Eleven Nights On A Cruise

Eleven Nights On A Cruise
Part 16 : ENOAC



"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Fuji to the poin saat sudah duduk di atas ranjang dengan Alan yang masih memunggunginya.


Melihat Alan tidak bergerak dan tidak menjawab pertanyaannya, membuat Fuji menepuk pundaknya. "Al... apa kau tidur?" tanya Fuji dengan akrabnya. Entah mengapa Fuji bisa merasa begitu akrab dengan Alan. Padahal mereka berdua hanyalah dua orang asing yang baru bertemu. Mungkinkah ini karena mereka sudah pernah menyatukan tubuh mereka berdua semalam? "Aaaa... Tidak! Ini gila! Krnapa aku selalu membayangkan hal itu? Padahal semalam aku hanya dalam pengaruh obat," teriak Fuji dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Fuji menarik nafas begitu dalam. Lalu menghela nafas dengan kasar. Ia melihat punggung kekar Alan yang sudah memakai pakaian. "Bukankah semalam aku mencakar punggungnya? Pasti masih berbekas," batinnya bermonolog. Ia memilih mendekatkan dirinya ke Alan. Hingga ia sudah berada tepat di belakang Alan dengan tubuh yang merapat.


"Hei! Kau beneran tidur?" tanya Fuji lagi. Baru saja Fuji ingin mengintip ke depan, namun tubuhnya tiba-tiba sudah terlentang di ranjang dengan Alan di atasnya. Alan mendorong tubuhnya begitu cepat membuatnya sedikit terkejut


Sesaat mata mereka beradu. Tidak ada suara sama sekali. Bahkan sekarang, mata Fuji melotot menatap mata abu-abu Alan dengan intens.


Seolah terhipnotis, Fuji benar-benar tidak bisa berkutik. Apalagi posisinya sekarang membuatnya kembali mengingat malam panas mereka. Meski dalam pengaruh obat, namun ia masih sadar dan ingat betul kegiatan mereka bahkan rasanya masih bisa Fuji jabarkan. "Sial! Pria ini selalu membuatku mengingat hal mesum! Gila!" umpatnya dalam hati.


Alan memajukan wajahnya. Hingga Fuji menahan nafasnya. Dan saat wajah Alan sudah berjarak satu senti, ia segera menutup matanya.


Alan tersenyum melihat tingkah Fuji. Entah mengapa, ia merasa banyak tersenyum selama dua belas jam bersama wanita ini. Meskipun kekesalan juga lebih dominan.


"Apa kau sangat berharap, aku menciummu?" bisik Alan tepat di telinga Fuji. Hembusan nafas milik Alan menerpa kulit lehernya. Hingga membuatnya merasakan sensasi geli dan panas yang menjalar ke tubuhnya. Bahkan wajahnya mulai memerah karena menahan malu.


"Tentu saja, tidak! Bagaimana bisa kau menyimpulkan aku ingin dicium. Sana, lepaskan aku!" seru Fuji segera mendorong Alan.


Alan berhasil terdorong. Ia kini berbaring di samping Fuji. Lantas ia berkata, "kau menutup matamu saat aku hanya ingin membisikmu. Bukankah itu artinya, sebenarnya kau berharap aku menciummu?"


"Mana bisa be—gitu," jawab Fuji gugup.


"Tapi ngomong-ngomong, kau kuat juga yah?" ucap Alan memberi jeda pada ucapannya saat melihat senyum merekah mulai terbit di bibir Fuji. Ia sesaat tiba-tiba berfikir. Baru saja Fuji ingin menyanggah, ia lebih dulu angkat suara. "Tapi sayangnya, meski kau kuat fisik karena berhasil mendorongku, tapi tetap saja kelelahan saat sudah berada di bawahku," tambahnya yang tidak rela memuji wanita itu. Karena baginya, jika ia memuji Fuji, itu sama saja menghina dirinya karena berhasil didorong oleh Fuji. Apalagi sempat melihat senyum bangga milik Fuji.


Sementara Fuji yang mendengar ucapan Alan, mendengus kesal. Baru saja ia akan membanggakan dirinya. Tapi senyumnya lebih dulu luntur karena ucapan Alan selanjutnya.


Fuji bangun dan duduk menghadap Alan. Ia merasa sudah muak karena otaknya selalu berada pada kegiatan ranjang hanya karena pria asing yang ia kenal sebagai Al. Sambil meredam kekesalannya, ia mengeratkan handuk kimono yang ia kenakan.


Alan memperhatikan gerakan tangan Fuji. Ingin rasanya ia membuka handuk kimono itu. Tapi itu sama saja menjatuhkan harga dirinya jika ia yang meminta lebih dulu. Jadi ada baiknya ia menjerat wanita di depannya ini dulu agar ia tak perlu bersusah payah menahan hasrat hanya karena harga dirinya.


"Sudahi permainannya. Sebaiknya, kau katakan apa yang ingin kau bicarakan padaku dengan serius?" tanya Fuji dengan menatap Alan tajam.


Alan mengerutkan keningnya melihat tatapan tajam milik Fuji yang baru kali ini ia lihat. Tatapan Fuji benar-benar mendominasi dan sangat menekan. Mungkin jika Fuji menatap orang lain dan bukan Alan, sudah pasti orang itu akan ketakutan. "Wanita ini semakin menarik," batinnya seraya mendudukkan dirinya berhadapan dengan Fuji.


"Siapa juga yang bermain-main?" tantang Alan dengan senyum sinis.


"Kau! Kau yang bermain-main. Pembahasanmu selalu tentang kegiatan kita semalam—"


"Memangnya aku bilang apa? Pembahasan mana yang kau maksud?" potong Alan.


"Itu— ah... sudahlah. Bicara denganmu hanya menguras emosi!" ucap Fuji menatap Alan jengah.


"Kau pikir kau tidak menguras emosiku?"


"Aku muak dengan ini semua. Jadi sebaiknya kita hentikan perdebatan ini dan katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku!"


Alan mencoba menahan emosinya. Bagaimana mungkin, ia mudah sekali terpancing dengan Fuji. "Wanita benar-benar merepotkan," gumamnya kembali kepada prinsip awalnya.


"Apa kau bilang?!" seru Fuji.


"Tidak ada!" bantah Alan.


Ingin rasanya Alan tertawa melihat Fuji. "Kau memang akan mati muda jika tidak mengikuti kemauanku," ancam Alan yang mulai melancarkan rencanannya.


"Ha? Maksudnya?" ucap Fuji bingung.


Alan bergerak mengambil sesuatu dari laci. Lalu melemparkan barang itu ke arah wajah Fuji.


Fuji bergeming dan menurunkan barang yang dilempar Alan ke bawah. Ia baru menyadari kalau saat ia bangun, ruangan kamar Alan memang sudah rapi. Bahkan gaun pengantin yang ia lepaskan semalam, juga sudah tidak ada dilantai.


Dan sekarang, apa maksud Alan melemparkan gaun pengantin Fuji ke wajahnya.


"Pakaianmu kan?" tanya Alan menyelidik dengan nada rendah yang menekan. Sedangkan Fuji hanya mengangguk membenarkan.


"Kau kabur dari pernikahanmu?" tanyanya lagi dan Fuji masih mengangguk. Entah apa yang sekarang ada dipikiran Fuji hingga ia hanya bergeming dan menjawab pertanyaan Alan dengan anggukan kepala.


"Jadi, penyusup yang datang ke kapalku ini, adalah orang yang mengejarmu?"


Deg!


Inilah pertanyaan yang ditakutkan Fuji sedari tadi. Ia sadar kalau pengawal itu pasti berhasil menangkap orang yang mereka anggap penyusup dan menginterogasinya. Bahkan ia mulai sadar kalau pria di depannya bukan pria sembarangan hanya dari cara bicaranya saja. Apalagi saat mendengar Alan menyebutkan kepemilikan pada kapal yang hanya dimiliki dua orang di dunia.


"Kau sudah tau?" ucap Fuji terkejut.


"Tentu saja aku sudah tau," jawab Alan.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan jika kau sudah tau?" tanya Fuji menegaskan ucapannya setelah sempat bergeming hanya karena gaun pengantinnya. Bahkan ia mulai paham arah pembicaraan Alan.


"Kau ternyata pintar," puji Alan sambil tersenyum sinis.


Namun Fuji sama sekali tidak merasa senang dengan pujian Alan. Ia sekarang nampak serius berfikir dan memindai Alan dari atas ke bawah.


"Aku tau kau ada maksud lain mengatakan dan bertanya ini semua padaku. Orang sepertimu yang memiliki harta hingga mampu memiliki kapal pesiar Topaz, tidak mungkin akan membiarka semut sekalipun untuk masuk ke kapalmu tanpa undangan kan? Apalagi orang asing yang bersembunyi sepertiku," ungkap Fuji setelah menganalisa dengan seksama.


Mendengar ungkapan Fuji, membuat Alan terkesima. Ia tidak menyangka kalau akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ia mulai merasa jika Fuji memang bukanlah orang sembarangan karena mampu menganalisa keadaan dengan begitu cepat. Ingin sekali ia bertanya tentang identitas Fuji. Namun ia akan mengesampingkan dulu pertanyaan itu, karena ada hal yang lebih penting dari itu.


...****************...


Magnet


Melihatmu, bagaikan magnet yang menarikku


Bukan karena rasa yang kau tawarkan


Tapi memang hatiku yang jatuh dalam pesonamu


Namun, aku tak sadar karena egoku yang lebih dominan...


~Juz Amma~


...****************...