia ikut berdiri.


"Tapi, tidak seharusnya kau menendang pusakaku dengan lututmu itu. Bagaimana kalau pusakaku patah? Kau akan kubuat bertanggungjawab seumur hidupmu!"


"Cih... aku tidak peduli. Sebaiknya kau urus orang yang mengetuk pintu itu dengan sangat kencang. Sepertinya ada hal yang sangat penting, hingga mereka melakukan itu." Setelah mengatakan hal itu, Fuji langsung berlari ke arah kamar mandi.


Alan yang melihat hal itu, hanya bisa menghembuskan nafas kasar seraya meraup wajahnya dengan kedua tangan sebelum berjalan ke arah pintu kamarnya.


Sementara Fuji sedikit mengintip di balik pintu kamar mandi. Ia menghirup nafas lega saat melihat Alan sudah mulai berjalan meninggalkan ranjang. "Pria itu sangat menyeramkan. Ah, benar-benar membuatku sesak nafas. Ini tidak bisa dibiarkan," batinnya seraya menutup pintu kamar mandi. Ia pergi ke arah cermin dan membuka dress yang ia kenakan. Matanya tercengang melihat dadanya yang sudah merah. Bahkan bibirnya memang saat ini sudah membengkak.


Dengan tangan yang perlahan menyentuh bibirnya, ia baru menyadari satu hal yang ia lupakan setelah melakukan percintaan panas di atas ranjang. Dengan mata yang masih setia di cermin, kini tangannya beralih menyentuh perutnya yang rata.


Matanya bertambah melotot melihat perutnya, hingga kepalanya menunduk ke bawah. "Astaga... kenapa aku baru menyadari ini? Bagaimana kalau aku hamil?" gumamnya seraya menelan salivanya dengan sedikit kesusahan. Kepalanya kembali mendongak menghadap ke cermin. Kini wajahnya yang sempat memerah, menjadi pucat. Entah kenapa, ia merasa takut dengan kemungkinan itu. Meskipun baru melakukannya dua kali dalam waktu 15 jam, tapi setiap mereka dalam satu waktu ada banyak ronde. Dan itu pun, "Semuanya dia tembak di dalam." Fuji membatin saat mengingat bagaimana Alan mencapai pelepasan dengan mengeluarkan seluruh kecebong ke dalam rahimnya.


"Ah... tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera membicarakan ini dengan pria itu!" serunya seraya mengenakan kembali dress yang sempat ia lepas.


Dengan perasaan tak menentu, Fuji bergerak ke pintu kamar mandi. Entah kenapa, jantungnya berdetak kencang memikirkan kemungkinan kehamilannya ini. Bukan ia tak ingin ada kehidupan di dalam rahimnya, hanya saja ia tidak mungkin mengandung anak dari pria asing yang malah menjebaknya dalam surat perjanjian. Bagaimana jika nanti surat perjanjian itu selesai dan ternyata ia hamil setelah berpisah dengan ayah dari anaknya. "Astaga... otakku bisa pecah memikirkan ini, aku harus segera menemui Alan." Fuji dengan cepat membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.


"Apakah Alan keluar kamar?" tanyanya pada diri sendiri saat melihat pintu kamar bahkan tertutup dengan rapat.


"Ah... sebaiknya aku segera menyusul pria itu keluar. Aku tidak bisa menunda untuk membicarakan hal ini," monolognya sembari merapikan rambutnya. Mengambil ikat rambut di meja rias depan cermin yang ia simpan tadi pagi. Lalu mengikat rambut panjangnya simpel hingga leher jenjangnya terlihat sempurna.


Fuji kembali menelisik penampilannya. "Tidak! Aku tidak bisa mengikat rambutku seperti ini. Tanda merah ini sangat mengganggu," ucapnya saat melihat dengan jelas tanda merah yang diciptakan oleh cecapan bibir Alan di leher putihnya.


Dengan gerakan cepat, ia melepas ikatan rambutnya dan menyisir cepat rambutnya. "Biarlah begini. Masa bodo, dengan penyamaran penampilanku. Aku sudah tidak punya cara untuk menyamarkannya selain memperlihatkan penampilan asliku," ucapnya seraya meninggalkan cermin rias.


"Sial! Pria itu bahkan membuat kacamataku rusak saat di jacuzzi," gumamnya mendengus kesal seraya berjalan meninggalkan kamar setelah menutup pintu dari luar.


Baru saja ia berjalan beberapa langkah, seseorang membuatnya terhenti saat mendengar perkataan orang itu.


"Kenapa kau keluar dari kamar pemilik kapal ini?" pertanyaan dengan nada datar itu keluar dari mulut seorang pria yang sangat tidak ingin Fuji temui.


"Memangnya kenapa? Kenapa kau mencampuri urusanku? Bukankah aku sudah katakan, jangan—"


"Jangan apa? Jangan mendekatimu? Begitu kan?" potong pria dengan suara menekan meski terkesan sedikit berbisik. Pria itu mensejajarkan tubuhnya di samping Fuji berdiri.


Fuji terdiam tidak menimpali ucapan pria itu. Karena ia sedikit takut, apalagi saat pria itu dengan beraninya melanggar perintahnya untuk tidak mendekatinya.


"Haruskah aku melaporkan kelakuanmu ini pa—"


"Hentikan ucapanmu, Rey!" teriak Fuji dengan kesal hingga sedikit membalikkan tubuhnya ke samping untuk memberi tatapan tajam peringatan pada Rey.


.


.


.


.


.


Like 70, komen 50, up lagi deh 😂🧐🍹 maaf sempat sibuk kemarin kemarin 😊tapi coba up tiap hari lagi ini.


.