Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 12 : ENOAC



"Panggil namaku, Sayang. Al... ayo panggil aku Al," pinta Alan dengan suara serak.


"Al, sa—sakit..." lirih Fuji dengan air mata yang menetes.


"Tahan, Sayang... " ucap Alan lembut yang berusaha menenangkan Fuji. Ia merapatkan tubuhnya. Lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Fuji dengan tangan yang bergerak di dada Fuji. Ia sejenak berhenti menggerakkan miliknya karena ingin membuat Fuji terbiasa dengan miliknya.


Namun Fuji malah memberontak karena tidak nyaman di intinya. "Akh... Al... tapi ini sakit sekali. Tolong berhenti dan lepaskan aku," pekiknya karena rasa yang mengganjal.


Alan menahan tubuh Fuji yang memberontak. "Bukankah tadi kau yang bilang untuk tidak melepaskanmu? Kenapa sekarang minta dilepas, heh?" timpalnya karena tidak terima jika harus menghentikan kenikmatan yang baru ia rasakan.


"Itu tad—tadi saat aku tidak tau kalau sesakit ini!" seru Fuji dengan semakin mengerakkan tubuhnya untuk lepas dari Alan. Ia bahkan mencakar punggung dan menggigit punggung Alan hingga meninggalkan bekas. Dan dengan sisa kekuatannya, Fuji reflek menendang Alan hingga berhasil jatuh ke bawah ranjang.


Bhuk! "Akh... " rintih Alan merasakan panas di tubuhnya karena terjatuh dari ranjang. Ia menatap tersangka yang membuatnya sampai seperti ini.


"Kau!" tunjuk Alan dengan penuh emosi. Ia merasakan hasratnya hancur hanya karena kejadian ini. Ia tak pernah menyangka kalau membobol seorang perawan akan membuatnya sampai terjatuh dari ranjangnya.


Fuji yang melihat mata abu-abu milik Alan yang menatapnya dengan tajam, seketika menunduk. Ia merasa takut saat ini. Salahkah ia karena mendorong pria itu karena sakit yang ia rasakan? Ia merasa itu hal yang wajar.


"Keluar dari kamarku! Dan jangan muncul dihadapanku lagi!" bentak Alan. Ia tidak bisa mengontrol emosinya saat ini. Antara gairah dan kecewa membuatnya sangat marah. Ia benar-benar kecewa karena miliknya terlepas dari kenikmatan yang masih ingin ia rasakan.


Sementara Fuji semakin menunduk. Ia sadar kalau sudah membuat pria di depannya marah besar. "Maafkan aku. Tapi aku tidak sengaja mendorongmu. Aku hanya reflek karena merasa sangat kesakitan," ucap Fuji merasa bersalah.


"Pergi aku bilang!" usir Alan lagi. Ia berjalan ke sofa dengan tubuh yang masih polos. Ia duduk sambil memijit pelipisnya.


Fuji mendongakkan kepalanya menatap Alan. "Kapal ini sudah berangkat dan mulai berlayar. Aku harus pergi kemana jika kau mengusirku?" tanyanya saat melihat jendela kamar itu. Ia baru sadar kalau jangkar kapal sudah sejak tadi diangkat. Dan kapal saat ini sudah berada di tengah lautan.


"Kau bisa melompat dari jendela dan terjun ke laut!" singkat Alan yang masih memperhatikan Fuji lewat ekor matanya. Jadi ia tau kalau Fuji sedang menatap ke arah jendela.


"Tega sekali... " gumam Fuji. Ia menghela nafas dan berusaha berfikir. Kemudian ia menatap bagian bawah tubuhnya. "Darah... ah... aku sudah tidak perawan lagi," batinnya sedikit kecewa saat melihat bercak darah di seprai dan bagian intinya.


"Ah... sial! Kenapa tadi rasanya sangat sakit sih. Padahal kata orang-orang, rasanya akan sangat nikmat. Huh... tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencari kenikmatan yang dikatakan orang-orang. Aku tidak boleh berhenti sampai di sini saja. Aku meneruskan ini semua. Lagipula aku sudah kepalang basah," batin Fuji bertekad sambil berfikir. Ia tidak menyadari kalau Alan sedari tadi memperhatikannya yang sesekali menghembuskan nafas kasar.


Alan menyanggah kepalanya dengan tangan kirinya. Sesekali melihat miliknya yang masih berdiri tegak meski sempat emosi dengan kelakuan wanita yang saat ini tengah melamun di tempat tidur. "Aku sangat menginginkannya. Oh Tuhan... aku berharap dia datang padaku dan membujukku untuk menyentuhnya kembali. Sial! Terong jumboku sepertinya sangat menyukai goa milik wanita itu. Ah... astaga apa yang kupikirkan. Sepertinya aku sudah kehilangan kewarasanku," batinnya seraya memijit pelipisnya.


Fuji membenarkan tubuhnya yang saat ini duduk di ranjang. Ia menghadap ke pria yang saat ini sedang duduk di sofa dengan masih bertelanjang. Dengan menguatkan tekad, ia menidurkan tubuhnya dengan gaya erotis. "Al... tolong maafkan aku. Ayo kemari lagi. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti tadi," bujuknya dengan tangan yang ia gerakkan ke tubuhnya sendiri.


Wanita itu berharap apa yang ia lakukan mampu membuat Alan tergoda. Meskipun ia sudah sangat yakin akan berhasil saat melihat keperkasaan pria itu masih berdiri tegak.


"Jika kau melakukan hal seperti tadi, aku sendiri yang akan melemparkanmu ke laut!" ancam Alan seraya berjalan mendekati Fuji.


"Aku berjanji, Sayang. Lagipula, kau sudah mengambil keperawananku. Bukankah seharusnya kau menikmatinya sampai selesai?" ucap Fuji menggoda. Ia mengelus rahang kokoh milik Alan saat pria itu sudah mendarat di atas tubuhnya.


"Aku akan memakanmu sampai habis," balas Alan tanpa membuang waktu segera membungkam mulut Fuji dengan bibirnya begitu menggebu-gebu.


Alan melepaskan tautan bibir mereka. Ia ingin melanjutkan hasratnya yang tadi sempat tertunda.


"Pelan-pelan... itu sakit," lirih Fuji memohon saat Alan siap memasukkan keperkasaannya ke inti Fuji.


"Aku akan pelan-pelan... tahanlah sedikit," pinta Alan dan segera menggerakkan dirinya pelan sesuai keinginan Fuji.


Fuji menerima semua perlakuan Alan yang memperlakukannya dengan lembut. Bahkan perlahan, ia mulai merasakan kenikmatan yang di maksud oleh sebagian orang tentang surga duniawi. Matanya merem melek saat merasa akan sampai kepuncak nirwana. "Seharusnya tadi aku tidak mendorongnya jika tau akan senikmat ini," batinnya merutuki kebodohannya tadi.


Kamar yang mewah itu akhirnya hanya dipenuhi desis dan ******* dua orang asing yang tidak sengaja bertemu. Takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang sangat konyol. Bahkan mereka tidak akan tau kalau takdir saat ini sedang mempermainkan hati mereka.


Dua orang manusia itu akhirnya menyatu di dalam kamar kapal pesiar yang berlayar. Entah sampai berapa lama mereka melakukannya. Yang jelas mereka sibuk dan dengan gencar mencari kenikmatan surgawi dunia. Tanpa menghiraukan kejadian yang akan terjadi di kemudian harinya.


Niat hati ingin menghindari pernikahan, tapi Fuji malah menikmati malam panas tanpa adanya ikatan pernikahan. Bahkan yang lebih parahnya, ia melakukan malam pertama dengan orang yang sama sekali ia tidak kenal. Pria asing yang menjadi pemilik dari tempat yang ia jadikan sebagai persembunyian setelah kabur dari pernikahannya dengan Tuan Max.


Entah karena pengaruh obat atau bagaimana. Tapi yang pasti, Fuji sangat sadar melakukan semua itu.


.


.


.


.


.


.