Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 39 : ENOAC



Fuji menatap sekilas perutnya sebelum mendongak dan berkata, "Al, bagaimana jika nanti aku ha—"


BRAK!!! Pintu kamar Alan terbuka lebar secara paksa hingga membuat Fuji menghentikan ucapannya dan menatap ke arah pintu.


"Al! Alan!" teriak sosok yang masuk dari balik pintu yang terbuka secara paksa. Fuji mengernyitkan keningnya heran, melihat sosok itu. Ia sadar jika pintu kamar Alan memang tidak dikunci saat para pelayan dan pengawal keluar setelah mengantarkan makanan. Ia sedikit tidak senang dengan kejadian ini, karena memutus pembicaraan penting antara dirinya dan Alan. Tapi yang membuatnya lebih heran lagi adalah saat Alan yang malah berdiri dan mendekati sosok itu— yang tangannya mulai ditahan oleh beberapa pengawal.


"Lepaskan aku! Aku ingin bicara dengan Alan!" pekik sosok itu seraya menghentak hentakkan tangannya. Namun para pengawal mengidahkan perintahnya.


"Lepaskan dia," ucap Alan yang secara dilaksanakan oleh pengawal itu.


"Maafkan kami, Tuan. Tidak bisa menahan Nona Stella masuk," balas salah satu dari pengawal itu seraya membungkukkan tubuhnya setelah melepaskan cekalan tangannya dari Stella.


Stella yang berhasil lepas dari anak buah Alan, tersenyum penuh kemenangan. Apalagi Alan terlihat membelanya. Ia dengan segera menatap Alan yang ada di depannya dan langsung menghamburkan pelukan di tubuh Alan.


Stella mengerahkan pelukannya seraya berkata, "Al, kenapa tadi kau meninggalkan aku. Padahal pembicaraan kita belum—"


"Siapa dia, Al?" sahut Fuji memotong ucapan Stella dari balik punggung Alan. Bahkan ia sudah berdiri sejak melihat wanita cantik itu tiba-tiba memeluk Alan. Ia tidak suka dengan semua itu. Apalagi Alan tampak diam saja dan justru membela wanita cantik itu saat di tahan oleh para pengawal yang menjaga kamar di depan.


Alan yang mendengar suara Fuji, seketika tersadar dan segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Stella. Ia sempat melamun saat Stella memeluknya dengan erat. Bayangan kebahagian dimasa lalu menyelusup masuk dalam ingatannya. Hingga ia tidak mampu menolak pelukan Stella. Kenyataannya, meski ia sangat membenci Stella, tapi Stella tetap wanita pertama yang membuatnya jadi seperti sekarang. Memberikan kenyamanan, lalu menghempaskan bagai butiran debu. Sakit, tapi tidak bisa menghindar.


"Al... " lirih Stella saat Alan melepaskan pelukannya. Bahkan kini Alan tampak menjauh dan mendekatkan diri kepada wanita yang memotong ucapannya. Pikirannya seketika berkelana mempertahankan keberanian wanita itu dalam kamar pribadi milik Alan. Ia sangat tau siapa Alan. Selama mereka terpisah, Alan tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun. Tapi kenapa sekarang malah begini?


"Fuji... " ucap Alan untuk pertama kalinya memanggil nama Fuji. Sementara Fuji yang mendengar itu, semakin merasa aneh.


"Aku bertanya, siapa wanita itu? Kenapa dia memelukmu seperti tadi?" tanya Fuji dengan raut wajah tidak suka yang sangat terlihat jelas. Ia baru menyadari satu hal tentang wanita ini. Aroma milik wanita ini, sama dengan aroma yang sedari tadi ia pertanyakan dan berada di tubuh Alan. Sepengetahuannya, pengidap OCD akan membenci sentuhan karena merasa jijik. Awalnya ia berfikir hanya dia yang bisa menyentuh Alan. Tapi apa ini? Sekarang ia melihat seorang wanita cantik malah dengan leluasanya memeluk Alan juga. Wajahnya semakin menyiratkan ketidaksukaan. Bahkan matanya kini sedang memindai Stella dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dia—"


"Aku kekasihnya!" ucap Stella memotong sambil berjalan ke arah Alan dan merangkul tangan Alan.


Alan tidak menampik rangkulan itu, membuat Fuji merasa hatinya terbakar. "Eh, apa ini. Kenapa aku harus merasa panas? Apakah aku mulai cemburu? Ah, Tidak! Aku tidak boleh begini!" batinnya dengan wajah yang perlahan memerah. Ia menatap Alan untuk mencari kebenaran. Tapi Alan hanya diam tidak berniat menjawab. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu sekarang. Tapi ia seolah tidak peduli dengan pikiran Alan. Karena yang ia pedulikan sekarang adalah langkahnya dalam mengambil keputusan kedepannya.


"Oh, jadi dia kekasihmu? Kalau begitu mari kita berkenalan," ucap Fuji seraya menyodorkan tangan kanannya ke depan Stella. Bahkan wajahnya memancarkan senyum manis yang ia tunjukkan untuk mengelabui musuhnya. Ia memang sempat marah mendengar penyataan Stella, tapi ia dengan cepat menetralkan kembali raut wajahnya. Ia mampu melakukan itu dengan cepat, karena selama ini ia sudah sangat terlatih dalam menangani keadaan.


"Oh ya, kenalkan... namaku Stella," ucap Stella seraya menyambut tangan Fuji. Ia mulai merasa jika Fuji bukanlah seperti yang ia pikirkan setelah melihat sikap dan senyum manis wanita itu padanya. Bahkan ia membalas dengan senyum juga.


"Wah... nama yang sangat indah," putus Fuji seraya dalam hati menimpali, "Huek... nama pengharum ruangan. Memuakkan!"


"Siapa namamu, Nona?" tanya Stella dengan sopan tanpa melepaskan jabat tangan mereka.


Fuji yang mendengar pertanyaan itu, seketika tersenyum semakin lebar. Kemudian ia berkata, "Namaku Fuji Chisako. Kau bisa memanggilku, Fuji." Mata Fuji yang sedari tadi menatap Stella, perlahan melirik ke Alan dengan senyum yang tiba-tiba berubah menjadi sinis. Lalu ia melanjutkan ucapannya, "Aku adalah wanitanya Alan."


Deg!


Bukan detak jantung Stella, namun detak jantung Alan seketika berdetak sangat kencang saat mendengar pernyataan mencengangkan dari Fuji. Ia sungguh tidak menyangka kalau Fuji akan mengatakan hal demikian. Karena bukankah mereka hanya terikat karena surat perjanjian yang ia buat? Tapi kenapa kali ini Fuji mengakui kalau ia adalah wanitanya?


Sementara Stella yang mendengar itu, seketika menghentakkan tangannya dari tangan Fuji. Ia menatap Fuji berang. Wajahnya menampilkan keterkejutan dan kemarahan. Bahkan sekarang ia nampak menatap Alan seraya berkata, "Yang dia ucapkan tidak benar kan, Al?"


Deg!


Lagi dan lagi, Alan merasa jantungnya diremas hanya karena mendengar tentang kepergian Fuji. Ada apa sebenarnya dengan dirinya. Sedari tadi ia diam, bukan karena tidak bisa berucap apa apa. Hanya saja, ia sedang berusaha memahami apa yang terjadi dengan dirinya. Ia menatap Fuji lalu beralih menatap Stella. Bagaimana mungkin ia merasa goyah dengan perasaan tak menentu seperti sekarang ini?


"Oh, jadi begitu. Syukurlah kalau begitu," ucap Stella lega. Ia kembali tersenyum pada Fuji karena merasa senang mendengar penjelasan terakhir Fuji.


"Baiklah... kalau begitu, aku permisi. Selamat bersenang-senang," pamit Fuji seraya berjalan perlahan ke arah pintu yang terbuka untuk meninggalkan kedua pasangan kekasih itu. Yah, Fuji memutuskan untuk kembali ke rencana awalnya untuk pergi dari Alan setelah memikirkan baik-baik kejadian di depan matanya. Apalagi melihat Alan yang sedari tadi diam saja. Membuatnya semakin dilanda panas membara dalam hatinya. Ia memilih menghindar sebelum terlambat. Karena ia menyadari kalau ia mulai terjerat pesona Alan.


Untuk masalah kehamilan, Fuji akan pikirkan nanti. Yang pasti, untuk sekarang ia tidak ingin membahas itu pada Alan. Atau mungkin tidak akan pernah membahasnya hingga nanti. Ia berjalan dengan pikirkan yang penuh. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat tangan kekar yang sejak semalam merangkulnya, kini menahan tangannya.


Fuji menatap Alan dengan alis yang di naikkan dan perlahan menyatu, seolah meminta penjelasan. "Ada apa? Bukankah waktuku sudah cukup? Jadi lepaskan aku," ucap Fuji seraya mengarahkan tangan lainnya untuk melepaskan tangannya dari genggaman Alan.


"Kenapa aku harus melepasmu? Bukankah kau harus mengikuti semua keinginanku?" ucap Alan penuh penekanan saat tubuhnya sudah merapat dengan tubuh Fuji. Bahkan ia tidak memperdulikan Stella yang menarik lengannya agar lepas dari Fuji.


Sementara Fuji hanya diam, menunggu ucapan Alan yang selanjutnya. Karena Alan kini nampak ke telinganya. "Waktumu belum cukup, Fuji. Sebelas malam belum kita lewati," bisiknya yang berhasil membuat Fuji menegang di tempatnya.


.


.


.


.


.


.


Terkadang cinta datang tanpa diminta. Lalu kenapa saat aku mulai menyadari cinta, perlahan cinta malah lepas dari genggamanku?


~Amma~


.


.


.


.


.


Pengumuman nanti tanggal 1 yah, jadi siap siap aja dukungannya 🥰🥰🥰


Bulan depan, diusahakan ALFU (Alan Fuji) akan double up. Tapi gak tau juga. Semuanya tergantung kalian 😘